Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
SELAMAT MEMBACA !!!
Keesokan paginya, Kapten William sudah bersiap hendak berangkat ke tempat tugasnya.
"Sarapan dulu, Sayang!" panggil Oma Amel yang sudah duduk menunggu di meja makan, sementara Opanya belum juga turun ke bawah.
"Opa belum turun, Oma?" tanya kapten William.
"Belum, Sayang. Kamu ambil sarapan dulu saja, nanti takut telat sampai Markas. Bukannya tidak pantas jika Kaptennya datang terlambat!" perintah Oma Amel kepada Kapten William sambil mengingatkan Cucu sulungnya itu.
Kapten William mengangguk patuh. Ia pun mengambil sepiring nasi goreng lengkap dengan lauk ayam goreng. Saat ia baru saja hendak menyantap makanannya, muncullah Opa Radit dari arah tangga.
"Maaf, Opa. Aku makan duluan!" seru Kapten William sedikit nggak enak dengan Opanya.
"Silahkan, Nak. Justru Opa yang salah, kenapa tadi lama nggak turun ke bawah," jawab Ayah Radit dengan tersenyum ramah.
Akhirnya mereka bertiga sarapan bersama, untuk Mbak Nina sekarang memilih makan dibelakang bersama suaminya dan yang lain.
"Nanti sebaiknya kamu dan anak buahmu kembali ke tempat kemarin, Nak. Tanyakan dulu ke mereka, apakah mereka setuju kalau tempat tinggalnya dipindahkan. Opa takutnya mereka justru lebih nyaman di sana atau ada yang merasa tersinggung kalau kita mengubahnya sepihak," pesan Opanya mengingatkan.
Kapten William mengangguk mantap. "Siap, Opa. Nanti saat agak siang, aku dan anak buahku akan ke sana," jawabnya sambil mengelap mulutnya dengan tisu karena sudah selesai sarapannya.
Kapten William berpamitan kepada Opa dan Omanya. Lalu keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju gerbang Kodam Jaya, Kapten William menyempatkan diri menyapa warga yang tinggal berdekatan dengan kawasan markas itu.
Di sudut jalan, terdengar percakapan sekelompok ibu‑ibu. "Pemimpin baru Kodam Jaya ini ternyata ramah sekali ya, Bu, dan masih muda pula. Sejak beliau bertugas di sini, kita pun bisa merasakan Jumat berkah. Katanya nanti sore ada pertandingan bola voli di lingkungan markas, ayo kita tonton saja!" ajak salah seorang ibu kepada tetangganya."
"Tapi kita tetap harus berhati‑hati ya, Ibu‑ibu. Yang sudah tua saja masih saja suka mencari yang muda, apalagi yang usianya masih belia begini," timpal ibu yang lain sambil menggeleng, penuh sindiran."
"Jangan mudah berprasangka buruk dulu, Bu. Yang bermasalah itu justru kelompok yang sudah tua dan serakah itu, tidak puas dengan pasangannya sendiri, bahkan berani memaksa gadis‑gadis muda. Kalau bicara tanpa dasar, nanti yang ada justru menimbulkan fitnah," tegur Bu RT kepada warganya yang suka berbicara sembarangan.
Setelah selesai berbelanja sayuran, para ibu-ibu membubarkan diri.
**********
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Kapten William kepada semua bawahannya.
"Selamat pagi, Kapten William," Jawab mereka serempak dengan tegas sambil memberikan hormat kepada Kaptennya.
Kapten William mengangguk membalas penghormatan mereka dan menyuruh mereka berbicara santai, karena akan ada yang dibahas dengan mereka.
"Siap, sebenarnya ada yang saya mau bicarakan dengan kalian semua. Semalam saya berdiskusi bersama keluarga. Saya menceritakan kunjungan kita kemarin, betapa mirisnya hati kita melihat kehidupan yang mereka jalani. Saya menyampaikan keinginan saya untuk membantu memindahkan mereka ke tempat yang layak. Saya mohon maaf sebelumnya, bukan bermaksud meremehkan atau merendahkan kalian dalam pembicaraan ini.
"Saya sampaikan kepada keluarga, soal tenaga kita pasti siap membantu sekuat tenaga. Namun untuk biaya yang dibutuhkan, kita tentu tidak sanggup menanggungnya sendiri. Kalian pun tahu betul berapa besar gaji kita, apalagi bagi yang sudah berkeluarga, mustahil rasanya harus menyisihkan penghasilan untuk keperluan sebesar itu," ujar Kapten William menjelaskan dengan jujur.
"Siap, Kapten! Apa yang disampaikan Kapten memang benar adanya. Kami sepenuhnya mengerti maksud dan tujuan Kapten. Seperti yang dikatakan tadi, soal tenaga dan waktu, Insya Allah kami siap berikan sepenuhnya. Namun untuk urusan dana, mohon maaf kami belum bisa membantu banyak," seru Serma Yoga. Ia paham betul Kapten William menyampaikan hal itu karena tidak ingin membebani sedikit pun anak buahnya.
Kapten William mengangguk lega, dalam hatinya bersyukur ternyata mereka nggak tersinggung sama sekali. "Semalam kebetulan saya bicara begitu pas tepat waktunya. Perusahaan Adhitama habis menangkap karyawan yang kedapatan menggelapkan dana yang hampir satu milyar...."
"APA?! Maafkan kami, Kapten! Bukan bermaksud nggak sopan memotong pembicaraan, kami hanya sangat terkejut mendengarkan!" seru Serda Feri dan Sertu Dimas reflek karena mendengar besarnya dana yang digelapkan.
Kapten William terkekeh. "Tak perlu meminta maaf, saya pun semalam berteriak mendengar sepupu saya menyebutkan angka sebesar itu.
Dari pembahasan itu, awalnya sepupu saya berniat menggunakan setengah dana yang berhasil dikembalikan itu untuk dibagikan langsung kepada warga yang membutuhkan. Namun saat saya menyampaikan rencana saya ini, ia bersedia memberikan dana lima ratus juta rupiah untuk biaya pembangunan rumah. Kalian pasti tahu tanah yang terletak di dekat Perumahan Griya Laksana itu? Tanah itu milik Opa saya, dan beliau akan menyediakannya secara cuma‑cuma untuk pembangunan pemukiman tersebut," jelas Kapten William.
"Masya Allah, Alhamdulillah, Kapten William. Kami hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan keluarganya, Kapten. Semoga bantuan ini dicatat sebagai amal yang berkah dan menjadikan pahala yang berlipat ganda," ucap Serma Yoga dengan nada tulus, hatinya penuh kekaguman dan kemurahan hati keluarga atasannya.
"Amin amin ya robbal 'alamin. Tugas kita hari ini selain kegiatan rutin, adalah mengunjungi kawasan di bawah jembatan untuk bertemu warga di sana. Dan Serma Yoga, tolong bawalah dua orang anggota menemui Pak RT setempat. Tanyakan apakah ada warga yang bekerja sebagai kontraktor, atau siapa saja yang berminat bekerja dalam pembangunan perumahan itu. Semoga langkah ini dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada kita," perintah Kapten William.
"Siap, Kapten! Siap laksanakan!" seru Serma Yoga dengan ketegasan dan kebanggan.
"Pertemuan seperti ini akan kita jadikan kebiasaan rutin sebelum kalian melaksanakan tugas masing-masing. Kita akan berdiskusi sebentar setiap pagi, agar rasa kebersamaan dan kekeluargaan di antara kita semakin terjalin erat. Saya tidak mau ada jarak antara atasan dan bawahan itu justru akan memecah kekompakan dalam tim," ucap Kapten William lagi.
"Siap, Kapten!" seru mereka dengan serempak.
Mereka pun kembali bersiap menjalankan tugas masing-masing. Serma Yoga akan bergerak bersama Serda Feri dan Koptu Ibra. Sementara itu, Kapten William membawa serta Sertu Dimas, Serda Rudi, dan Kopda Haris.
Tanpa berlama-lama, Kapten mengajak anggota timnya masuk ke dalam mobil pribadinya. Ia sengaja tidak menggunakan kendaraan dinas, karena ingin kendaraan itu tetap tersedia di markas. Siap digunakan oleh siapa saja yang membutuhkannya untuk keperluan tugas.
Dari kejauhan rombongan Kapten William melihat banyak orang yang berkumpul di sana, dengan wajah panik dan pucat. Ada apakah dengan warga itu.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka