NovelToon NovelToon
Hakim Dari Kegelapan

Hakim Dari Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / TKP
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Hendry Octavian

Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Menuju Cita-cita

Hari-hari panjang yang diwarnai latihan fisik di bawah terik matahari, penanaman nilai-nilai kebangsaan dan etika, serta perkenalan mendalam dengan luasnya lingkungan kampus Universitas Indonesia akhirnya tiba di penghujungnya. Masa Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) atau yang akrab disebut masa perploncoan bagi mahasiswa baru telah usai sepenuhnya. Tidak ada lagi barisan rapi yang harus dijaga dengan keringat bercucuran, tidak ada lagi penjelasan panjang lebar dari para senior mengenai sejarah dan aturan kampus, serta tidak ada lagi rasa gugup yang menyelimuti dada saat pertama kali melangkahkan kaki melewati gerbang utama kampus terkemuka di Depok ini. Kini, Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang dan Naga Bayu Arka Denta Sikumbang benar-benar telah resmi menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar almamater yang bermotto “Ilmu Punca Pengabdian”. Mereka siap melangkah meninggalkan masa pengenalan, dan mulai menempuh perjalanan akademis yang sesungguhnya di jalan yang telah mereka pilih dengan penuh pertimbangan dan keyakinan yang kokoh.

Keesokan harinya, suasana kampus berubah drastis namun tetap memancarkan denyut kehidupan yang penuh semangat. Udara pagi yang masih sejuk menyapa dedaunan pohon trembesi raksasa yang berjejer memayungi jalan utama kampus, sementara sinar matahari perlahan menembus celah dedaunan membentuk pola cahaya keemasan di permukaan jalan aspal yang dilalui ribuan mahasiswa. Suara tawa, langkah kaki tergesa, dan obrolan hangat terdengar dari segala arah, menciptakan harmoni khas kehidupan kampus yang baru bangun. Bhumi dan Bayu berangkat pagi-pagi sekali, berjalan beriringan menyusuri trotoar yang luas, menikmati suasana baru yang kini terasa lebih akrab dibandingkan hari-hari OSPEK lalu. Langkah mereka tegap namun santai, sesekali berhenti sejenak untuk memandang gedung-gedung ikonik yang menjadi saksi lahirnya tokoh-tokoh bangsa. Hingga akhirnya tiba di persimpangan jalan besar yang memisahkan jalur menuju kompleks Fakultas Hukum dan jalur menuju Fakultas Kedokteran. Di sinilah mereka akan berpisah sementara waktu, menapaki jalan yang berbeda arah namun tetap terikat oleh tujuan mulia yang sama: menjadi insan yang bermanfaat bagi sesama, menjunjung tinggi nama baik almamater, serta tidak mengkhianati harapan dan ajaran luhur keluarga Sikumbang.

Mahesa Bhumi melangkah mantap sendirian menuju kompleks gedung Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Bangunan berarsitektur kokoh dengan garis-garis tegas, dinding berwarna abu-abu gelap, dan tata letak yang sangat teratur ini seolah mencerminkan jiwa ilmu yang akan ia pelajari: kuat berpegang pada prinsip, berlandaskan keadilan, teratur pada aturan, dan tidak mudah tergoyahkan oleh angin kepentingan sesaat. Ia berjalan masuk melewati lobi utama yang bersih dan sepi, menuju ruang kuliah besar di lantai satu. Ruangan itu luas, dengan deretan kursi kayu berwarna cokelat tua yang disusun berjenjang menanjak menghadap meja pengajar dan papan tulis putih yang bersih. Perlahan namun pasti, ruangan mulai terisi oleh puluhan mahasiswa baru dari berbagai daerah di Indonesia—mulai dari Sabang sampai Merauke, dari perkampungan hingga pusat kota—membawa latar belakang budaya dan harapan yang beragam namun sama-sama bermimpi menjadi penegak hukum yang berintegritas. Suasana terasa hening namun dipenuhi getaran harapan; sesekali terdengar suara bisikan pelan perkenalan antar teman sebangku, diselingi suara gesekan tas yang diletakkan di lantai. Bhumi memilih duduk di barisan tengah, tempat yang nyaman untuk melihat papan tulis sekaligus mengamati seluruh ruangan dengan tenang. Ia merapikan buku catatan dan pulpen di atas meja, lalu duduk tegak menanti kehadiran dosen pengajar pertamanya.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan dan masuklah seorang pria paruh baya yang berwibawa, berpenampilan sangat rapi dengan kemeja putih lengan panjang yang dimasukkan ke dalam celana bahan gelap, wajahnya memancarkan ketenangan yang mendalam sekaligus ketegasan yang tak perlu diucapkan lewat kata. Beliau adalah Prof. Dr. Haryanto Wibowo, salah satu pengajar senior yang namanya sangat dihormati di kalangan akademisi hukum sekaligus praktisi yang pernah lama mengabdi di lembaga peradilan. Setelah meletakkan berkas dan menyalakan proyektor, beliau menatap satu per satu wajah mahasiswa yang duduk di hadapannya dengan senyum hangat namun menyiratkan tantangan besar.

“Selamat pagi, calon penjaga keadilan tanah air,” sapanya dengan suara berat, tenang, namun terdengar jernih hingga ke sudut paling belakang ruangan. “Hari ini adalah langkah pertamamu memahami hakikat apa itu hukum. Banyak orang di luar sana mengira hukum hanyalah tumpukan pasal, ayat, dan tulisan hitam putih di atas kertas yang kaku. Banyak pula yang menganggap hukum hanyalah alat untuk melindungi kekuasaan atau menyelesaikan sengketa materi belaka. Namun di ruangan ini, dan selama kalian menuntut ilmu di fakultas ini, kalian akan diajak memahami makna yang sesungguhnya: hukum adalah tulang punggung kehidupan bermasyarakat, adalah benteng pertahanan bagi mereka yang lemah dan tertindas, serta adalah pedang yang tajam bagi mereka yang berbuat zalim dan melanggar hak sesama. Hukum tidak boleh memihak pada siapa pun kecuali pada kebenaran, hukum tidak boleh dibeli dengan harga berapa pun, dan hukum tidak boleh dibiarkan tumpul hanya karena enggan berhadapan dengan kebenaran yang pahit.”

Bhumi menyimak setiap kata yang terlontar dari mulut Profesor Haryanto dengan saksama, matanya tak pernah lepas dari sosok dosen tersebut, jari-jarinya bergerak lincah mencatat poin-poin kunci di halaman awal bukunya. Hatinya bergetar hebat merasakan kebenaran yang begitu dalam tersampaikan secara sederhana namun menyentuh nurani. Ia mulai membayangkan dirinya beberapa tahun ke depan, berdiri di ruang sidang pengadilan, berhadapan dengan fakta yang kelabu, kepentingan yang saling bertabrakan, dan pilihan yang sulit—di mana ia harus memilih berdiri teguh di sisi kebenaran meski sepi, atau melunak demi kenyamanan semu. Ia membayangkan bagaimana ia harus menjaga keseimbangan antara ketegasan aturan dan kelembutan rasa kemanusiaan, bagaimana ia melindungi hak orang yang tidak berdaya melawan kekuatan yang sewenang-wenang, dan bagaimana ia tidak tergoda oleh kemewahan atau ancaman saat menjalankan amanah penegakan hukum. Mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum pertama itu perlahan membuka cakrawala berpikirnya jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya, menyadarkan bahwa jalan yang ia pilih bukan sekadar jalan menuju profesi bergengsi, melainkan jalan penuh tanggung jawab moral dan sosial yang sangat besar.

Sementara itu, di gedung yang berbeda namun masih dalam lingkup kampus yang sama persis, Naga Bayu Arka Denta Sikumbang telah tiba di ruang kuliah utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Suasana di sini terasa lebih tenang, khidmat, dan dipenuhi penghormatan mendalam terhadap kehidupan itu sendiri. Ruangan kuliah dilengkapi alat peraga anatomi tubuh manusia yang tertata rapi di sudut ruangan, layar proyektor berukuran besar, serta deretan buku tebal di rak dinding yang menyimpan ribuan pengetahuan tentang rahasia kerja organ tubuh, penyakit, dan cara penyembuhan. Aroma khas ruangan berisi antiseptik dan kertas tua tercium samar, membangunkan kesadaran bahwa di sini ilmu dipelajari bukan untuk teori semata, melainkan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Bayu memilih duduk di barisan depan agar dapat melihat papan tulis dan demonstrasi dengan sangat jelas, jantungnya berdegup kencang memadukan rasa syukur yang meluap—karena akhirnya diterima di fakultas impian—serta rasa tanggung jawab yang berat membayangi dadanya. Ia menyadari bahwa memegang ilmu kedokteran berarti memegang amanah paling berharga dari Tuhan: nyawa manusia.

Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka dan masuklah dr. Sri Lestari, Sp.PD., Ph.D., dokter spesialis penyakit dalam sekaligus pendidik yang sangat dihormati karena ketelitiannya yang luar biasa, kerendahan hatinya, dan kepeduliannya yang besar terhadap aspek kemanusiaan dalam pelayanan medis. Beliau tersenyum ramah, menyapa seluruh ruangan dengan anggukan sopan, lalu mulai berbicara dengan nada suara lembut namun penuh wibawa.

“Selamat datang, anak-anakku, di dunia ilmu kehidupan,” ucap beliau perlahan. “Di sini kalian tidak hanya akan belajar tentang nama-nama tulang, cara kerja otot, jenis-jenis sel darah, fungsi organ pencernaan, atau mekanisme pertahanan tubuh. Kalian tidak hanya menghafal gejala penyakit dan cara meresepkan obat. Lebih dari itu, kalian akan belajar tentang nyawa yang rapuh, tentang harapan yang bisa tumbuh atau patah kapan saja, tentang ketakutan mendalam saat menghadapi kematian, dan tentang betapa berharganya satu tetes kasih sayang bagi mereka yang sedang menderita. Ingatlah pesan ini baik-baik, jangan pernah lupakan sampai kalian lulus dan berpraktik nanti: Keahlian medis, peralatan canggih, dan obat-obatan terbaik adalah alat bantu penyembuhan belaka. Namun hati nurani, empati, dan kerendahan hati adalah kunci utama yang membuka jalan kesembuhan. Kalian tidak sedang berhadapan dengan sekumpulan gejala atau objek penelitian belaka—kalian sedang berhadapan dengan manusia yang memiliki orang tua yang cemas, pasangan yang berharap, anak-anak yang menanti, serta mimpi-mimpi yang belum sempat terwujud. Satu langkah kehati-hatian kalian bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati bagi seseorang. Satu kelalaian kecil atau ketidakpedulian sekecil apa pun bisa merenggut harapan terakhir yang mereka miliki.”

Kata-kata dr. Sri Lestari meresap perlahan namun pasti hingga ke sanubari terdalam Bayu. Ia mengangguk pelan, menyimpan pesan itu rapat-rapat di dalam hatinya seolah diukir di batu yang keras. Ia mulai membayangkan masa depan: dirinya berdiri di samping tempat tidur pasien yang menggigil kedinginan karena demam, memegang tangan orang tua yang menangis karena anaknya sakit parah, atau berusaha menjelaskan kondisi penyakit dengan bahasa yang menenangkan tanpa menutupi kenyataan pahit. Ia menyadari bahwa menjadi dokter menuntut ketelitian setinggi langit, kesabaran sedalam samudra, serta kerendahan hati seluas jagat raya—karena bagaimanapun hebatnya ilmu yang dimiliki, manusia tetaplah hanyalah perantara kesembuhan dari Yang Maha Kuasa. Mata kuliah Pengantar Ilmu Kedokteran pertamanya hari itu menjadi fondasi karakter yang jauh lebih penting daripada sekadar fondasi pengetahuan akademis.

Sepanjang hari itu, Bhumi dan Bayu menjalani seluruh rangkaian perkuliahan dengan kesungguhan dan rasa ingin tahu yang besar. Mereka menyimak penjelasan, mencatat hal-hal penting, sesekali berani mengangkat tangan untuk bertanya hal yang belum dimengerti, dan berusaha berinteraksi dengan teman sekelas dengan sopan. Ketika waktu istirahat siang tiba, keduanya berjanji bertemu di kantin pusat kampus yang selalu ramai namun menyenangkan. Mereka duduk berhadapan di meja panjang dekat jendela besar, menyantap bekal sederhana sambil saling berbagi cerita tentang pengalaman pertama mereka masuk ke dunia perkuliahan.

“Dosenku menyampaikan bahwa hukum itu harus tajam terhadap pelanggaran namun tetap adil dan tidak boleh kejam,” cerita Bhumi sambil menyesap air putih. “Beliau menekankan bahwa kelemahan hukum bukan terletak pada pasalnya, melainkan pada pelaksananya yang membiarkan hukum tumpul karena takut atau tergiur imbalan.”

“Sedangkan dosenku mengingatkan hal yang menyentuh hati sekali,” timpal Bayu sambil tersenyum tulus. “Beliau bilang kita harus melihat pasien sebagai saudara yang sedang sakit, bukan sekadar nama di atas berkas rekam medis. Ilmu tanpa kasih sayang hanya akan melahirkan dokter yang cerdas tapi dingin, dan itu tidak cukup untuk menyembuhkan penderitaan.”

Bhumi menatap adiknya sekilas, lalu menambahkan dengan nada refleksi: “Ternyata meski jalan kita berbeda—aku belajar melindungi lewat aturan dan keadilan, kau belajar melindungi lewat pengobatan dan perawatan—tapi intinya persis sama. Kita ditempa untuk melayani orang lain, bukan untuk dilayani.”

“Benar sekali,” sahut Bayu mantap. “Sama seperti pesan Abah dan Mamak dulu: kemuliaan seseorang bukan dilihat dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan bagi sesama makhluk hidup.”

Mereka berjanji dengan sungguh-sungguh untuk saling menguatkan di hari-hari mendatang: saling mengingatkan jika salah satu mulai lelah, mulai lalai menjaga ibadah, atau mulai melenceng dari prinsip yang dipegang. Mereka sadar betul bahwa perjalanan empat hingga enam tahun ke depan di Universitas Indonesia tidak akan berjalan mulus selamanya. Akan ada malam-malam panjang yang harus dihabiskan di perpustakaan kampus demi menyelesaikan tugas makalah yang menumpuk, akan ada ujian dan praktikum yang menguji batas kemampuan berpikir serta ketahanan fisik, akan ada tantangan karakter yang memaksa mereka memilih antara jalan yang mudah namun salah atau jalan yang berat namun benar. Namun mereka tidak merasa takut berjalan sendirian, karena mereka saling mendukung, membawa doa restu keluarga Sikumbang dari Minangkabau, dan berpegang pada cita-cita luhur yang tidak akan tergoyahkan oleh kesulitan apa pun.

Sore harinya, saat matahari mulai merunduk ke arah barat dan menyinari gedung-gedung kampus dengan semburat warna jingga keemasan, Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang dan Naga Bayu Arka Denta Sikumbang berjalan beriringan meninggalkan area kampus menuju halte bus. Langkah mereka terasa lebih ringan namun berisi kepastian yang jauh lebih kuat dibandingkan pagi tadi. Masa perploncoan telah berlalu, masa pengenalan telah tuntas, dan masa perkuliahan sesungguhnya telah dimulai dengan langkah yang tepat. Di hadapan mereka terbentur jalan panjang menuju masa depan yang penuh harapan: kelak satu akan berdiri tegak sebagai penegak keadilan yang tak pandang bulu, menjaga hak dan kewajiban agar tegak kebenaran; dan satu lagi akan berdiri di samping tempat tidur pasien sebagai pelindung kehidupan, berjuang mengembalikan kesehatan dan senyum di wajah mereka yang sedang menderita. Dua jiwa, dua jalan profesi, namun satu hati yang senantiasa bertekad menjadi kebaikan bagi dunia.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!