NovelToon NovelToon
My Teaser Devil Prince [Proses Revisi]

My Teaser Devil Prince [Proses Revisi]

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Komedi / Tamat
Popularitas:7.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: R_Quella

Leonel Stevano_ CEO tampan pemilik perusahaan Ternama. seorang yang nyaris sempurna. terlahir dan di besarkan dengan kemewahan sebagai pewaris di perusahaan Stevano corp, membuatnya menjadi pribadi yang dingin, angkuh dan arogan. Sorot matanya yang mengintimidasi membuatnya menjadi sosok yang di segani di kalangan masyarakat.

Namun siapa sangka. Sosok nyaris sempurna sepertinya tidak pernah merasa tertarik dengan lawan jenis. Tentu saja dia bukan Homo! tolong di garis bawahi. Karena menurutnya, wanita itu ribet! Segala apa yang Mereka lakukan nampak membingungkan. Itu sebabnya ia tidak begitu tertarik menjalin hubungan serius dengan perempuan. Leon tidak suka hal yang berbau ribet dan merepotkan.

Di dunia ini. Hanya ada satu orang yang mampu membuat nya mau di repotkan. Karna baginya justru itu adalah suatu kebahagiaan nya, membuatnya merasa Menjadi bagian penting dalam kehidupan wanita itu.


Shevana maurer_ Gadis biasa yang hidup seorang diri. Gadis manis yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya. Ceroboh, keras kepala dan terkenal dengan sifat bodo amatan nya.

Bekerja menjadi salah satu pegawai di Perusahaan ternama. Selama hidup.. Dia belum benar-benar tahu apa yang menjadi tujuanya.

Sampai suatu ketika ia bertemu dengan lelaki dingin yang arogan dalam suatu insiden karena kecerobohan nya. Bahkan tidak berhenti sampai di situ, karena faktanya pria itu terus saja mengusik hidup tenang Shevana.

He is the Devil Teaser!

Tetapi siapa sangka, kemunculan pria itu di hidupnya justru membuat dia sedikit demi sedikit mengerti tujuan hidup nya. Kehidupan nya yang biasa saja berubah menjadi penuh kejutan. Karena di balik sifat dinginya, pria itu begitu senantiasa menjaga dan melindunginya.

Bagai duri bagi yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_Quella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua enam insident in party

"Selamat datang, Tuan muda Stevano. Senang anda bersedia menemuiku." sapa Lucas dengan mengulurkan tangan melihat Leon berjalan kearahnya. Leon tersenyum singkat—mengangguk balas menjabatnya.

"Tidak perlu terlalu formal denganku Mr. Zachary, Maaf telah membuatmu menunggu."

"Tidak Mr. Stev_"

"Tolong jangan membuat aku mengulangi ucapanku, Sir." potong Leon cepat.

Lucas tersenyum simpul. "Kalau begitu kau juga tidak perlu terlalu formal padaku. Panggil saja Grandpa."

"Jika begini to the point saja. Kau pasti sudah tau maksudku memintamu untuk menemuiku, bukan?" tambah Lucas.

Leon tersenyum santai. Duduk bersandar dengan menyilangkan kedua kakinya, "Kau sangat bergairah, Grandpa. Apa itu karena kau merasa bersalah pada cucumu? Ah, apa Shevana masih pantas di sebut sebagai cucu dari keluarga Zachary setelah anda membuang mereka?" sindiran telak Leon membuat Lucas bungkam dengan menundukkan kepala.

Lucas sudah tidak terkejut bagaimana Leon bisa mengetahui sampai sejauh ini. Namun yang dikatakan Leon memang ada benarnya. Dan Lucas benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh untuk ini.

"Maafkan aku jika perkataanku menyakitimu, Grandpa. Aku sedikit terbawa suasana." kekeh Leon menuangkan anggur untuknya juga Lucas. Lucas menganggkat wajah lalu meminumnya sedikit.

"Yang kau katakan adalah kebenaran. Aku seorang kakek yang buruk. Bahkan mungkin aku tidak pantas di sebut kakek olehnya." Lucas tersenyum lirih, "dan selama aku hidup, baru kali ini aku mempercayai kiasan bahwa penyesalan selalu datang terakhir."

Lucas mencengkram gelasnya erat. Ia bersalah dan selamanya tidak akan termaafkan. Leon menyesap minumanya sendiri —masih diam melihat Lucas dengan tatapan tak terbaca.

"Apa aku salah jika aku berkeinginan memperbaiki segalanya? Meski terlihat mustahil tapi aku benar-benar ingin melakukannya." sungguh Lucas. Balas menatap Leon meminta pendapat.

Leon tersenyum tipis —kembali menyesap anggurnya. "Penyesalan ada untuk membuat kita menyadari kesalahan. Dan karena Gandpa sudah mengakui kesalahanmu sendiri maka aku tidak akan menghalangimu memperbaiki keadaan. Lakukan apapun yang ingin Grandpa perbaiki, selama itu tidak menyakiti wanitaku, aku tidak masalah. " jawab Leon posesif.

Lucas menatapnya penuh harap," Benarkah aku bisa? "

"Tentu saja. Bukankah tujuanmu mengajakku bertemu adalah ini?"

Lucas tersenyum simpul. "Kau benar-benar pengertian. Aku jadi tidak khawatir jika Shevana berada di sisimu."

Leon terkekeh pelan, "Kau terlalu memandangku tinggi. Aku tidak sebaik itu, Grandpa."

"Apapun itu aku yakin kau akan menjaganya dengan baik." Lucas menatapnya sekilas, "Jadi apa rencanamu?"

"Jangan khawatirkan apapun. Aku dan Ana sudah memiliki rencana. Dan untuk bagianmu adalah cukup menghadiri pesta, membuat seolah rencana mereka berhasil dan melanjutkan apa yang akan aku lakukan nantinya." jawab Leon tersenyum simpul.

Lucas menatap Leon terharu. "Terimakasih telah berusaha sejauh ini untuk kami. Aku mengandalkanmu."

Leon tersenyum tipis, "Dalam cinta tidak mengenal kata Maaf dan terimakasih, Grandpa."

**

"Kau sudah siap?" tanya Leon dengan mengenyam tangan Shevana— menenangkannya.

Mobil yang membawa mereka sudah sampai dari lima menit yang lalu, tetapi Shevana meminta waktu untuk menetralkan kegugupannya. Sekian detik Shevana menghembuskan napas berat lalu mengangguk.

"Tapi bagaimana kalau Zachary mengenaliku?" Shevana menoleh ragu.

Leon mengulas senyum. "Cepat atau lambat mereka akan tahu. Apa yang kau takutkan?"

Leon memang sengaja menyembunyikan fakta keinginan Lucas dari Shevana. Ia juga ingin melihat usaha Lucas memperbaiki kesalahannya. Leon tidak akan mudah terkecoh dengan orang-orang masa lalu Shevana meski itu keluarganya sendiri. Tidak setelah Parker menghancurkan kata keluarga dalam keluarganya sendiri.

"Tapi aku takut mereka membenciku dan juga berusaha menjatuhkanku. Sedari awal kehadiranku memang tidak diinginkan. Dan aku.. Aku.."

Shevana mendonggak saat Leon mengecup punggung tangannya. Ia tersenyum menenangkan.

"Sudah pernah kukatakan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Apa kau sangat meragukanku, Ana?" tanya Leon lembut.

Shevana menarik tanganya lalu memalingkan wajah. Lagi-lagi degupan jantungnya membuncah setiap kali Leon memperlakukannya dengan lembut. Shevana tidak bisa membiarkan ini terlalu lama. Ia harus menghindar atau ia akan terluka lebih dalam lagi nantinya.

"Kita harus segera masuk atau kita akan terlambat, Leon." Shevana berucap tanpa melihatnya. Leon menghela napas. Saat ini bukanlah waktu yang tepat meminta penjelasan dan yang terpenting saat ini adalah bagaimana meyakinkan Shevana jika tidak akan terjadi apa-apa nantinya.

Leon meraih pinggang Shevana lalu menghelanya masuk. Dalam sekejap mereka menjadi pusat perhatian. Shevana berjalan anggun di samping Leon yang sangat terlihat berwibawa. Gaun maroon senada dengan kemeja Leon membuat mereka tampak sangat serasi.

Leon mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "Arah jam sembilan. Kau sudah siap memulai pertunjukan, bukan?"

Shevana menarik napas dalam. "Aku tahu." Shevana berdeham saat matanya tidak sengaja bertemu dengan Lucas. Ia memalingkan wajah.

"Ayo kita selesaikan ini semua. Lebih cepat lebih baik."

Mereka menuju tempat di mana keluarga Parker tengah berkumpul. Sepertinya mereka sedikit terlambat terlihat dari kue di depan Stella sudah berkurang. Shevana mengulas senyum simpul.

Mereka pasti menantikan kado spesial dari Shevana.

"Maaf terlambat. Selamat ulang tahun Nona Stella Parker." ucapan Leon sontak membuat mereka yang ada disana menoleh. Leon mengulurkan tangan. Stella menyambutnya.

"Ah, iya. Kenalkan, ini Shevana Maurer, Wanitaku." ucap Leon memperkenalkan.

Shevana mengulurkan tangannya, "Selamat ulang tahun Nona Stella, senang bertemu denganmu lagi."

Mereka semua diam melihat Stella yang masih belum menyambut uluran tangan Shevana. John Parker Terlihat sedikit terkejut mendapati Shevana masih berpura-pura dengan tidak mengakui Parker sebagai keluarganya.

"Sepertinya kehadiran kita tidak diterima." ucap Leon membuat Stella dengan cepat menyambut tangan Shevana—mencengkramnya erat.

Shevana meringis, melirik Leon dari ekor matanya.

Leon menatap Stella datar. "Kau tidak pantas menyakitinya." ucap Leon menarik tangan Shevana.

Mereka kembali terkejut melihat tatapan Leon berkilat marah. Shevana mengelus lengan Leon mencoba menenangkannya.

"Aku tidak apa-apa. Mungkin nona Stella hanya sedikit bersemangat di hari ulang tahunnya." sahut Shevana mengulas senyum simpul.

Leon menghela napas lalu berkata, "Wanitaku adalah berharga. Siapapun tidak pantas menyentuhnya bahkan seujung kukupun."

"Wah, anda sangat berlebihan, Tuan. Apakah seberharga itu wanita yang lahir tanpa pernikahan?"

Leon mengulum senyum. See? Memancing amarah dari seorang yang memang memiliki tingkat sensitif tinggi memang mudah. Hanya memberinya umpan dan ia langsung memakannya. Naif.

"Stella jaga ucapanmu!"

"Ucapan yang mana?" tanya Stella tanpa menatap ayahnya.

"Stella!" sentak John membuat Leon menyeringai.

Leon berhasil memancing amarah keduanya. Hanya tinggal satu lagi dan boom..

Sedari dulu Stella selalu iri dengan Shevana yang selalu mendapatkan apa yang ia mau. Tidak sepertinya. Untuk itu Leon sengaja membuat Stella iri karena yang Leon tahu ia selalu di abaikan oleh pewaris Hilton. Dan ia ingin membuat Stella kembali menyadari jika Shevana lebih unggul darinya.

"Maaf nona, sepertinya anda masih salah paham. Saya Shevana Maurer. Dan orangtuaku sudah tiada. Aku bahkan tidak tahu dari mana kau bisa mendapatkan informasi seperti itu. Aku sangat sedih, Leon." ucap Shevana dengan wajah murung.

John menatapnya bersalah. "Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkan papa, Shevana?"

Shevana melihat sekelilingnya. Mereka menjadi pusat perhatian. Perlahan Shevana menarik sudut bibirnya, "Maaf, Tuan? Saya tidak mengerti apa yang tengah anda bicarakan."

"Sheva_"

"Kau terlalu berani, Nona. Tidak heran, ibumu pasti tidak mendidikmu dengan benar hingga kau menjadi liar seperti ini. Sungguh memalukan." potong Caroline cepat.

John menatapnya tajam. "Jaga bicaramu, Caroline! Kau tidak pantas mengatakan itu padanya." marah John.

Caroline menatapnya kesal. "Kenapa? Apa kau masih mau membela wanita liar itu?! Dia bahkan tidak sudi mengakuimu sebagai Papa, lalu apa yang mau kau harapkan darinya!" sahut Caroline setengah berteriak.

Kerumunan mulai berbisik -bisik. Shevana tersenyum sinis. Perlahan ia melembut kan tatapanya. Semua harus berakhir seperti yang telah di rencanakan.

"Maaf semuanya, sepertinya kalian salah paham. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Karena sedari awal sudah saya katakan orangtuaku telah tiada. Apa anda masih tidak mengerti juga? Kalian terlihat bodoh." ucap Shevana memelankan suaranya di akhir.

Caroline menatapnya marah. "Diam kau! Anak haram sepertimu tidak pantas menghina kami."

Shevana menutup mulut dengan telapak tangannya, "Maaf Nyonya, saya tidak mengatakan hal apapun mengapa anda memfitnah saya? Dan lagi, informasi dari mana kau bisa mengatakan jika saya anak haram? Dan apa tadi, aku tidak mengakui Mr, Parker sebagai ayahku? Apa maksud mu Mrs. Parker?"

Seketika Caroline bungkam. Ia menatap Shevana yang tengah menatapnya dengan tatapan mengejek. Amarahnya kembali memuncak. Jelas-jelas Shevana sengaja melakukan ini.

"Misha Parker! Apakah ibumu Anastasia Zachary tidak mengajarimu sopan santun? Ah, saya lupa, dia kan wanita liar mana tahu cara mendidik anak dengan benar. Bukan begitu?"

"Maaf Nyonya, nama saya Shevana Maurer. Dan meskipun orangtua saya benar seperti yang anda bilang, setidaknya ia masih punya urat malu untuk tidak mengambil makanan sisa orang lain. Sungguh rendah dan memalukan. Anda berbicara seperti ini malah membuat saya berfikir jika anda sangat terlihat menyedihkan menerima status namun tidak dengan cinta dan kasih sayangnya." jawab Shevana dengan tatapan merendahkan.

Stella yang kesal melayangkan tangan dengan cepat Leon menahannya. Menatapnya dingin dengan pandangan menusuk." Sudah kukatakan wanitaku adalah berharga. Tangan jelekmu tidak pantas menyentuhnya. "ucap Leon rendah. Stella meringis saat Leon sengaja mencengkram tanganya sebelum melepaskannya.

Leon meraih pinggang Shevana memeluknyaerat. Hendak mengajaknya pergi namun suara Stella membuat mereka mengurungkan niat.

"Kau sangat menjijikan! Anak haram sepertimu memang tidak pantas berada dalam keluarga Parker. Kau sungguh tidak punya malu!"

"Minta Maaf lah pada Shevana, Stella. Ucapanmu sangat tidak berpendidikan. Aku tidak membesarkanmu untuk kurang ajar dan merendahkan kakakmu."

"Stella tidak salah untuk apa kau memintanya untuk minta maaf? Yang dikatakan nya memang benar adanya, bukan?" sahut Caroline kesal. Ia tidak suka anaknya di tindas orang lain. Apalagi ia melihat Leon dan Shevana sengaja melakukan ini.

Keterlaluan.

Shevana menyeringai. Balas menatap mereka bergantian."Maaf Tuan, Nona. saya memang bukan dari keluarga Parker. Dan untuk yang terakhir ucapanmu terlalu kasar untuk seseorang yang tidak tahu menahu persoalan keluarga kalian. Jika memang tuan Parker memiliki anak di luar nikah mungkin itu karena kalian yang tidak bisa sadar diri jika tuan Parker lebih memilih orang lain di banding kalian. Dan saya tidak mengharapkan maaf dari kalian, pemisi."

Shevana mengajak Leon pergi. Setelah kerpergianya suara kasak-kusuk terdengar memenuhi ballroom. Banyak dari mereka tidak menyangka keluarga terpandang dan terlihat harmonis seperti itu memiliki anak dari orang lain. Benar-benar di luar dugaan.

Sementara itu Lucas sendiri masih memperhatinya dalam diam. Leon membohonginya, ia kira dia akan mendapat peran dan ternyata hanya menjadi penonton saja. Stevano memang tidak pernah bisa di tebak, namun Lucas tetap merasa senang. Setidaknya ia masih bisa melihat cucunya dengan jelas.

Shevana menghembuskan napas panjang. Hari ini sangatlah menguras tenaga nya. Batin dan jiwanya kali ini berhasil membuat Parker bungkam. Dan Shevana tahu jika Caroline tidak pernah berfikir jika ia akan seberani tadi.

Leon menarik kepala Shevana lalu mendekapnya. Shevana tidak menolak. Perasaannya campur aduk dan ia merasa sangat lelah. Bukan hanya fisiknya namun batin juga jiwanya benar-benar terasa lelah. Shevana benar membutuhkan pelukan Leon karena setiap kali berada dalam dekapan pria arogan itu membuatnya merasa aman.

"Kau harusnya melihat seberapa sexy-nya dirimu tadi." ucap Leon mengelus rambut panjang Shevana.

Shevana mengulas senyum mendengar pujian Leon dan semakin mengeratkan pelukannya. "Tanpamu aku pasti tidak se-sexy tadi. Terimakasih, Leon."

"Apa kau kira kata terimakasihmu saja cukup?"

"Maksudmu?"

"Jika kau ingin berterima kasih, beri aku satu ciuman. Karena yang aku butuhkan adalah ini." Leon mengangkat wajah Shevana—membelai bibir Shevana menggunakan ibu jarinya.

Shevana mendengkus—berjinjit lalu dengan secepat kilat mengecup bibir Leon. Leon berkedip dua kali. Ia tidak bermimpi 'kan?

Shevana menciumnya?

Senyumnya terbit. Iris mata mereka saling menumbuk. Shevana menatapnya hangat dan Leon kembali mengambil alih. Menciumnya dalam. ~

**Waktu dan tempat saya persilahkan!!

KALIAN TEAM MANA? JAWAB DI SINI YA!

#TEAM_LEON

#TEAM_SHEVANA

#TEAM_BUCINYAMEREKABERDUA

#ISI SENDIRI.. 😝**

1
Inah Ilham
Tiba" kangen Pria Stevano diakhir thn 2025 ini😍😍
Cahaya 2506
Luar biasa
Agustina Sumardi
Buruk
Siti Hilmayanti Azizah
Kecewa
kinan kinan
Ceritanya bagus dan seru
Resky Amelia
😃😃😃 sangat menyenangka wanitax bar2 cowokx jail abis betul ketemua sudah 🤔😃
Resky Amelia
aku senang melihat mereka br2
semoga segerah menikha 😃💪
Resky Amelia
aku sangat terharu dengan kegigihan x untuk menjaga wanitax yg sangat dicintainya. dan aku menyukai cerita 👍dalam novel Anda 💪😃
lingkar aWan
cukup menghibur disaat gabud
Jovinka Ceva
ssssstttt.... Intipin novel baru aku juga yuks! "MENIKAHI TUAN BUTA (MTB)" fresh & dijamin nagih hehe..

semangat nulis terus ya thor!!!
𝓔𝓵𝓲𝓼Kᵝ⃟ᴸ
mau 1 yg seperti leon
Lilisdayanti
aqu mampirr 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
fauzan naufal
cerita nya luar biasa
Arik Kristinawati
ini cntik bget suka...palagi warna mta hijau wiiu...sip
Arik Kristinawati
iya shevana tdk imut n mungil....hrusnya yg baby face kecil kesannya pingin cium terus spti ank byi gitu...ini ni....dewasa banget
Arik Kristinawati
iya cerita cinta tpi kok bertele2 ....mna adegan roman2nya....hy pereburan nma keluarga,trauma....apalah2....
Arik Kristinawati
sgevana tlalu kasar....boleh gitu tpi dg para plakor,sundel ya sejenisnya
Arik Kristinawati
suka ada lelaki penaksa tapi elegan,sayang....intinya kejamnya ga mnakutkan
rorosableng
panjangin ajah thor...aku suka . ceritanya manis manis asam jawa😉
MeLLyana
baguuuuuuuuuusssss........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!