NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GODAAN IBU MERTUA.

“Pak Dewangga.”

Dewangga menoleh ke arah sumber suara. Kalendra, asistennya, sudah berdiri beberapa langkah darinya sambil membawa sebuah map.

“Ada apa?” tanyanya.

“Klien meminta desainnya di kirim melalui file hari ini, Pak.”

Dewangga mengernyit. “Bukannya mereka mau datang kemari?”

“Tidak jadi, Pak,” jawab Kalendra.

Kening Dewangga mengernyit. “Kenapa gak jadi? Apa ada masalah?” tanyanya.

“Iya, Pak. Kata kliennya sendiri ada kendala di jalan. Kemungkinan baru bisa datang besok.”

“Ya sudah.” Dewangga mengangguk singkat. “Nanti pastikan desainnya sudah siap.”

“Baik, Pak.”

Setelah itu, Dewangga melangkah meninggalkan lobi menuju ruang kerjanya.

Namun, saat ia dan asistennya menelusuri lorong yang sunyi. Langkahnya seketika berhenti di depan ruang tim desain.

Dari balik dinding kaca, ia bisa melihat Nafisa sedang duduk di depan komputer bersama seorang pria yang merupakan rekan kerjanya. Keduanya tampak membicarakan sesuatu sambil sesekali menunjuk layar monitor.

Dewangga menyipitkan mata. Ia tidak bisa mendengar percakapan mereka dari tempatnya berdiri, tetapi pemandangan itu cukup membuatnya mengurungkan niat untuk segera pergi.

Tanpa menoleh sepenuhnya, ia melirik Kalendra yang berdiri di belakangnya.

“Apa hanya mereka berdua yang ada di sini?” tanyanya.

“Ada dua orang lagi, Pak.”

Dahi Dewangga berkerut tipis. “Ke mana sisanya?”

“Oh, tim desain dibagi menjadi dua kelompok, Pak,” jawab Kalendra. “Dua orang mengerjakan desain untuk proyek lain, sedangkan Nafisa dan Variz menangani desain milik klien yang akan datang besok, Pak.”

Dewangga mengangguk. Namun, alih-alih melanjutkan langkah menuju ruang kerjanya, ia justru mendorong pintu kaca dan melangkah memasuki ruangan tim desain.

Kedua tangannya terselip di saku celana. Tatapan menatap mereka berdua yang seakan tak menyadari kehadirannya.

Dewangga mengangkat tangan yang terkepal ke depan mulut, lalu berdeham untuk mengalihkan perhatian mereka berdua.

Dan alhasil berhasil membuat mereka menyadari kehadirannya.

“Pak Dewangga…?”

“Sedang mengerjakan apa?” tanyanya begitu tiba di dekat meja kerja.

“Pak, kami—”

Dewangga mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan.

“Saya tidak bertanya padamu, Nafisa. Saya bertanya kepada Variz.”

Terlihat Nafisa langsung mengerutkan kening dan menatap ke arahnya dengan ekspresi tak percaya.

“Tapi, kenapa mata Bapak menatap ke saya?” protesnya.

Dewangga mengangkat sebelah alis. “Ini mata saya, jadi suka-suka saya mau menatap siapa. Jangan kegeeran deh.”

Terdengar dengusan dari Nafisa, tapi Dewangga tak peduli. Ia mengalihkan perhatian kepada Variz. “Sudah selesai?”

Variz segera meluruskan duduknya. “Hampir selesai, Pak.”

“Hampir selesai itu berapa lama lagi?”

“Sebentar lagi, Pak. Tinggal menyelesaikan beberapa detail.”

Dewangga mengangguk tipis, lalu melirik layar komputer mereka. “Tiga desain dari tim ini harus siap dikirim kepada klien kita siang ini. Karena berhubung mereka tidak jadi datang karena masalah kendala.”

“Siap, Pak,” jawab Variz.

“Loh, bukannya—”

Dewangga mengangkat tangannya, sengaja memotong ucapan Nafisa sekali kagi. Dan kali ini jemarinya menunjuk ke arah Variz.

“Variz, cepat kamu bertanya pada saya.”

“Eh, tapi, Pak—”

“Mau gaji bulan ini saya potong karena gak bertanya pada saya?” potong Dewangga.

“Jangan, Pak.”

“Cepetan bertanya,” desak Dewangga.

Terlihat pandangan Variz menatap ke arah Nafisa.

Dewangga mengangkat sebelah alis, lalu memperhatikan perubahan ekspresi Nafisa yang seketika mengatupkan bibirnya. Wajah perempuan itu tampak begitu kesal.

“Naf, tadi kamu mau tanya apa?”

Dewangga yang masih berdiri di dekat mereka tanpa sengaja mendengar pertanyaan itu.

“Enggak tahu,” jawab Nafisa, masih dengan wajah kesal.

Variz mengernyit. “Lah, kok enggak tahu?”

“Aku juga enggak tahu mau tanya apa,” bisik Nafisa lagi.

“Naf, tolonglah, ini pertaruhan gajiku.”

“Enggak tahu, Variz.”

Dewangga buru-buru menundukkan wajah, menyamarkan senyum yang hampir lolos dari bibirnya.

Namun, ia segera menegakkan tubuh dan kembali memasang ekspresi serius.

“Sudah, kerjakan sekarang. Saya mau ke ruangan saya,” ucap Dewangga. “Ingat, hari selesai hari ini untuk di kirim.”

“Iya, Pak,” jawab Variz.

Netra Dewangga seketika menatap ke arah Nafisa yang hanya diam tak menjawab

Tetapi dirinya memilih tidak menegurnya. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan kedua tangan kembali masuk ke saku celana.

Begitu melewati pintu, senyum tipis kembali.

.

Setelah pria itu dan asistennya keluar dari ruangan.

Nafisa hanya bisa mendengus kesal.

‘Kalau bukan atasanku, sudah ku bejek-bejek terus kuberi makan serigala biar tahu rasa!’

Nafisa meraih tetikus di atas meja, lalu menggerakkannya dengan sedikit kasar.

“Kamu ada masalah dengan Pak Dewangga?” tanya Variz di depannya.

 “Kamu kayak nggak tahu dia saja, Riz. Asal kamu tahu saja. Tadi aku datangnya sudah cepat, tapi Pak Dewangga malah kayak mencari-cari kesalahanku. Karyawan lain datangnya sama sepertiku, tetapi kenapa cuma aku yang ditegur?”

Variz menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melirik Nafisa dengan senyum jahil.

“Paling Pak Dewangga suka sama kamu, Naf.”

“Suka?” ulangnya.

Nafisa spontan terkekeh geli. Ia sampai menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan dugaan rekannya itu.

“Sudah, cukup, Riz. Dengar ucapanmu bikin kupingku kegelian, tahu gak?”

Lalu pandangan Nafisa beralih menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.

“Semoga saja jodohnya Pak Dewangga itu cerminannya sendiri. Benar-benar menyebalkan. Aku doakan itu!”

Variz tertawa kecil mendengar sumpah serapahnya.

“Jahat banget doanya.”

“Biarin! Biar dia tahu rasanya punya pasangan yang sama menyebalkannya.”

Nafisa kembali memusatkan perhatian pada layar komputer. Jemarinya mulai menari di atas papan ketik, melanjutkan desain yang tadi sempat tertunda karena kedatangan atasannya.

“Sudah, lanjut lagi. Biar cepat selesai,” ujarnya.

“Oke.”

Nafisa menggeleng kecil, kemudian kembali mengetik. Ia tak mau membuang waktu hanya untuk memikirkan pria yang telah sukses merusak suasana hatinya sejak pagi.

. . .

Waktu terus berlalu hingga matahari semakin tinggi di atas langit.

Masih di ruang tim desain.

Fokus Nafisa tak pernah lepas ke arah layar laptopnya. Sesekali merapikan desain busana yang akan segera di kirimkan ke klien.

“Naf, kita makan siang dulu. Dilanjutkan nanti,” ujar Variz yang duduk di hadapan Nafisa.

Nafisa mengalihkan pandangan dari layar komputer, lalu menatap rekan kerjanya itu sekilas. Ia meraih ponsel di atas meja.

Ia menyalakan layar ponsel dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Saat hendak meletakkannya kembali, sebuah notifikasi pesan tiba-tiba muncul.

Kling!

Nafisa menunduk, membaca nama pengirim yang tertera di layar.

Ibu: (Foto)

Alisnya terangkat. Ibunya mengirim foto. Rasa penasaran membuat Nafisa segera membuka ruang obrolan mereka.

Sebuah foto muncul di layar. Nafisa sempat terdiam ketika melihat seorang wanita yang wajahnya terasa familiar sedang berpose di depan cermin. Wanita itu mengenakan pakaian sedikit vulgar, lengkap dengan aksesori menyerupai telinga dan kalung kucing.

Namun, sebelum Nafisa sempat memperhatikan foto itu lebih lama, gambar tersebut mendadak menghilang.

Nafisa mengerutkan kening. Ia menatap layar ponselnya.

‘Kenapa buru-buru dihapus?’

Kling!

Notifikasi lain masuk. Nafisa segera membukanya.

Ibu: Itu AI, Naf. Ibu baru coba. Tadinya Ibu mau minta AI buat mengubah foto Ibu pakai baju kucing. Eh, malah jadinya yang begitu terus terkirim ke kamu. Mau Ibu hapus, tapi kamu keburu lihat.

Membaca penjelasan itu, Nafisa mengembuskan napas lega. Ia bahkan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala.

‘Oh, ternyata begitu.’

Nafisa pun mengetik balasan singkat.

Saya: Iya, Bu. Gak apa-apa.

Ia mengirim pesan tersebut, lalu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.

Setelah itu, Nafisa mengangkat wajah dan mendapati Variz masih menunggunya. Pria itu sudah merapikan beberapa berkas di hadapannya, bersiap meninggalkan ruangan.

“Ayo, aku sudah lapar,” ujar Nafisa sambil berdiri dan meraih tas kecilnya.

Variz terkekeh pelan. “Dari tadi aku ajak makan, malah sibuk sama ponsel.”

“Sebentar doang, kok.” Nafisa tersenyum, lalu berjalan menghampirinya. “Sudah, ayo. Nanti keburu ramai.”

Keduanya pun meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ke kantin .

.

Sementara itu, di dalam kamar. Yulia duduk di tepi kasur dengan ponsel masih berada dalam genggamannya. Dadanya berdebar mengingat foto yang tadi nyaris membuat Nafisa curiga. Untung saja ia berhasil memberikan alasan sebelum putrinya bertanya lebih jauh.

“Padahal aku ingin mengirim foto ke Damar, malah salah kirim,” gumamnya kesal.

Yulia mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan tangan di atas pangkuannya.

Drrr ... drrr ...

Getaran ponsel di tangannya membuat Yulia tersentak kecil. Ia segera menunduk dan mendapati nama Damar tertera di layar. Sebuah panggilan video masuk dari pria yang sejak tadi ditunggunya.

Senyum Yulia langsung mengembang. Tanpa membuang waktu, ia menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.

“Ada apa, Dam?” sapanya manja.

Wajah Damar muncul di layar. Pria itu tampaknya sedang berada di dalam sebuah.

“Lagi ngapain, Sayang?” tanyanya.

“Lagi nungguin menantuku pulang.” Yulia terkekeh kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. “Kamu gak mau pulang cepat, Dam?”

“Ingin, Sayang. Tapi sepertinya bakal telat karena harus menawarkan produk.”

Yulia langsung mendengus. Ia melirik pakaian yang dikenakannya, kemudian kembali menatap layar dengan bibir sedikit mengerucut.

“Padahal aku sudah pakai begini, loh.”

Ia menjauhkan ponselnya sedikit agar Damar bisa melihat pakaian yang sengaja dikenakannya. Yulia tersenyum puas saat melihat dirinya sendiri di layar.

Dan dirinya pun berhasil membuat Damar, menantunya terlihat susah payah menekan ludahnya

“Sayang, jangan mulai dulu. Aku masih di jalan ini,” ujar Damar, terdengar berusaha menahan godaan.

“Makanya buruan pulang, Dam,” rengek Yulia.

“Iya, aku pulang, Sayang. Jangan ganti pakaian dulu.”

Senyum Yulia semakin lebar mendengar janji itu. Namun, alih-alih menjawab, ia justru mengakhiri panggilan tersebut begitu saja.

“Biar kamu penasaran,” gumamnya sambil terkikik kecil.

Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu membuka laci di samping tempat tidur. Tangannya mengaduk beberapa barang sebelum menemukan sebungkus pil yang baru dibelinya.

Yulia mengambilnya dan mengamati kemasannya dengan saksama.

“Katanya sih, ini bisa bikin pria lebih perkasa di ranjang,” gumamnya.

Ia membolak-balik kemasan itu, membaca keterangan yang tertera meski tidak sepenuhnya memahami isinya.

“Coba saja, deh. Katanya perempuan juga boleh minum.”

Tanpa berpikir panjang, Yulia mengeluarkan sebutir pil dan memasukkannya ke dalam mulut, lalu menelannya dengan bantuan air putih di atas meja.

Setelah meletakkan gelasnya kembali, ia menatap ponsel yang tergeletak tak jauh darinya. Bayangan Damar yang berjanji akan pulang membuatnya tersenyum sendiri.

Yulia tidak sabar menunggu menantunya tiba di rumah dan melihatnya bergeliat dia tas kasur.

Dan beberapa saat ia menelan pil tersebut. Seketika timbul rasa aneh yang menjalar, di tambah rasa gelas tiba-tiba menyelimuti sekujur tubuhnya.

Yulia mengusap tengkuknya.

“Panas,” gumamnya. “Apa mungkin ini efeknya sudah bekerja, ya.”

Matanya seketika terpejam.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!