"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Apa Aku Layak Jadi Istri yang Baik?
“Bagaiman praktekmu?” Hermawan bertanya dengan antusias saat Dean sudah duduk di mobilnya sambil tersenyum lebar setelah mengenakan sabuk pengaman.
“F.” jawab Dean datar lalu senyum itu menghilang begitu saja.
“Kenapa bisa begitu?” Hermawan terkejut melihat perubahan wajah Dean, serta pernyataanya.
“Tentu saja bisa, aku tidak bisa memasak, dan tadi aku mengotori muka chef dengan telur, hingga membuatnya marah.” Dean bercerita sambil terkekeh pelan, menginggat kejadian lucu tadi siang. Hermawan juga ikut terkekeh mendenga cerita istrinya.
“Baiklah aku akan mentraktirmu makan es krim, agar mood mu jadi lebih baik, bagaimana apa kamu mau?” dengan cepat Dean mengatakan setuju.
***
Dhani dan Meli terlihat lelah mereka menunggui Ahmad setiap hari, memastikan kondisi ayah mereka baik-baik saja, walau sebenarnya belum terlalu membaik karena Ahmad belum juga sadarkan diri sampai detik ini.
Dean tahu sepupuhnya itu tidak pernah meninggalkan ruangan itu lebih dari satu jam, Meli dan Dhani hanya keluar untuk makan dan berganti pakaian setelah itu ia kan kembali lagi untuk menjaga ayahnya.
Meli tiba-tiba berteriak kecang, membuat Dean terkejut bukan main, ia benar-benar takut jika Meli mengatakan hal tidak ia inginkan.
“Papa!”
Satu kata itu cukup menyadarkan Dean, ia segerah memandang Ahmad yang membuka matanya sambil berusaha tersenyum walau masih sangat tipis, Meli terus saja bersyukur sambil menagis, karena ayahnya sudah sadar, Dean langsung menekan tombol merah di samping tempat tidur Ahmad.
Berapa dokter memasuki ruangan itu dengan tergesah-gesah memeriksa kondisi Ahmad, lalu menjelaskan bahwa semuanya dalam keadaan baik.
***
“Dean,” panggil Zulfar saat Dean duduk pada sofa di ruangan Ahmad memperhatika Omnya, Zulfar sendiri segerah datang saat mendapat kabar bahwa Ahmad sudah sadarkan diri.
“Ya Paman, ada apa?”
“Begini tadi Paman kekantor mu, kamu tahukan keadaan Om masih sangat lemah, ia baru sadarkan diri, aku dan Dhani bergantian mengantikan tugasnya di perusahaanmu, Paman akan berusaha semampu Paman membantumu, tapi Paman juga harus mengurus perusahaan Paman, dan lagi Dhani harus kembali ke Singapur lusa, ia juga harus mengurusi cabang perusahaanmu di sana, ada baiknya kamu ke kantor di selah waktu kuliamu, untuk melihat perkembangan di sana”
“Selain itu beberapa perusahaan saingan terlihat mulai menekan parusahaanmu, Paman terus berusaha meyakinkan penanam modal, tapi mereka tidak terlalu percaya pada Paman terlebih setelah Edmond meninggal. dan Ahmad sekarang masih sakit.” Zulfar menjelaskan bahwa kondisi perusahaan Dean tidak cukup baik saat ini.
Dean mengangguk ia mengerti semua duduk permasalahanya. “Lusa sebelum Dhani pulang ada rapat darurat, karena penanam modal terus mendesak kita.” Tambah Zulfar.
“Baikla.” hanya itu jawaban Dean, Zulfar hanya bisa mengelengkan kepalanya, melihat tingkah anak angkatnya ini. Tapi ia tahu Dean lebih dari apa yang di harapkan, selama ini Dean juga sudah memimpin perusahaan bersama Edmond saat ia masih berumur lima belas tahun, ia sudah memperaktekan apa yang ia pelajari saat di kampusnya.
***
“Wan, yang itu belum di bersihkan.” Dean menunjuk kolong meja makan
“Iya, istriku, yang cerewet.” Hermawan segera membungkuk membersihkan area yang di tunjuk Dean, entah mengapa hampir empat minggu ini, sejak pak Ahmad masuk rumah sakit mereka semakin akrab dan Hermawan selalu menolak setiap Aulia mengajaknya pergi, atau pulang bersama ia akan lebih memilih menjemput Dean lalu mengantarnya ke rumah sakit. Apa mungkin Hermawan sudah mulai melupakan Aulia?
“Wan, apa menurutmu, aku layak menjadi istri yang baik? aku bahkan tidak bisa memasak dan membersihkan rumah.” Dean bertanya sambil memeluk bantal sofa. Hermawan terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, hingga kepalanya membentur meja makan.
“Kamu tidak apa-apa?!” Dean berlari dengan cepat, menegelus kepala suaminya dan meniup-niupnya.
‘Kamu sangat layak menjadi istri yang baik, walau kamu tidak bisa masak atau membersihkan rumah, tapi aku senang menjadi suamim.’ Kata-kata itu tertahan di tenggorongannya.
“Lain kali hati-hati!” Dean kemudian duduk di hadapan suaminya “Jangan membuatku khawatir, aku tidak suka itu!” Dean menekuk mukanya.
“Jadi sekarang kamu mengkhawatirkan suamimu ini ha?” Wawan mengodanya sambil mengijap-ngijapkan mata seperti anak kecil pada Dean, membuat wanita itu tersenyum tipis.
“Tentu saja aku selalu mengkhawatirkanmu, tapi kamu tidak pernah mengkhawatikanku. Di otakmu ini hanya ada AU-LI-A.” Dean menempelkan jarinya kekening Hermawan.
Dean selalu memperhatika Hermawan, suaminya itu selalu bersemangat setiap pergi ke kantor, tentu saja untuk bertemu Aulia, wanita yang sangat ia cintai selama sepuluh tahun ini, Dean hanya bisa tersenyum kecut jika mengingat kejadian itu, ‘Mereka pantas untuk bahagia’
“Berhenti bicara tentang orang lain, sekarang hanya ada kita,” laki-laki itu menarik tangan Dean dengan lembut. “Dean, aku, aku sangat-“ Hermawan menatap dalam mata Dean berusaha merangkai kata-kata untuk kata yang akan ia ucapkan.
“Aku lapar, bagaimana jika kamu masak sesuatu, aku akan mengupas bawang, aku sudah bisa melakukanya.” ucap Dean cepat kemudian berdiri, mencari bawang dan pisau. Dean tidak ingin mendengar apa yang akan Hermawan katakan itu akan membuatnya semakin sakit hati.
Dean bersumpah ia sangat menginginkan Hermawan selalu menjadi suaminya tapi Dean tidak boleh egois. Dean sudah berjanji akan melepaskan Hermawan jika laki-laki itu mengingikan mereka berpisah, demi kebahagian Hermawan dan Aulia.
Hermawan tersenyum lembut, memperhatikan Dean yang sudah mengambil pisaunya siap untuk mengupas bawang yang ada di tangan kirinya. “Oke kita akan masak ayam bakar dan sambal kentang.”
Dean segera menghentikan kegiatanya, mukanya mendadak menjadi datar dan tatapan menjadi kosong, Dean bahkan menundukan kepala hampir menjatuhkan pisaunya andai saja Hermawan tidak memegang tangan Dean .
“Ada apa?” tanya Hermawan khawatir menatap mata coklat itu.
“Wan aku, aku belum belajar cara mengupas kentang.”
***