Seorang suami yang mempunyai dua istri, namun keduanya baik-baik saja tidak ada masalah.
Istri pertama sakit-sakitan dan tidak di karuniai anak, sementara Istri kedua di karuniai seorang putra.
Akan tetapi Sang Suami tidak puas dengan dua Istri, Dia masih tergoda wanita lain.
Akhirnya Dia jatuh dalam pelukan wanita jahat dan serakah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Asmarani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 Berkunjung ke Jogja
Sejak kejadian itu Clara jadi pendiam, Rini sama Bu Nani pun kebingungan. Kenapa Clara yang periang berubah jadi pendiam seperti itu. Rini mencoba mendekati Clara, dia ingin tau penyebab dia jadi pendiam.
"Cla...sore-sore gini enaknya ngapain ya, beli martabak enak kali ya," Rini mencoba menawarkan makanan kesukaan Clara. Tapi Clara tetap diam pada posisinya.
"Sepedaan yukk," ajaku.
"Ngga ahh, lagi males Rin," jawabnya.
"Kamu itu kenapa sih, kok dari kemarin kamu cemberut gitu, ntar cepet tua lho," Ririn mencoba bercanda.
"Biarin, cepet tua juga," jawabnya ketus.
"Aku tau nih...jangan-jangan tuan putri sedang patah hati nih yee," Ririn lari sambil tertawa.
"Kamu ini apa-apaan sih, aku lempar sendal baru tau rasa nih," Clara nimpuk Ririn pakai sendal yang ia pakai. Mereka kejar-kejaran di halaman belakang panti.
Akhirnya usaha Ririn berhasil, ia telah membuat Clara tertawa.
****
Bara merasa dongkol karena ulah Icha, ternyata Icha punya tujuan lain dengan bakti sosial yang ia adakan kemarin. Dia ngga tulus membantu orang yang tidak mampu, tapi karena punya tujuan lain yaitu mendekati Bara. Bara bener-bener kecewa sama Icha.
"Dari awal aku sudah curiga, Icha yang begitu perhitungan kenapa mendadak jadi dermawan. Wartawan yang meliputnya pun suruhan Icha. Dia bener-bener pinter bersandiwara."
"Bara...dalam minggu ini kamu ada libur apa ngga, mamah sama ayah mau nengok Eyang di Jogja," Nara yang sedang mencuci piring sambil mrlirik ke arah Bara yang mematung di teras belakang.
"Iya Mah, Mamah barusan ngomong apa," Bara menanyakan ulang sama Nara.
"Anak mamah kenapa sih kok kerjanya jadi melamun terus, begini, kalau kamu ada libur mau ikut ayah sama mamah ke Jogja apa ngga," Nara mengulanginya lagi.
"Ikut lah, Bara ada libur kok, kapan kita berangkat Mah,?"
"Nanti tanya ayahmu dulu, kalau kerjaan ayahmu udah selesai nanti sore kita bisa berangkat," balas Nara sambil melepaskan clemek yang ia pakai.
"Kamu mandi aja dulu sana, biar seger ngga layu gitu."
"Ihh Mamah, emangnya Bara kembang apa pakai layu segala," Bara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa Bara jadi seperti itu, ngga biasanya dia seperti itu...apa dia terlalu cape dengan mata kuliahnya atau ada masalah lain. Sudahlah itu urusan anak muda."
" Ehh, Mas udah pulang...jadi apa ngga Mas ke Jogjanya. Bara mau ikut, libur katanya."
"Jadi lah, kasian ibu udah nunggu kita, ya udah kita siap-siap aja, nanti malam kita berangkat," jelasnya.
"Aku mau mandi dulu Ra, makannya nanti aja, Bara dimana? apa dia udah pulang dari acara bakti sosial itu."
"Udah pulang dari tadi, lagi di kamar...Ehh Mas bentar, sini bilangin, Bara lagi ada masalah kayanya, dari tadi menyendiri terus di belakang," bisik Nara.
"Terus...sekarang masih murung juga," tanya Nando lagi.
"Aku suruh mandi barusan."
Biarin lah Ra...dia itu udah bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa nyelesain masalahnya sendiri. Tugas kita sekarang menghibur Bara supaya ngga larut dalam kesedihan.
"Iya Mas, tapi kadang ngga tega liat Bara bersedih."
Nandopun bergegas ke kamar meninggalkan Nara yang sedang berada di ruang tengah. Nara melanjutkan membaca majalah yang sempet terrhenti.
Bara menjatuhkan badannya ke kasur, dia menatap langit-langit kamar, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Clara...apa reaksi kamu tadi adalah cemburu, apa kamu juga punya perasaan yang sama seperti aku, lain waktu aku pasti ke panti mengunjungimu."
"Ayah udah pulang apa belum ya, jadi ngga sih ke Jogja sekarang, pengin cari suasana baru."
Bara meraih ponsel yang tersimpan diatas nakas dan keluar kamar, Bara nenuruni anak tangga menuju ruang tengah. Di sana masih ada Nara yang masih terlihat asyik baca majalah.
"Mah jadi apa ngga ke Jogjanya, " Bara menyandarkan tubuhnya dengan manja ke pundak Nara.
Nara mengusap rambut Bara dengan lembut penuh kasih ," tumben kamu ngga sabaran banget Mamah sama ayah ke Jogja, kamu kenapa nak?"
"Ngga kenapa-napa Mah, bosen aja lama ngga liburan," sahutku.
Terdengar suara langkah sepatu Nando menuruni anak tangga," kenapa Mamah belum siap, ayo kita berangkat sekarang aja," ajak Nando.
"Iya Mas, ini anakmu lagi bermanja-manja, makan dulu Mas udah dingin tuh...kirain habis mandi makan dulu malah keluar udah rapi gitu. Ya udah Mas Nando sama Bara makan dulu Mamah mau ganti baju dulu sebentar
Nara naik ke kamar, sementara keduanya berjalan menuju ruang makan. Mereka makan dengan lahap masakan Nara.
"Emang kamu beneran libur, atau kamu lagi ada masalah dan ke Jogja untuk menghindar,?" tanya Nando sambil tetap menikmati makananya.
Bara melirik ke arah ayahnya, " libur yah...kata siapa menghindar dari masalah, ayah ini sok tau banget ahh."
Nando mengerjapkan matanya," ya siapa tau aja, tapi masa anak ayah pengecut...menghindar dari masalah," Nando terkekeh.
Keduanyapun selesai menikmati makanan yang di masak Nara. Nara juga udah siap tinggal berangkat. Nara menitipkan rumah sama Mang Udin sana Mba Dinah, mobilpun mulai melaju pelan meninggalkan halaman rumah.
****
Lina sedang bersiap pergi dari kontrakan yang selama ini di tempatinya bersama Alex, tanpa sepengetahuannya Lina akan pindah dari situ dengan dibantu tetangganya. Lina sudah cukup menderita karena Alex. Dia hanya membawa beberapa pakaian sama barang penting aja, yang terpenting adalah pergi dari rumah kontrakan itu.
Tetangga sudah datang membantu mendorong kursi roda yang di duduki Lina, dan ada yang membantu membawakan kardus menuju mobil yang Lina sewa. Perlahan mobil itu membawa Lina pergi dari kontrakan milik Alex. Dia sangat beruntung memiliki tetangga yang masih peduli.
Tidak lama setelah kepergian Lina, mobil minibus masuk nampak Alex keluar dari mobil dan memapah seorang perempuan seksi dari dalam mobil. Keduanya berjalan menuju rumah, Alek menggedor-gedor pintu sambil berteriak.
Dorr..dorr...dor...
"Lina! cepat buka pintunya!
Masih dengan memapah perempuan yang kelihatannya sedang mabuk. Dia mendudukan perempuan itu dan mengintip suasana dallam rumah.
"Kemana si Lina s*alan itu, apa dia. tertidur pulas," Alex mencoba ke arah samping rumah dan menggedor jendela kamar, tetap saja tidak ada sahutan dari dalam rumah.
"Ini kan kunci rumah...lantas Linanya kemana, dia ngga mungkin bisa keluar sendiro tanpa bantuan orang lain, tapi siapa yang sudah membantunya pergi dari sini.
"Sial kamu Lin, jangan harap hidup kamu akan tenaang, kemanapun kamu pergi pasti akan aku temukan."
Alex membuka pintu dan memapah perempuan tadi masuk ke dalam rumahnya. Dia menjatuhkan badan perempuan itu ke ranjang milik Lina. Alex duduk sambil memegang kepalanya yang mungkin terasa pening, habis minum pulang ngga ada Lina. Biasanya dia menganggap Lina seperti pembantu menyuruh semau dia.
Kira-kira Lina pindah kemana ya, kasian juga. Dulu kelakuannya sama seperti Alex, tapi cobaan demi cobaan yang akhirnya membuat dia berubah, dia sadar bahwa kelakuannya dulu telah merugikan banyak orang.
*bersambung...
Terima kasih buat para readers setia, saya minta maaf karena kadang masih ada typo di mana- mana.
kritik dan sarannya kak...❤🤗*
andai dirimu nikahbdg nando dgn siri, harta ygvdiberikan nando ke kamu, jd harta gono gini istri yg sah sexara afama dan negara.
jd perkawinan dgn suri, tdk punya kekuatan hukum apapun.
Sudah tua kan ?
Waktu Nando selingkuh dgn Lina umurnya diatas 40 th. 23 tahun kemudian berarti sudah di atas 60th.
Hena teman sekolah Nando.
Masih melacur...