Mikayla tidak hanya dikhianati.
Ia dihancurkan.
Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.
Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.
Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.
Ia datang untuk menghancurkan.
Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Rencana di Jerman: Pemulihan dan Kekuatan
"Kita akan mendarat di Berlin dalam enam jam," Ethan mengusap rambut Michelle dengan lembut. "Tim medis terbaik sudah menunggu di vila pribadi kita di tepi Danau Wannsee. Mereka akan melakukan detoksifikasi total. Aku ingin rahimmu bersih dari setiap tetes racun yang pernah diberikan wanita tua itu padamu."
Michelle menatap Ethan, matanya berkilat penuh tekad. "Aku ingin sehat, Ethan. Bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk menunjukkan pada mereka bahwa mereka gagal menghancurkanku. Mereka ingin aku mandul dan menderita, tapi aku akan kembali sebagai wanita paling berkuasa yang pernah mereka temui.”
"Tentu saja, sayang," Ethan mengecup kening Michelle. "Dan sementara kamu pulih, aku akan memastikan 'berita kematian' Mikayla tersebar luas. Biarkan Elang meratapi nisan kosongmu di atas kursi rodanya. Biarkan ibumu gila karena rasa bersalah karena tidak bisa mendapatkan setetes pun darah dari 'mayat' putrinya.”
___
Sedangkan di Jakarta, laporan resmi kepolisian akan segera diperbarui. Sebuah mobil terbakar, sebuah paspor yang hangus sebagian, dan hilangnya sang manajer bank secara misterius akan dikonstruksikan sebagai kematian tragis.
Mikayla telah menghilang, menyisakan lubang besar di hati Ilham dan penyesalan abadi di sisa hidup Sinta.
Sementara itu, Michelle sedang terbang menuju puncak kejayaannya. Ia tidak lagi menoleh ke belakang. Baginya, Indonesia hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sudah ia bakar habis. Kini, panggung dunianya jauh lebih besar, dan di sampingnya berdiri pria yang akan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani mematikan cahayanya lagi.
Badai yang berusaha diredam oleh Rajendra Abimanyu justru meledak menjadi tsunami informasi yang tak terkendali. Meskipun Rajendra telah mengeluarkan miliaran rupiah untuk menyuap media dan mengonstruksi narasi "kecelakaan tragis", ia meremehkan satu kekuatan: Solidaritas para sahabat Mikayla.
Helena dan Rasya tidak tinggal diam. Mereka tahu Mikayla tidak mungkin menghilang begitu saja tanpa sebab. Di depan lobi kantor pusat bank tempat mereka bekerja, kedua wanita tangguh ini mengadakan konferensi pers dadakan yang disiarkan langsung melalui media sosial, menarik jutaan penonton dalam hitungan menit.
Ledakan fakta yang menyakitkan dan menyedihkan didepan publik "Keluarga Abimanyu pembohong!" teriak Helena di depan kamera, suaranya bergetar karena amarah. "Mikayla tidak tewas karena kecelakaan biasa. Dia adalah korban persekongkolan paling menjijikkan antara suaminya sendiri, Elang, dan kakak kandungnya, Naura!"
Rasya menimpali dengan mengangkat salinan dokumen yang sangat krusial. "Kami punya bukti! Selama lima tahun, Mikayla hidup dalam neraka. Dia tidak hanya dikhianati secara emosional, tapi fisiknya dirusak secara sistematis oleh ibu mertuanya sendiri, Lisa Abimanyu!”
Serangan hukum yang tak terbendung, keberanian Helena dan Rasya didukung oleh tim hukum yang sangat kuat (yang secara anonim dibiayai oleh jaringan Ethan). Mereka resmi melaporkan Lisa Abimanyu ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan Percobaan Pembunuhan Berencana dan Malpraktik Medis.
Laporan visum independen yang diambil sesaat sebelum Mikayla menghilang menunjukkan konsentrasi zat kimia penekan hormon yang sangat tinggi dalam darahnya.
Penguatan Pengadilan data dari rekam medis rumah sakit yang pernah dikunjungi Mikayla selama lima tahun terakhir disita oleh pihak berwajib. Pola "sakit" Mikayla yang selalu terjadi setelah meminum jamu dari Lisa menjadi bukti tak terbantahkan.
Kesaksian Pelayan beberapa pelayan rumah utama yang merasa iba mulai buka suara tentang bagaimana Lisa memerintahkan mereka mencampur serbuk khusus ke dalam minuman Mikayla setiap pagi.
Malam itu, nama keluarga Abimanyu meledak di seluruh penjuru negeri. Tagar #JusticeForMikayla dan #TangkapLisaAbimanyu menduduki posisi pertama selama berjam-jam. Cuplikan konferensi pers Helena dan Rasya diputar berulang kali di televisi nasional, membentuk opini publik yang semakin brutal terhadap keluarga konglomerat tersebut.
Di dalam mansion utama keluarga Abimanyu, suasana berubah seperti ruang perang.
“Kurang ajar! Mereka semua kurang ajar!” Lisa membanting vas kristal mahal hingga pecah berserakan di lantai marmer. Wajah wanita itu pucat, namun matanya dipenuhi ketakutan yang mulai sulit ia sembunyikan.
Rajendra berdiri membelakangi ruangan dengan rahang mengeras. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu mampu mengendalikan media dan aparat itu terlihat kehilangan arah.
“Media sudah tidak bisa dibungkam,” ucap salah satu pengacaranya dengan suara pelan. “Terlalu banyak saksi yang mulai bermunculan.”
“Kalau begitu bayar lebih banyak!” bentak Lisa histeris.
“Tidak semudah itu, Nyonya,” sahut sang pengacara. “Polda sudah menerima tekanan publik. Bahkan Komisi Etik Kedokteran ikut turun tangan karena dugaan penyalahgunaan zat hormonal.”
Kalimat itu membuat ruangan seketika sunyi. Elang yang sejak tadi terduduk lemas akhirnya mengangkat kepala. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan wajahnya kehilangan kesombongan yang selama ini melekat. “Apa benar… Mama melakukan itu?” suaranya serak.
Lisa langsung menoleh tajam. “Kamu percaya orang luar dibanding ibumu sendiri?”
“Tapi semua bukti itu…” Elang menggertakkan rahangnya. “Mikayla tidak mungkin kecelakaan, pasti mamah kan yang mencoba menyingkirkan mikayla? "
“apa kamu menuduh ibumu sendiri!” teriak Lisa membela diri. “
Plakkk...
Lisa menampar Elang begitu keras hingga pria itu terpental setengah langkah, tangannya gemetar hebat setelahnya. “Kamu pikir semua ini untuk siapa?! Untuk keluarga ini! Untuk nama besar Abimanyu!” Namun sebelum Elang sempat membalas, suara langkah tergesa terdengar dari luar ruangan.
Seorang asisten rumah tangga masuk dengan wajah panik. “Tuan… polisi datang.”
Semua darah di wajah Lisa seakan lenyap.
Di halaman mansion, belasan mobil hitam terparkir rapi dengan lampu rotator yang memantul di dinding megah rumah itu. Wartawan sudah berkerumun di luar pagar utama seperti kawanan predator yang mencium darah.
Seorang perwira tinggi melangkah masuk sambil menunjukkan surat resmi. “Kami dari Polda Metro Jaya.” Tatapannya dingin menyapu seluruh ruangan. “Kami membawa surat penangkapan atas nama Lisa Abimanyu atas dugaan percobaan pembunuhan berencana, pemberian zat berbahaya secara ilegal, dan penghilangan barang bukti.”
“Nonsense!” bentak Rajendra maju. “Kalian tahu siapa saya?”
“Kami tahu,” jawab sang perwira tenang. “Dan justru karena itu kami datang dengan prosedur lengkap.”
Lisa mulai mundur perlahan. “Rajendra… lakukan sesuatu…” bisiknya panik.
Tetapi untuk pertama kalinya, Rajendra Abimanyu tidak bergerak, pria itu sadar badai ini sudah terlalu besar bahkan untuk uangnya sendiri. Dan di saat borgol dingin mulai melingkar di pergelangan tangan Lisa, sebuah pesan anonim masuk ke ponsel Rajendra.
“Itu baru permulaan. Kalian belum kehilangan apa pun dibanding penderitaan Mikayla.”
Nama pengirimnya hanya satu huruf.
E.
___
Di Berlin: Senyum Tipis Michelle
Di sebuah vIlla mewah di tepi Danau Wannsee, Berlin, seorang wanita cantik dengan penampilan yang jauh lebih segar dan elegan sedang duduk di balkon, memperhatikan berita internasional melalui tabletnya.
Michelle Aviel Leon menyesap teh jahe hangatnya. Ia melihat foto Lisa Abimanyu yang sedang digiring polisi dengan kepala tertutup kain, serta foto Elang yang terbaring lumpuh di rumah sakit dengan label "Suami Pengkhianat" di semua berita utama.
"Mereka pikir uang bisa membungkam kebenaran," gumam Michelle pelan.
Ethan muncul dari belakang, memeluk pinggang Michelle dengan posesif. "Para sahabatmu melakukan pekerjaan yang luar biasa, sayang. Helena dan Rasya akan mendapatkan bonus anonim yang sangat besar besok pagi."
Michelle bersandar di dada Ethan. "Biarkan mereka membusuk di sana, Ethan. Aku ingin Lisa merasakan dinginnya lantai penjara di hari tuanya, sama seperti dia membuatku merasa dingin dan hampa selama lima tahun ini.”
"Tentu," jawab Ethan, mencium pelipis Michelle. "Dan sementara mereka menderita di sana, tim medis di sini baru saja memberi kabar baik. Proses detoksifikasimu berjalan 80% lebih cepat dari perkiraan. Tubuhmu sedang memulihkan diri, Michelle. Masa depan kita... baru saja dimulai."
Michelle menutup tabletnya. Baginya, nama Mikayla sudah selesai menunaikan tugasnya untuk menghancurkan para pengkhianat. Sekarang, saatnya Michelle membangun kerajaannya sendiri di samping pria yang tidak pernah melepaskan tangannya.
_____
Suasana di pemakaman khusus keluarga itu begitu menyayat hati. Di bawah langit mendung Jakarta, Raffan—kakak laki-laki tertua Mikayla yang selama ini membanting tulang di pertambangan Sulawesi—bersimpuh lemas di depan gundukan tanah yang masih basah.
Tangannya yang kasar karena kerja keras gemetar hebat saat mengusap nisan kayu bertuliskan nama adik kesayangannya. Raffan jarang pulang, ia menekan egonya dan menahan rindu bertahun-tahun di tanah rantau demi satu tujuan: Memastikan Mikayla memiliki masa depan yang layak. Ia tahu betul betapa pilih kasihnya orang tua mereka yang hanya memuja Naura, sementara Mikayla dianggap beban yang tidak perlu dibiayai kuliahnya.
"Sayang... maafkan Kakak tidak bisa melindungi dirimu," isak Raffan, suaranya pecah dan serak. Air matanya jatuh membasahi bunga-bunga kamboja yang tersebar di atas makam.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah buku tabungan kusam yang penuh dengan catatan transaksi setoran setiap bulan. "Kamu bilang kamu ingin kuliah lagi ke luar negeri, Mika... Kakak sudah menyiapkan uangnya. Kakak lembur siang malam di sana supaya kamu bisa bebas dari keluarga Abimanyu itu. Kenapa kamu pergi secepat ini, Dek?”
Raffan berdiri dengan kaki yang masih goyah, matanya yang sembab menatap tajam ke arah Sinta—ibunya—yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah tertutup cadar hitam, terus meratapi nasib Naura yang juga kritis.
"Puas, Bu?! Puas?!" bentak Raffan, membuat semua orang yang hadir di pemakaman itu tersentak. "Uang yang aku kirim tiap bulan untuk biaya makan Mika, ternyata Ibu pakai untuk membiayai kemewahan Naura! Dan sekarang, saat Mika butuh perlindungan, Ibu malah membiarkan wanita iblis itu meracuninya!"
"Raffan... Ibu tidak tahu kalau Lisa sejahat itu..." bela Sinta dengan suara parau.
"Bohong! Ibu tahu, tapi Ibu tutup mata karena Ibu takut kehilangan aliran dana dari Abimanyu!" Raffan menunjuk nisan Mikayla dengan jari bergetar. "Mulai hari ini, jangan pernah sebut aku anakmu lagi. Aku tidak sudi punya ibu yang menjual nyawa adiknya demi uang.”
Misi Rahasia untuk Raffan
"Tapi," Michelle menghapus air matanya dan menatap Ethan dengan tegas. "Pastikan tabungan Kak Raffan berlipat ganda secara anonim. Dan kirimkan pengacara terbaik untuk membantunya menggugat hak waris Mikayla dari Elang. Aku ingin Kak Raffan yang memegang kendali atas aset yang tersisa di Indonesia."
Ethan mengangguk patuh. "Apapun untukmu, Michelle."
Sebelum mobil itu melaju pergi, Michelle menatap punggung Raffan untuk terakhir kalinya.
"Tunggu aku, Kak. Uang kuliah yang Kakak kumpulkan tidak akan sia-sia. Aku akan belajar lebih dari sekadar ilmu di luar negeri; aku akan belajar cara menjadi penguasa yang sesungguhnya. Dan saat aku kembali nanti sebagai Michelle, Kakak adalah orang pertama yang akan aku jemput dari lumpur ini."
Mobil itu pun menghilang di balik tikungan jalan, meninggalkan pemakaman yang penuh dengan penyesalan palsu dari sang Ibu, dan cinta yang tulus namun terluka dari seorang kakak.
_____
Hujan rintik di luar jendela hotel seolah mewakili suasana hati Raffan yang hancur berkeping-keping. Pria tegap yang biasanya tahan banting di terik matahari Sulawesi itu kini hanya terduduk lesu di kursi balkon. Di tangannya, sebuah foto kecil Mikayla yang sedang tersenyum ceria dengan latar belakang gedung bank tempatnya bekerja.
"Baru beberapa minggu lalu kamu telepon, Dek... Kamu bilang sudah lolos seleksi beasiswa ke Tokyo," bisik Raffan parau. "Kamu bilang mau belikan Kakak rumah di sana supaya kita tidak perlu lagi berurusan dengan Ibu dan Elang. Kenapa Tokyo-mu malah jadi gundukan tanah, Mika?”