NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Kedap Mata dan Serangan Balik

Fajar di hari berikutnya tidak lagi disambut dengan tirai-tirai kaca yang terbuka lebar mengarah ke laut lepas. Sesuai dengan perintah mutlak Adrian malam sebelumnya, fajar di Vila Uluwatu kini dimulai dengan kesunyian yang mekanis.

Tepat pukul enam pagi, deru halus motor listrik bergema di seluruh penjuru vila saat tirai-tirai otomatis berbahan kanvas tebal tahan sinar ultraviolet berwarna abu-abu arang turun perlahan, menutup separuh pandangan luar dari lantai atas hingga paviliun bawah.

Kompleks mewah yang awalnya tampak transparan dan menyatu dengan keindahan alam Bali itu kini telah bermutasi menjadi sebuah benteng beton yang tertutup rapat, kedap mata, dan tidak menyisakan satu senti pun celah bagi lensa kamera jarak jauh dari arah tebing barat.

Di koridor lantai bawah tanah yang menghubungkan paviliun utama dengan ruang medis privat, Alena berjalan perlahan didampingi oleh Bi Asih.

Pencahayaan di area bawah tanah ini telah disetel sedemikian rupa menggunakan lampu-lampu panel LED berspektrum alami, menciptakan atmosfer yang tetap hangat dan meneduhkan bagi psikologis sang ibu muda. Sistem ventilasi udara mutakhir berteknologi HEPA filter mendengung halus di langit-langit, mengalirkan udara bersih yang sejuk dan bebas dari kelembapan laut yang pekat.

"Bagaimana perasaanmu pagi ini, Alena?" tanya Dokter Saras yang sudah menunggu di ambang pintu ruang olahraga privat bawah tanah. Di dalam ruangan itu, sebuah matras yoga tebal dan beberapa peralatan latihan fisik ringan untuk ibu hamil sudah tertata rapi.

Alena menyunggingkan sebuah senyuman tipis, merapatkan kardigan rajutnya. "Awalnya rasanya sedikit aneh, Dokter. Seperti sedang berada di dalam bungker rahasia. Tapi begitu merasakan udaranya yang segar dan melihat ketenangan di sini, aku merasa jauh lebih aman. Setidaknya di bawah sini, aku tahu tidak ada satu pun pasang mata kotor dari Jakarta yang bisa melihatku."

"Itulah yang paling penting untuk trimester pertamamu," sahut Dokter Saras hangat, menuntun Alena untuk duduk di atas bola yoga besar. "Ketenangan pikiranmu adalah suplemen terbaik bagi perkembangan tabung saraf janin. Biarkan Adrian yang menghadapi dunia luar di atas sana, tugasmu di bawah sini hanya fokus pada detak kehidupan di dalam rahimmu."

Sementara itu, di ruang kerja lantai atas yang kini diterangi oleh lampu meja temaram karena tirai luar yang tertutup rapat, Adrian berdiri di hadapan meja komandonya. Di layar laptop, grafik pergerakan saham dan data analitik dari platform streaming digital global di Singapura terus diperbarui setiap detik. Di sampingnya, Baskara tampak sibuk memeriksa tumpukan dokumen legalitas pembagian royalti internasional yang baru saja masuk.

"Tuan Adrian, efek dari pengumuman kerja sama global kita semalam benar-benar memicu gempa bumi di Jakarta," lapor Baskara, nadanya terdengar sangat bersemangat di balik ekspresinya yang biasanya kaku. "Tuan Besar Baskoro menyadari bahwa boikot distribusi bioskop domestik yang ia lakukan justru menjadi bumerang.

Dua asosiasi pemilik bioskop terbesar di Indonesia pagi ini melayangkan protes terselubung ke kantor pusat Dewangga Group karena mereka kehilangan potensi pendapatan ratusan miliar rupiah akibat hak siar eksklusif film Anda sepenuhnya diambil alih oleh pasar digital luar negeri."

Adrian mengeluarkan dengusan sinis, menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya. "Ayahku selalu berpikir bahwa uang bisa membeli segalanya, termasuk selera dan jalur distribusi sebuah karya seni.

Dia tidak sadar bahwa dengan mencoba mengurungku di dalam kolam domestik, dia justru memaksaku untuk melompat ke samudra internasional yang tidak bisa ia sentuh dengan otoritas hukum korporasinya."

"Bukan hanya itu, Tuan," lanjut Baskara seraya membuka sebuah dokumen berlogo otoritas moneter Singapura. "Dana jaminan pribadi Anda yang dipindahkan dari OCBC Singapura ke rekening darurat agensi di Jakarta sudah resmi diverifikasi oleh Bank Indonesia.

Upaya divisi kepatuhan Dewangga Group untuk membekukan rekening tersebut menggunakan klausul 'gugatan penyalahgunaan wewenang' resmi ditolak oleh pengadilan niaga pusat pagi ini karena status aset tersebut murni merupakan harta personal yang Anda peroleh sebelum menjabat sebagai direktur di anak perusahaan mereka. Seluruh staf kita di Jakarta sudah menerima gaji dan bonus enam bulan ke depan secara penuh."

Mata elang Adrian memancarkan kilat kepuasan yang dingin.

Serangan balik finansial yang ia lancarkan terbukti sangat telak. Ia tidak hanya berhasil menyelamatkan seluruh karyawan dan reputasi agensinya dari kehancuran, melainkan juga berhasil memperlihatkan kepada dewan komisaris Dewangga Group di Jakarta bahwa seorang Adrian Dewangga mampu berdiri kokoh sebagai entitas bisnis mandiri yang memiliki nilai tawar internasional tanpa membutuhkan sepeser pun uang warisan keluarga.

"Bagaimana dengan pergerakan di tebing luar?" tanya Adrian, beralih pada masalah keamanan fisik vilanya.

"Marcus dan timnya sudah menyelesaikan penyisiran drone termal subuh tadi, Tuan," jawab Baskara serius.

"Dua mata-mata tambahan yang mencoba memasang perangkat pemancar sinyal baru di jalur bukit kapur selatan berhasil ditangkap tanpa suara dua jam yang lalu. Mereka saat ini sudah bergabung dengan tim Dika di ruang isolasi bawah tanah pos jaga depan. Perimeter luar kita sekarang benar-benar steril total. Tidak ada satu pun manusia dalam radius satu kilometer yang bisa bergerak tanpa terdeteksi oleh radar kita."

"Bagus," desis Adrian, rahangnya mengetat penuh tekad. "Tahan mereka di sana hingga film kita resmi dirilis secara global bulan depan. Aku ingin ayahku merasakan kecemasan yang sama seperti yang ia berikan pada istriku selama di Jakarta. Biarkan dia menebak-nebak di dalam ruang kerjanya yang mewah tentang apa yang sedang terjadi di atas tebing Uluwatu ini."

Dua jam kemudian, setelah menyelesaikan seluruh urusan taktis korporat dengan Jakarta dan Singapura, Adrian melangkah menuruni anak tangga batu alam menuju ke lantai bawah tanah. Begitu pintu geser ruang olahraga privat terbuka, pandangan matanya langsung melembut saat melihat Alena sedang melakukan gerakan peregangan ringan di bawah panduan Dokter Saras.

Kemeja hitam Adrian yang lengannya digulung hingga ke siku memperlihatkan urat-urat tangannya yang kuat saat ia melangkah mendekati istrinya. Alena yang menyadari kehadiran Adrian, menghentikan gerakannya sejenak dan menyeka keringat tipis di dahinya menggunakan handuk kecil.

"Apakah semuanya berjalan lancar di atas sana?" tanya Alena, sepasang mata beningnya menatap penuh rasa ingin tahu sekaligus perhatian yang mendalam pada wajah suaminya.

Adrian berjalan mendekat, lalu mengambil posisi duduk di atas bangku kayu kecil di samping matras yoga Alena. Ia meraih tangan kanan Alena, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut dan menenangkan.

"Sangat lancar, Alena," jawab Adrian, suaranya terdengar bariton dan mantap. "Seluruh hak distribusi digital global kita sudah aman. Ayahku tidak bisa lagi menyentuh agensiku di Jakarta, dan seluruh staf kita sudah mendapatkan hak mereka. Kita sudah memenangkan babak pertama dari perang finansial ini."

Alena mengembuskan napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa besar tampak menyebar di garis wajahnya yang cantik. "Syukurlah... Aku sangat takut jika keputusanku untuk ikut bersamamu ke tempat ini akan menghancurkan semua hasil kerja keras yang kamu bangun selama bertahun-tahun di industri perfilman."

Adrian memajukan tubuhnya sedikit, memegang dagu Alena dengan jari-jarinya, mengangkatnya perlahan agar wanita itu menatap langsung ke dalam kedalaman manik matanya. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, Alena, dan aku akan mengatakannya sekali lagi agar kamu selalu mengingatnya: di dalam kamus hidupku, hasil kerja keras terbesar dan paling berharga yang harus aku lindungi saat ini bukan lagi sebuah piala penghargaan aktor terbaik atau nilai saham agensiku... melainkan dirimu dan anak kita yang berada di dalam rahimmu."

Adrian menurunkan pandangannya ke arah perut Alena yang tertutup gaun katun hangat, lalu membawa telapak tangannya sendiri untuk bertumpu di sana, merasakan kehangatan yang mengalir dari tubuh istrinya.

"Biarkan tirai di atas tebing itu tertutup rapat dari dunia luar, dan biarkan ayahku mengamuk di Jakarta. Di bawah benteng kedap mata ini, kita akan membangun dunia kita sendiri, dunia di mana hanya ada kedamaian, rasa percaya, dan persiapan untuk menyambut kelahiran penerus darah dagingku dengan cara yang paling terhormat."

Mendengar ikrar perlindungan yang begitu kokoh dan penuh dengan komitmen sejati dari mulut Adrian, air mata keharuan yang hangat kembali mengalir di pipi Alena. Namun kali ini, tidak ada lagi rasa ragu, tidak ada lagi rasa bersalah terselubung.

Alena memajukan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Adrian, memeluk suaminya dengan erat di dalam keheningan ruang bawah tanah yang aman tersebut.

Serangan balik dari Uluwatu telah resmi diluncurkan, meruntuhkan barikade dominasi Baskoro Dewangga di Jakarta di atas kertas korporasi internasional.

Dan di dalam benteng terisolasi yang kedap mata itu, ikatan emosional di antara Adrian dan Alena kini telah bermutasi menjadi sebuah kekuatan baru yang jauh lebih mematikan dari sekadar kontrak pranikah mereka telah resmi berdiri sebagai satu kesatuan jiwa yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik kesucian takdir baru yang sedang bertumbuh di dalam rahim Alena.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!