Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Apung
“Sena, mau makan siang bareng? Kebetulan aku mau keluar sekalian cari kado,” tawar Ellen saat jam makan siang.
“Maaf, Bu. Sepertinya saya ingin makan siang bareng sama temen-temen aja,” tolaknya halus.
“Oke, nggak apa-apa. Malah bagus itu,” balas Ellen dengan menyunggingkan sebuah senyuman. “O ya, panggil kakak atau mbak aja, ya. Kalau Bu kesannya aku tua banget! Jangan terlalu formal, oke!” imbuh wanita itu dengan mengulas senyum.
“Baik, Mbak Ellen,” balasnya seraya tersenyum menunjukkan sederet giginya yang putih.
“Nah, gitu 'kan enak didengar,” celetuk Ellen seraya beranjak dari tempat duduknya. “Aku pergi dulu, ya.”
Sena mengangguk dan berjalan mengekor di belakang Ellen untuk menemui beberapa karyawan yang sedang bersiap untuk membeli makan siang di sekitar kafe.
...🍁🍁🍁...
Sena kini berjalan bersama dua rekan kerjanya untuk keluar mencari makan siang. Namun, ia begitu terkejut saat melihat Zac sudah berdiri di halaman kafe dengan bersandar di mobil seraya tersenyum menatapnya.
“Tuan Zac!” ucapnya lirih seraya membulatkan mata.
“Ehm ... Aku pergi ke sana sebentar ya, tunggu aku!” pamit Sena pada dua temannya. Ia terburu-buru menghampiri Zac yang kini bersedekap menunggu kedatangannya.
“Tuan, kenapa anda bisa berada di sini?” tanya Sena dengan mata membulat seolah masih tak percaya dengan keberadaan Zac di tempatnya bekerja.
“Aku merindukanmu,” balas Zac santai dengan ekspresi datar. Ia mengalihkan perhatiannya pada kedua temannya yang menunggu tak jauh dari tempatnya saat ini. Ia takut suara Zac didengar oleh dua gadis yang sedang berdiri dengan wajah iri sekaligus takjub melihat pria di hadapannya itu.
Bagaimana tidak, penampilan Zac saat ini memang tampak sangat berbeda. Pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas navy lengkap dengan dasi dan sepatu pantovel hitam yang mengkilat. Tatanan rambutnya yang disisir rapi ke belakang, membuatnya semakin memancarkan aura seorang eksekutif muda yang banyak diimpikan oleh para gadis.
“Tuan, ini tidak lucu!”
“Aku memang tidak sedang melawak, Nona Sena. Itu jawabanku atas pertanyaanmu, aku kesini karena aku merindukanmu.” Kali ini Ia sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh kedua rekan kerjanya yang masih setia menunggunya sambil menikmati menatap Zac dengan sesekali saling berbisik.
“Tuan, jangan keras-keras!” pinta Sena dengan wajah menahan malu.
“Kenapa memangnya? Aku ingin semua orang tahu, bahwa sekarang aku begitu menyukaimu!”
Ia hanya bisa memejamkan mata demi mendengar suara Zac yang semakin meninggi ketika mengatakan kalimat itu.
Kedua sudut bibir Zac terangkat sempurna saat melihat sikap salah tingkah Sena. Kedua manik pria itu seolah menjelaskan bahwa Ia begitu gemas dengan segala sikap yang ditunjukkan gadis di hadapannya.
“Nona! Silahkan kalian pergi duluan, Nona Sena akan pergi bersamaku,” ucap Zac setengah berteriak.
Gadis yang mengenakan celana bahan hitam dan kemeja abu-abu lengan panjang itu tampak menggeleng ke arah kedua rekan kerjanya.
Namun, kedua rekan kerjanya itu sepertinya lebih berpihak kepada Zac. Mereka berdua segera berjalan meninggalkannya dan Zac dengan mengucap lirih kata maaf padanya.
Sena mengalihkan perhatian ke arah Zac. Namun, pria itu hanya mengulas senyum dengan kedua alis terangkat.
“Kita makan siang bersama? Aku tahu tempat makan yang nyaman dan enak,” ajak Zac dengan wajah berbinar.
Ckk ... Kenapa semua orang senang sekali mengajakku makan? Apa wajahku membuat mereka berselera makan, hah? seloroh Sena dalam hati.
Memang benar kata orang, jatuh cinta itu berjuta rasanya dan ekspresi Zac saat ini menunjukkan jika hatinya sedang berbunga-bunga. Ia seperti menemukan sebuah kebahagiaan baru, setelah lama terpuruk dalam kehilangan.
Bukan hanya Zac yang tersenyum melihat perubahan sikapnya, Rama sang asisten pun turut senang ketika tuannya bisa kembali tersenyum bahagia hanya karena hal-hal remeh.
“Sa-saya—.”
“Tidak ada penolakan, ini hanya sebuah tawaran untuk makan siang. Aku sedang tidak menyuruhmu untuk menerima cintaku, jadi tidak sulit bukan untuk mengabulkan permintaanku!”
Sena seketika terdiam, Ia hanya bisa mengembus napas lirih seraya mengiyakan ajakan Zac.
Rama bersiap untuk berjalan mendekati ke arah mereka berdua untuk membuka pintu mobil. Namun, Zac melarang pria itu. Ia akan membukakan pintu sendiri untuk Sena.
Gadis berhidung mancung itu akhirnya mau tak mau terpaksa menerima ajakan makan siang bersamanya.
...🍁🍁🍁...
Sena tampak tertegun ketika berada di tempat yang diceritakan sebelumnya oleh Zac. Sebuah tempat makan yang berada di atas air, atau biasa disebut dengan rumah makan apung.
Tempat tersebut seketika mampu membuat pikirannya tenang dan damai. Apalagi angin yang berembus menerpa wajah cantiknya, membuat suasana semakin menenangkannya.
“Bagaimana?” tanya Zac yang sepertinya sudah tahu jawabannya dari raut wajahnya yang seperti begitu menikmati suasana yang tercipta.
Ia mengulas senyum seraya mengalihkan perhatiannya pada pondok-pondok di sebelah tempatnya duduk saat ini. Tampak sepasang suami istri yang usianya sekitar empat puluh lima tahunan bersama seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun, mereka terlihat begitu bahagia. Gadis itu bahkan tanpa sadar semakin melebarkan senyumannya demi melihat keluarga harmonis itu.
“Terima kasih karena sudah mengajak saya kesini, Tuan,” ucapnya setelah puas melihat pemandangan di sekitar.
“Aku yang harusnya berterima kasih kepadamu karena kamu sudah mau menemaniku.”
Lagi-lagi Sena hanya bisa mengulas senyum menanggapi ucapan Zac. Paling tidak Ia sekarang sudah mulai terbiasa dengan suasana seperti ini.
Tak beberapa lama kemudian, terlihat tiga orang pelayan datang membawa pesanan mereka. Sena terbelalak saat pelayan tersebut silih berganti meletakkan makanan di meja yang berada di depannya.
“Tuan, bukankah ini sangat berlebihan? Kita hanya berdua dan anda memesan makanan sebanyak ini?” protesnya masih dengan mata melebar menatap satu per satu makanan di depannya.
“Tidak apa-apa, aku baru pertama kali datang kesini dan aku juga belum tahu makanan apa yang kamu sukai,” jawab Zac seraya meneguk air mineral di botol. “Kamu boleh menghabiskan semua ini, tidak ada yang melarang,” imbuhnya dengan tersenyum. Senyuman yang diartikan Sena sebagai sebuah senyuman meledek.
Gadis itu berdecak sebal, membuat Zac mengulas senyum gemas demi melihat ekspresi wajahnya.
“Makan saja yang ingin kamu makan, pemilik rumah makan ini tentu saja senang ketika ada pelanggan yang memesan semua makanannya. Itu artinya semua makanan di buku menu mereka rekomen semua,” terang Zac.
Kali ini Ia setuju dengan pria di hadapannya. Dalam pikirannya terbesit suatu ide, paling tidak jika nanti mereka berdua tidak bisa menghabiskan makanan tersebut. Ia akan meminta makanan itu untuk dibungkus dan diberikan kepada teman-temannya. Setidaknya dengan begitu, makanan itu tidak akan mubadzir.
Zac dan Sena begitu menikmati makan siang mereka, makanan yang enak dan suasana yang mendukung bukankah membuat selera makan semakin bertambah.
Saat mereka tengah asyik bercengkerama seraya menghabiskan sisa makanan mereka di piring. Terdengar suara benda terjatuh ke air diiringi dengan teriakan histeris seorang wanita.
Byuuuuur
Sontak hal itu membuat mereka berdua mengalihkan perhatiannya pada sumber suara yang ternyata dari pondok yang berada tidak jauh dari pondok tempat mereka makan saat ini.
....😘😘😘😘😘