*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Kanaya
Bara meletakkan minuman susu jahe hangat di atas meja. Sementara Kanaya masih memanjatkan doa setelah selesai Salat.
"Nay minum dulu, mumpung masih hangat!" ujar Bar saat melirik istrinya yang sudah beranjak dari duduknya.
Masih mengenakan mukena Kanaya menghampiri segelas susu yang masih mengepulkan asapkan.
Di seruput sambil meniup pelan minuman hangat itu. Sementara Bara merebahkan tubuhnya yang di tempat tidur. Pria yang sudah mengenakan kaos tanpa lengan itu melirik istrinya yang berjalan menghampirinya setelah meletakkan gelas yang menyisakan setengah isinya.
"Mas ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Kanaya saat duduk di tepi ranjang.
Bara pun langsung bangkit dan duduk didekat Kanaya. Pria itu menatap istrinya seolah sudah menunggu wanita cantik itu berbicara.
"Mas..."ucap Kanaya masih menggantung, dia tak berani menatap mata tajam suaminya hingga dirinya memilih menunduk kemudian.
"Aku mendengarmu, Nay!" ucap Bara sambil tersenyum tipis saat mengingat karakter istrinya yang random.
"Mas, di mall aku janjian sama Mas Arslan. Maafkan aku Mas! Aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Kanaya dengan suara bergetar, gerimis mulai membasahi pipinya.
"A_aku hanya ingin...." kalimat Kanaya terputus, rasa bersalah benar-benar membuatnya terisak. Padahal Bara belum memberikan reaksi apapun.
"Aku hanya menegaskan jika aku sudah menikah dan punya suami." Hampir saja Kanaya histeris tapi pria bertubuh gagah itu langsung menariknya dalam pelukan.
Ah rasa bersalah itu semakin besar, bukan karena Bara. Tapi, merasa berdosa sendiri pada pria yang berstatus suaminya.
"Aku sudah tahu!" lirih Bara sambil mengusap lembut punggung istrinya. Dia memang sudah tahu setiap gerak gerik Kanaya. Pria itu tak pernah luput memantau wanita yang menjadi tanggung jawabnya.
Bara membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya hingga Kanaya merasa lega. Dia memang bukan teman yang baik tapi dia akan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk istrinya.
"Aku dua kali bertemu dengan Mas Arslan. Pertama memang tidak sengaja tapi yang dimall dia mengundangku Mas." jelas Kanaya dia tidak ingin ada yang ditutupi karena selama ini Bara sudah sangat baik dengannya. Pria itu memang misterius, tapi Bara membuat nyaman saat dirinya didekat pria itu.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf, telat ya!" Bara mengeluarkan sebuah kota cincin bermata Zamrud.
Kanaya tersentak kaget saat suaminya memberikan cincin bermata indah itu. Bahkan, kilaunya terlihat seperti berlian.
"Sebenarnya ini cincin turun temurun yang diberikan saat menikah. Tapi, pernikahan kita yang serba mendadak dan penuh problematik, aku lupa memberikannya." Bara menarik tangan kiri istrinya dan menyematkan cincin yang sedikit longgar di jari manis istrinya.
"Terima kasih, Mas." ucap Kanaya. Dia langsung menghampur memeluk Bara.
Setelah melewati malam panas mereka, Kanaya tak lagi canggung dengan Bara.
"Ayo tidur sebentar! Aku menunggumu untuk memberikan ini." ucap Bara kemudian langsung memposisikan diri untuk berbaring. Padahal ada ribuan pertanyaan tentang suaminya yang ingin sekali Kanaya tanyakan.
Kanaya pun melepaskan mukenanya, dia juga merasa lemas karena tidak terbiasa begadang. Wanita itu pun merebahkan diri didekat suaminya hingga pria itu melingkarkan lengan diperut istrinya.
###
Hanum menangis saat mengingat putrinya. Wanita yang kini berbaring di tempat tidur tengah terisak.
Meskipun marah dengan keputusan Kanaya, tapi dia juga mencemaskan keadaan putrinya sulungnya itu. Dia tidak yakin jika menantunya yang berpenampilan preman itu memberikan kehidupan yang layak untuk putrinya.
"Sayang, ada apa?" ucap Arkha saat masuk kamar dan mendapati istrinya menangis dengan sesenggukan.
"Bagaimana kabar Naya, Pa? Kenapa Papa tidak mengajaknya pulang?" rengek Hanum membuat Arkha hanya tersenyum dari dulu istrinya itu memang punya gengsi yang besar.
Di depan Kanaya, Hanum terlihat marah dan merutuki putrinya yang salah mendapatkan suami. Tapi sisi lain dia masih mencemaskan keadaan putrinya.
"Kanaya baik-baik saja!" ucap Arkha yang memang selalu memantau putrinya dari kejauhan. Dia tahu Kanaya memang hidup tidak layak bersama Bara tapi dia tidak mempermasalahkannya karena Arkha bisa melihat Bara memperlakukan putrinya dengan baik.
"Suaminya tidak memukulinya,kan, Pa? Atau pulang tengah malah dalam keadaan mabuk?" cecar Hanum dengan segala pikiran dan persepsi yang hinggap di kepalanya.
"Kanaya baik-baik saja. Hanya saja dia sedang belajar menjadi ibu rumah tangga yang baik." jawab Arkha dengan menggenggam tangan istrinya agar tidak lagi mencemaskan putrinya.
"Pa, besok mampirlah ke kontrakan mereka. Mama sudah menyiapkan kebutuhan Kanaya." ujar Hanum dengan menunjuk satu tas plastik besar yang sudah diisi dengan kebutuhan putrinya.
"Mama saja yang nganterin! "
"Papa Nggak mau mengabulkan permintaan Mama? Katakan saja jika Papa tidak mau!" suara Hanum mulai meninggi dengan tatapan menyala ke arah suaminya. Bahkan satu tangannya sudah menarik bantal yang sudah siap dia lempar untuk Arkha.
"Iya-ya besok Papa ke sana." ucap Arkha dengan mengusap punggung istrinya agar tenang.
Hanum memang tak pernah berubah, tapi cintanya pada wanita cantik yang melahirkan dua putrinya juga tak pernah luntur.
###
"Mas, kopinya." Kanaya menghampiri Bara yang sedang bermain pisau lipat dibelakang rumah.
Sasarannya tak pernah meleset, hal itu yang membuat Kanaya semakin penasaran siapa pria yang dia nikahi.
"Terima kasih, Nay!" jawab Bara kemudian mendekati kopi dan menyeruputnya sebentar.
Dan kemudian mengangguk-angguk.
"Enak?" tanya Kanaya menunggu komentarnya Bara.
"Lumayan." jawab Bara padahal tidak hanya lumayan tapi cukup enak racikannya kali ini.
"Mas ke bengkel jam berapa? Aku sudah sudah menyetrika bajunya Mas Bara. Cuma belum aku bawa ke kamar." ucap Kanaya, dia mulai terbiasa dengan aktifitas rumah tangga yang sepele tapi repot jika tidak dilakukan.
"Nanti ini masih jam enam." jawab Bara dengan kembali melempar pisau lipatnya untuk yang terkahir.
Suara bel terdengar, hingga membuat Bara melangkah keluar. Dia tahu hanya orang-orang penting yang tahu kontrakannya.
Kanaya tertegun sejenak, tapi rasa penasaran siapa tamu yang datang pagi-pagi sekali itu membuat dirinya beranjak.
Dua pria berambut gondrong dan satu satunya berambut cepak tengah duduk di sofa tengah. Dia mencari keberadaan suaminya yang tidak terlihat. Padahal dia hanya ingin menanyakan ingin dibuatkan minum apa untuk tamunya.
Tak selang lama, Bara keluar dari kamar pribadinya dengan pakaian lengkap dengan jaketnya. Pria itu langsung melangkah kebelakang menghampiri istrinya setengah mengintip dari dapur.
"Nay, Mas Berangkat dulu! Mungkin Mas akan menginap. Kamu di rumah baik-baik saja. Jangan buka pintu jika ada tamu yang datang kecuali kamu mengenalnya!" ucap Bara mencium kening istrinya. Dia juga memeluk Kanaya sejenak. Rasanya dia ingin hidup lebih lama dengan wanita cantik yang meneduhkan ini.
"Mas, mau kemana?"hanya pertanyaan itu yang terucap saat melihat Bara yang terlihat terburu-buru dan serius.
"Mas akan kerja, ada sebuah perbaikan yang harus dilakukan sekarang." jawab Bara dengan membingkai wajah cantik di depannya.
"Jangan keluar rumah jika tidak penting." lanjut Bara. Dia merasa ada beban berat saat akan meninggalkan istrinya. Ini berbeda, sangat berbeda dari biasanya.
Kanaya yang memang tidak tahu apa-apa pun merasakan hal yang sama. Dia menatap punggung suaminya yang melangkah keluar bersama dua orang temannya.