Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Segelas Teh dan Speculaas
...29. Segelas Teh dan Speculaas...
Tiga loyang speculaas telah matang. Satu loyang tengah dipanggang. Dua loyang berikutnya menunggu giliran dipanggang. Tiga loyang terakhir, Saba sengaja menambahkan potongan slice kacang almond.
Keduanya memutuskan untuk duduk di kursi panjang sambil menunggu semua kue matang.
“Kamu suka apa, Na? Teh, kopi, atau sirup?” tawar Saba. Tengah memanaskan air di atas kompor.
“Teh,” sahutnya.
“Pilihan yang tepat.”
“Kenapa bisa tepat?”
“Speculaas cocok dimakan didampingi teh atau kopi. Apalagi cuaca di luar sedang mendung dan gerimis.” Saba menuangkan air mendidih ke dalam teko khusus yang telah berisi bubuk teh.
“Kamu suka manis, sedang, tawar atau pahit?”
“Aku kurang suka manis, tapi juga kurang suka pahit,” sahutnya.
“Pilihan yang bagus. Manis bisa melenakan. Pahit juga identik tidak enak. Hidup perlu di tengah-tengah, natural,” ucap Saba.
Ia melihat Saba menuangkan air teh ke dalam gelas. “Kalau Abang suka apa?” tanyanya. Ia mengeluarkan loyang keempat. Setelah tanda bunyi alarm pemanggangan waktu habis. Lalu memasukkan loyang kelima ke dalam oven. Memindahkan kue yang baru saja matang ke atas cooling tray. Kata Saba supaya kue tetap renyah sebab tidak sempat berembun.
Saba membawa dua gelas minuman teh dan meletakkannya ke meja. “Hari ini aku ingin yang manis-manis.” Ia lantas duduk.
“Kenapa hari ini pengin yang manis, kalau biasanya Abang minum yang pahit?” Ia membawa sepiring kue. Tangan lainnya membawa buku resep makanan. Disandingkannya sepiring kue itu diantara dua gelas teh. Ia duduk di sebelah Saba. Keduanya duduk berjarak satu kursi. Ia menyilangkan kaki dan menumpuk bantal kursi serta buku di atasnya.
“Aku sudah terlalu banyak meminum kepahitan dalam hidup. Sudah saatnya butuh yang manis-manis sebagai imbalan atas sebuah perjuangan,” ucap Saba.
Ia menipiskan bibir. Mengangguk-angguk dan bertepuk tangan. “Ditambahi dong … by Saba Lumintang, di bawahnya, qoutes of the day.”
Saba tertawa kecil. Tetapi kali ini ditangkapnya bukan sebagai sebuah tawa ejekan.
Ia mengambil satu kue. Mengamatinya sejenak. Mencium aromanya yang begitu semerbak. Lantas memasukkannya ke dalam mulut. Matanya terpejam sesaat bersamaan mulutnya mengecap merasai kuenya yang renyah, hangat dan enak. “Gula merah sebagai pemanisnya menghasilkan manis yang pas,” ucapnya seraya manggut-manggut melihat Saba mencecap tehnya. Ia jadi teringat dengan ucapan Saba yang hari ini ingin minuman manis.
“Quotes yang lain Bang. Yang masih berhubungan dengan manis,” tangkasnya.
“Gantian lah, kamu yang bikin.”
“Abang aja. Biasanya kutipan-kutipan motivasi itu datang dari orang-orang berpengaruh.”
“Emangnya aku berpengaruh?”
“Kalau gak berpengaruh aku gak mungkin sampai di sini.”
Saba tampak menahan senyum.
“Jangan ketawa dulu!” serunya menginterupsi. “Ayo dong quotes lain.”
“Mm … ini quotes spesial untuk Nawa.”
Ia tersenyum. “Apa, tuh?”
“Tawar mengajarkan kesederhanaan. Pahit mengajarkan perjuangan. Manis setelah mendapatkanmu.”
Rona pipinya mendadak merah jambu. Sejenak membeku. Namun ia lekas menyanggah dengan senyuman. “Abang mau bikin aku terbang?”
TING!
Suara alarm dari oven berbunyi. Ia lekas bangkit lalu mengeluarkan loyang kelima dan memasukkan loyang terakhir. Memindahkan kue yang telah matang ke cooling tray.
Ia membalas, “Tawar adalah kesederhanaan. Pahit adalah pengorbanan. Manis adalah tipuan.”
Saba mengangkat bahu. “Boleh juga.”
“Biasa aja Bang.”
“Pahit dan manis adalah bumbu kehidupan. Tawar sebagai penyeimbang,” balas Saba.
“Abang cocok sebagai inspirator,” pujinya.
“Bagaimana tadi mengajar anak-anak?” tanya Saba mengganti topik pembicaraan.
Ia memindahkan kue yang telah benar-benar dingin ke dalam toples. “Seru.”
“Mereka anak-anak yang rumahnya di bawah sana. Kemarin si Arif yang ngajar.”
“Mereka biasa belajar di sini?”
“Biasanya di kelas. Tapi berhubung gurunya sakit maka Arif mengajaknya ke sini. Ya, sekalian kegiatan outing.”
Ia kembali duduk di tempat semula. Membuka buku resep milik ibunya Saba.
“Semua itu tulisan tangan ibuku,” terang Saba. Mulai menggeser duduk mendekat padanya. “Resep masakan dan kue. Lebih banyak masakan khas Indonesia timur dan Cina.”
“Ibu Bang Saba sekarang tinggal di mana?” Semenjak ia datang ke rumah ini, ia sama sekali belum pernah berjumpa dengan wanita yang melahirkan Saba. Bahkan Saba juga tak pernah menceritakan tentang keluarganya. Ia mulai membuka lembaran demi lembaran buku yang tampak usang namun masih terjaga. Ada resep ayam woku, ayam tuturuga, ikan pala banda, dan masih banyak.
Saba menarik sudut bibir. Ada getir yang merambat mengalir. “Sudah meninggal.”
Ia tertegun sesaat, mengalihkan pandangannya pada Saba. “Maaf …,” lirihnya.
“Gak apa-apa. Sebenarnya ini privasi ….” Saba menatapnya penuh.
Ia sempat tercengang. Namun di waktu selanjutnya Saba melanjutkan ucapannya, “Tapi kamu boleh mengetahuinya.” Sudut bibirnya melengkung samar.
Saba duduk sedikit miring menghadapnya. Menyilangkan kaki. Satu tangan bersandar kursi, kedua tangannya bertaut. “Ibuku meninggal saat aku SMA,” sambung Saba. “Ibuku lahir sebagai seorang Maluku sekaligus Tionghoa. Darah Cina dari kakek untuk berdagang menurun ke ibuku. Setelah menamatkan sekolahnya, ibuku hijrah ke Manado untuk membuka usaha sendiri dengan membuka warung makan kecil-kecilan.”
Ia menutup buku resep milik ibu Saba tak sepenuhnya. Lengannya sengaja sebagai tanda di tengah lembaran yang terakhir dibukanya.
“Jadi buku ini harta satu-satunya peninggalan ibuku. Semua resep makanan yang ada di sini autentik dan sudah teruji. Coba lihat,” Saba meminta buku resep tersebut. Lantas menunjukkan masakan apa saja yang ada di warung makan ibunya kala itu. Dan hampir semua resep yang tertulis pernah dijual di warung makan ibunya. Termasuk makanan-makanan chinese yang tidak mengalami perubahan dari resep aslinya. Biasanya penjual makanan menyesuaikan bumbu serta bahan makanan dengan lidah mayoritas pembeli atau warga lokal. Namun ibunya Saba tidak, tetap setia mempertahankan keasliannya.
Ia yang mendengar penjelasan Saba merasa bangga sekaligus haru. Saba terdengar dan terlihat sangat menghormati serta menyayangi ibunya. Hal itu terbukti dengan buku peninggalan ibunya yang sangat dijaga dan dirawat. Di samping ada kerinduan juga kesedihan dari tutur yang diucapkan. Saba pasti sangat kehilangan ibunya.
Sepasang matanya mendadak berkaca-kaca. Hatinya tersentuh dan menjadi rapuh. Sebab ternyata Saba bernasib sama dengannya. Jika Saba kehilangan ibu, ia kehilangan abah.
“Kok kamu yang sedih?” Saba menatapnya.
Ia tersenyum. Menghapus titik air mata yang berani menitik. Padahal ia berusaha menahannya.
“Cengeng,” cibir Saba. Tetapi jemari Saba ikut mengusap pipinya yang kembali basah. “Ceritanya sampai di sini. Aku tidak mau membuatmu menangis,” pungkas Saba. Menutup buku dan menyimpan di atas meja.
TING!
Kini Saba bangkit. Mengeluarkan loyang terakhir dari oven.
Ia menarik dalam bahunya. Lalu menyentakkan dengan cepat.
“Sudah hampir jam 3. Bu Ning sedang pergi ke tempat saudaranya. Kamu pasti juga lapar karena menangis.” Saba memindahkan kue ke cooling tray. “Kita makan di bawah. Ada yang jual ketoprak sangat enak. Pasti kamu suka.” Saba mendekati meja. Mengambil gelas kosongnya. Lalu melihat gelasnya yang masih berisi seperempat. “Kamu masih mau minum?”
Ia menggeleng.
Saba mengambil gelasnya dan membawanya ke tempat cuci piring. “Kita ke bawah sekarang.”
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab