Arabella Pramudita harus terjebak dengan seorang Duda Ganteng yang selama ini mengikuti dan mencintai nya.
"Menikahlah dengan ku sayank, aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Cihh....aku tidak sudi menikah dengan laki laki seperti kamu."
"Bagaimana kalau kamu hamil??"
Moreno Suryapradika sengaja menjebak seorang gadis kecil yang sudah mencuri hatinya, hanya dengan cara inilah Reno bisa menikahi gadis yang belakangan ini mengobrak abrik jiwa raganya.
Bagaimana Reno sang Duteng menaklukan hati Abel, gadis remaja yang masih sekolah itu??
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertama
Abel yang penasaran, langsung saja menguping pembicaraan ke-dua orang tuanya, ya...yang berada di sebuah kamar adalah Papi dan Mami nya, mereka seperti nya terlibat dengan pembicaraan yang serius, yang membuat Abel ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, karena bukan hanya sekali tetapi beberapa kali namanya di sebut oleh sang Papi.
Apalagi, pintu kamar yang tidak sengaja di buka, yang membuat Abel bisa mendengar pembicaraan itu dengan begitu jelas.
"Papi kenapa??Apa Abel buat masalah lagi?"
Mami Yuna menggeleng, ia yang baru saja mandi dan tiba tiba melihat suami nya sudah datang dengan muka yang masam, tanpa ragu lagi lagi langsung memberondong beberapa pertanyaan, dan tentunya belia juga membantu suami nya untuk membuka dasi dan menyiapkan pakaian ganti.
"Mau mandi?"
Tanya Mami lagi, karena Papi terlihat sangat lelah dan banyak keriput di wajahnya, padahal umurnya juga belum terlalu tua, apalagi belum mempunyai cucu, gak lucu jika wajahnya sudah seperti Opa, Opa beneran bukan opa opa Korea.
"Tidak usah Mi, temenin Papi saja, mau curhat.", ujarnya dengan menepuk tempat di samping Papi.
Tanpa menunggu lama, Mami mendekat..beliau juga memegang tangan suaminya, tak apalah sesekali dirinya yang agresif duluan.
Yah, begitulah mereka berdua, masih tetap kompak, romantis dan harmonis, walaupun usianya tidak muda lagi, tetapi tetap jiwanya bagaikan anak muda.
"Papi kenapa? Abel bikin ulah lagi??"
Mami Yuna mengulang pertanyaan lagi, karena yang tadi juga belum di jawab oleh Papi, beliau berpikir kalau bukan karena perusahaan ya karena anaknya, Arabella.
"Salah satu nya.", Jawab Papi jujur.
Ya memang salah satu yang membuat Papi Tian pusing adalah Abel, karena Abel sudah membuat anak orang jatuh cinta sejatuh jatuhnya, bahkan sampai makan gak enak dan tidur pun tidak nyenyak. Persis seperti apa yang di katakan oleh Reno tadi siang.
Mungkin kalau pria itu bukan seorang duda dan umurnya tidak terpaut jauh dengan putrinya, Papi tidak akan sampai kepikiran, tetapi....putri satu satunya sudah membangun kan sesuatu yang empat tahun lamanya sudah tertidur pulas. Bahaya!!
"Aku!!"
Abel yang memang sengaja menguping pembicaraan Papi dan Mami nya menunjuk dirinya sendiri, kemudian gadis cantik itu menggeleng, dan melanjutkan aksinya, karena begitu sangat penasaran dengan kisah selanjutnya.
Mami Yuna mengeryitkan alisnya, kalau salah satu berarti juga ada salah dua nya, lalu apa??
"Salah dua, tiga , empat dan lima nya apa Pi??", tanya Mami pelan pelan, beliau tau kalau suaminya mood nya sedang naik turun saat ini.
"Perusahaan Ayah."
Deg
"Perusahaan Kakek.", ucap Abel pelan.
Ia tau betul bagaimana kondisi perusahaan Kakeknya, dan sedikit paham apa yang menjadi masalah nya.
'Apa jangan jangan?'
Mami Yuna mengangguk, dan mengisaratkan agar Papi menerus kan ceritanya, Papi Tian memang sengaja menjeda ucapan nya, karena beliau tau kalau istrinya pastinya akan bertanya di sela sela ucapannya, tetapi...kali ini tidak.
"Papi baru mendapat kabar kalau Perusahaan Kakek sudah tidak bisa di pertahankan lagi, dan Minggu depan semua karyawan dan juga yang lainnya harus meninggalkan Perusahaan itu, karena pemilik nya yang baru ingin mengganti semua nya."
Papi Tian menghela nafas, beliau juga sesekali memijat keningnya, bukan pusing lagi, tetapi rasanya mau pecah mendengar kabar itu.
"Kakek sudah tau??", Papi menggeleng.
"Kakek masih di luar kota dan kemungkinan besar besok siang atau sore baru sampai. Papi juga minta untuk tidak mengabarkan berita ini kepada Kakek dulu takut penyakit jantung nya kumat lagi."
"Lalu??"
"Papi akan bicarakan pelan-pelan, mungkin dengan mengajak beliau jalan jalan dan liburan."
Papi Tian seperti sudah pasrah, beliau sudah tidak mempunyai jalan dan cara lagi untuk menyelamatkan Perusahaan milik Ayahnya itu.
"Apa sudah tidak ada cara lagi Pi?? bukannya itu Perusahaan satu satunya yang Kakek punya?? dan bagaimana Kakek memiliki nya, Papi sendiri sudah tau sejarah perjuangan kakek dulunya kan?"
Mami Yuna mencoba bertanya, beliau bukanlah orang bodoh dalam masalah bisnis, karena Almarhum Ayahnya dulu juga mempunyai Perusahaan, tapi sayank sekali harus hancur di tangan orang kepercayaan yang pura pura baik padanya.
"Ada, cara itu ada... tetapi terlalu beresiko. Maka dari itu, Papi pasrah, jika memang Perusahaan itu harus jatuh di tangan orang lain, paling tidak ..kita masih punya satu Perusahaan yang masih bisa berkembang.", jawab Papi Tian yang sudah benar benar nampak pasrah.
Namun tidak sedikit rasa kecewa dari dalam dirinya,.bukan kecewa kepada Ayah nya, tetapi terhadap dirinya sendiri, karena tidak bisa ikut andil menyelamatkan Perusahaan Ayahnya.
Mami Yuna terdiam sesaat, kalau suaminya sudah berkata seperti ini, itu tandanya memang cara dan jalan yang di tempuh untuk menyelamatkan Perusahaan Ayah mertua nya tidaklah mudah, mungkin pikiran Mami, harus melewati tujuh tanjakan tujuh turunan dan tujuh belokan, bahkan mungkin lebih dari itu.
"Ada tiga obsi yang harus Papi pilih, dan ketiganya itu begitu sangat berharga untuk Papi."
'Tiga obsi??' batin Mami.
Rupanya sebelum mengambil keputusan, Papi Tian sudah memikirkan cara dan risiko apa saja yang akan di hadapinya, jika itu benar benar dilakukan.
"Pertama??", tanya Mami Yuna antusias.
Papi menghela nafas panjang nya, kemudian mengambil segelas air putih dan meminumnya sampai habis.
"Papi harus menjual Perusahaan Papi , supaya Perusahaan Kakek bisa bangkit lagi.", ucap Papi lirih, seperti sudah tidak bertenaga lagi.
Mami Yuna menggeleng, tidak mungkin suaminya akan menjual Perusahaan yang dia bangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari Ayahnya, apalagi yang Mami denger juga Perusahaan suaminya sedang dalam masa tahap mulai berkembang, karena kemarin sempat kocar kacir.
Namun, untuk melepaskan Perusahaan milik Ayah mertua nya, Mami rasa suaminya juga tidak akan bisa, karena Perusahaan itu juga satu-satunya aset yang dimiliki Ayah mertua nya dan juga sejarah nya sama dengan yang dialami suaminya.
Kedua nya terdiam, saling menggenggam satu sama lain, saling menguatkan, bukan hanya senang saat di atas tetapi ikut susah jika berada di bawah, seperti saat ini.
Sementara Abel, gadis itu masih setia mengamati dan melebarkan telinga nya, begitu juga dengan mata nya, yang sedari tadi melihat interaksi antara Papi dan Mami nya.
"Ckkk.... padahal momen nya bukan lagi senang ataupun gembira, tetapi mereka masih saja mesra dan romantis."
Hanya di novel2 yg kayak gini, Padahal dulu dia yg sok jual Mahal, sekarang malah sok TERSAKITI,Seolah dia yg paling Benar,Lagian Reno ngapain di ladeni Lelaki kayak Naga dan Rangga sih, Para Cowok yang gak benar..