Naina mengira akan hidup bahagia, setelah berstatus sebagai istri dari Romi, seorang pengusaha kaya dan terkenal di negaranya, tapi ternyata banyak cobaan hidup yang harus ia jalani sesudah pernikahan itu.
Awalnya, mereka menikah hanya sebatas kerjasama bisnis, dan Romi tidak mencintai Naina karena gadis itu tuna wicara. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan Romi mulai berubah pada istrinya, dan mereka mulai tertarik satu sama lain.
Suatu hari, hal naas terjadi kepada Romi yang mengalami kecelakaan hingga ia menderita kebutaan.
Setelah kecelakaan itu Naina di perlakuan sangat tidak baik oleh keluarga Romi, terutama sang ibu mertua, karena mereka menganggap perempuan itu pembawa sial.
Bagaimana sebenarnya kecelakaan itu terjadi, dan apakah benar Naina penyebabnya? Akankah Naina terus bertahan dalam penyiksaan mertuanya, dan akan hidup bahagia bersama Romi ?
Yuk ikuti terus kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Romi masih berada di ruangan tersebut sambil menatap layar yang menampilkan semua aktivitas yang terjadi di rumah ini, dan ada yang lebih mengagetkan lagi saat Naina pendarahan.
Na...ternyata pada saat itu kamu sedang mengandung anak ku, berapa bodohnya diriku sampai tidak mengetahui hal itu. Andaikan aku lebih peka dan bisa mengenali perasaan ku terhadap kamu lebih cepat, mungkin nggak akan kehilangan buah hati kita. Andaikan waktu bisa di putar kembali, aku akan membawa mu pergi dari rumah ini menjauhkan mu dari orang-orang seperti mereka yang tidak mempunyai hati nurani.
Ia terus memperhatikan semua aktivitas yang di tampilkan oleh kamera pengintai, ia merasakan sesak di dada. Ketika sang Mama memperlakukan istri dengan seperti itu, tanpa ada rasa kasihan seperti raga tak bernyawa mereka memperlakukan nya.
Pantas saja aku selalu merasakan kamu selalu ada di dekat ku, ternyata memang benar. Masakan yang ku makan setiap hari, bau tubuhmu aku sangat mengenali itu. Akan tetapi aku juga tidak berdaya pada saat itu, bahkan mereka dengan teganya memfitnah kamu dengan cara kotor seperti itu. Memang mereka tidak pantas di sebut Mama dan kakak. Aku bersumpah demi namamu dan penderitaan yang telah kau alami tidak akan memaafkan mereka semua, aku akan pergi dari rumah ini dan meninggalkan semuanya asalkan bisa hidup bersama mu. Tapi sekarang aku harus mencari mu ke mana, bahkan aku tidak tahu kamu ada di mana.
Romi terus memperhatikan semua itu, tanpa terasa air matanya terus mengalir dan ia merasakan hal yang di alami oleh sang istri. Ternyata selama dirinya tidak melihat begitu banyak penderitanya yang di alami oleh sang istri, jangan mendapat perlakuan yang layak sebagai seorang menantu. Bahkan hanya sekedar untuk makan pun itu sangat kekurangan sekali, sebab sang istri terus bekerja layaknya pembantu di rumah ini dan tidak ada istirahat. Bahkan di saat setelah keguguran saja mereka terus memaksa istrinya untuk melakukan pekerjaan berat bahkan sampai memperbaiki genteng bocor juga, memang yang di lakukan keluarga nya sangat keterlaluan. Ia juga sangat malu mempunyai ibu seperti Rasti, yang tidak memiliki perikemanusiaan.
Romi mengepalkan tangan nya saat melihat gambar sang istri di waktu pesta ulang tahun dirinya, sekaligus bertunangan dengan Sandra. Mereka menyiksa Naina tanpa ampun bahkan di perlakuan lebih rendah dari seorang pelayan, dengan amarah yang menggebu Romi keluar dari ruangan tersebut dan segera menemui Rasti yaitu seorang wanita yang tidak mempunyai hati nurani.
Setelah beberapa saat Romi sudah sampai di kamar Rasti, ia membuka pintu dengan kasar sehingga Rasti terlonjak kaget. Saat melihat tatapan Romi yang sangat membunuh.
"Kamu bikin kaget Mama saja, mau apa? apa butuh sesuatu" tanya Rasti dengan nada bicara yang lembut, ia sudah menangkap sinyal bahaya dari tatapan anaknya.
"Jangan sebut dirimu Mama di hadapan ku, kamu tidak pantas jadi seorang ibu. Bahkan tidak memiliki belas kasihan sedikit pun terhadap istri dari anaknya, dengan sengaja telah menyiksa lahir dan batinnya. Kalian tega telah membuat istriku kehilangan bayi yang di kandung nya, masih pantas kah aku menyebut mu Mama. Kamu telah mencoreng nama baik seorang ibu, dengan semua perlakuan terhadap anak dan menantu. Selama ini aku selalu memuji mu di hadapan semua orang bahwa kau ibu terbaik yang ada di buka bumi ini, dan semua itu tidak benar. Kamu hanyalah seorang perempuan berhati iblis, Hewan saja yang masih punya rasa kasihan terhadap anak nya. Akan tetapi kamu lebih rendah daripada hewan, tidak pantas kau di sebut seorang ibu" kata Romi dengan nada bicara sangat bergetar, ini untuk pertama kalinya ia meninggikan suaranya saat berbicara terhadap sang Mama. Ia seperti ini akibat dari perbuatan Rasti sendiri, sehingga menjauhkan Romi darinya.
"Tidak seperti itu kejadian nya, mana mungkin Mama berbuat jahat terhadap istri kamu. Mama melakukan itu semua demi kebahagiaan" kata Rasti membela diri.
"Bahagia.... yang seperti apa bahagia menurut mu, apakah harus mempunyai istri dari anak konglomerat, lulusan luar negri, pewaris perusahaan atau artis? coba katakan yang seperti apa? menatu idaman mu, jangan melihat manusia dari kekuasaan, dan harta yang di miliki. Coba kamu mikir pakai otak, seberapa banyak pengorbanan Naina untuk keluarga ini, bahkan dia rela menukar kebahagiaan nya demi kebahagiaan ku. Sekarang dia tidak bisa melihat hanya karena ingin aku bisa melihat kembali, apa kamu pernah berfikir sedikit saja kebahagiaan ku,nggak kan! yang ada di pikiran kalian hanya harta dan jabatan. Sekarang aku harus mencari Naina kemana, bahkan hanya untuk menatap wajahnya saja aku tidak sanggup setelah mengetahui apa yang kalian lakukan" kata Romi sambil menangis, dan duduk di lantai sambil memeluk lutut nya.
"Mama hanya ingin yang terbaik untuk mu" kata Rasti dengan nada bicara lirih.
"Yang terbaik... baik menurut mu belum tentu baik untuk ku, apa Naina kurang baik di mata mu. Hati mu sudah di butakan oleh kekayaan sehingga tidak bisa melihat manusia dari segi ketulusan dan kasih sayang, apa orang seperti Naina tidak pantas bahagia? jika itu terjadi pada anak perempuan mu di perlakuan seperti itu oleh mertua nya, apa yang akan kamu lakukan! " kata Romi sambil menatap wajah Rasti yang sudah mulai ketakutan dengan keadaan Romi pada saat ini.
Rasti sudah tidak bisa berkata apapun lagi, ia berusaha untuk mendekat ke arah Romi dan akan memeluk anak laki-laki nya. Akan tetapi Romi memberi peringatan terhadap Rasti bahwa jangan mendekat ke arahnya.
"Iya, Mama Minta Maaf yuk kita bicara baik-baik jangan seperti ini" kata Rasti sambil mengulurkan tangan nya, akan memeluk Romi.
"Hentikan semua ini! dan tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Mulai sekarang aku akan keluar dari rumah ini, tidak akan memanggilmu dengan sebutan Mama karena itu tidak pantas untuk mu sebutan itu" kata Romi sambil bangkit lalu mengusap air matanya, ia rasa sudah cukup mengeluarkan apa yang ada di hatinya. Bukan ia tidak sayang dengan Rasti akan tetapi kelakuan perempuan itu sudah tidak bisa di biarkan. Bahkan dengan temannya memfitnah Naina dengan bukti palsu yang di sediakan nya. Hanya karena ingin Romi berpisah dari Naina, untung saja Pak Sopir datang tepat waktu memberikan surat dari Naina tanpa di ketahui oleh Rasti. Jika surat itu jatuh ke tangan Rasti sebelum Romi tahu maka, ini akan menjadi sebuah masalah besar.
Romi melangkah kan kaki keluar dari kamar lalu menuju keluar dan langsung masuk ke dalam kendaraan, ia akan mencari Naina.
Rasti mengejar Romi sambil berteriak agar anak nya berhenti dan mendengarkan nya, akan tetapi Romi terus melajukan kendaraan nya. Rasti berlari hingga ke jalan Raya mengejar Romi hingga akhirnya semua orang yang melihat kejadian itu berteriak, bahwa seseorang telah tertabrak mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Buktikan kepada Naina bahwa kamu mencintainya
Wahai emakkkk kenapa sifatmu bikin orang darah tinggi ga ada baiknya sedikitpun