NovelToon NovelToon
Istri Lugu Sang Cassanova

Istri Lugu Sang Cassanova

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nelramstrong

Siapa sangka, menabrak mobil mewah bisa berujung pada pernikahan?

Zuzu, gadis lugu dengan serangkaian kartu identitas lengkap, terpaksa masuk ke dalam sandiwara gila Sean, cassanova yang ingin lolos dari desakan orangtuanya. Awalnya, itu hanya drama. Tapi dengan tingkah lucu Zuzu yang polos dan penuh semangat, orangtua Sean justru jatuh hati dan memutuskan untuk menikahkan mereka malam itu juga.

Apakah pernikahan itu hanya permainan? Atau, sebuah takdir yang telah ditulis untuk mereka?
Mampukan Zuzu beradaptasi dengan kehidupan Sean yang dikelilingi banyak wanita?

Yuk, ikuti kisah mereka dengan hal-hal random yang dilakukan Zuzu!

Happy Reading ☺️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita di Dalam Bagasi

Bianca terbangun dalam keadaan bingung di dalam mobil Sean, setelah sebelumnya dia mengendap-endap masuk ke dalam bagasi mobil yang belum tertutup.

"Di mana ini? Di mana aku?" gumam Bianca. Dia memperhatikan sekeliling dari balik jendela mobil yang tertutup.

Wanita itu membuka pintu mobil, dan tertegun saat mengetahui mobil tersebut dalam keadaan terkunci, yang berarti dia akan terkurung sampai sang pemilik sendiri yang datang membebaskannya.

"Sean!" Dia berteriak sambil menggedor-gedor jendela mobil dengan keras, berharap suaranya bisa didengar seseorang.

Bianca menempelkan wajah di jendela, melihat keluar di mana suasana sudah sunyi dan hari sudah semakin gelap. Hanya cahaya dari bulan dan lampu rumah-rumah warga sekitar sebagai penerangan.

"Aku gak bisa berada di sini semalaman. Aku sesak," kata Bianca, dia berusaha membuka pintu lagi, namun sia-sia.

Wanita itu kemudian mencari ponsel miliknya. Dia meraba saku jasnya yang kusut dan berdebu, namun benda pipih itu tak kunjung ditemukan.

"Di mana aku meletakkannya tadi?"

Udara di dalam mobil mulai terasa menipis, membuat Bianca semakin sesak. Keringat membasahi tubuh wanita malang itu, membuatnya semakin tersiksa. Dia berusaha mengingat terakhir kali menggunakan ponsel itu, namun karena panik dia tidak bisa berpikir dengan jelas. Ia lalu bangkit dan melihat ke bagasi, berharap ponselnya terjatuh di sana.

"Astaga. Aku bisa-bisa mati kalau berada di sini semalaman. Aku sudah cukup kekurangan oksigen karena seharian berada di bagasi mobil," gumam Bianca, napasnya terengah-engah.

Dia menggeser-geser koper milik Zuzu, untuk menemukan benda yang dicari. Setelah cukup lama mencari, akhirnya dia tersenyum lega saat melihat ponsel miliknya tergeletak di lantai mobil, bersembunyi di bawah koper. Bianca meriahnya dan segera mencari kontak sang CEO, untuk meminta tolong.

"Angkat, Sean. Aku mohon...," gumam Bianca dengan suara bergetar. Perasaan panik dan putus asa menyergap, membuat matanya berkaca-kaca.

Bianca, menunggu panggilan dijawab, Bianca mengusap keringat di kening dan lehernya berkali-kali. Dia menarik napas dalam-dalam berusaha tenang menghadapi situasi tersebut, namun dia tetap tidak bisa menghilangkan rasa takut yang menghantuinya. Dia takut terjebak di dalam mobil itu semalaman, bahkan mungkin lebih lama dari itu.

Sementara itu, di dalam rumah, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang cukup luas dengan beberapa lemari pakaian yang terbuat dari kayu, Sean tengah duduk dengan santai di sebuah kursi kayu yang mulai reyot. Kedua kaki diletakkan di atas meja, tubuhnya bersandar, dan kedua matanya terpejam.

Di samping pria itu, seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun tengah mengipasi nya dengan tekun.

"Om, enak gak, Om? Jangan lupa nanti kasih saya upah, ya. Saya mau beli mainan di pasar," kata bocah itu, ia dengan penuh semangat mengipasi Sean dengan kipas yang terbuat dari anyaman bambu.

"Hmm... kerja aja dulu yang bener," sahut Sean, tanpa membuka mata. Suaranya terdengar santai namun penuh wibawa.

Dari arah dapur, terdengar langkah kaki Zuzu yang keras, mendekat. Sean mengintip istrinya sesaat, lalu kembali memejamkan mata.

"Berisik, Zu. Aku mau istirahat," dumelnya, merasa terganggu.

Zuzu, wanita itu tengah menyantap paha ayam yang disemur dengan bumbu kuning. Pipi, bahkan ujung hidungnya sudah belopatan dengan bumbu. "Kamu gak makan dulu, Sean? Emangnya gak laper?" tanya Zuzu dengan mulut penuh makanan, membuat kedua pipinya semakin bulat.

"Aku ngantuk, gak usah ngajak ngomong," jawab Sean, datar. Masih setia memejamkan mata.

Bocah yang tengah mengipasi Sean, menatap pasangan suami-istri itu bergantian dengan ekspresi bingung. "Bibi Zulaikha, kenapa manggilnya nama sama suami? Kata Umi, itu nggak sopan," tegur Wahid, dengan ekspresi penuh keingintahuan.

"Terus Bibi harus manggil apa, Wahid?" tanya Zuzu, sembari duduk di kursi. Tangannya masih sibuk mencubit potongan daging ayam.

"Manggil apa saja, yang romantis. Biar pernikahannya langgeng," jawab Wahid, serius.

"Emangnya Umi dan Abah kamu manggilnya apa?" tanya Zuzu, menoleh ke arah Wahid sambil mengigit daging yang masih menempel di tulang.

"Kalau Abah, dia panggil Umi, ayang. Kalau Umi, panggil Abah, Abah saja...," jawab Wahid, sambil tersenyum lebar.

Zuzu mengerucutkan bibir sambil menggoyangkan tulang paha di depan bibirnya. "Bibi juga romantis kok. Nih, kamu mau bukti?" tantang Zuzu, sembari bangkit dari kursi.

Wahid mengangguk, netranya mengikuti gerak-gerik Zuzu.

Sean kembali mengintip, kali ini dia merasa penasaran dengan apa yang ingin dilakukan istrinya. Netra pria itu bergerak, mengikuti Zuzu yang berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.

Zuzu memperhatikan sekitar, dia dengan ragu membungkukkan tubuh, lalu...

Cup! Tanpa disangka, wanita yang selama ini dia anggap lugu, begitu berani menciumnya di hadapan orang lain.

"Cie... Bibi Zulaikha sama Om Sen romantis!" seru Wahid sambil bertepuk tangan, membuat pipi Zuzu merona.

Sean tersenyum bangga, dengan perbuatan Zuzu yang penuh kejutan. Namun, tak lama kemudian indra penciumannya menangkap aroma yang kurang sedap. Hidungnya mengendus-endus bau itu dengan jijik. Lalu menegakkan tubuh dengan cepat.

"Ini bau apa sih?" tanya Sean, dia menatap Wahid dengan ekspresi curiga. "Kamu kentut, ya?" tuduhnya.

Wahid menggeleng cepat, ekspresinya terkejut, merasa tak bersalah. "Nggak, Om. Nih, Om cium aja pantat saya." Bocah itu bangkit dan bersiap menyodorkan pantatnya ke arah Sean, namun lebih dulu dipelototi Zuzu.

"Bau apa sih, Sean? Aku gak cium bau apa-apa kok," tanya Zuzu. Dia menjilat jari tangannya yang belepotan oleh bumbu dengan santai.

Sean menoleh, dan terkejut, baru menyadari jika wajah istrinya kotor. Ia lalu segera mengusap pipi yang sempat dicium Zuzu, lalu berdecak kesal, setelah mengetahui asal bau yang dia cium.

"Kamu emang sengaja kan cium aku, cuma mau nempelin kotoran ini?!" tuduh Sean, jengkel.

"Kotoran apa, Sean? Itu bumbu. Enak loh." Zuzu mendekat, dan tanpa pikir panjang menjilat pipi suaminya. "Tuh, 'kan. Ini enak tahu ...," kata Zuzu tak menyadari perubahan ekspresi pada wajah suaminya.

Tubuh Sean seketika menegang dengan perlakuan Zuzu yang tak terduga. Ada sengatan listrik yang menjalar dan berhenti di inti tubuhnya yang mulai berkedut dan berdiri.

"Zuzu!" bentak Sean, birahinya mulai terpancing oleh perlakuan Zuzu yang sensual.

Zuzu, dengan santai malah menaikan alis sebagai tanggapan. Dia tak mengerti apa alasan di balik kekesalan suaminya. Wanita itu masih sibuk membersihkan bumbu yang menempel dengan mengulum jarinya satu per satu.

Sean mendengus dingin, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang tegas. "Siapkan air hangat. Aku mau mandi!" titahnya tegas lalu berjalan menuju pintu dengan langkah yang panjang.

Melihat Sean pergi, Wahid ikut bangkit dan membuntuti. "Om, upahnya mana?" tanya Wahid, dia berlari kecil dan meraih tangan Sean. Matanya berbinar penuh harapan.

Sean segera menarik tangannya kasar, merasa tak nyaman. "Gak usah sentuh-sentuh. Siapa tahu tangan kamu ada virusnya."

Wahid garuk-garuk kepala, lalu berpindah menggaruk area pantatnya. "Ya udah, mana upahnya? Aku mau jajan."

Sean membuang napas berat, lalu merogoh saku celana dengan cepat. Ia mengeluarkan dompet dan mengambil satu lembar uang seratus ribu.

"Tapi, besok kalau saya butuh kamu. Kamu harus mau disuruh kayak tadi," ujar Sean, dengan penuh tuntutan.

Wahid mengangguk antusias sambil mengulurkan telapak tangannya. "Iya, Om. Besok aku datang lagi ke sini. Pokoknya Om nggak perlu khawatir. Kalau Om merasa gerah, langsung panggil aku aja. Rumahku itu," katanya sambil menunjuk sebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah Zuzu.

Sean mengangguk dan menyerahkan uang tersebut. "Sana pulang!" titah Sean dengan tegas.

Wahid tersenyum lebar, matanya berbinar saat melihat uang seratus ribu rupiah itu. Dia melompat kegirangan lalu berlari pulang dengan langkah yang riang. Kapan lagi dia mendapatkan upah sebanyak itu dengan kerja mengipasi orang?

Sementara itu, Sean melanjutkan langkah. Dia berniat mengambil barang-barang miliknya di dalam koper yang masih berada di mobil. Pria itu membuka kunci mobil, dan berjalan ke belakang, mengeluarkan koper miliknya dengan cepat. Baru saja menutup pintu bagasi, dia tiba-tiba tertegun. Netranya beralih pada ban mobil yang nampak melorot.

"Dih, kempes? Masa kempes sih? Mana aku gak bawa ban serep?" gumam Sean, sambil menggaruk kening, merasa heran.

Namun, dia merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan keadaan ban mobilnya. Pria itu memeriksa setiap ban mobilnya, dan semuanya bernasib sama.

"Ini kalau gak kerjaan abahnya Zuzu, pasti kerjaan uminya. Mereka pasti sengaja melakukan ini," decak Sean, mulai tersulut emosi.

"Zuzu!" teriak Sean. Kedua tangan terkepal dan wajahnya memerah, marah.

Zuzu muncul di ambang pintu dengan ekspresi wajah polos, namun penasaran. "Ada apa?!" tanyanya, namun enggan menghampiri.

"Sini, kamu!" pinta Sean sambil melambaikan tangan dengan tegas.

Zuzu turun dari rumahnya dan berjalan dengan tergesa menghampiri Sean, ekspresinya sedikit cemas. "Ada apa?"

"Tuh, kamu lihat! Kerjaan siapa itu?" tanya Sean ketus, dia menunjuk dengan lirikan mata yang tajam ke arah ban mobil.

Zuzu yang tak menyadari arah tatapan suaminya, justru melihat ke dalam mobil, lewat jendela mobil. Wanita itu tiba-tiba melompat kaget sambil menutupi mulut.

"Sean, siapa yang..." Suara Zuzu tercekat, mata terbuka lebar, menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.

"Siapa lagi kalau bukan abah dan umi kamu!" tuduh Sean.

Zuzu menatap suaminya dengan ekspresi tak mengerti. Sorot matanya memancarkan kebingungan. "A-apa maksud kamu Abah dan Umi? Mereka nggak mungkin masuk ke dalam mobil kamu!" bantah Zuzu tegas.

Kening Sean berkerut, bingung dengan ucapan istrinya. "Maksud kamu apa, Zu?" Sean mengikuti arah pandang Zuzu, merasa penasaran. Dia mendekatkan wajah ke jendela mobil, lalu memekik kaget.

"Bianca!"

Bersambung...

1
EndHa
masih kurang kak bacany.. kek.ny bab ini pendek bgt yaa .. 🤭
Nelramstrong: bab 19 bisa dibaca ulang, ya. aku baru revisi dan tambahkan beberapa part 😁😁
total 1 replies
EndHa
menanti sean bucin dg zuzu..
Nelramstrong: sabar, ya 😁
total 1 replies
EndHa
siapa yg berani nolak perintah tuan david.. 🤣
Nelramstrong: 😅😅😅😅😅😅😅
total 1 replies
EndHa
semangat zuzu,, qm si polos yg cerdik.. tebas semua ciwi² penggoda suami.mu..
Nelramstrong: Semoga bukan dia yang tumbang 😅
total 1 replies
EndHa
oalah zu,, ikan bakar lebih menggoda yaa 🤭
Nelramstrong: Zuzu tahu aja author nya juga lagi pengen ikan bakar 😂
total 1 replies
EndHa
Haii kakak... aq ikuti kisah zuzu,, baru baca noveltoon nih,, masih bingung.. hehe
Nelramstrong: Makasih, kak 🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!