NovelToon NovelToon
Sebuah Harga Diri

Sebuah Harga Diri

Status: tamat
Genre:Pelakor / Nikahmuda / Selingkuh / Tamat
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.

Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.

Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.

Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?

"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.

Tanpa terasa 6 bulan telah berlalu. Amy sepertinya betah tinggal dan bekerja di kota kecil dengan ikon buah salak ini.

Udaranya yang sejuk, bahkan cenderung dingin karena dikelilingi oleh pengunungan dan perbukitan.

Selain itu juga, masyarakat disini ramah dan daerahnya cukup aman juga.

"Bu Amy, bagaimana laporan kegiatan untuk penyambutan, tamu kita dari kota? Apa semuanya sudah beres, Bu?" ucap Pak Zack saat memonitor latihan tor-tor di aula.

"Tinggal beberapa kali latihan lagi, Pak. Semoga semuanya lancar."

"Oke, saya percaya Bu Amy, pasti bisa menyiapkan acara penyambutan itu secara maksimal."

"Terima kasih, Pak atas kesempatan yang diberikan pada saya."

"Sama-sama, Bu Amy. Kalau ada kendala, Bu Amy jangan segan-segan bicara langsung ke panitia."

"Baik, Pak." Amy menatap kepergian Pak Zack hingga menghilang di pintu aula. Lalu memberi instruksi kepada para penari untuk istirahat sejenak.

"Oke, teman- teman kita rehat sebentar, sambil diskusi untuk penampilan kita minggu depan."

"Yeah, dari tadi kek. Rasanya kaki ini mau patah." ucap Bonar rekan kerja Amy yang super recok. Begitu dia selesai ngomong, suasana jadi riuh rendah.

"Caper, nih ye" goda yang satu.

"Yuhu, dasar, alay," ejek yang lain pula.

Amy cuma senyum-senyum melihat Bonar yang habis-habisan dibully. Bonar memang cowok paling riuh, suka menggoda Amy dengan rayuan pulau kelapa, eh rayuan gombal maksudnya.

Tidak jarang, Bonar, teriak menyatakan kalau dia suka pada, Amy.

"Ini minuman spesial, buat kamu deh, biar kakinya beneran patah," seru Amy, disambut tawa riuh dari semuanya.

"Astoge, hatiku yang jadi patah dengerin ucapan kamu, Amy sayang."

"Huuu, Amy, sayang. Dasar gombal!" teriak yang lain memanasi.

"Iri, bilang bos. Gak usah ngegas!" ucap Bonar ngakak keras.

"Oke, kita bahas soal kegiatan minggu depan dulu, ya." ucap Amy mengalihkan topik pembahasan. Amy tidak ingin guraun rekan kerjanya makin meluber kemana-mana. Sekalipun itu cuma candaan semata. Terkadang, Amy, merasa jengah juga setiap kali ada yang mengaitkan dirinya dengan, Bonar.

Bonar adalah sosok pria yang suka bercanda. Humoris, dan ramah juga suka membantu siapa saja. Awal kedekatan Amy dengan Bonar, karena dia sering membantu Amy, tentang pekerjaannya.

Sebagai seniornya, wajarlah jika Bonar membimbing Amy, yang masih karyawan baru. Kedekatan mereka hanya sebatas senior dan yunior. Baru belakangan ini berembus gosip kalau antara Bonar dan Amy ada hubungan khusus.

Entah siapa yang memulai khabar burung itu. Amy, hanya diam tak menggubris gosip yang beredar di kantornya. Menurutnya, seperti datangnya khabar itu yang seperti di hembus angin, dia akan lenyap juga dalam seketika. Tak perlu diambil pusing apalagi dianggap serius.

Beda dengan sikap, Bonar. Lelaki tinggi dan tampan itu menanggapi setiap ucapan orang dengan senyum dan tawa. Terkadang, malah seolah mengiyakan. Dia bahkan makin meperlihatkan sikap mesranya pada Amy.

"Idih, Bu Amy kok malah bengong sih," sentak Riri yang duduk disebelahnya.

"Iya, mungkin pengen berduaan aja sama Pak Bonar, kali," celetuk Farid.

"Yuhuuu...." disahuti koor dari yang lain. Suasana yang tadinya terkendali mendadak riuh. Wajah Amy, bersemu merah mendengar candaan itu.

"Eits, apa-apaan ini? Becanda jangan kelewatan, ya. Tak potong bonus biar tau rasa, bah!" delik Bonar menatap satu persatu rekannya agar serius menyimak. Suara riuh kembali bergema.

"Oke, kita lanjut ya," ucap Amy setelah rekan-rekannya kembali tenang. "Saya mau meminta laporan dari setiap seksi, besok. Untuk saya laporkan balik sama Pak Zack. Jadi setiap seksi harus memperhatikan secara detail apa saja kendala yang dihadapi, seperti akomodasi, komsumsi dan properti. Jika ada keluhan bisa konsultasi nanti dengan Pak Zack." urai Amy panjang lebar.

"Baik, Bu Amy, besok saya akan serahkan laporan dari saya, sebagai seksi komsumsi." ucap Riri.

"Masih ada yang kurang jelas, biar kita istrihat dulu," ucap Amy. "Oke, kalau tidak ada pertanyaan , latihan kita kita lanjutkan dua hari lagi.

***

"Rif, mana berkas untuk laporan peresmian pariwisata itu." Pram, mengaduk-aduk tumpukan berkas diatas mejanya.

"Laporan mana, Bos?"

"Berkas kerja sama dengan perusahaan Mitra Uli."

"Oh, itu. Ada di meja saya, Bos. Bos lupa ya, telah menyuruh saya membaharui beberapa point."

"Ah, iya. Bagaimana sudah siap, tidak?"

"Sudah, Bos." Arif bergegas keluar dari ruangan Pram. "Ini, bos. Coba, bos periksa apa sudah benar yang aku revisi itu." Arif menyerahkan berkas ditangannya.

"Bagus, kerja kamu makin rapi seperti, Amy," celetuk Pram tiba-tiba. Seketika wajah Arif berubah masam. "Kenapa? Ada yang salah dengan omongan aku, ya?" Dongak Pram.

"Yah, udah jelas. Apa-apa, nama Amy, terus yang disebut. Sepertinya cuma Amy saja mahkluk pintar sejagat ini."

"Lantas kamu keberatan, aku ngomong gitu?" delik Pram.

"Soryy, Bos. Keceplosan." Arif menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Berusaha menahan gelak di hatinya.

Heran saja, sudah enam bulan sejak Amy berhenti jadi sekretaris Pram. Belum juga ada itikadnya mau menganti Amy. Jadinya semua pekerjaan yang biasanya dipegang Amy, terpaksa dia yang handle.

Entah kenapa, ruangan bekas Amy bekerja dibiarkan kosong. Sementara semua perabotan yang dipakai Amy, tetap dibiarkan tertata rapi. Sekali seminggu ruangan itu selalu di bersihkan.

Pram, seolah hendak menjaga, agar bayangan Amy tetap utuh, sehingga ruangan itu dikosongkan.

Terkadang, Arif merasa miris melihat ulah bosnya. Ini sudah bulan yang ke enam.

"Hei, kamu kenapa, Rif? Kemasukan jin, ya? Sedari tadi dipanggil gak nyahut- nyahut."

"Gue lagi mikirin, Bos. Sampai kapan, Bos seperti ini terus. Amy entah berada dimana, sudah enam bulan. Tapi ruangan itu tetap kosong."

"Stop! Arif. Jangan pernah bahas soal itu lagi, oke."

"Bos, gak kasian ya samaku. Aku seperti sapi perah aja disini." lenguh Arif dengan wajah sengaja dibuat kusut.

"Kalau mau berhenti silahkan. Pintu terbuka lebar-lebar." Pram menunjuk ke pintu.

"Susah kalo punya Bos, bucin. Omongan apapun gak pernah dianggap. Malah main ancam segala. Beneran di tinggal, malah ngemis. Dikerasin, lembek. Persis bapao coklat, melumer." ceracau Arif sambil berjalan menuju pintu.

"Hei, hei, mau kemana?" Hardik Pram saat melihat Arif mau keluar ruangannya.

"Bukannya tadi diusir, kok malah nanya."

"Kalau mau berenti jangan sekarang, udah, aku tambah nanti bonusnya."

"Bener?"

"Iya."

"Ah, masa? Gak percaya, palingan juga gopek."

"Gopek endasmu! Tuh, periksa sudah aku transfer." Mata Pram sengaja di buat melotot.

Arif memeriksa E-bangkingnya.

"Huh, dasar kecoak busuk. Itu gaji gue, bukan bonus." Pram ngakak keras mendengar sumpah serapah Arif. Sampai keluar air matanya saking lamanya dia ketawa.

"Hadeuh! Rif, Arif. Sakit kali perutku kau buat tertawa. Kamu memang harus lebih banyak bersabar mengahadapiku yang suka labil. Aku sangat beruntung memiliki teman seperti kamu, terutama disaat aku seperti ini."

Pram, menghempaskan pantatnya di kursi, seketika bayangan Amy kembali berkelebat di pupil matanya.

Apa yang barusan dikata, Arif benar adanya. Namun, Pram, masih saja setia menunggu Amy, entah sampai kapan untuk mau memaafkannya. Ebtah itu setahun atau dua tahun. Bahkan 10 tahun pun mungkin dirinya akan tetap menunggu. *****

"

1
Ika Marbun
singkat padat jelas ga bertele-tele
lanjut terus thor
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indahnya
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️
Yunerty Blessa
wow... mantap kak thor..
Yunerty Blessa: Sama kasih kak thor
total 3 replies
Yunerty Blessa
betul sekali Pram... nanti dibilang penyibuk 🤣
Yunerty Blessa
Menyatu nya Pram dan Amy ada campur tangan Arya...
Yunerty Blessa
cari kesempatan dalam bilik mandi 🤭🤣🤣🤣
Yunerty Blessa
syukurlah ,Amy telah selamat menjalani pembedahan melahirkan...
Yunerty Blessa
#Heru
Yunerty Blessa
salah sendiri terlalu mencari kesempurnaan, kau rasa diri mu juga terlalu sempurna...
Yunerty Blessa
kasian Heru...beli baju baby untuk teman dan bukan untuk diri sendiri 😒
Yunerty Blessa
berarti kembar lelaki..
Yunerty Blessa
sabar Pram 🤣🤣
Yunerty Blessa
sabar Pram, begitu lah kalau isteri lagi hamil..
Yunerty Blessa
semoga Amy hamil..
Yunerty Blessa
seharian buat baby,apa tak sakit badan 🤭
Yunerty Blessa
malam yang di tunggu² untuk sepasang pengantin baru... olahraga malam untuk mencetak gol 🤭
Yunerty Blessa
sabar Pram...tiga bulan sekejap saja...
Yunerty Blessa
kalau begitu, terima lah lamaran Pram.. apa lagi kedua orang tua Pram juga menyukai mu..
Yunerty Blessa
syukur lah,Amy bisa di terima di keluarga Pram..
Yunerty Blessa
pasti orang tua Pram setuju kerana mereka juga suka dengan Amy..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!