Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?".
Suara Fian lembut ketika sore ini, ia menghampiri istrinya yang duduk seorang diri di halaman belakang.
Melati tersenyum lembut.
Ini adalah senja ke tujuh puluh dua semenjak Faisal pergi tanpa jejak.
Seperti ada ruang hampa di hatinya. Seperti ada getir yang jiwanya cecap atas ketiadaan Faisal.
Tapi tidak. Melati sudah bertekad untuk menjadi istri yang patuh, tunduk dan takluk pada Fian, suaminya. Ia tak ingin mengecewakan lelaki yang sudah banyak berkorban untuknya. Kasih Fian sangat tulus. Memangnya, dimana Melati akan mendapatkan pria sebaik Fian?
Namun entah mengapa, perasaan di hatinya untuk Faisal berkembang cepat tanpa bisa Melati kendalikan. Melati ingin mengusir rasa itu. Tetapi yang ada, rasa itu kian bertengger tak tau malu dalam hatinya. Justru kian berkembang dengan sangat pesat.
"Tidak ada."
Raut wajah Melati berubah cemas saat ia mengamati wajah Faisal yang nampak lain.
"Mas, panjenengan pucat. Apa mau saya buatkan wedang jahe atau...apa?"
Hati Fian menghangat. Perhatian kecil dari Melati, membuat emosi dalam jiwanya kian rumit dan memberontak hebat. Entah apa yang Fian sembunyikan.
"Saya tidak apa-apa. Hanya ingin dekat kamu".
Senyum Fian meneduhkan.
"Boleh saya meminta sesuatu?".
Melati mengangguk mengiyakan.
"Apa saja, mas. Apa saja asal mas tidak meminta sesuatu yang sulit saya lakukan".
"Saya mau anak dari kamu, Melati. Lahirkan satu putra atau putri untuk garis keturunan saya".
Melati tersenyum.
"Saya milik njenengan, mas. Akan saya lakukan bila itu yang njenengan minta."
Hening. Fian dalam pikirannya yang carut marut. Antar keraguan, juga tekad yang kuat.
"Apa kamu masih memikirkan mas Faisal?".
Fian bertanya tiba-tiba.
"Ya. Tapi saya tidak dalam melewati batasan saya. Saya harap njenengan paham maksud saya".
Fian mengangguk paham. Kemudian kembali bertanya.
"Apa kamu kecewa karena tak pernah ada di samping mas Faisal? Juga...... belum bisa memaafkan kesalahann mas Faisal yang telah..... melecehkanmu?"
"Saya tidak menyalahkan mas Faisal sepenuhnya, mas. Biar bagaimanapun, kesalahan mas Faisal bukan sepenuhnya kesalahan nya. Ada andil saya yang membuat mas Faisal berbuat kejam pada saya di masa lalu.
Andai saat itu saya tidak memfitnahnya, tidak akan seperti ini jadinya, kan?
Saya sudah memaafkan. Apapun yang mas Faisal lakukan di masa lalu, juga kejadian hampir tiga bulan yang lalu. Saya hanya berusaha berdamai dengan masa lalu agar tidak memberatkan saya di masa depan.".
"Kalau begitu, apakah itu artinya kamu masih mencintai mas Faisal?".
"Cinta saya pada mas Faisal, perlahan akan memudar seiring datangnya cinta yang baru, dari njenengan. Saya percaya itu. Ini hanya..... perihal waktu".
Melati menjawab dengan tenang.
Melati tahu, seperti apa karakter Faisal. Tidak akan mungkin Faisal akan salah mengartikan ucapannya.
"Saya hanya ingin njenengan bersabar".
Tukas Melati kembali.
"Kalau begitu, bisakah kita mulai malam ini, membuat bayi untuk saya?
Apa waktu hampir tiga bulan masih belum cukup untuk saya menunggu kamu? Sampai kapan saya harus menunggu kamu untuk siap saya sentuh?".
Hati Melati kian berdebar tak karuan.
"Saya bersedia, mas. Bila njenengan mau malam ini".
Dan senyum Fian kian mengembang ketika mendengar kesediaan istrinya.
Itu artinya, malam nanti, ia bisa memiliki Melati, seutuhnya. Pusing yang sedari kemarin mengitari kepalanya, kini menguap entah ke mana.
~~
~~
Gibran tengah duduk di sendiri di halaman depan rumahnya. Taman kecil beserta kolam ikan hias yang juga tak terlalu luas itu, adalah tempat ternyaman baginya. Tangan kanannya dengan lincah melempar makanan ikan ke dalam kolam. Suara riak air yang tercipta dari kolam, menciptakan irama yang mampu membuat Gibran betah berlama-lama di sana.
Hari mulai gelap, Fian yang baru saja pulang dari bertugas, mendapati anak sekaligus keponakannya itu tengah asik sendiri di kolam.
Deru mobil Fian rupa-rupanya mampu mengalihkan pandangan dan fokus Gibran.
Gibran lantas bangkit dan menghampiri mobil yang Fian kendarai untuk menyambut Fian.
"Papa..... assalamualaikum, papa. Papa tumben pulangnya sore? Biasanya habis Maghrib? Papa capek, ya?".
Senyum Fian mengembang sempurna. Hatinya menghangat saat tiba di rumah sepulang bekerja, ada yang menyambutnya ramah.
Terlebih Melati juga muncul dari dalam rumah, mengenakan longdress kuning gading yang simpel dan pas di badannya.
Sore ini, sore yang syahdu untuk Fian. Harapan ke depannya, setiap sore akan seperti sore ini selamanya.
"Wa'alaikum salam, anak papa. Asyik bener kasih makan ikannya".
Fian segera meraih dan membawa Gibran ke dalam gendongannya.
"Aduh.... anak papa sekarang berat ih.......".
Lengan kiri Gibran melingkar ke leher Fian.
Dalam hati, Melati menyerukan betapa sempurna nya pria yang menjadi suaminya ini. Pada akhirnya, Melati mendapatkan pria yang benar-benar bisa menerima segala cela dan kekurangan dirinya.
"Iya, dong pa. Kan bentar lagi Iban mau punya adek.
Eyang putri sama eyang Kakung bilang gitu".
"Oh ya?".
Fian nampak antusias. Ekor matanya melirik istrinya sekilas.
"Iya, pa".
"Mas".
Melati meraih dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Melati, wanita ini tetap tidak menanggalkan kesopanannya meski ia telah di peristri oleh Fian.
"Mau mandi air hangat atau air dingin? Biar saya siapkan".
"Air dingin saja. Oh ya, malam ini bilang saja mbok Ijah masak untuk mbok Ijah sendiri saja. Saya mau ajak kamu..... sama Iban makan di luar".
"Injeh, mas".
Melati tersenyum dan Gibran bersorak kegirangan.
~~
~~
Di sebuah tempat yang berbeda, Faisal tengah menatap kedua anaknya yang bermain pasir di tepi pantai. Menjadi ayah sekaligus ibu untuk ke dua putrinya, bukanlah perkara yang mudah.
Sudah dua bulan lebih Faisal meninggalkan kota kelahirannya. Pikirannya di sini lebih damai dan sedikit tenang dari saat ia meninggalkan keluarganya.
"Pa. Kapan pulang? Putri rindu mama.".
Putri pertama Faisal dengan Rianti menyerukan suara isi hatinya. Bila anak-anak nya mengangkat topik tentang almarhumah Rianti, perasaan bersalah dan penyesalan Faisal muncul ke permukaan kembali.
Ada rasa berdosa yang hingga kini belum bisa di tebusnya terhadap rianti.
Risti.... hanya bisa memperhatikan kakak dan ayah mereka yang tengah berbincang.
"Kapan-kapan, ya sayang. Papa belum punya cukup uang untuk perjalanan kita ke Yogya.
Nanti.... kalau udah cukup, kita pasti pulang dan mengunjungi makam mama".
"Oh ya, pa.... Tante itu kok nangis dari tadi nggak berhenti-henti?"
Pandangan mata Faisal beralih pada seorang wanita yang menangis sesegukan tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Putri ke sana ya, pa?".
Faisal mengangguk dan hanya memperhatikan putrinya yang meraih sebotol minuman coklat dan membawanya ke arah wanita itu.
Dalam hati, Faisal mensyukuri bahwa putri memiliki sifat dermawan dan peduli terhadap banyak hal di sekitar.
"Tante.... Tante kenapa menangis? Ini buat tante. Tante pasti haus".
Kepala wanita itu terangkat dan Menatap putri dan sebotol minuman yang di bawanya, secara bergantian.
Kemudian wanita itu meraihnya dan mengucap terima kasih. Jemarinya terulur mengusap pelan lengan Putri.
"Terima kasih. Siapa namamu?".
"Putri..... namaku putri, Tante".
Lantas telunjuk putri terulur ke arah Faisal.
"Itu papa Putri, dan adik Putri. Namanya Risti".
"Mama kamu?".
"Papa bilang, mama Putri udah di surga. Tante sendirian ya di sini? Ayo ikut Putri. Dari pada sendirian. Papa bawa banyak makanan untuk Putri. Kita makan sama-sama ya, Tante".
Maka, netra mata Faisal melebar ketika dengan ringan, putrinya menyeret sosok wanita itu dengan paksa.
Wanita itu..... adalah wanita yang dulu sangat Faisal kenal.
Dia adalah..........
....
....
....
Happy ied Mubarak buat para readers setia novel IstiaAkhtar.
Semoga kita senantiasa di beri sehat dan perlindungan.
Saya ucapkan minal aidzin walFaidzin untuk semuanya. Terima kasih juga buat yang udah luangin waktu untuk baca, like , komen, vote, kasih tips dan udah menekan tanda favorit di setiap karya saya.
Aku tanpa kalian, apalah artinya coretan abal-abal ini?
Semoga kalian semua sehat sentosa.
Sampai jumpa di episode berikutnya, ya.
Semoga saya tetap sehat dan terus berkarya untuk bisa kalian nikmati.
Salam santun dari neng Tia.
Peluk cium untuk kalian semua❤️❤️❤️
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩