Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Far away
Niel membawa beberapa gelas kaca dan botol untuk membuat racun sederhana.
"Kalau kau hanya ingin membuat racun untuk berjaga jaga, sebaiknya kau buat yang lebih praktis agar tak memakan waktu lama," ucap Niel sembari memetik beberapa daun.
"Baik, tapi apa efek dari racun ini?."
"Tidak terlalu parah, hanya akan membutakan penglihatan," Ucap Niel dengan santainya, "Tentu saja, efeknya permanen," aku terdiam karena baru kali ini aku mendengar seseorang menyebutkan kebutaan permanen tidak terlalu parah.
"Huh, sejujurnya aku takut jika racun itu terkena ke tubuhku saat aku membuatnya."
"Ya itu resikonya."
Niel dengan santai menumbuk daun daun kasta dan melati secara bersamaan, menambahkan sedikit air dan garam.
"Berapa masing masing daun yang di butuhkan Niel?."
"3 untuk masing masing daun, jangan terlalu banyak atau kau akan menyesalinya."
Ia lalu mulai menambahkan kapur dan bunga felato, bunga yang bisa di temui di jalan atau hutan, "Ternyata bahanya mudah di temukan," ucapku.
"Ya, dan yang paling parah adalah, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan racun ini, atau jadi penetralisir racun."
"Ini cukup gila dan aneh di waktu bersamaan, karena bahan yang mudah di dapat seseorang bisa menyelakai orang lain." Ucapku sembari melihat di dekat cara membuat racun itu.
"Baiklah, ini sudah jadi, kau bisa lempar, minum, siram, apapun itu yang bersentuhan dengan tubuh lawan, akan langsung membutakannya." Ia berbicara seperti itu sembari memberikan botol yang berisi racun.
"Huh, jadi kalau seseorang menghirupnya?."
"Tidak berpengaruh."
"Baiklah, akan ku coba untuk membuatnya sekarang."
"Ya, aku akan melihat tahapan yang akan kau buat," Ia berkata sembari melihat ke arah bahan bahan yang sudah di sediakan.
Ku masukan daun kasta 2 lembar, lalu menumbuknya tidak terlalu halus, 3 daun melati ku masukan setelahnya, lalu ku masukan lagi 1 daun kasta, mencampurnya dengan air garam sedikit dan sejumput kapur, setelah ku tumbuk dan di aduk dengan rata, aku masukan 1 daun felato dan menunggu daun felato itu menghilang menyatu bersama air racun.
"Kau ternyata bisa membuatnya hanya sekali melihat," ucap Niel sembari membawa botol racun itu dan melihatnya ke arah cahaya. "Baik, ini berwarna hijau seperti racun biasanya, kau berhasil." Ucapnya.
"Hei, berterimakasih lah kepadaku Desmon, aku membantumu membuatnya." Ucap Fury, "ya terimakasih atas bantuannya."
Niel pun membawa racun yang ku buat, menghampiri tikus yang ada di kurungan lalu menyiram sedikit ke tubuhnya.
"Hei, apa itu aman?," ucapku di belakang Niel.
"Lihatlah, bagaimana tikus itu bereaksi."
Tikus yang awalnya sedang memakan sesuatu, ia mulai berjalan kesana kemari dengan mata yang berbeda dari semula, matanya tiba tiba menghitam seperti arang.
"Uh, jadi itu efeknya? walau kau siram ke tubub tikus itu sedikit?."
"Ya Desmon, jika kau siram semua, maka itu bisa menghasilkan kebutaan dan tuli secara permanen kepada musuh mu."
Aku barusaja belajar sesuatu yang sangat berguna bagi perjalanan ku, ini bisa di gunakan untuk melawan monster atau musuh yang kuat.
Tapi tiba tiba saja tikus tadi yang sedang berjalan jalan menjadi diam tak bergerak. "Kenapa itu Niel?."
Niel memperhatikan tikus itu dengan sangat serius, lalu tiba tiba perus si tikus terobek dengan sendirinya dan mengeluarkan organ organ yang ada di dalamnya.
"Sepertinya racun ini terlalu kuat."
"Apa maksudmu?."
"Jika racun pembuta ini bisa menghancurkan pertahanan dari sang lawan, maka inilah hasilnya."
"Tapi kau tidak bilang itu tadi."
"Ya, karena aku tak menduga akan terjadi hal seperti ini."
Aku masih heran dengan semua ini, seakan aku tak bisa mencerna semua informasi.
"Hei Desmon, aku kemba-... hiiih." Regin baru saja kembali dari bar, ia terkejut melihat bangkai tikus di atas meja sembari mengeluarkan suara yang aneh.
"Apa itu?."
"Ini? ini tikus," ucap Niel sembari tertawa melihat tingkah Regin.
"Tapi kenapa bisa seperti itu?."
"Karna racun."
Regin menoleh ke arahku sembari menahan jijik dari apa yang ia lihat, "apa kau membuat sesuatu yang aneh Desmon?."
"Tidak, aku hanya membuat racun untuk nanti."
"Huh."
Regin masuk lalu duduk di kursi sebelah meja, Niel pun ikut duduk dan aku hanya berdiri di samping meja.
"Jadi, kau dari mana?," ucapku pada Regin.
"Biasa, aku barusaja selesai ke tempat hiburan." Ia berkata seperti itu dengan sangat santai, seperti tak ingat memiliki istri di rumah.
"Huh, aku tak akan membantumu jika istrimu marah padamu."
"Santai saja Desmon, ia tak akan marah."
"Apa kalian akan melanjutkan perjalanan ke kota Latros," Niel bertanya dengan nada santai khas nya.
"Ya, mungkin," ucapku sembari menoleh ke arah lantai kayu.
"Tapi Desmon, sepertinya di sana sedang di adakan acara pemujaan dewa dewi, seperti acara tahunan," Ucap Regin.
"Kau tau dari mana?."
"Aku mendengar dari seorang warga di sini, katanya di sana sedang ada pesta tahunan penyembahan dewa dewi, dan gereja Ferus ikut merayakannya."
"Cukup aneh." Niel berkata sembari meminum segelas teh.
"Aku tak tau bahwa gereja Ferus boleh mengikuti hal hal seperti itu."
"Kenapa?." Tanyaku pada niel.
"Karna ada sebuah larangan, larangan itu adalah jangan mengikuti acara dari tuhan, dewa, dan kepercayaan lain selain Tuhan Ferus."
Aku terdiam setelah mendengar ucapan Niel.
Melanjutkan pembahasan bersama kedua orang, membuat aku lupa bahwa hari sudah gelap.
"Niel, aku akan menginap di penginapan, aku ingin menitipkan kuda ku di sini."
"Baiklah, kalau kau mencari penginapan, di dekat alun alun terdapat penginapan yang nyaman."
Aku mengangguk dan mebawa perlengkapan ku. Regin sepertinya akan menginap di luar juga.
"Kau akan menginap di mana Regin?."
"Aku? aku akan menginap di bordil dekat bar," ia mengatakan itu sembari tertawa.
Aku tak bisa melarangnya karna itu kebebasan miliknya, namun jika istrinya mengetahui ini, aku tak akan membantunya.
"Baiklah, aku akan ke kanan, hati hati Desmon."
Ia melambaikan tanganya, aku berjalan lurus ke depan mencari penginapan yang di maksud oleh Niel.
Penginapan Jamun terpampang di atas pintu, aku masuk ke dalam dan berbicara kepada penjaga.
"Nona, apa ada kamar kosong di sini?."
"Ya tuan, apakah tuan petualang?."
"Bisa di bilang begitu."
"Baiklah, kamar di sini seharga 1 koin emas."
Aku memberi 1 koin emas kepada penjaga itu.
"Terimakasih tuan, ini kuncinya dan kamar tuan berada di lantai 2 ujung."
"Baik, terimakasih."
Aku berjalan ke atas melalui anak tangga, penginapan ini cukup besar ternyata.
Berjalan menelusuri lorong, aku menemukan kamar milik ku.
Masuk ke dalam, tempat nya sangat bagus untuk harga 1 koin emas, kasur besar untuk 2 orang, meja dan kaca, lemari dan 1 buah tempat untuk menyimpan armor.
Aku membuka semua pelindung, serta menyimpan perlengkapan di tempat aman, lalu aku tidur untuk bersiap ke perjalanan besok.
Saat aku akan tertidur pulas, tiba tiba aku teringat kejadian bersama Fiora, mengingat semua yang terjadi dan mulai merindukan dirinya, namun aku tau aku tak bisa membawanya ke perjalanan yang akan ku lakukan karena terlalu berbahaya.
"Kau sebaiknya jangan memikirkannya dulu, fokus ke tujuanmu Desmon."