NovelToon NovelToon
Delima

Delima

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Delima, gadis yang hidup dengan rasa percaya diri yang rendah. Terbiasa dibully membuatnya menarik diri dari pergaulan dan merasa dirinya tak pernah berharga. Sampai Ia dicintai oleh Richard Kusumadewa, mantan pemakai narkoba dan playboy kelas kakap. Akankah Richard mampu merubah Delima dan mengembalikan rasa percaya dirinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

You Are Not Alone

Adel

Aku sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan kalau Papa dan Mama bukanlah orang tua kandungku.

Kalau Mama mungkin aku sudah bisa menduganya. Sikapnya amat baik padaku hanya jika ada keluarga besarnya dan Papa saja. Sisanya begitu dingin dan tak peduli.

Aku juga mencurigai wajahku yang sama sekali tak mirip Mama. Kulitku putih bersih, sedangkan Mama dan Papa berkulit sawo matang. Namun aku menepis kecurigaanku dan berpikir mungkin kebetulan saja.

Namun aku mulai meyakini lagi kecurigaanku saat Mama bilang kalau aku harus tahu diri beberapa waktu lalu. Rasanya terlalu kejam perkataan tersebut diucapkan oleh seorang ibu pada anaknya. Sekarang aku mulai mengerti.

Aku berusaha berpikir seandainya aku berada di posisi Mama Kiki. Mama Kiki sehat walafiat. Tak ada masalah dalam tubuhnya. Ia rela tidak bisa memiliki anak sendiri dari rahimnya karena mencintai Papa yang didiagnosis tak bisa memiliki momongan tersebut.

Mama adalah sosok yang terlalu memikirkan perkataan orang. Tak jauh beda dariku. Lama kelamaan Mama mulai menjadi seperti yang orang mau. Ia memiliki anak angkat juga karena terdorong omongan keluarganya.

"Pokoknya Mama enggak setuju kalau Adel mencari orang tua kandungnya." inilah sikap Mama yang lain. Ia tak mau terluka, dan tak memperdulikan perasaan orang lain.

Aku dan Papa yang sedang menangis sedih pun reflek melihat ke arahnya. Papa pun berhenti menghiburku dan kini duduk di samping Mama.

"Ma. Mama kan tahu sendiri bagaimana hukum pernikahan kita secara agama. Harus ada wali nikah." Papa mulai memberi Mama pengertian.

"Ya minta nikahkan saja sama wali hakim. Beres kan?" sikap Mama yang egois juga tak lepas daei sikap Papa yang terlalu memanjakan Mama dan membiarkan Mama berbuat sesukanya. Mungkin karena Papa merasa bersalah telah membuat Mama hidup dengan laki-laki yang tak bisa memberikannya keturunan.

"Enggak bisa begitu dong, Ma. Papanya Adel mungkin masih hidup. Adel juga kan masih punya dua orang kakak laki-laki yang bisa menjadi wali nikahnya yang sah. " Papa dengan sabar menjelaskan pada Mama.

Aku melirik ke arah Richard yang sejak tadi hanya diam sama memperhatikan drama di keluargaku. Ya, sikap diamnya memang lebih baik. Tidak membuat suasana menjadi lebih keruh lagi.

"Pa, kalau Adel nikah nanti, keluarga kita akan tahu kalau Adel bukanlah anak kandung kita. Apa kata mereka? Mereka akan menuduh Mama pembohong, Pa. Mereka akan menyindir Mama lagi. Mereka akan mengatai Mama lagi, Pa." kini Mama menangis sesegukan dan Papa lagi-lagi harus menghibur wanita di keluarganya.

"Ma, mungkin sudah jalannya seperti ini. Mau sampai kapan kita menyembunyikannya terus? Suatu saat nanti pasti akan ketahuan, Ma. Jangan terlalu banyak memikirkan apa pendapat orang lain, toh mereka tidak memberi kita makan. Yang penting keluarga kita hidup bahagia. Mama, Papa, Adel dan juga Richard calon suaminya kelak." Papa menghibur Mama namun aku yang merasa sedih.

Huft... Semua karena aku....

Kalau aku tidak menikah, pasti selamanya rahasia Mama akan aman. Tak ada yang tahu kalau aku adalah anak adopsi. Tak ada yang akan menghina Mama lagi.

"Ma, Adel tak usah menikah saja. Biar rahasia Mama tak pernah terbongkar. Adel enggak mau karena Adel, Mama menjadi malu." keputusan yang kuambil tanpa pikir panjang.

Efek keputusanku adalah aku dipelototi oleh Papa dan Richard.

"Enggak bisa gitu dong, Del. Jangan semudah itu memutuskan sesuatu dengan emosi." omel Papa.

"Betul itu. Kalau aku boleh usul, nanti akad nikahnya kita buat tertutup saja. Hanya ada wali dari keluarga Adel, saya dan keluarga lalu Om Hartono dan istri saja. Gimana? Rahasia tetap aman." Richard mengemukakan ide yang menurutku amat cerdas.

"Nah Papa setuju tuh. Sudah, Mama jangan pikirin lagi masalah keluarga besar kita. Bilang aja nanti akad nikahnya sengaja mengundang keluarga inti agar lebih khidmat." Papa kembali membujuk Mama.

Mama terlihat memikirkan ide Richard. Ia menatapku dan Richard secara bergantian. Setelah menghela nafas panjang, Ia pun menyetujui niat kami.

"Huft.... Baiklah. Mama setuju. Kalian carilah orang tua Adel. Wujudkan keinginan kalian. Tapi satu pinta Mama, tolong jangan biarkan keluarga Mama dan Papa tahu identitas Adel. Tolong...."

Aku dan Richard mengangguk kompak. Richard melirik jam di tangannya. Sudah hampir jam 10 malam. Sungguh tak etis rasanya bertamu sampai larut malam.

"Om, Tante. Udah malam. Aku pamit pulang." kata Richard dengan sopan.

"Oh ya ampun, kita membahas hal serius sampai kamu tidak ditawari makanan di meja ini. Ayo di makan dulu." Papa mengambil piring berisi brownies dan menyodorkannya pada Richard.

Menghargai apa yang Papa lakukan, Richard mengambil sepotong brownies dan memakannya.

"Pa, aku pulang ke kontrakkan aja ya. Biar sekalian ke kantor besok. Richard juga enggak bawa mobil, karena tadi mobilnya susah keluar ada tenda pas selametan. Hmm... Aku masih ada yang mau dibicarakan dengan Richard." jika tidak membicarakan sekarang, aku tak yakin akan bisa tidur nyenyak malam ini.

Papa terlihat memikirkan sejenak keputusanku sebelum mengiyakan. "Baiklah. Jangan terlalu malam. Besok kamu kerja. Jangan lupa, selalu jaga diri!"

Aku tersenyum, "Iya, Pa. Aku ambil jaket dulu."

Setelah berpamitan, kami pun meninggalkan rumah Papa. Di dalam mobil, Richard menyetel musik slow tempo dulu yang kebetulan sedang disiarkan dari salah satu stasiun radio.

🎶Everyday I sit and ask myself

How did love slip away

Something whispers in my ear and says

That you are not alone

I am here with you

Though you're far away

I am here to stay

But you are not alone

I am here with you

Though we're far apart

You're always in my heart

But you are not alone🎶

Lagu Michael Jackson berjudul You Are Not Alone, sangat sesuai dengan suasana hatiku saat ini.

"Lagu ini, anggap saja lagu yang kuberikan buat kamu, Del." Richard membuka percakapan diantara kami. "I am here with you."

Air mataku yang tadi sudah mengering, perlahan kembali menetes. Baru kali ini aku merasa ada orang lain disisiku selain Maya saat aku sedih dan terpukul.

"Thanks." Sroooot... aku membersihkan ingus dengan tisu. Hampir tak bisa nafas, sejak tadi nangis terus sampai mampet rasanya hidungku.

Richard membuka jendela mobil, membiarkanku menghirup sedikit udara malam agar lebih tenang.

"Kita makan dulu, yuk. Aku lapar nih!" Richard memberhentikan mobilku di depan tukang pecel ayam pinggir jalan. "Kita makan disini aja ya. Di mall udah tutup soalnya."

Aku mengangguk. Kasihan juga pada Richard. Terakhir kali kami makan saat siang tadi. Pasti Ia sudah kelaperan.

"Bu, pesan pecel ayamnya sama nasi 2. Minumnya es teh manis 1 dan teh tawar anget 1." Richard memesan sendiri tanpa bertanya padaku.

"Tapi aku-"

"Nasi kamu setengahnya buat aku. Enggak nampil kalau makan satu aja. Lalu kamu minum teh tawar anget buat lunturin lemak. Dont worry."

Richard seperti sudah membaca apa yang akan aku protes. Sambil menunggu pesanan datang, aku memberanikan diri memulai percakapan.

"Kamu... Er... Tadi kamu udah denger kan tentang... Tentang keluargaku yang sebenarnya."

"Iya." jawab Richard.

"Kamu... Masih mau menikahiku?" tanyaku ragu-ragu.

Richard menatapku dengan sebal. "Pertanyaan macam apa sih itu? Aku enggak suka kamu nanya kayak gitu."

Sepertinya aku sudah menyinggung perasaannya. Richard yang biasanya penuh senyum kini berwajah masam.

"Maaf... Aku... Aku takut kamu...."

"Kamu takut aku membatalkan niatku menikahimu hanya karena aku baru mengetahui tentang identitas kamu, gitu? Aku enggak sepicik itu, Del." Richard beneran tersinggung dengan pertanyaanku.

"Maaf... Aku enggak bilang kamu kayak gitu kok. Aku... Aku cuma takut aja kamu akan membatalkannya setelah tau siapa aku yang sebenarnya." kataku sambil menunduk. Aku tak berani menatap matanya. Aku takut Ia marah.

Richard menarik tanganku dan menggenggamnya. Ada untungnya juga kami duduk bersebelahan, jadi ngomongnya tidak perlu kencang agar orang tidak ada yang kepo. Selain itu juga, bisa pegangan tangan kayak gini.

"Aku udah bilang kan kalau kamu enggak boleh puter balik? Maka aku pun enggak boleh puter balik juga kayak kamu. Yang aku suka itu kamu, Del. Bukan masa lalu kamu atau siapa orang tua kamu. Jadi, berhenti merasa minder. Lebih baik kita makan dulu, oke?" Richard melepas pegangan tangaku dan menunjuk penjual pecel ayam yang sedang membawakan pesanan kami.

"Silahkan, untuk masnya yang ganteng dan mbaknya yang cantik. Selamat dinikmati." jawab penjual pecel dengan ramah.

"Makasih, Mas." jawab Richard ramah, dan aku membalasnya dengan senyum saja.

Richard mengambil piringku dan membagi nasi milikku setengahnya untuknya, lalu menyisakan setengah lagi untuk Ia makan. "Kurang enggak?"

Aku menggeleng. "Udah cukup."

Richard pun mulai menikmati makan malamnya dengan lahap. Kasihan sekali, pasti Ia lapar.

Melihatnya makan dengan lahap, aku pun merasa lapar. Aku ikut memakan pecel ayam yang rasanya amat lezat ini, mungkin karena aku sudah lama tidak memakannya.

"Pelan-pelan saja makannya. Aku tungguin kok." kata Richard di sela-sela makannya.

"Iya." jawabku.

Entah mengapa kalau makan dengan Richard aku merasa rilex. Jarang mual apalagi memuntahkan makananku. Mungkin selama ini aku terlalu banyak pikiran, kalau dengan Richard aku lebih santai menghadapi permasalahan.

"Kamu ajukan cuti dulu, kita secepatnya ke Palembang." Richard mencuci tangannya di air kobokan yang disediakan dalam mangkok warna warni. Mangkok miliknya warna merah dan milikku warna hijau, dengan potongan jeruk limau di dalamnya untuk menghilangkan bau amis.

"Kamu beneran mau ikut kesana?" aku masih menikmati pecel ayam yang digoreng garing ini. Kriuknya terasa.

"Iya dong. Aku kan juga mau kenal dengan keluarga kamu. Kita naik mobil aja ya. Hmm... Sekalian kita liburan gitu. Jalan santai saja. Gimana?"

"Enggak naik pesawat aja?" aku malas membayangkan perjalan jauh yang akan aku tempuh nanti. Mau cuti berapa lama?

"Kalau dari alamat yang Papa kamu kasih dan keterangan Papa kamu kalau Palembangnya itu perbatasan dengan Lampung kayaknya lebih baik naik mobil deh." Richard sudah mencatat alamatnya saat aku mengambil jaket tadi.

"Memangnya kamu tau lewat mana gitu?" aku banyak mendengar kalau jalur lintas Sumatra itu masih banyak bajing loncat. Agak khawatir jika menempuh jalur darat.

"Tau. Tenang aja. Aku dulu suka diajak Papa kalau ke luar kota. Aku tuh memorinya bagus dalam menghapal jalanan. Kamu tenang saja. Dan jaman sekarang tuh ada Maps. Tinggal beli banyak kartu provider aja kalau enggak ada sinyal. Pasti ada diantara provider itu yang kuat sinyalnya. Enggak bakalan nyasar. Percaya deh sama aku."

Melihat kepercayaan dirinya yang tinggi, aku merasa yakin. "Baiklah. Kamu kapan bisa pergi?"

"Besok juga bisa. Aku lagi belajar manajemen jadi pekerjaanku belum begitu padat. Kamu bisa kapan?" Richard malah menanyakan pendapatku.

"Hmm.... Jangan cuti dadakan. Paling cepat rabu. Gimana?" tanyaku balik.

"Boleh. Kita pulang sabtu. Jadi hari minggu bisa istirahat di rumah."

"Tapi...." aku tiba-tiba merasa ragu.

"Tapi kenapa?"

"Apa benar mereka masih tinggal di tempat yang sama?" Papa sudah lama tidak berhubungan. Mereka masih ada atau tidak, Papa sendiri tidak tahu.

Richard terlihat berpikir sejenak. "Aku akan kirim orang untuk cari tahu dulu sebelum kita pergi.Agar kepergian kita kesana tidak sia-sia."

Ini yang aku suka dari Richard. Bisa berpikir cepat dan logis dalam setiap situasi. Tadi saat Mama emosi, sarannya lah yang membuat Mama merasa yakin dan tenang. Dan kini, aku lagi-lagi dibuat menyetujui sarannya tanpa pikir dua kali.

"Oke. Aku setuju. Kita pulang sekarang yuk. Sudah malam." aku menunjuk jam tanganku. "Setengah dua belas malam."

"Masa sih? Rasanya hari cepat berlalu ya kalau sama kamu."

Aku tersenyum mendengar gombalan receh yang Richard katakan. "Gombal."

"Gombalin calon istri, enggak apa-apa kan?" membuat senyumku makin merekah dibuatnya.

Richard membayar makanan kami. Dikeluarkannya selembar uang seratus ribuan. "Ambil aja kembaliannya."

"Ya ampun Mas Ganteng, baik banget. Alhamdulillah. Semoga rejekinya makin banyak." doa penjual pecel ayam dengan mata berbinar-binar.

"Aamiin. Makasih doanya, Pak."

Aku tersenyum dengan hal kecil yang Richard lakukan. "Kenapa kamu melebihkan saat membayarnya? Kalau aku hitung paling makanan kita hanya 50 ribu."

Richard yang sedang mengemudikan mobilku pun tersenyum. "Sedekah. Hal kecil bagiku, bisa jadi hal besar bagi orang lain. Ingat, kita tidak pernah tau dari mulut siapa doa akan diijabah. Siapa tau saat penjual pecel ayam tadi mendoakanku, Allah mengijabah doanya? Iya kan?"

"Wow... Amazing. Belajar dari mana? Keren!" pujiku.

"Dari Leo. Dan Leo dari Maya. Semoga aku bisa mengajak kamu mengamalkan ilmu sedekah ini, jadi semua bisa mengamalkannya. Dan kamu bisa mengajak orang lain juga. Oke?"

"Oke."

Aku menyuruh Richard membawa mobilku pulang setelah mengantarkanku dengan alasan besok aku naik motor saja. Richard menurut saja.

Dan pagi ini aku mendapati surprise, Richard sudah berdiri di depan kontrakkanku. Senyumnya merekah saat melihatku.

"Pagi, calon makmum!" sapa hangat Richard.

"Loh? Kok kamu kesini?"

"Pagi juga calon imam. Bilang itu dulu seharusnya. Ayo aku anterin kamu ke kantor."

"Iya..... calon imamku...." aku tersipu malu. Aku berjalan duluan dengan malu-malu. Tak sanggup menatap Richard. Ah... malu...

1
Elis Ayna
Baru balik lagi min ini di ganti gak sih ceritanya
Tika Gemoy
mewekkk lagii😭
Tika Gemoy
tiap kali baca ,masih nangis juga😭😭
Hani Hani
uda baca ini 5x tamat tapi ttp ngakak sm kelakuan richard🤣🤣
Ida Rodiah
Luar biasa
martini
luar biasa
Evi Yolanda
thor buat lah Ndut bucin secepatnya 🤣🤣🤣🤣
Evi Yolanda
jd gedek SM adel .. gendut mang siadel
Ning Fifi
👍👍👍
Ernawati💕
luar biasa
💐Tari Nyonya Sibuea💐
dsr jalang murahan🤮🤮
Ran Aulia
poor Babang Icad 😭😭😭
Ran Aulia
terima kasih kak, ceritanya bagus 🥰🥰🥰🥰
✨️ɛ.
lika liku perjalanan Kakanda dalam menaklukkan hati Neng Adel..
Ei_AldeguerGhazali
Jaksa dan terdakwa wkwk jadi ngakak🤣
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Ei_AldeguerGhazali
Ikut mesem aku del🤣
Ei_AldeguerGhazali
Beneran sengklek sih maya🤣
Ei_AldeguerGhazali
Bang icad udah beneran taubat mah ini🤣🤣👍🏻
Ei_AldeguerGhazali
Ngakak 🤣 bener bgt ya bang icad
Ei_AldeguerGhazali
Gercep bgt dah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!