Nadia sik cantik dan manja sama sekali tidak pernah terfikir untuknya menikah muda, sayangnya, sebuah insiden yang tidak diinginkan membuatnya harus mengambil keputusan dan harus menikah.
Bukan hanya sekedar menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya, tapi bonusnya, Nadia menikah dengan dosen yang mendapat predikat sebagai dosen hot sekaligus kiler bernama Bratayudha Wirasena.
Akankah pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta itu akan bertahan dan akan menumbuhkan benih-benih cinta diantara keduanya.
Yang penasaran, baca saja kisah mereka ya, dijamin seru dan menghibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aenyn unyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN SALAHKU KALAU AKU MASIH CINTA KAMU
"Ini pasti Dewi yang ngasih tahu Indra." fikir Nadia, ya siapa lagi, yang tahu Nadia hamil selain Yudha dan keluargakan Dewi, dari Yudha dan keluarganya, Dewilah yang memiliki potensi besar memberitahukan akan kehamilannya itu kepada Indra.
Nadia tidak berniat membalas pesan tersebut, dan niatnya untuk memblokir nomer tersebut akan dilaksanakan, namun Indra kembali mengirim pesan, pesan ini mau tidak mau membuat Nadia terpaksa membalasnya.
Indra : Gak nyangka ya Nad, kamu sebentar lagi bakalan jadi ibu, dulu kita sering banget membahas tentang pernikahan, seharusnya akulah yang berada diposisi Yudha dan seharusnya anak yang kamu kandung adalah anakku,
Nadia : Dihhh, amit-amit, gue bersyukur karna Tuhan tidak mentakdirkan gue sama lo, dasar brengsek, dan stop gangguin gue, gue udah bahagia sama suami gue
Indra : Gimana kalau aku gak mau
"Apaan sieh nieh cowok, sinting." dumel Nadia membaca pesan balasan dari Indra tersebut.
Indra : Bukan salah akukan Nad kalau aku masih cinta sama kamu
Indra : Asal kamu tahu Nad, aku memiliki kesabaran seluas samudra untuk menunggu janda kamu
Nadia melotot saat membaca pesan itu, tidak habis fikir Indra berfikir seperti itu.
Nadia : Sialan, jadi lo doain gue janda
Indra : Iya
Indra : Meskipun sekarang kamu adalah istrinya Yudha, kalau kamu mau selingkuh ayok aja.
"Emang sakit nieh anak."
Nadia : Brengsek lo, lo fikir gue cewek murahan apa
Setelah membalas dengan hati yang panas membara Nadia langsung memblokir nomer Yudha, Nadia menyesal kenapa tidak melakukannya sejak awal saat Yudha menghubunginya dengan nomer itu.
"Sial, kok bisa sieh dulu gue kecintaan sama cowok sinting begitu."
Ponsel Nadia kembali berdering, Nadia tidak terlalu memperhatikan sik penelpon sehingga saat menjawab dengan emosi dia berkata, "Apa lagi mau lo brengsek, bisa stop gak lo hubungin gue."
"Kamu kenapa marah-marah."
"Hahhh." ternyata itu bukan suara Indra, namun suara itu adalah milik laki-laki yang sejak tadi dia tunggu-tunggu menghubunginya, Nadia sedikit menjauhkan ponselnya untuk memastikan, dan benar saja, itu beneran Yudha yang menghubunginya.
"Nadia, kamu baik-baik sajakan, tidak terjadi sesuatu yang burukkan Nad." tanya Yudha karna Nadia tidak kunjung buka suara.
"Mmm, iya aku baik-baik saja kok pak."
Nadia fikir itu Indra yang kembali menghubunginya dengan nomer baru makanya dia marah-marah.
"Kamu kenapa barusan marah-marah." Yudha tidak melepaskan topik.
"Gak apa-apa kok, tadi ada orang salah sambung, orangnya resek." bohongnya, Nadia takut nanti kalau dia memberitahu Yudha kalau Indra menghubunginya Yudha bisa marah, dan Nadia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berantem.
"Saya fikir ada apa-apa."
Meskipun sempat kesel sama Yudha, tapi Nadia tidak bisa memungkiri kalau dia sehappy itu saat Yudha menghubunginya, tapi tentunya dia mengontrol nada suaranya supaya tidak ketahuan happynya.
"Kamu belum tidur Nad."
"Ya kalau aku sudah tidur, mana mungkin aku menjawab panggilan bapak."
"Hmmm, benar juga."
"Kamu sudah gak marah lagikan sama saya Nad."
Mulai deh gengsinya Nadia muncul, "Marah, kapan sieh aku pernah marah, dan ngapain juga coba aku marah sama bapak."
Yudha tidak ingin memperpanjang masalah itu meskipun dia tahu Nadia marah dengan alasan yang tidak dia ketahui, dia memilih membahas topik lain saja.
"Kamu sudah makan."
"Iya."
"Minum susu."
"Belum." jawab Nadia dengan suara pelan, pasalnya dia yakin Yudha pasti akan menceramahinya akan hal tersebut, saat di apartmen, Yudhalah yang selalu membuat susu hangat untuknya, dan sekarang Yudha tidak bersamanya, dan Nadia rasanya malas meskipun hanya sekedar membuat susu doank.
"Kenapa belum, minum susu dulu sebelum tidur Nad."
"Iya nanti pak, aku lagi mager gerak ini." lirih Nadia manja.
"Jangan kebiasaan Nad, ntar anak kita malas juga kayak kamu."
"Apaan sieh pak, iya ini aku turun ke bawah bikin susu."
"Bisa gak."
"Ya bisalah, kenapa nanya gitu."
"Kamukan gak pernah ke dapur, takutnya nanti kamu gak bisa bedain mana gelas mana panci lagi." goda Yudha.
"Bapak fikir aku sebodoh itu apa sampai gak bisa bedain hal-hal seperti itu." Nadia sewot.
"Aku turun dulu, jangan dimatiin ya."
"Kenapa, masih kangen ya."
"Ihhhh, siapa yang kangen sama bapak, geer."
"Dasar gengsian."
Dengan sambungan masih terhubung Nadia turun ke bawah, dan kebetulan bik Imah masih belum tidur dan wanita itulah yang pada akhirnya membuatkan susu untuknya.
Entah kenapa Nadia malam itu bawaannya manja banget, meskipun mereka lebih banyak diam daripada ngobrolnya, tapi Nadia tidak ingin Yudha mematikan sambungannya, mendengar suara nafas Yudha saja sudah bisa membuatnya tenang.
"Udah jam 11.00, kamu sebaiknya istirahat."
"Belum ngantuk."
"Jangan biasakan begadang, gak baik."
"Ya habisnya belum ngantuk gimana mau tidur, kebiasaan banget suka maksa-maksa orang."
"Bukan maksa Nad, tapi ini demi kebaikan bayi kita jugakan."
"Hmmmm."
"Tidur ya Nad ya." bujuk Yudha sudah seperti membujuk anak kecil.
"Terus bapak mau ngapain."
"Tidur juga, emang aku mau ngapain."
"Bapak gak ketemuan sama ibu Niakan."
"Astaga, ngapain aku ketemuan sama ibu Nia Nad, kamu ada ada saja."
"Bapak sendirian dikamar."
"Berdua sama pak Basuki."
Dan setelah membujuk Nadia sedemikian rupa, akhirnya dia mau juga untuk tidur dan mematikan sambungan.
*******
"Ma." panggil Nadia keesokan paginya saat mamanya tengah memasak sarapan.
"Ehh sayang, udah bangun."
"Hmmmm."
Nadia berdiri disamping sang mama, memperhatikan tangan mamanya yang begitu cekatan mengaduk nasi goreng diwajan, aroma harum nasi goreng menembus ke indra penciumannya.
"Ma, ajarin Nadia masak ya."
Mama Alin yang sejak tadi fokus dengan masakannya menoleh ke arah putrinya, "Kamu mau belajar masak."
Nadia mengangguk, "Iya ma."
"Kenapa tiba-tiba sayang, kamu ingin masak untuk Yudha."
"Enggaklah, Nad cuma ingin belajar aja." bohongnya gengsi.
Mama Alin tersenyum, "Iya, nanti mama ajarin ya sayang, tapi untuk saat ini, kamukan lagi hamil, jadi, jangan capek-capek, banyakin istirahat saja."
"Maksud mama, nungguin Nad melahirkan dulu gitu baru belajar masaknya."
Mama Alin mengangguk.
"Kelamaan ma, lagiankan masak gak secapek itu, bilang aja mama gak mau ngajarin, ya udah deh, ntar Nad ambil kursus masak aja." Nadia ngambek, setelah hamil, wanita itu gampang ngambekan orangnya.
"Astaga, bukan begitu sayang, kok kamu mikirnya sampai sejauh itu sieh, mama cuma khawatir, apalagi ini adalah kehamilan kamu yang pertama dan sekaligus merupakan cucu pertama bagi mama dan papa, kami gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan sik bayi."
"Mama sama saja seperti pak Yudha, lebay dan berlebihan, ya udah kalau gitu, mending aku tidur aja seharian gak ngelakuin apa-apa biar kalian semua puas." setelah mengucapkan kalimat tersebut, Nadia berlalu meninggalkan mamanya yang hanya bisa menggeleng melihat tingkah putri semata wayangnya itu.
"Semoga saja Yudha bisa tahan dan sabar dengan kelakuan Nadia."
********