NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Informasi minim

Evelyn berdiri beberapa saat dalam diam, lalu menarik napas panjang.

Langkah pertama adalah Informasi.

Ia berbalik, mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layarnya menyala, memantulkan wajahnya yang kini jauh lebih tenang—namun penuh perhitungan.

Jarinya bergerak cepat. Ia mengetik nama yang masih terpatri jelas di ingatannya—

Cristian Noah Alexander.

Nama itu baru ia ketahui beberapa hari sebelum malam berdarah itu terjadi. Saat masih menjadi sopir, pria itu menggunakan nama samaran… Cristian Silas.

Dua identitas. Dua wajah. Dan keduanya sama-sama berbahaya.

Evelyn menekan tombol pencarian. Beberapa detik berlalu. Hasilnya muncul— namun… tidak seperti yang ia harapkan. Informasinya sangat minim. Hanya beberapa data umum yang terasa terlalu “bersih”.

Evelyn menyipitkan mata. Layar ponsel kembali menyala di tangan Evelyn. Ia menatap hasil pencarian itu dengan lebih teliti, alisnya perlahan berkerut.

Cristian Noah Alexander.

Nama itu bukan sekadar nama. Di sana tertulis—pemegang saham terbesar Alexander Group, perusahaan besar yang bergerak di sektor energi dan infrastruktur.

Evelyn terdiam. Dadanya terasa berat. “Itu… tidak masuk akal…” bisiknya.

Seseorang dengan posisi setinggi itu… seharusnya hidup di lingkaran elit, dikelilingi keamanan, kekuasaan, dan orang-orang yang siap menjalankan perintahnya tanpa ragu.

Namun kenyataannya—

pria itu justru menyamar menjadi sopir pribadi di rumah mereka.

Tangannya sedikit gemetar saat menggulir layar.

Informasi lain… kosong. Tidak ada data keluarga. Tidak ada alamat jelas. Tidak ada riwayat hidup yang bisa ditelusuri. Bahkan foto yang muncul pun buram, seolah sengaja disembunyikan dari publik.

“Dia sangat… misterius…” gumam Evelyn pelan.

Semakin ia berpikir, semakin tidak masuk akal semuanya.

Jika Cristian memang orang sebesar itu...kenapa ia harus turun tangan sendiri? Kenapa harus menyusup… berpura-pura… menunggu? Bukankah lebih mudah jika ia hanya menyuruh orang lain?

Pertanyaan itu membuat napas Evelyn terasa berat. Matanya perlahan menyempit.

“Berarti…” bisiknya pelan.

“Ayah… bukan target biasa.”

Kemungkinan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Apa sebenarnya yang telah dilakukan ayahnya? Sampai seseorang seperti Cristian Noah Alexander harus turun langsung? Bukan sekadar membunuh… tapi memastikan semuanya selesai tanpa sisa.

“Kalau begitu, aku tidak akan menemukan jawaban hanya dari sini.”

Ia menatap ponselnya sekali lagi, lalu mematikannya.

Jika dunia luar tidak menyimpan informasi tentang Cristian Noah Alexander…

maka satu-satunya tempat untuk mencari jawaban—

adalah langsung darinya.

Evelyn menurunkan ponselnya perlahan. Pikirannya berputar cepat, mencoba menghubungkan potongan-potongan yang belum lengkap.

“Ini bukan sekadar dendam biasa…” lanjutnya lirih.

Ada sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang bahkan mungkin tidak diketahui oleh seluruh anggota keluarga itu sendiri.

Ia menatap ke arah cermin, melihat dirinya sendiri dengan tatapan asing.

Jika ia ingin mengubah takdir— ia tidak hanya harus menghadapi Cristian. Ia juga harus siap menghadapi kebenaran tentang ayahnya.

Dan untuk pertama kalinya…Evelyn mulai ragu.

Apakah yang ia coba selamatkan… benar-benar layak untuk diselamatkan?Evelyn terdiam di depan jendela, jemarinya masih menggenggam ponsel dengan longgar. Hujan semalam seolah belum benar-benar pergi dari ingatannya.

Bayangan itu kembali.

Gerakan Cristian Noah Alexander… begitu cepat. Tepat. Tanpa ragu.

Bukan seperti orang yang panik.

Bukan seperti orang yang baru pertama kali melakukan hal mengerikan itu.

Setiap langkahnya terukur. Setiap tindakannya seolah sudah direncanakan dengan sempurna.

Evelyn mengepalkan tangannya perlahan.

“Jika itu pertama kalinya…” gumamnya pelan, matanya menyipit. “Tidak mungkin bisa seakurat itu, kan?”

Napasnya tertahan sesaat. Pikirannya mulai menyusun kemungkinan yang selama ini ia abaikan.

Bukan sekadar orang kaya. Bukan sekadar pemegang saham perusahaan besar.

“Jangan-jangan…” suaranya semakin lirih.

Ia menatap bayangannya sendiri di cermin, seolah mencoba meyakinkan apa yang akan ia ucapkan.

“Dia… seorang mafia?”

Kata itu terasa berat. Namun semakin ia mengingat, semakin semuanya terasa masuk akal.

Seseorang yang terlihat bersih di depan publik… memiliki perusahaan besar… identitas yang nyaris tak bisa dilacak…

Dan di balik itu— dingin. kejam. tanpa ampun.

Evelyn menelan ludah.

“Topeng yang sempurna…” bisiknya.

Jika benar begitu, maka yang ia hadapi bukan sekadar musuh biasa. Melainkan seseorang yang sudah terbiasa hidup di dua dunia. Dan itu membuat situasinya jauh lebih berbahaya.

Namun alih-alih mundur— tatapan Evelyn justru mengeras.

“Kalau kamu benar seperti itu…” ucapnya pelan, seolah berbicara langsung pada Cristian Noah Alexander.

“...maka aku harus lebih berhati-hati.”

Ia meletakkan ponselnya di meja. Ketakutan masih ada. Namun kini, ketakutan itu berubah menjadi kewaspadaan.

Karena ia sadar— satu langkah salah saja…bisa membuatnya kembali ke akhir yang sama.

Evelyn mengedip pelan, tersadar dari pusaran pikirannya sendiri. Ia menoleh ke arah jendela.

Taman di luar tampak hidup.

Bunga-bunga bermekaran, warna-warni yang lembut berpadu dengan sinar matahari pagi. Angin berhembus ringan, menggoyangkan kelopak-kelopak itu dengan tenang—seolah dunia di luar tidak pernah mengenal tragedi.

“Musim semi…” gumamnya pelan.

Begitu damai. Bertolak belakang dengan apa yang ia ingat. Sebuah keinginan tiba-tiba muncul di hatinya.

“Sepertinya… aku ingin jalan-jalan di taman,” ucapnya pelan, namun kali ini dengan sedikit kepastian.

Ia berbalik dan keluar dari kamar.

“Kelly!” panggilnya.

Tak butuh waktu lama, Kelly muncul dengan wajah penuh perhatian.

“Ya, Nona?”

“Aku ingin keluar… ke taman.”

Mata Kelly langsung berbinar.

“Anda ingin jalan-jalan? Wah, bagus sekali!” suaranya terdengar jauh lebih hidup dari biasanya.

Tanpa menunggu lama, ia segera bergerak cepat.

“Saya akan siapkan air hangat untuk mandi dan pakaian yang nyaman!”

Evelyn hanya memperhatikan sejenak, lalu tersenyum tipis.

Kelly terlihat benar-benar senang.

Selama ini, Evelyn memang jarang keluar kamar. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan dalam diam, di tempat yang sama—membuat suasana di sekitarnya pun terasa monoton. Bahkan bagi Kelly, yang selalu setia melayaninya, itu pasti terasa membosankan.

Beberapa saat kemudian, Kelly kembali dengan segala persiapan. Air hangat, pakaian sederhana namun anggun, dan ekspresi tak sabar yang sulit disembunyikan.

“Semuanya sudah siap, Nona,” ucapnya lembut.

Evelyn mengangguk. Kali ini, ia tidak hanya ingin keluar untuk menikmati udara.

Ia ingin— merasakan bahwa dirinya masih hidup. Bahwa ia masih punya kesempatan. Dan mungkin… di antara bunga-bunga yang bermekaran itu—

ia bisa menemukan sedikit ketenangan sebelum menghadapi badai yang akan datang.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!