NovelToon NovelToon
Nicholas

Nicholas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Badboy / Tamat
Popularitas:31.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Clarissa icha

Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP


Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.

Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Nicho menatap Sisil dari ujung kaki hingga kepala. Pandangan matanya berhenti pada wajah cantik Sisil. Penampilan dan riasan wajahnya sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini terlihat lebih formal dan dengan riasan yang sedikit lebih mencolok.

Nicho menggeleng pelan. Sepertinya wanita itu begitu mempersiapkan diri untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Padahal awalnya menolak hingga akhirnya harus menggunakan cara paksa.

"Kenapa.? Kakak berubah pikiran untuk mengajakku ke rumah.? Dengan senang hati aku setuju,," Sisil terlihat senang jika Nicho ingin membatalkan niat

Sudah 4 hari berlalu sejak Nicho memaksanya untuk membantunya. Sisil selalu tidak tenang memikirkan hal ini. Takut kalau nantinya hubungan dia dan Nicho akan semakin dekat setalah pertemuannya dengan kedua orang tua Nicho. Dia khawatir tidak bisa mengontrol diri dan perasaannya.

Karna Sisil sangat sadar, berawal dari rasa kagum bisa membuatnya jatuh cinta.

"Jangan harap.!" Tagas Nicho. Entah sudah ke berapa kalinya Nicho menoyor kening Sisil dengan telunjuknya sejak pertama kali mereka bertemu hingga saat ini. Sisil yang sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu, hanya bisa mencebik kesal.

"Sekali - kali kamu yang harus membantuku.!" Ujarnya lagi.

"Oke.! Tapi kau nggak mau kalau harus pura-pura jadi pacar kakak." Serunya. Sisil kembali mengingatkan Nicho.

"Aku akan bilang sesuai kenyataan kalau kita hanya teman dan sebatas tetang,,,

Sisil mendelik saat mulutnya di bungkam oleh tangan Nicho.

"Kamu ini berisik.!" Tegurnya.

"Nggak perlu menjelaskan teman atau tetangga, bilang saja kita kalua kita lagi dekat.!" Pinta Nicho dengan nada paksaan.

Sisil menyingkirkan tangan Nicho dari mulutnya

"Jadi kak Nicho ingin kedua orang tua kakak menganggap bawah aku wanita yang nantinya akan memiliki hubungan serius dengan kakak.?"

"Secara nggak langsung memberikan harapan palsu pada mereka karna kita hanya pura - pura."

"Gimana kalau nantinya mereka menyukaiku dan menyuruh kita serius bahkan menikah.?"

Sisil memang mencemaskan hal itu. Takut orang tua Nicho akan berharap lebih dan kecewa jika akhirnya tidak sesuai harapan.

Nicho hanya menggeleng kepalanya. Pemikiran Sisil terlalu jauh. Nicho bahkan tidak yakin Papa Alex akan membiarkannya memiliki hubungan dengan wanita lain begitu saja. Karna Nicho tau betul apa yang di inginkan oleh sang Papa. Papa Alex selalu menginginkannya menikah dengan anak rekan bisnisnya atau anak dari temannya.

"Kamu ini terlalu banyak berfikir dan berandai - andai.!" Cibir Nicho.

"Ayo buruan,,," Dia menggandeng tangan Sisil begitu saja dan berjalan cepat.

Bicara dengan Sisil selalu banyak menyita waktu. kecerewetan dan antusiasnya sangat besar dalam segala hal.

"Kakak itu masih muda, kenapa harus di suruh bawa cewek ke rumah.?" Tanya Sisil setengah bergumam dengan dirinya sendiri. Dia heran saja mengetahui permintaan Papa Nicho. Bukankah seperti meminta sang anak untuk segera menikah jika seperti itu.

"Apa jangan - jangan selama ini kakak nggak pernah bawa cewek ke rumah.? Terus mereka anggap kakak nggak normal,,,"

Keheningan di dalam mobil di pecahkan oleh celetukan Sisil yang berhasil membuat kedua bola mata Nicho seperti hampir keluar dari tempatnya.

"Kau.!! Berani sekali bicara seperti itu.!" Geram Nicho. Suara dan tatapan matanya mampu membuat bulu kuduk Sisil meremang.

Sisil langsung menyengir kuda untuk mencairkan suasana. Senyumnya yang terlihat menggemaskan memang sedikit mengurangi kekesalan Nicho.

"Aku lupa kalau kakak pernah mencium ku. Itu artinya kak Nicho masih normal,," Penuturan Sisil membuat Nicho mengingat kembali perbuatannya yang ceroboh itu. Wajah Nicho bersemu merah, dia memilih bungkam dan fokus menyetir dengan wajah datarnya.

Menanggapi ucapan Sisil hanya akan membuatnya semakin terpojok dan malu.

...****...

Sisil ikut turun dari mobil. Halaman rumah Nicho yang luas dengan taman yang dipenuhi bunga dan tanaman yang hijau, mengingatkan Sisil pada rumah di Surabaya yang sudah lama tidak dia tempati.

"Jadi inget rumah,,," Gumam Sisil lirih. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh halaman dan rumah Nicho.

"Kak Nicho kenapa nggak tinggal disini.? Padahal nggak terlalu jauh dari kampus dan kafe kakak,,"

Nicho hanya melirik saja. Dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Sisil terlihat langsung membuntutinya.

Wanita itu tidak perlu tau alasan yang sudah membuatnya tidak lagi tinggal di rumah ini.

"Tungguin kak, aku malu,,," Sisil mensejajarkan diri dengan Nicho dan menggandeng tangannya. Aksi Sisil mendapat tatapan tajam dari Nicho. Laki - laki itu seolah sedang memberikan protes karna tangannya di gandeng oleh Sisil.

"Kalau nggak pegangan tangan seperti ini, Papa kak Nicho mana percaya kalau kita sedang dekat." Ujar Sisil beralasan. Padahal dia memegang tangan Nicho karna gugup dan gerogi. Entah kenapa seperti akan bertemu dengan calon mertua sungguhan.

Nicho tampak diam. Dia terlihat setuju dengan alasan yang diberikan oleh Sisil. Dia memang harus menunjukan kedekatan di depan sang Papa agar percaya kalau Sisil adalah wanita yang sedang dekat dengannya.

"Sayang kamu datang,,," Mama Rissa berjalan cepat menghampiri putranya, kemudian memeluknya erat.

Sisil langsung melepaskan tangan Nicho. Dia tersenyum canggung saat bertatapan dengan Mama Rissa dan Papa Alex yang masih berjalan ke arahnya.

"Bagaimana kabar Mama.?" Tanya Nicho setelah melepaskan pelukannya.

"Mama akan selalu baik kalau kamu tinggal disini,," Sahutnya. Mama Rissa memegangi lengan putranya. Memberikan tepukan pelan di sana.

"Ini siapa Nich.?" Mama Rissa beralih menatap Sisil dengan intens.

"Dia pasti wanita yang sedang dekat dengan Nicho mah, bukan begitu Nich.?!" Tanya Papa Alex.

"Siang tante, siang om,," Sapa Sisil. Dia tersenyum ramah namun masih jelas terlihat malu - malu.

Papa Alex dan Mama Rissa tersenyum pada Sisil.

"Oh ya,,? Jadi hubungan kamu benar - benar sudah berakhir.?" Mama Rissa terlihat sendu menatap wajah Nicho. Dia bisa melihat ke hancuran di mata putranya.

"Papa tidak suka kalian membahasnya lagi.!" Tegur papa Alex tegas.

"Ayo masuk,, kita makan siang dulu,,," Mama Rissa mengajak mereka ke ruang makan.

"Siapa nama kamu nak,,,?" Tanya Mama Rissa.

Sisil terlihat semakin gugup duduk di depan kedua orang tua Nicho.

"Sisil tante,,," Sisil hanya bisa menjawab singkat.

"Nama yang cantik, secantik orangnya." Puji Mama Rissa dengan senyum yang mereka. Sepertinya dia paham kalau Sisil sedang gugup.

"Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri,,"

Sisil mengangguk cepat.

"Makasih tante,,,"

Sisil tidak menyangka kedua orang tua Nicho akan seramah ini padanya. Sangat jauh berbeda dengan sikap Nicho sampai Sisil harus menjuluki Nicho ketus dan dingin.

"Kalian sudah lama kenal.?" Tanya Papa Alex.

"Sudah,,"

"Belum om,,"

Sahut Nicho dan Sisil secara bersamaan.

Papa Alex dan Mama Rissa saling pandang kemudian terkekeh kecil.

"Kalian itu kalau mau bohong harusnya di rencanain matang - matang,," Ledek Papa Alex. Dia melirik Nicho dengan tatapan meremehkan karna tidak bisa membohonginya.

"Kenal dimana sama Nicho.?" Tanya Papa Alex lagi.

Sisil terlihat bingung untuk menjawab, karna saat ini Nicho sedang mendelik menatapnya.

"Jangan pedulikan Nicho, anggap saja dia tidak ada disini,,," Kata Papa Alex dengan seulas senyum.

Sisil mengangguk ragu. Dia pasti akan mendapat teguran dari Nicho setelah ini.

"Baru 2 minggu yang lalu om ketemu sama kak Nicho, kebetulan apartemen kita sebelahan,," Ujar Sisil lirih.

"Kamu tidak tinggal dengan orang tua.?" Mama Rissa terlihat ingin tau lebih banyak tentang Sisil.

"Mommy sama Daddy masih di Korea tante. Tahun depan baru akan menetap lagi di Surabaya."

Nicho menatap Sisil. Dia baru tau kalau kedua orang tua Sisil tidak tinggal di sini.

"Jadi kamu tinggal di Jakarta sendirian.?" Tanya Papa Alex.

"Ada autny dan uncle di Jakarta. Aku mengunjungi mereka 1 minggu sekali,,"

Sisil sudah mulai nyaman dan tidak merasa gugup lagi. Sikap baik dan ramah dari kedua orang tua Nicho, membuatnya bisa dengan mudah beradaptasi.

Mereka mengakhiri obrolan ringan dengan makan siang bersama. Nicho lebih banyak diam saat Sisil dan kedua orang tuanya sedang berbicara.

...****...

1
liaa
seruu
Sitinor Holisah
coba gaush pkek pov pasti cerita nya lebih seru
aroem
bagus
Ira Suryadi
Luar Biasa
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
Nathan n Sisil memang punya jiwa besar🌹
pipi gemoy
mama Shinta noh👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹👻
pipi gemoy
vote buat nich n Sisil✌🏼
pipi gemoy
welcome baby boy Kevin ☕👏🏼👍🏼🙏🏼
pipi gemoy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣si Sisil satu frekuensi sama kakak n adik👻
pipi gemoy
pinter Sisil 🌹
pipi gemoy
papa alex👻🌹
pipi gemoy
pinter nick🌹
pipi gemoy
hadir Thor
nobita
aku jadi tegang 🤭
Candle_SHe
😍😍😍
arsita
ceritanya tu terlalu berbelit"
Yudi Jebaru
menarik/Rose/
Sofie Ariyani
nicho gendeng 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!