NovelToon NovelToon
Pretty Danger

Pretty Danger

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Contest
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: HufflePuff

-Dukung karya Author dengan cara tinggalkan jejak Like, Komen, Rate dan juga Vote kalian-

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.


--------------------------------------------------


"Jangan memanggilku Ava karna itu bukan namaku"

"Itu namamu, Stupid"

"Namaku Fredella-...."

"Ava Elvarette"

Fredella terdiam karena mengiyakan ucapan pria itu dalam hati.

"Bodoh"

"Sialan!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HufflePuff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu

"Kau hanya harus selalu bersamaku agar kau aman, Ava" Ucap Damien yang sedari tadi melihat Fredella melamun tanpa mengedipkan mata.

"Aku tak mengerti bagaimana aku dapat terkecoh atas perlakuannya terhadapku"

"Aku hanya tak menyangka dengan apa yang aku dengar tadi" jelas Fredella yang menghela nafas dan tak mengalihkan pandangannya.

"Apa kau tak mendengar apa yang aku ucapkan? Kau akan aman bersamaku" timpal Damien, pria itu menggenggam tangan Fredella lalu menciumnya.

"Aku percaya padamu" gumam pelan Fredella.

"Seharusnya memang begitu" jawab Damien.

"Mau berkeliling kota?" tawar Damien.

"Aku malas bermacet-macetan" jawab wanita itu.

"Tidak ada macet" timpal Damien

"Maksudmu" tanya Fredella dengan heran pada pria disampingnya itu.

"Ayolah" ucap Damien lalu menarik lengan Fredella keluar dari apartemen milik wanita itu menuju Rooftop.

Selama di dalam lift, Fredella hanya terdiam dan menyandarkan punggungnya pada sisi lift melihat punggung Damien yang sama sekali tak bergerak.

Pintu lift pun terbuka, Fredella melihat keluar dan disana terdapat sebuah helikopter yang sepertinya sudah disiapkan.

"Seriously? Kau yakin jika kau sendiri yang akan mengendarainya?" tanya Fredella pada Damien yang tersenyum menatapnya.

"Ayo" ucap Damien yang mengulurkan tangan pada Fredella dan mengajak wanita itu untuk naik terlebih dahulu ke dalam helikopter.

Setelah memasuki helikopter, Damien sedikit berbincang dengan seseorang tanpa terdengar apapun yang dibicarakan dengan pria lain itu oleh Fredella.

Damien tiba-tiba melirik pada Fredella lalu tersenyum.

Setelah itu melangkah menuju Helikopter dan memasukinya lalu bersiap untuk mengendarai kendaraan berbaling-baling tersebut.

"Oh My Gosh ini pasti akan sangat menyenangkan" ucap Fredella.

"Tentu saja, aku akan menunjukan sesuatu padamu nanti. Silahkan nikmati pemandangan kota terlebih dahulu" timpal Damien yang kembali tersenyum karena melihat Fredella yang begitu sangat antusias.

"Kau sangat cantik dengan senyuman itu, Ava" gumam Damien.

Fredella melihat Damien menarik sebuah tuas yang terletak disebelah kiri kaki pria itu.

Lalu tangannya juga sedikit mengendalikan sebuah tuas yang sepertinya untuk mengatur arah dan kedua kaki yang bergerak menginjak kedua pedal dibawah kaki Damien.

Fredella kembali mengarahkan pandangannya ke luar dan melihat pemandangan kota dari atas.

Ia kembali melebarkan senyumannya, dan sedikit kekehan yang terdengar oleh Damien.

"Kau lihat villa dekat bukit di sebelah kanan sana?" tanya Damien pada Fredella.

"Ya, aku melihatnya. Villa yang sangat indah" ucap Fredella.

"Kita kesana" Damien kembali berucap dan di balas anggukan oleh Fredella.

Damien mengarahkan helikopter itu ke arah sebuah rumah yang ia tunjukan sebelumnya pada Fredella.

Lalu sesampainya disana helikopter mendarat dengan perlahan.

Fredella dibantu Damien untuk turun lalu pria itu menggandeng tangan Fredella untuk mendekati villa dan mereka melangkah beriringan.

Sebelum mereka sampai untuk menginjakkan kaki ke villa tiba-tiba pintu berdaun dua yang menjadi jalan masuk utama itu terbuka dan ada dua orang paruh baya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Damien dan Fredella.

"Tu- Tuan Muda, Selamat Datang" ucap pria tua yang setengah rambutnya sudah tertutup uban.

"Ada apa? Mengapa kalian terkejut melihatku datang?" ucap Damien.

"Ka- kami tidak mendapat kabar jika Tuan Muda akan datang. Kami bahkan tidak menyiapkan sesuatu untuk Tuan" ucap wanita tua itu dengan kepala yang menunduk.

"Tak apa, kalian dapat menyiapkan apapun yang ada. Perkenalkan, ibu ini bernama Tris dan dia suaminya Loran. Mereka yang merawat villa ini sejak aku mmmmm... belum lahir" ucap Damien yang menghadap pada Fredella mencoba memperkenalkan pria dan wanita paruh baya tadi.

"Tris, Loran. Dia Fredella Ava Elvarette, Nyonya Muda Meshach" ucap Damien lagi.

Sontak membuat sepasang suami istri tua itu dan Fredella saling bertatap terkejut. Nyonya Muda? Sejak kapan?

"Damien?!" ucap Fredella yang menghentakan sikutnya tepat pada perut Damien.

Itu tentu saja berhasil membuat Damien meringis merasakan sakit.

"Ti- Tidak! Jangan dengarkan dia, aku hanya rekan kerja. Percayalah! Saya Fredella, senang bertemu dengan anda Tris dan anda juga Pak Loran" ucap Fredella dengan sedikit terbata karena takut terjadi kesalahpahaman.

Wanita dan Pria tua yang masih berdiri di pintu itu saling bertatap dan tiba-tiba tersenyum.

Mereka memiringkan badan dan mempersilahkan Tuannya masuk ke dalam Villa.

Fredella melihat sekeliling villa tersebut. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu mewah namun memberi kesan yang sangat hangat.

Banyak bingkai foto terpajang di satu sudut ruangan. Fredella tertarik melihat itu dan ia melihat ada foto sepasang pengantin yang berdiri tepat di pintu masuk villa.

"Itu ayah dan ibuku, ini rumah pertama yang ayahku siapkan untuk ibuku setelah menikah. Namun, aku tidak tumbuh besar dengan lama disini"

"Cantik sekali" gumam pelan Fredella yang masih saja lekat memandangi foto pengantin itu.

"Tak lama lagi kau akan bertemu dengan mereka" ucap Damien.

Fredella masih mengedarkan pandangannya pada bingkai-bingkai foto yang tertata diatas bufet panjang berwarna putih dengan kedua sisi yang sama tinggi.

Lalu ia melihat lagi foto tiga anak kecil laki-laki yang sedang duduk berdampingan disebuah ayunan besi.

"Siapa saja yang ada dalam foto ini?" tanya Fredella

Damien mengambil bingkai foto tersebut lalu memandangnya dengan tatapan sendu.

"Yang paling besar itu kakakku, dan kedua anak disampingnya itu aku dan Finch adikku" jelas Damien.

"Kakak? Bukankah kau hanya dua bersaudara?" tanya Fredella lagi.

"Kakakku meninggal 24 tahun yang lalu, karena kanker pembuluh darah. Saat itu usianya 10 Tahun" ucap Damien.

"Tidak banyak kenangan yang ibuku simpan tentang kakakku, karena saat itu ibuku hampir gila ketika kakakku dikabarkan meninggal.

Dan saat itulah ayahku membawa kami pergi pindah dari sini. Walaupun butuh waktu lama untuk ibuku pulih, tapi ibuku dapat menerima kenyataan setelah itu"

"I'm so sorry. Aku tidak seharusnya menanyakan hal itu" ucap Fredella yang langsung memegang lengan Damien karena rasa bersalah.

"Its oke, ayo aku tunjukan tempat lain" ucap Damien yang kembali menggenggam tangan Fredella lalu menuntunnya mengelilingi Villa.

"Ini, kamarku" Damien membuka sebuah pintu yang didalamnya banyak sekali alat olahraga dan koleksi miniatur alat musik.

Fredella berjalan memasuki kamar lalu duduk disebuh ranjang yang menurutnya cukup nyaman.

Ia mengusap lembut seprai yang terpasang lalu menepuk-nepuk kasur tersebut menandakan ia meminta Damien duduk disampingnya.

"Duduklah" ucap Fredella.

Dengan langkah perlahan, Damien mengikuti apa yang wanita dicintainya itu ucapkan.

"Apa kau bahagia saat tinggal disini?" tanya Fredella

"Tentu, aku adalah anak yang tumbuh dengan penuh kasih sayang. Kau pun akan merasakan betapa bahagianya memiliki ibuku sebagai mertuamu" jawab Damien.

"Nama kecilku, Aileen Reese. Reese adalah nama ayahku" Ucap Fredella.

"Apa maksudmu?" timpal Damien.

"Ibu kandungku membuangku saat aku tepat berusia 7 tahun. Dorothi bukan ibu kandungku, dia sahabat ibuku yang merawatku semenjak aku dibuang. Namaku yang sekarang di berikan oleh ayah angkatku, namun aku tak pernah menganggap mereka sebagai orang tua angkat karena bahkan kasih sayang mereka tak pernah aku dapatkan dari orang tua kandungku sendiri"

"Setelah dewasa, aku mencoba mencari keberadaan orang tua kandungku. Dan kau tahu apa? Bahkan ibu kandungku masih tak menerima kehadiranku"

"Kau ingat malam dimana kau melihat seorang wanita yang keluar dari apartemenku?"

"Wanita itu datang memintaku untuk menandatangani dokumen pemutusan keluarga. Lucu bukan? Jika aku dapat lahir bukankah seharusnya orang tua kandungku sangat menyayangiku?"

"Ah aku menyesal telah berharap kepada hal yang tak mungkin, dan aku merasa bersalah kepada orang tua angkatku karena dibelakang mereka aku tak menghargai kasih sayang mereka selama ini"

Fredella menghela nafas lalu berdiri dan berjalan menghampiri sebuah jendela yang terbuka dengan pemandangan hijau dan terdapat beberapa rumah tanaman disana.

Damien berjalan menghampiri Fredella dan berdiri disampingnya. Ia mulai menggenggam tangan Fredella dan mencium puncak kepala wanita itu.

"Terimakasih kau sudah mempercayaiku untuk dapat mengetahui masa lalumu. Mulai saat ini, aku yang akan membahagiakanmu" ucap Damien.

Tanpa disadari Fredella merangkulkan lengannya di pinggang Damien dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.

Fredella memejamkan mata dan sejenak merasa sangat nyaman karena mendengar suara detak jantung Damien yang teratur.

Lalu Fredella terhenyak ketika mendengar suara helikopter yang sepertinya akan siap terbang. Ia memandang Damien lalu berkata "Kemana helikopter itu pergi"

"Aku meminta helikopter itu dibawa lagi ke apartemen. Karena, sepertinya kita akan bermalam disini"

***

"Diusiamu yang saat ini ternyata kau masih handal dalam urusan memasak Tris, masakanmu sangatlah lezat" ucap Fredella memuji hasil masakan Tris yang disiapkan untuk makan malam.

"Terima kasih, Nona. Sebenarnya aku tidak memasak sendiri karena ada anakku yang membantuku memasak" jelas Tris.

"Benarkah? Aku belum melihat anakmu, Bu Tris"

"Dia anak yang sangat pemalu, Nona akan bertemu dia nanti" jawab Tris dengan senyuman.

Setelah menyelesaikan makan malam, Damien terlihat sangat sibuk dengan Handphone nya sedari tadi.

Pria itu selalu berdiri diluar dengan kaki yang berjalan mondar-mandir seperti sedang marah.

Fredella tak mendengar apa yang Damien ucapkan karena dia berdiri cukup jauh di luar. Ia sangat bosan karena Damien sibuk sendiri dan tak mengajaknya berbincang.

Damien sempat melihat ke arah Fredella yang sedang berdiri memperhatikannya.

Damien tersenyum lalu mengangkat tangannya seakan memberitahukan untuk meminta Fredella menunggunya sebentar lagi.

Fredella kembali membalikkan badan dan berjalan masuk mencoba mencari Tris yang entah dimana keberadaannya.

Ia berkeliling hingga mencium sebuah bau daging terbakar dan melihat sepasang suami istri paruh baya itu sedang membakar sesuatu.

"Nona, kemarilah" ucap Loran. Seketika Fredella berjalan menghampiri kedua orang tua tersebut lalu bertanya

"Daging apa yang sedang kalian bakar?"

"Ini daging ayam, kami memotong dadu ayam lalu menusuknya seperti ini lalu di bakar. Anak kami menyukainya jadi kami membuatnya" jelas Loran.

"Lalu ditambah dengan saus pasta kacang untuk dressingnya, silahkan mencoba. Kau pasti akan suka" ucap Tris.

Fredella mengambil setusuk daging ayam itu lalu memakannya. Ia merasa aneh karena rasa pedas manis yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.

"Pedas, manis. Aku kira kacang hanya dapat dibuat menjadi selai" ucap Fredella yang terkekeh karena ia mengambil lagi satu tusuk ayam dan memakannya lagi.

"Kamipun tak tahu bagaimana anak kami menemukan cara membuat saus itu, tapi ini juga sangat lezat menurut kami" Loran menambahkan.

"Nona-" Ucapan Loran terhenti seketika, ia sedikit mengalihkan pandangannya pada Tris lalu melanjutkan ucapannya.

"Sejak kapan Nona berkencan dengan Tuan Muda?" Loran bertanya.

Pertanyaan itu sontak membuat Fredella menghentikan kegiatan makannya.

"Apakah dia sering membawa wanita lain kesini?" Fredella kembali bertanya.

"Ti- Tidak tentu saja tidak. Justru itu saya menanyakannya, karena sebelumnya Tuan Muda tidak pernah kemari membawa seorang wanita. Dan, kami pikir Nona memang calon Nyona Muda untuk keluarga Meshach"

To Be Continue

1
mama muda
ikut keringetan bacanya wkwk
mama muda
menantang untuk terus di baca
Nazer
mampir nih kak
王贝瑞: Mampir kak ke cerita My Secret Lover 😄
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ🍒⃞⃟🦅🪱☘𝓡𝓳⏤͟͟͞R LI
astaga baru buka udah uh ah
Rzl
lanjut
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
ihh sukakkk cewe nya gk lemah lemes2an yg gampang di tindas...keren kak othor🤸‍♂️
nama2 tokoh nya bikin lieur😂
-HufflePuff-: udah 41 chapter, nanti terbiasa bacanya hehe
total 1 replies
ini lagi ngapain yaa/Slight/
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
belum ketemu jalan cerita nya
-HufflePuff-: part ini khusus cerita mc cewek
total 1 replies
Rzl
ceritanya keerennn 👍🏻🙏🏻
JW🦅MA
cantikk dan tampan visualnya
lanjut ya
-HufflePuff-: Terimakasih atas dukungannya. Salam sukses
total 1 replies
J0€ A£F4
👀
J0€ A£F4: ngintip doang
total 3 replies
🔴🐌🐌Ayyyana Ghani Poetri
vanas vanas pala ini pusying
-HufflePuff-: Kivash kivash dulu wkwk
total 1 replies
Dina⏤͟͟͞R
hmmm. fredela
JW🦅MA
mNtap ini kisah ya
💜⃞⃟𝓛🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
ada ya ibu tak menginginkan anak nya
Dina⏤͟͟͞R
terharu bacanya🥺🥺fredela kecil ditinggal sejal kecil dan menjadi wanita tangguh keknya
🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖
Tokohnya mantep seh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!