"Apa kabar, istriku? I’m back, Sanaya Sastra."
Suara dingin pria dari balik telepon membuat tubuh Naya membeku.
Ilham Adinata.
Tangannya refleks menahan perut yang sedikit membuncit. Dosen muda yang dulu memaksa menikahinya, menghancurkan hidupnya, hingga membuatnya hamil… kini kembali setelah bebas dari penjara.
Padahal belum ada seumur jagung pria itu ditahan.
Naya tahu, pria itu tidak akan pernah berhenti. Ia bisa lari sejauh apa pun, tapi bayangan Ilham selalu menemukan jalannya.
Bagaimana ia melindungi dirinya… dan bayi yang belum lahir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Terbang bebas
Bab 29 Terbang bebas
•••
"Dasar br3ngs3k!!" teriak Ilham didalam mobil.
"KENAPA KAMU HOBI SEKALI KABUR DARIKU, NAYA?!!!" teriaknya lagi.
•••
Suasana di dalam apartemen begitu hancur porak poranda. Seperti kapal yang baru saja diterpa badai hebat. Dan beberapa pria bertubuh besar dengan pakaian serba hitam yang baru saja dihajar habis-habisan oleh Ilham. Wajah mereka babak belur dan sebagian ada yang pingsan.
Setelah berhasil melampiaskan amarahnya. Ilham langsung duduk diatas reruntuhan tv lcd berukuran besar yang sudah patah jadi dua.
Ia dengan santai langsung mengisap puntung rokok di tangannya dengan begitu santai. Meski, tatapannya masih begitu tajam menatap seluruh anak buah yang kini berdiri berderet secara rapi di hadapannya.
Kringg!!
"Tuan ada telepon." ujar salah satu anak buah Ilham. Ia langsung memberikan ponsel tersebut pada Ilham.
•••
Disisi lain, Naya terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap pelan melihat suasana disekitarnya yang nampak seperti kabin kecil, namun bergerak. Ternyata, ini di dalam mobil.
Ia pun langsung bangun terduduk dengan kepala yang masih berat dan pusing.
"Kamu udah siuman, Nay?" tanya suara seseorang.
Azzam.
Pria itu sedang duduk dibalik stir kemudi mobil sembari menatap Naya sambil tersenyum sejenak.
"Azzam, apa yang kamu lakukan? Ini bahaya!" ujar Naya berusaha memijit kepalnya yang masih pusing.
"Kamu pasti masih pusing, ya? Sebentar lagi kita udah sampe kok." jawab Azzam yang tak ingin menjawab pertanyaan Naya barusan.
"Sadar, Azzam. Ini bahaya, apa kamu mau terlibat masalah dengan Ilham?"
"Asalkan dengan dirimu, aku tidak masalah terlibat masalah seberat apapun, Naya. Asalkan kamu selalu disisiku."
Naya mengernyitkan dahi, ia tidak suka dengan jawaban Azzam.
"Kita mau kemana, Zam?" tanya Naya lagi.
"Aku akan bawa pergi kamu jauh, Nay. Jauh dari negara ini, biar kamu bisa bebas dari dosen gila itu."
"Ini gak bener, Zam. Yang ada masa—"
Tiba-tiba mobil itu rem mendadak, "CUKUP NAYA!" bentak Azzam begitu murka dengan menatap Naya begitu tajam.
Naya sontak terdiam kaget mendengar Azzam yang membentak dirinya.
Melihat mimik wajah Naya yang berubah, sontak Azzam langsung merasa bersalah seketika.
"Maaf, Nay. Aku gak maksud..."
"...aku gak maksud, Nay. Aku emosi banget tadi, aku takut kehi—"
"Kalau itu udah keputusanmu, bawa aku kabur yang jauh Zam. Aku gak mau ketangkap lagi sama Ilham." kata Naya dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.
Deg!
Azzam membeku sejenak mendengar jawaban dari mulut Naya barusan. Kedua sudut bibirnya langsung terangkat.
"Baik, Nay. Aku janji akan bawa kamu yang jauh." ucap Azzam langsung kembali menyalakan mesin mobilnya.
•••
Tak butuh waktu lama, mobil Azzam pun tiba di sebuah bandara internasional yaitu Bandara Soekarno Hatta. Begitu banyak sekali orang yang berlalu lalang di dalam sana.
Naya nampak terdiam saat Azzam yang memasangkan sebuah masker wajah di wajahnya.
"Cadarmu..." bisik Naya yang baru sadar jika dirinya tidak mengenakan cadar sama sekali.
"Ayo Nay! Kita harus cepat!" ajak Azzam.
Naya masih bingung, ia mengira jika Azzam mengirimkan untuk bertemu dengan Ibu dan adik-adiknya di kampung.
"Kenapa kita di Bandara, Zam. Bukannya ketemu sama Ibu aku?" bingung Naya.
"Aku mau bawa kamu ke luar negeri, Nay." Balas Azzam menarik lengan baju Naya. Berusaha untuk tidak bersentuhan fisik secara langsung dengan Naya.
Mereka berjalan dengan buru-buru. Terlihat wajah panik di wajah Azzam.
"Keluar negeri? Ini maksudnya gimana sih?"
"Pokoknya kamu tenang aja ya. Ini udah aku rencanakan dari dulu. Untuk saat ini kita ke Malaysia dulu. Aku mau amanin dulu kamu disana. Urusan Ibu dan adik-adikmu biar Abi dan Ummi aku yang ngurus disini."
Naya hanya diam saja sembari mengikuti langkah kaki panjang milik Azzam. Jantungnya berdetak kencang sekali, ia begitu takut sekali jika Ilham kembali menemukan dirinya.
Ia begitu takut.
"Jangan takut, Nay. Ada aku disini." Senyum Azzam melirik kebelakang menatap sepasang mata yang penuh kekhawatiran tersebut.
Ucapan Azzam sedikit menghilangkan rasa gelisah di hati Naya.
'Kamu harus kuat, Nay!' batin Naya menyemangati dirinya.
•••
"Bawa ibu dan adik-adiknya menghadap padaku!" tegas Ilham dibalik telepon.
Beberapa pengawal kaget melihat suasana rumah milik Ibu Yanti yang kosong. Bahkan, tak ada perabotan sama sekali dalam rumah tersebut. Semuanya begitu kosong.
"Maaf, Tuan. Tapi, sepertinya Ibu Yanti beserta anak-anaknya sudah lebih dahulu pergi dari kampung ini." ujar sang pengawal dengan hati-hati.
Jauh diseberang sana, Ilham yang masih duduk santai diatas tumpukan perabotan mahalnya mulai kesal.
"APA?!!!" teriaknya.
Ia langsung membanting ponsel tersebut.
Prang!!!
Ponsel tersebut langsung luluh lantak menghantam lantai.
"SI4LAN!!!!" Teriaknya begitu histeris karna ia sudah kalah satu langkah di belakang.
Matanya begitu berapi-api dengan kedua tangan mengepal. "Pasti ini ulah Kaif lagi. Tidak bosan-bosannya mantan mafia itu menganggu urusanku." ujar Ilham pelan.
Seluruh pengawal yang masih berdiri di hadapannya hanya diam saja.
"SIAPAPUN YANG BERHASIL MENDAPATKAN INFORMASI KEBERADAAN ISTRIKU MALAM INU AKAN AKU BERIKAN SATU MILYAR SECARA CHASH!"
Mendengar pernyataan Ilham, seluruh pengawal yang ada disana seolah bersemangat kembali dengan mata berbinar-binar. Kapan lagi bisa dapat rezeki nomplok seperti ini?
"CEPAT CARI ISTRIKU SEKARANG!" teriaknya lagi.
•••
Di bandara
Naya nampak duduk dengan gelisah saat melihat jam penerbangan mereka masih 1 jam lagi. Kalau begini terus Ilham akan dengan mudah menemukan dirinya.
Ia memengang dengan erat ujung gamisnya. Rasa gelisah itu kembali muncul bersamaan dengan perutnya yang sedikit bergerak. Ada gerakan janin yang bisa dirasakan oleh Naya.
Melihat Naya yang mengelus perutnya, Azzam menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Kelak aku akan menjadi suami dan ayah yang baik, Naya." batin Azzam menatap Naya penuh cinta.
"Aku takut kita ketangkep, Zam. Ilham adalah tidak waras dan licik. Dia bisa melakukan apapun, Zam." bisik Naya pelan.
Azzam menempelkan telapak tangannya di atas jemari tangan Naya.
"Kamu tenang aja ya, selagi masih ada aku. Kamu aman kok Nay. Berapa kalipun kamu gagal kabur, berapa kali juga aku bakalan nyelamatin kamu lagi.
"Iya, Zam."
Di kediaman keluarga Azzam
Kaif yang masih berada di rumah mertua ya kini sedang sibuk menelpon Azzam. Namun, tidak diangkat sedari tadi.
"Udah dapat kabar tentang Azzam, Mas?" tanya Calla yang begitu panik. Ia menghampiri Kaif yang sedang berdiri di dekat balkon kamar.
Ia baru saja menidurkan putra mungilnya yang kini sudah tidur diatas ranjang.
"Belum ada," balas Kaif pelan.
"Duh, Kemana sih tuh anak. Hari udah mau malam gini, dia gak kunjung pulang. Ditelpon juga nggak diangkat, dasar anak mami." omel Calla yang memikirkn adiknya tersebut.
"...bikin Ibu dan Bapak jadi susah aja." sambungnya lagi.
•••
Setelah menunggu satu jam berlalu, akhirnya panggilan untuk maskapai penerbangan Naya dan Azzam pun tiba.
Jakarta- Malaysia.
Azzam langsung duduk disamping Naya.
Ia begitu semangat sekali dengan sosok Naya yang berada di sebelahnya. Tapi, tidak dengan Naya yang nampak gugup dan takut.
"Tenang, Nay. Selagi ada aku disini, kamu akan selalu aman." ucap Azzam.
Namun, ucapan Azzam sama sekali tidak membantu ketakutan dalam diri Naya. Ia masih takut jika Ilham akan menemukan dirinya kembali.
Deg Deg Deg
Naya bolak balik menyeka keringat dingin di pelipisnya.
'Tenang, Naya. Kamu sekarang sudah aman. Percaya pada ucapan Azzam barusan.' batin Naya.
Namun, itu tidak menolong sama sekali.
Suara mesin pesawat mulai meraung, menandakan waktu lepas landas sudah semakin dekat. Getaran kecil terasa di bawah kaki. Naya melirik ke arah Azzam yang duduk di sebelahnya. Wajah laki-laki itu tiba-tiba menegang, satu tangannya menekan perut.
“Ada apa, Zam?” tanya Naya pelan.
Azzam menahan napas, wajahnya tampak menahan sesuatu.
“Aku ke toilet sebentar, ya,” ujarnya terburu-buru.
Sebelum Naya sempat bertanya lagi, Azzam sudah beranjak dan berjalan cepat di lorong pesawat.
Naya menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang sejak tadi gugup. Ini pertama kalinya ia naik pesawat untuk pergi sejauh ini mungkin juga, kesempatan terakhirnya untuk lepas dari semua kekacauan hidupnya.
Lima belas menit berlalu.
Tapi Azzam tak kunjung kembali.
“Kok Azzam nggak balik-balik, ya…” gumamnya pelan, pandangannya menatap lorong pesawat yang sepi.
Pesawat mulai melaju di landasan pacu, bersiap untuk takeoff. Suara mesin semakin keras, tubuh Naya sedikit terdorong ke belakang. Perutnya bergejolak, membuatnya refleks menggenggam erat sandaran kursi sambil memejamkan mata.
Lalu, suara langkah mendekat.
Seseorang duduk di kursi di sebelahnya.
“Kamu nggak apa-apa kan, Zam?” tanya Naya tanpa membuka mata.
Sebuah suara lain menjawab. Dingin. Tenang. Tapi penuh ancaman.
“Aku bukan Azzam, istriku.”
Bulu kuduk Naya meremang. Perlahan, ia menoleh.
Sosok itu tersenyum, senyum yang membuat udara di dadanya seketika hilang.
“Ilham…” bisiknya, hampir tak terdengar.
Ilham menatapnya lama, mata gelapnya memantulkan cahaya redup dari jendela pesawat yang mulai naik ke udara.
“Kamu pikir bisa terbang bebas dariku dengan anak bodoh itu, hah?” bisiknya, suaranya seperti racun yang merayap di telinga.
Naya memejamkan mata. Ia tak bisa menangis lagi. Tak bisa menjerit. Ia hanya bisa diam membiarkan ketakutan itu menelan seluruh dirinya.
Ilham tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Naya erat.
“Ayo, kita pergi bulan madu, sayang,” ucapnya lembut, sebelum bibirnya menyentuh punggung tangan Naya dengan ciuman yang dingin dan menakutkan.
To be continue....
terimakasih sudah membaca sampai habis☺️🙏