Novel ini lanjutan dari BU GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA, jadi biar nyambung di harapkan baca kisah RAQILA dulu🙏🙏
Rama Edrik Abraham merupakan putera sulung dari Raffa dan Aqila, saat ini Edrik sedang berada diusia pubernya. Edrik tumbuh menjadi anak yang berbeda, masuk geng motor, urakan, pergaulan bebas, membuat kedua orang tuanya pusing tujuh keliling menghadapi sikap keras Edrik.
Berbeda dengan Kakaknya, Rakka Endro Abraham merupakan anak yang penurut, pendiam, dan lebih kalem.
Kehadiran Alisya Anggun Almira yang merupakan murid baru di sekolah mereka, membuat kehidupan kedua Kakak beradik itu jungkir balik. Wajahnya yang cantik membuat semua orang jatuh cinta kepadanya termasuk Edrik dan Raka.
Siapa yang nantinya akan di pilih oleh Alisya, apakah Edrik pria sombong dan tak terbantahkan? ataukah Raka, pria kalem dan baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 ( Hancur Hatiku )
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Keesokkan harinya...
Icha bangun pagi-pagi sekali karena sebelum berangkat ke rumah sakit, Icha berniat mengunjungi rumah Mommy Aqila terlebih dahulu.
Saat ini Icha menggunakan rok hitam selutut dan kemeja pink yang tampak pas dipakai ditubuh Icha, tidak lupa rambutnya ia ikat satu ke atas. Icha semakin dewasa dan tampak anggun.
Icha mengambil tas kerjanya kemudian tidak lupa jas putih kebanggaannya. Icha segera melajukan mobilnya menuju rumah Mommy Aqila, mobil itu hadiah dari Mommy Aqila saat Icha resmi menyandang gelar Dokter.
Sementara itu di kediaman Abraham, semuanya sedang sarapan dengan hening, tidak ada yang berbicara sedikitpun sehingga membuat Niken merasa canggung dan tidak enak.
"Ya Alloh, semoga saja pagi ini Icha tidak kesini," do'a Mommy Aqila didalam hatinya.
Tidak lama kemudian, suara deru mobil menghentikan aktivitas makan Raka, Mommy Aqila, dan Daddy Raffa, mereka tahu siapa pemilik mobil itu.
"Astaga Icha," batin Raka.
Sedangkan Icha dengan senyuman megembangnya, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Mommy Aqila.
"Assalamualaikum, selamat pagi sem------"
Bruuuukkkk...
Tas kerja yang Icha pegang seketika jatuh melihat pemandangan dihadapannya itu. Senyumannya pun tiba-tiba saja luntur di wajah cantiknya.
Semua orang pun menoleh ke arah suara, kecuali Edrik dia fokus dengan sarapannya tidak mau melihat wajah Icha. Mommy Aqila segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Icha yang saat ini terdiam mematung.
"Sayang, ayo kita sarapan bersama," ajak Mommy Aqila.
"Ah, i--iya Mommy."
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Icha mengambil tasnya yang tadi terjatuh dan perlahan melangkahkan kakinya menuju meja makan.
Pandangan Icha tak lepas kepada Edrik, tapi sayang jangankan menyapa, menoleh pun sepertinya Edrik enggan. Icha melihat wanita cantik di samping Edrik yang dari tadi tersenyum ke arah Icha.
"Tante, siapa dia?" tanya Niken yang tiba-tiba membuat semuanya terkejut bahkan Edrik pun sempat menghentikan makannya sebentar.
"Ah, ini puteri Tante," sahut Mommy Aqila.
Niken pun berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Icha dengan senyuman ramahnya.
"Hai, kenalkan nama aku Niken, aku calon istrinya Edrik," seru Niken dengan senyumammya.
Jedaaaaarrrrr.....
Hati Icha bagaikan tertusuk ribuan jarum mendengarkan ucapan wanita yang bernama Niken itu, hatinya benar-benar hancur terjawab sudah kenapa lima tahun belakangan ini Edrik tidak pernah menghubunginya bahkan nomornya pun tidak pernah aktif.
Dengan tangan yang bergetar, Icha pun menyambut uluran tangan Niken dengan senyuman yang dipaksakan.
"I--Icha..."
"Edrik tidak pernah cerita kalau dia punya adik perempuan secantik kamu apalagi kamu seorang Dokter kan? wah hebat sekali," puji Niken.
"Terima kasih."
Raka tampak mengepalkan tangannya, dia tidak suka melihat Icha bersedih. Raka tahu kalau saat ini Icha pura-pura tegar dihadapan semuanya.
"Cha, kamu sarapan dulu gih," seru Daddy Raffa.
"Ah ti--tidak Daddy, maaf Icha harus segera ke rumah sakit hari ini pasien Icha banyak, Icha kesini hanya ingin melihat keadaan Mommy sama Daddy saja, kalau begitu Icha pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Icha setengah berlari meninggalkan rumah Mommy Aqila, dengan cepat Raka menyusul Icha.
"Cha tunggu..." teriak Raka.
Edrik pun beranjak dari duduknya..
"Edrik, kamu mau kemana?" tanya Niken.
"Aku mau ke kamar, kamu lanjutkan saja sarapannya," sahut Edrik dingin.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Edrik pun dengan cepat meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Baru saja Icha ingin membuka pintu mobilnya, Raka langsung menarik tangan Icha.
"Cha tunggu."
"Maaf Raka, aku harus segera ke rumah sakit."
Icha kembali membuka pintu mobilnya tapi lagi-lagi Raka menahannya dan dengan cepat Raka menarik tubuh Icha ke dalam dekapannya, tubuh Icha lemas.
"Menangislah, kalau itu bisa membuatmu merasa tenang," seru Raka.
"Hiks..hiks..hiks.."
Akhirnya tumpah sudah airmata Icha yang dari tadi mati-matian sudah Icha tahan. Sedangkan Edrik tampak melihat dibalik jendela kamarnya, Edrik mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahangnya.
Cukup lama Icha menangis dipelukkan Raka, hingga akhirnya Icha pun melepaskan pelukkannya.
"Maaf, sudah membuat jas kamu basah."
"Tidak apa-apa, aku antar kamu ke rumah sakit."
"Tidak usah Raka, aku kan bawa mobil."
"Sudah, mobil kamu simpan saja disini aku ga bakalan biarin kamu bawa mobil sendiri dalam keadaan seperti ini."
Raka pun membuka pintu mobilnya...
"Ayo masuk."
Dengan terpaksa Icha pun menurut dan masuk ke dalam mobil Raka.
"Sialan," gumam Edrik.
Edrik masuk ke dalam kamar mandi...
Praaaaannnngggg....
Edrik memukul cermin yang ada di kamar mandi sampai pecah berantakan dan tangan Edrik pun berdarah.
Niken yang awalnya hendak masuk ke dalam kamarnya mendengar suara pecahan kaca di kamar Edrik.
Tok..tok..tok..
"Edrik...kamu kenapa?" teriak Niken.
Sudah beberapa kali Niken memanggil nama Edrik tapi tidak ada jawaban, mau masuk pun Niken tampak ragu-ragu takut Edrik marah jadi Niken memilih pergi dan masuk ke dalam kamarnya.
"Semoga tidak terjadi kenapa-napa sama Edrik," batin Niken.
Tubuh Edrik merosok ke bawah, Edrik terduduk di lantai tanpa terasa airmatanya pun menetes.
"Maaf..." lirih Edrik.
Sementara itu, Raka dan Icha sampai di rumah sakit berbarengan dengan Rima yang baru saja memarkirkan mobilnya. Rima tampak menyipitkan matanya melihat mobil Raka ada disini dan ternyata Icha keluar dari mobil Raka.
"Icha.."
"Maaf Rim, Raka harus nganterian aku ke rumah sakit jangan cemburu ya," seru Icha.
"Apaan sih Cha, siapa juga yang cemburu."
"Kalau gitu aku duluan ya."
Icha pun meninggalkan Rima dan Raka di parkiran.
"Sayang, aku juga berangkat ke kantor dulu jangan lupa makan," seru Raka dan mencium kening Rima.
"Iya, kamu juga jangan lupa makan dan hati-hati."
Raka pun dengan cepat melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.
Icha duduk dikursi kerjanya, pikirannya kembali teringat kejadian barusan.
"Bang, kenapa kamu tidak mau menatapku? apa salahku Bang, sampai kamu tega melakukan semua ini? kamu pembohong, kamu tidak menepati janjimu," gumam Icha dengan deraian airmata.
Sementara itu di kamar Edrik, setelah sekian lama terduduk di lantai kamar mandi dan darah ditangannya pun sudah mulai mengering, Edrik pun bangkit dari duduknya.
Edrik mengobati tangannya sendiri dan membalutnya dengan perban, setelah selesai Edrik memakai jasnya karena hari ini adalah hari pertama Edrik masuk perusahaan.
Edrik dengan buru-buru menuruni anak tangga, sedangkan Mommy Aqila terlihat sedang menyiram bunga-bunganya.
"Edrik, kamu mau kemana?"
"Edrik mau ke kantor, Mom."
Pandangan Mommy Aqila tertuju ke tangan Edrik yang terbalut perban.
"Ya ampun, tangan kamu kenapa sayang? perasaan tadi pas sarapan tangan kamu masih baik-baik saja."
"Ah ini tidak apa-apa kok Mom, cuma sedikit tergores kaca saja. Ya sudah, kalau begitu Edrik berangkat dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Edrik mencium punggung tangan Mommy Aqila dan masuk ke dalam mobilnya menuju kantor.
Tidak lama kemudian, mobil Edrik pun sampai di parkiran kantor dan bersamaan dengan mobil Raka yang baru saja sampai habis mengantarkan Icha terlebih dahulu ke rumah sakit.
Keduanya terlibat saling memberi tatapan tajamnya, hingga akhirnya Raka lebihemilih masuk duluan meninggalkan Edrik.
Semua karyawan tampak menundukkan kepalanya, mereka sudah diberitahu kalau satu Presedir lagi akan tiba dan akan mengurus perusahaan bersama Raka.
"Ternyata Pak Edrik lebih tampan dari Pak Raka."
"Iya, tapi kalau dilihat dari raut wajahnya justru Pak Edrik akan jauh lebih dingin dan jutek daripada Pak Raka."
Begitulah kasak-kusuk para karyawan yang membicarakan antara Raka dan Edrik.
"Selamat pagi Pak Raka," sapa Riana.
"Pagi."
"Lah, si Raka kenapa? jutek amat wajahnya," batin Riana.
Ting...
Pintu lift pun kembali terbuka membuat Riana menoleh, Edrik keluar dari dalam lift dan itu membuat Rina tampak terkejut.
"Bang Ed..." teriak Riana dan langsung berlari memeluk Edrik.
"Bang Ed apakabar? aku rindu sekali sama Bang Ed."
"Iya aku juga rindu sama adikku yang manja ini."
"Wah, kalau pakai jas seperti ini Bang Ed tambah tampan saja."
"Masa? masih saja menggombal."
Edrik pun meninggalkan Riana dan menuju ruangannya yang berada disamping ruangan Raka.
Riana terkejut saat pintu ruangan Raka terbuka dengan memperlihatkan raut wajah Raka yang merah padam seperti menahan amarah. Dengan terburu-buru Raka masuk kedalam ruangan Edrik.
Bruuuikkk...
Raka membuka pintu tanpa permisi dan menutupnya dengan cara membantingnya.
"Kamu bisa lebih sopan tidak kalau masuk ruangan orang itu," seru Edrik dengan membuka satu persatu berkas perusahaan.
"Jangan banyak basa-basi deh, maksud Abang apa pulang-pulang membawa wanita dan memperkenalkannya sebagai calon istri? aku sudah berusaha menahan emosi aku saat ada di rumah karena aku tidak mau membuat Mommy dan Daddy panik tapi sekarang aku ga bisa menahannya lagi, kamu sudah keterlaluan Bang tidak menghargai perasaan Icha yang bertahun-tahun lamanya nungguin kamu," bentak Raka.
Edrik menyunggingkan sedikit ujung bibirnya..
"Kamu yakin, Icha nungguin aku? bukannya selama ini dia dekat banget sama Dr.Zaki itu?" seru Edrik yang masih menatap berkas-berkas.
"Icha tidak pernah dekat dengan siapapun, justru dia itu nungguin kepulangan kamu Bang. Apa kamu tidak kasihan dan merasa bersalah kepada Icha? Bukannya kamu berjanji kalau sepulangnya dari Amerika mau melamar Icha tapi apa buktinya sekarang, kamu malah menyakitinya."
"Kalau kamu merasa kasihan, kenapa tidak kamu saja yang menikahi Icha? bukannya kamu sudah dari dulu mencintai Icha."
Raka mengepalkan tangannya dan tanpa aba-aba, Raka menghampiri Edrik menarik kerah bajunya Edrik kemudian..
Buuughh..
Buuugghh..
Buuugghh..
Raka memukul Edrik sampai Ederik tersungkur ke lantai.
"Brengsek kamu Bang, kalau Icha suka sama aku sudah aku nikahi Icha tapi sayangnya yang Icha sayangi dan cintai cuma kamu Bang. Tapi apa balasannya, kamu hanya mengecewakannya dan membuat Icha sedih," bentak Raka.
Edrik bangun dan berdiri dihadapan Raka dengan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Jangan ikut campur urusanku, urus saja dirimu sendiri."
"Kamu memang brengsek Bang, aku sangat malu punya Abang seperti dirimu."
Raka meninggalkan ruangan Edrik dengan emosi yang memuncak. Raka tidak habis pikir, kenapa Abangnya bisa berubah secara drastis seperti itu.
Sedangkan Edrik mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, Edrik mengusap wajahnya secara kasar. Entah apa yang saat ini ada dipikiran Edrik, yang jelas saat ini Edrik terlihat seperti tertekan dan menyembunyikan sesuatu.
"Kamu tidak akan merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini, Raka," gumam Edrik.
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
👩⚕
Hai guys, maaf ya sudah membuat semuanya emosi tapi apapun yang terjadi seharusnya kalian sudah tahu, dari judulnya saja sudah ketahuan kepada siapa hati Edrik akan berlabuh nantinya, cuma untuk saat ini Author hanya memberikan konflik yang cukup serius, soalnya dari awal Author belum memberikan konflik.
Oh iya, ada kabar gembira nih Author akan memberikan pulsa untuk 3 orang reader yang memberikan gift terbanyak di karya Author🤗🤗
Dan bukan itu saja, Author juga akan memberikan pulsa untuk 5 orang reader yang memberikan komen terbaik dan pastinya membuat Author semangat🙏🙏🤗🤗
Yuk guys siapa cepat dia dapat😍😍
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU