Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Perangkap Terbuka
Celine menunggu dua hari setelah kemunculan Jensen.
Dua hari itu cukup untuk membuat Sekar yakin bahwa perempuan itu tidak bergerak karena ragu. Ia bergerak karena sedang menghitung jalan paling aman untuk terlihat tidak bersalah.
Pada pagi ketiga, Kevin mengetuk pintu Paviliun Mei.
Itu saja sudah aneh.
Kevin biasanya masuk tanpa mengetuk, atau tidak datang sama sekali. Hari itu ia berdiri di ambang pintu dengan kemeja kusut dan ekspresi tidak sabar, seperti seseorang yang dipaksa menghafal kalimat sebelum naik panggung.
"Aku mau bicara."
Sekar membuka pintu lebih lebar. "Tentang apa?"
Kevin masuk, melihat sekeliling kamar, lalu matanya berhenti pada Lukisan Mei Dingin di dinding.
Terlalu jelas.
Sekar pura-pura tidak melihat.
"Engkong belum pernah minta lukisan itu diperiksa asuransinya?" tanya Kevin.
"Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Karena itu barang mahal. Kalau rusak atau hilang, siapa yang tanggung jawab?"
Sekar duduk di kursi dekat jendela. Ia membuat dirinya terlihat bingung, sedikit tersinggung, tetapi tidak terlalu defensif.
"Lukisan itu hadiah dari Engkong."
"Justru karena hadiah dari Engkong, harus dijaga." Kevin menggaruk belakang kepalanya. "Aku kenal orang yang bisa menilai. Cuma sebentar. Dipinjam satu atau dua hari."
"Kamu kenal orang seni sejak kapan?"
Wajah Kevin memerah. "Apa maksudmu?"
"Aku hanya bertanya."
"Jangan membuat ini sulit, Felicia." Nada Kevin mulai naik. "Kamu selalu seperti korban setiap kali diminta melakukan hal sederhana."
Dulu, kalimat seperti itu mungkin membuat Sekar takut. Hari ini, ia justru hampir tenang.
Karena di balik pintu, semua jalan sudah dihitung.
"Kalau Engkong tahu?"
"Aku yang tanggung."
Kebohongan itu keluar terlalu cepat.
Sekar menunduk, membiarkan keheningan cukup lama untuk membuat Kevin gelisah. Ia melihat dari sudut mata bagaimana Kevin menggeser berat badan, bagaimana jarinya mengetuk paha. Celine pasti sedang menunggu kabar di suatu tempat.
"Aku tidak nyaman," kata Sekar akhirnya.
"Astaga, Felicia."
"Tapi kalau hanya untuk penilaian asuransi..." Ia berhenti, menggigit bibir seolah ragu. "Satu hari. Tidak lebih."
Kevin hampir terlihat lega. "Ya. Satu hari."
"Aku ingin tanda terima."
"Apa?"
"Tanda terima. Kamu mengambil hadiah dari Engkong dari kamarku. Kalau terjadi apa-apa, aku punya bukti kamu yang membawa."
Wajah Kevin menggelap. "Kamu tidak percaya padaku?"
Sekar menatapnya datar. "Haruskah?"
Untuk beberapa detik, Kevin seperti ingin marah. Tetapi mungkin ia mengingat tujuan kedatangannya. Ia mengeluarkan ponsel, mengetik pesan singkat dengan malas, lalu berkata, "Aku akan suruh orang buat."
Satu jam kemudian, tanda terima sederhana dikirim lewat pelayan.
Dan pada sore hari, Sekar menyerahkan lukisan palsu itu.
Ia melakukannya dengan tangan yang sedikit gemetar.
Bukan karena takut lukisan palsu itu dibawa pergi. Justru karena ia harus terlihat takut pada alasan yang benar. Kevin melihatnya dan tampak puas, seolah berhasil mengambil sesuatu yang berharga dari perempuan yang ia remehkan.
Pelayan yang membawa tanda terima berdiri di dekat pintu. Sekar sengaja membaca kertas itu di depan Kevin, memperlambat setiap detik sampai Kevin menggeram kesal.
"Tanda tanganmu," katanya.
"Kamu pikir aku pembantu?"
"Kamu yang mengambilnya."
Kevin merampas pena dan menandatangani dengan coretan kasar. Sekar menyimpan tanda terima itu di laci paling atas, bukan karena perlu, tetapi karena Kevin harus melihat bahwa ia tidak lagi bisa mengambil sesuatu darinya tanpa jejak.
"Jangan rusak," kata Sekar pelan.
"Lebay."
Kevin membawa gulungan lukisan itu keluar.
Begitu pintu tertutup, Sekar mengambil ponsel rahasia.
Dia sudah mengambilnya.
Balasan Renard datang cepat.
Aku tahu.
Sekar menatap dua kata itu.
Tentu saja ia tahu. Mungkin Hans sudah melihat. Mungkin orang Renard mengikuti Kevin. Mungkin seluruh perangkap ini bahkan punya napas sendiri.
Tetap saja, tangannya dingin.
Beberapa menit kemudian, Hans mengirim foto singkat ke ponsel rahasia. Kevin tampak dari belakang, masuk ke mobil dengan gulungan lukisan di tangan. Di sudut foto, ada pantulan kaca yang memperlihatkan Celine menunggu di kursi belakang.
Sekar memperbesar gambar itu.
Celine tidak tersenyum.
Wajahnya fokus, hampir lapar.
Malam itu, Celine bertemu Kevin di apartemen kecil dekat Kuningan yang tidak terdaftar atas nama siapa pun dari keluarga Liem.
Sekar tidak ada di sana, tetapi Renard mengirimkan satu potongan rekaman suara ke ponsel rahasianya. Bukan video. Hanya suara, cukup untuk membuat Sekar mendengar wajah asli Celine tanpa topeng.
"Kolektor itu serius?" suara Kevin bertanya.
"Serius," jawab Celine. "Sepuluh miliar Rupiah."
Kevin mengumpat pelan. "Untuk satu lukisan?"
"Untuk orang miskin, itu satu lukisan. Untuk kolektor, itu pintu masuk ke lingkaran yang tidak bisa dibeli dengan nama keluarga saja."
"Kalau Engkong tahu..."
"Engkong tidak akan tahu kalau kamu berhenti bicara seperti anak kecil." Suara Celine menajam. "Kita jual, uangnya masuk rekening aman. Setelah itu kamu punya modal sendiri. Aku punya kebebasan sendiri."
"Dan Felicia?"
Celine tertawa.
Tawa itu lembut, indah, dan kosong.
"Felicia bahkan tidak tahu nilai dirinya sendiri. Menurutmu dia akan tahu nilai lukisan?"
Kevin tertawa pelan. "Kalau lukisan itu palsu?"
"Jangan bodoh. Aku sudah kirim foto detail ke orang yang paham. Kertasnya tua, tintanya tua. Bahkan Jensen saja sampai memperingatkan dia untuk menyimpan baik-baik."
"Jensen bisa curiga."
"Jensen selalu terlihat curiga. Itu bukan masalah."
Rekaman berhenti.
Sekar duduk di lantai Paviliun Mei, punggung bersandar pada tempat tidur.
Ia sudah tahu Celine kejam. Ia sudah tahu Kevin bodoh. Tetapi mendengar mereka membicarakan hidupnya seperti barang murah tetap membuat dadanya sesak.
Ponsel rahasia bergetar lagi.
Tanggal transaksi sudah ditentukan. Dua malam lagi.
Sekar membaca pesan Renard, lalu melihat ke dinding yang sekarang kosong. Bekas tempat lukisan tergantung tampak lebih pucat daripada warna sekitarnya, seperti luka yang baru dibuka.
Ia berdiri dan berjalan ke cermin.
Wajah di sana masih Felicia Tan. Pipi lembut, mata terkendali, rambut rapi. Wajah yang dipakai orang lain untuk memperjualbelikan nasibnya.
Sekar menatap dirinya sendiri lama-lama.
"Ini langkah pertamamu," bisiknya.
Suaranya hampir tidak terdengar.
"Jangan gemetar."
Tetapi tangan yang menyentuh bingkai cermin tetap gemetar.
Sekar tidak menariknya pergi.
Ia membiarkan gemetar itu ada.
Karena keberanian bukan berarti tubuh berhenti takut.
Keberanian berarti ia tetap berdiri di depan perangkap yang sudah terbuka, dan kali ini, ia bukan umpan yang tidak tahu apa-apa.