NovelToon NovelToon
Di Dua Hati

Di Dua Hati

Status: tamat
Genre:Lari dari Pernikahan / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:391.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rani

Tiga tahun menikah, Zalea belum kunjung memiliki keturunan. Sang mertua yang kurang bersahabat dengannya semakin memperlihatkan wajah ketidaksukaan terhadap Lea.

"Nikahi saja Karmila, Zain. Kamu punya alasan kuat untuk menikah lagi. Karena istrimu itu tidak bisa memberikan keturunan buat keluarga kita."

Dunia Lea seketika hancur saat mendengar ungkapan sang mertua. Namun, seberkas cahaya langsung muncul. Tapi sayang, takdir seolah sedang mempermainkannya. Saat dia mendapatkan kabar bahagia, kabar buruk malah menyusul dibelakangnya. Kabar buruk datang sebelum ia bisa membagikan kabar bahagia yang dia punya dengan siapapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Episode 31

"Leah. Mau pakai baju yang mana ya?" Zain berucap sambil melihat ke arah baju yang ada di dalam lemari yang sudah ia buka pintunya sejak tadi.

"Ya udah, non. Bibi keluar sekarang."

"Iya, bi."

Setelahnya, Leah langsung menghampiri Zain. Melihat Zain yang sekarang tak ubah Leah sedang melihat si kembar yang sangat manja karena masih anak-anak.

"Leah. Bajunya yang mana?"

"Mm ... tunggu sebentar, Mas." Leah berucap sambil matanya menyapu seisi lemari milik Zain.

"Nah, yang ini saja," ucap Leah sambil mengambil sepasang piyama tidur yang matanya tangkap barusan.

"Ya. Yang ini, Leah. Inikan bajunya pasangan. Aku pakai baju yang ini, nanti kamu setelah mandi juga pake baju yang sama yah," ucap Zain dengan mata berbinar senang.

Sontak, Leah langsung mengetuk dahinya dengan satu jari. Bibinya pun langsung bergumam pelan.

"Yah ... kenapa aku bisa lupa kalau baju itu baju pasangan?"

"Leah."

"Iya, Mas." Gegas Leah mengganti ekspresinya dengan cepat.

"Aku sudah pakai bajunya, Leah. Gimana? Kamu suka dengan baju ini?"

Leah terdiam. Ingatannya pun langsung berkelana ke waktu awal pernikahan mereka. Saat itu, dia begitu senang ketika paket pesanan piyama tidur sampai ke rumah.

"Mas, lihat ini!"

"Apa, sayang?"

"Piyama pasangan."

"Suka tidak?"

Zain melihatnya dengan seksama. Piyama dengan bahan satin itu terlihat sedikit mencolok di mata Zain. Namun, bukan itu yang membuat Zain memperhatikan baju tersebut. Melainkan, karena warnanya yang tidak seperti biasa.

"Warnanya ... kok biru sih, Yang? Tumben." Zain berucap dengan nada menggoda. Karena biasanya itu, wanita pujaan hatinya ini selalu membelikan apapun dengan warna kesukaannya.

"Ya ... karena kali ini aku belikan dengan warna kesukaan kamu, Mas."

"Yakin gak nyesel?" Zain malah semakin menggoda.

Leah seketika langsung memasang wajah cemberut. Namun, itu hanya sebatas dibuat-buat saja. Tidak murni kesal yang datang dari hati.

"Mulai deh nyari gara-gara. Aku pulangin aja ini piyama kalo kamu gak suka."

"Eh ... nggak kok. Ngga. Suka kok suka. Tar kalo gak suka, istriku makin ngambek."

"Mas."

"Iya, sayang. Iya. Bercanda doang."

Suasana pernikahan yang hangat meski Leah tahu, dirinya tidak terlalu ada artinya di hati sang mertua. Tapi saat suaminya memperlakukan dirinya bak ratu satu-satunya di dunia. Leah bisa menyingkirkan perasaan sedih akan perasaan yang tak diinginkan oleh mertuanya itu. Karena jika suami meratukan istrinya, maka orang lain tidak akan pernah bisa mengusik hati sang istri. Sebab, yang paling penting adalah, perhatian suami terhadap istri.

Ingatan Leah kembali pulih saat tangan kurus Zain menyentuh lembut pundak Leah.

"Leah."

"Mas."

"Kenapa murung? Apa aku buat salah barusan? Atau, apa aku bikin hatimu kesal, Leah?"

"Katakan, Leah! Katakan kalau aku bikin salah. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon."

"Mas."

"Leah. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin sendiri lagi. Aku tidak mau berpisah darimu lagi."

Gegas Leah menyentuh wajah Zain dengan kedua tangan. Dia tidak ingin Zain kambuh lagi seperti saat berada di taman tadi.

"Mas, dengarkan aku. Nggak. Kamu gak bikin kesal hatiku. Jadi, tenang yah. Jangan panik."

Manik mata Zain menatap lekat wajah Leah. Setelahnya, Zain langsung menghambur ke dalam pelukan Leah. Tidak mudah untuk Zain menjaga hatinya sekarang. Karena enam tahun penantian membuat trauma yang sangat dalam muncul dalam hidupnya. Rasa takut itu sangat besar. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan Zain dari trauma akut yang saat ini sedang ia alami.

"Jangan tinggalkan aku, Leah. Ku mohon."

"Iya, Mas. Iya."

Leah mengurai pelukannya dengan Zain.

"Aku gak akan pergi, tapi mas harus patuh padaku. Jangan mudah panik, oke?"

"Iy-- iya. Tidak panik lagi."

"Suami tampan."

Senyum lebar Zain perlihatkan. Langit senja yang perlahan berubah menjadi gelap karena malam menyapa, membuat hati Leah terasa semakin cemas akan keadaan pangeran kembar yang ia titipkan pada Dita.

Namun, sekarang dia tentu saja tidak bisa meninggalkan Zain dengan keadaan Zain yang masih sangat rapuh. Setidaknya, dia tidak bisa pergi selagi Zain masih terjaga. Karena Leah yakin, Zain tidak akan mengizinkan dirinya beranjak menjauh walau hanya satu langkah pun.

...

"Mas harus makan yang banyak yah. Biar tubuh sehat dan gak gampang sakit."

"Iya. Tentu saja aku akan makan banyak. Karena kamu sudah pulang," ucap Zain sambil melihat istrinya yang sedang sibuk mengambil nasi juga lauk untuk dirinya.

Ketika mamanya datang mendekat, dia malah langsung memberikan tatapan tajam penuh selidik. "Leah. Siapa dia?"

Wajah sang mama tentu saja langsung terlihat sangat sedih. Sementara itu, Leah segera menyentuh pundak Zain dengan lembut.

"Ya Allah, Mas. Kok lupa lagi sih? Inikan mama. Mama kamu."

"Mama? Mama aku? Aku-- "

Seketika, ingatan yang sudah lama terpendam datang kembali. Sayangnya, ingatan yang menyedihkan yang langsung muncul dalam benak Zain. Yang seketika membuat Zain jadi sedih dan marah karena mama nya lah penyebab ia kehilangan istri yang dia sayangi.

Zain langsung bangun dari duduknya. Matanya seketika berkaca-kaca. "Mama! Kenapa mama tega padaku, Ma? Kenapa?"

"Mas." Panik Leah bukan kepalang.

Sementara sang mama yang sudah sedih, tentu saja dibuat semakin sedih lagi sekarang.

"Zain."

"Mama keterlaluan, Ma. Apa salah aku sama mama? Mama buat istriku pergi meninggalkan aku. Duniaku hancur, Ma. Hancur!"

"Mas."

"Mas Zain. Sadarlah, Mas!"

"Leah!" Zain menoleh dengan air mata yang berderai. "Leah, mama ... dia sudah buat istriku pergi meninggalkan aku," ucap Zain sambil mengajarkan telunjuknya ke arah sang mama.

"Mas. Ayolah, tenangkan dirimu. Kuasai hati, Mas." Leah berucap sambil memegang pipi Zain dengan lembut.

Lagi, cara itu ternyata cukup ampuh untuk menyadarkan Zain dari traumanya. Saat Zain menatap mata Leah, pikiran Zain langsung tenang seketika.

"Leah."

"Istriku."

"Iya, Mas. Aku masih di sini. Kamu harus tenang. Aku sudah bilang, bukan? Jangan panik."

"Iya ... aku tidak panik. Tidak panik lagi. Kamu istriku. Leah ku di sini. Aku tidak panik."

Begitulah pada akhirnya Zain bisa kembali tenang. Makan pun mereka lanjutkan. Tapi hanya berduaan saja. Karena sang mama yang sudah sangat sedih tidak bisa melanjutkan makan malam bersama.

Meskipun mama Zain tahu kalau anaknya butuh waktu agar bisa kembali seperti semula. Tapi tetap saja, hati tidak mudah untuk diajak kerja sama. Hati yang sedih tidak bisa terus bertahan meskipun sudah ia paksakan.

Selesai makan malam, Leah menemani Zain di kamar. Entah karena sudah lama tidak tidur dengan teratur, Zain bisa langsung tidur pulas di atas pangkuan Leah setelah satu jam mereka menonton lewat ponsel.

"Mas."

Leah memanggil Zain untuk memastikan keadaan Zain saat ini. Setelah tidak mendengar jawaban, Leah langsung membenarkan posisi tidur Zain dengan hati-hati.

1
pipi gemoy
🌹
pipi gemoy
✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
Rafa n Dita
reuni jebolan panti😂👻
pipi gemoy
mantap hukuman buat Ratna karena Zain sampe tak bisa mengingat dirinya 🌹
pipi gemoy
bagus lah mama Zain SDH insyaf
Tuhan menegur Zain karena kecintaannya terhadap makhluk 👻🌹
pipi gemoy
bi Inah penyelamat Zain 👏🏼👍🏼🌹
pipi gemoy
betul Zain mati saja, biar nga byk bacot mm mu👍🏼👏🏼👻🌹
pipi gemoy
semoga Zain Istiqomah konsisten menolak Mila n wanita 2 lainnya juga👻
pipi gemoy
mampir Thor
ayu cantik
g bosen baca kisah ini
Surati
bagus ceritanya
Rani: makasih bunayak
total 1 replies
Sulati Cus
sesuai
Sulastri Oke86
Luar biasa
Isabela Devi
astaga Mila itu masih mau kejar Zain lagi
Isabela Devi
wah yoga cemburu, sadar yoga kamu Uda ada istri dan itu adiknya Leah
Isabela Devi
anak anak ya datang langsung ingatan Zain puli kembali
Isabela Devi
kasian bertemu dgn ayahnya saat lagi sakit
Isabela Devi
kasian itu Krn keegoisan mamanya itu
Isabela Devi
mertua akhirnya minta maaf juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!