Menikah adalah impian setiap wanita, tak terkecuali Tiyah Citanin, seorang wanita dewasa berbadan gemuk. Umurnya telah 28 tahun, ia tak memiliki tambatan hati, jadi belum ada yang melamar hingga sekarang.
Dilamar oleh seorang pria yang pertama kali ia lihat, pemuda tampan dengan mobil keren. Tak terlalu berpikir panjang, ia meneruskan kesalahpahaman keluarganya dengan menerima lamaran pria itu.
Pria yang ia nikahi terlalu misterius baginya, ataukah ... ia yang terlalu sering salah paham? Pernikahan mereka dibumbui dengan kesalahpahaman satu sama lain.
Hingga sebuah kenangan dimasa kecil muncul di kepala Tiyah. Janji untuk selamanya bersama.
Apakah pernikahannya akan berlangsung lama? Atau ia mencari pria di masa kecilnya?
Mari simak cerita ini! Karya orisinil Rozh! Hanya ada di aplikasi Noveltoon/Mangatoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rozh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aya, Aku Berjanji
“Baiklah, ampun Ayah. Jangan pukul aku lagi.” seru Gibran kesakitan.
Ia mengelus kepalanya yang sakit dipukul gadis kecil yang dipanggil Ayah itu.
“Baiklah, Aku dan Nur harus kesana. Kalian selesaikan ini ya!” perintah Ayah kepada mereka sambil menunjuk tumpukan sajadah, yang baru saja di angkat dari jemuran.
Gibran dan Dimas melipatnya. Saat mereka melipat, kelompok Jesman mendatangi mereka. “Kau cari muka di depan Ayah, ya? Apa kau mengadu bocah penakut?” seseorang menendang Dimas.
“Hei! Apa yang kalian lakukan! Kalian keterlaluan.” teriak Gibran.
“Jadi, kalian berani?” tanya Jesman. Ia langsung memukul Gibran si anak mami.
“Hoi!” teriak Ayah yang baru saja datang. Membuat Jesman dan kawan-kawannya lari.
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Ayah. Dimas hanya Diam, sedangkan Gibran memalingkan wajahnya.
Pandangannya ia alihkan, seperti seseorang yang menyembunyikan sesuatu dari Sang Mama, lalu ketahuan. Sekilas Ayah bisa menangkap sorot mata yang dibaluri lapisan bening dikedua matanya.
“Hei, bod*h! Apa kau hendak menangis?” hardik Ayah, lalu memukul kepala Gibran.
“Dan kau penakut, apa tidak bisa melawan sedikit pun?” Ia juga memukul kepala Dimas.
“Tenang saja, Ayah akan mengadukan perbuatan Jesman dan kawan-kawannya kepada Guru ngaji dan Kong Kimin. Kalian tenang saja!” ucap Ayah.
Malam pun tiba.
Setelah sholat isya, Ustadz berceramah. Mushola sangat ramai, diluar mushola begitu berisik dengan suara anak-anak yang ribut. Bermain dan tertawa bahagia. Sesekali terdengar suara ibu-ibu dan bapak-bapak menegur mereka agar memelankan suaranya.
Gibran membantu Nur dan Ayah mengangkat cemilan dan minuman untuk Ustadz dan hadirin yang berada di Mushola.
____
Esoknya, Gibran dan Dimas bertemu kembali dengan Ayah dan Nur. Mereka sedang mengangkut air di dalam ember. Gibran dan Dimas juga membantu mereka akirnya. Beberapa saat kemudian, Ayah menatap iba saat melihat Gibran.
Ia bersusah payah membawa air. Bocah laki-laki yang manja ini biasanya selama ini tidak pernah melakukan apapun kecuali belajar. Air pun tertumpah-tumpah saat ia bawa, bahkan saat sampai di Mushola hanya tersisa setengah ember dari seember penuh.
Ayah akirnya bergegas membantu Gibran sebelum semua air yang ia bawa tertumpah habis dan sia-sia saja usahanya jika disepanjang jalan membawa air tertumpah. Ia kemudian memukul kepala Gibran kembali.
“Kau gak usah kerja, duduk aja deh.” ucapnya.
“Yah, masih banyak ambil airnya? Kita main bola yuk?” ajak Salah seorang temannya yang baru datang.
“Emang kau ada bola?”tanya nya.
“Pinjam, bola Jesman aja.” jawabnya.
“Ah! Aku malas.” balasnya.
Ayah malas berurusan dengan Jesman. Ia sedari dulu tidak suka dengan anak laki-laki itu. Jesman sudah cukup besar, bahkan sudah kelas 6 Sekolah Dasar (SD) sekarang.
Ia masih saja menggangu anak-anak kecil bahkan yang belum bersekolah. Bersifat sombong, mentang-mentang bapaknya kepala desa. “Oh, kalian tidak punya bola ya?” tanya Gibran menyambung pembicaraan mereka.
“Iya, bagaimana kalau kita ke kebun teh saja! Aku kira kau belum pernah melihat kebun teh kan?” Ayah berkata sambil menaikan alisnya menunggu respon Gibran.
“Iya.” jawab Gibran.
“Baiklah, setelah ini kita pergi ke kebun teh aja!”
Mereka akirnya pergi ke kebun teh. Gibran membawa kamera Kodak miliknya. Mereka berfoto disana. Jesman dan kawan-kawan juga mengikuti mereka. Melihat Gibran memiliki kamera, mereka juga ikut berfoto.
Mereka main sampai sore disana, setelah puas bermain mereka mandi bersama di sungai. Melompat. Mereka semua jago. sedangkan Gibran hanya bermain ditepi. Ingin sekali rasanya ia berenang ketengah bersama dengan yang lain. Namun ia masih takut akan hanyut seperti kemarin.
2 Minggu berlibur di desa, membuat Gibran semakin akrab dengan Nur dan Ayah. Bahkan hubungannya menjadi baik seiring waktu bersama Jesman dan kawan-kawannya. Jesman tidak menjahilinya lagi setelah ia ditegur oleh ayahnya.
Ayah Jesman begitu menghormati Ibu Gibran. Bahkan mereka bertamu ke rumah Ayah Jesman beberapa saat lalu. Tak terasa waktu terus berlalu. Mereka mengabadikan moment-moment dengan berfoto.
Gadis Kecil yang dipanggil dengan sebutan Ayah itu selalu berfoto dengan menonjok kepala teman disebelahnya. Ya, kadang hanya bergaya dan tidak memukul. Ia selalu berfoto paling menonjol dari yang lain.
Hari ini, Gibran akan kembali ke kota. Ia menemui Ayah yang duduk sendirian di ayunan kayu yang dibuat Kong Kimin disamping Mushola.
“Yah, boleh kah aku memanggilmu, Aya?” tanya Gibran.
Ayah menatapnya. Diam cukup lama tanpa menjawab.
“Maaf, rasanya aku berat memanggilmu Ayah, bolehkan aku memanggilmu, Aya?” tanya Gibran kembali.
“Kenapa?” balas Ayah.
“Karena Ayah itu panggilan untuk Papa. Aku senang kamu melindungiku seperti seorang ayah. Tapi aku ingin melindungimu juga sebagai temanmu.”
“Aku seorang laki-laki, dan kamu perempuan. Mungkin yang bisa disebut Ayah itu aku, dan kamu itu Ibu.” jelas Gibran.
“Hahahahaha.” Ayah tertawa terbahak-bahak.
“Bod*h! Bagaimana bisa seorang ayah penangis dan lemah sepertimu!” ucap Ayah.
Gibran menundukkan kepalanya. Ia sadar diri, kalau ia lemah tidak seberani anak perempuan dihadapannya ini. “Sudah, jangan menangis. Lihat matamu sudah berlinang air mata tuh, sebentar lagi jatuh mengalir, hehehe.” Ia terkekeh.
“Aku setuju, kamu boleh panggil aku Aya. Dan ingat ya, kau berjanji akan melindungiku. Jika tidak, kau harus memanggil aku AYAH kembali!” jelasnya.
“Baiklah, aku janji.” Gibran mengeluarkan jari kelingking dan menyodorkan jari kelingking itu kehadapan Aya.
“Apa ini?” tanyanya kebingungan.
“Ini janji. Ayo berjanji.” Gibran berkata dan terus menyodorkan kelingkingnya.
“Enak aja! Yang berjanji itu kau. Bukan Aku!” berkata sambil memonyongkan bibirnya.
Walaupun ia berkata seperti itu, ia mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Gibran. “Sekarang kita adalah teman.”ucap Gibran berseru dengan gembira.
“Apakah hari ini kau akan kembali ke kota?” tanya Aya.
Gibran mengangguk. “Jam berapa?” Aya bertanya kembali.
“Nanti sore. Aku dan Mama akan dijemput sama sopir.” jawab Gibran.
“Apakah kau akan berkunjung kembali ke desa?” Aya bertanya lagi.
“Mungkin.”
“Mungkin? Berarti tidak pasti dong, ya?” Aya memegang tali ayunannya erat.
Kemudian mendorong ayunannya dengan kuat menggunakan kakinya. Beberapa kali ayunan itu sangat kencang dan perlahan melambat. Selama itu mereka berdua hanya saling diam.
Entah berapa menit mereka saling diam. “Aya, aku akan membawakan bola saat aku kembali ke desa.” Gibran berkata dengan senyuman hangat kepada Aya.
“Aku janji, setiap tahun aku akan pulang ke desa. Kita akan bertemu.” Aya menghentikan laju ayunannya.
“Benarkah? Kau berjanji?” tanyanya antusias.
“Iya, aku janji.” ucap Gibran.
“Baiklah, kalau begitu aku pegang janjimu.” Aya berkata dengan tersenyum, kemudian memukul kepala Gibran.
“Baiklah, sekarang ucapkan janjimu dengan lantang.” perintah Aya.
“AYA, AKU BERJANJI. AKU AKAN MENEMUIMU, DAN AKU AKAN MELINDUNGIMU! JIKA HARI INI AKU BELUM BISA MELINDUNGIMU, MAKA AKU AKAN MELINDUNGIMU DEWASA NANTI.” teriak Gibran dengan mengangkat tangannya sebagai saksi sumpah.
Aya terkekeh. Ia tidak yakin kalau Gibran sianak mami akan melindunginya. “Baiklah, aku sudah mendengarnya. Sekarang ayo kita kerumah Nek Romlah. Aku akan mengantarmu sampai naik keatas mobil.” ucap Aya.
Gibran dan Getri dijemput oleh Sang Sopir. Aya, Nur, Nek Romlah dan lainnya berdiri dan memberi salam perpisahan kepada mereka. Aya masih melambaikan tangannya, begitupula dengan Gibran juga melambaikan tangannya sampai mobil mereka menghilang dari pandangan.
BAGUS TU KHALIL DINIKAHIN, BIAR GK PLAYBOY LGI..
BARU TAU LO DICKY KLO SUAMI TIYAH LVLNYA DI ATAS LO.. DN TU GIBRAN SUDH MNCINTAI TIYAH SEDARI KECIL, KRN TIYAH ALAMI SUATU MASALH SAAT BNCANA BANJIR HINGGA LUPA GIBRAN, LUPA DIMAS, HINGGA TIYAH BNYK MNTAN COWOK TRMASUK SI DICKY YG PRMAINKNNYA..
MSKI TIYAH MNOLAK DICKY MNTAH2, TPI TIYAH TTP SALAH KLUAR BRTEMU DICKY TNPA IZIN.. DN SI DICKY KIRA SI KHALIL SUAMI NYA TIYAH, PNTAS SI DICKY BLANG KLO KHALIL BKN LKI2 BAIK2 KRN KHALIL PLAYBOY.. JDI DICKY BLG SUAMI TIYAH BKN LKI2 BAIK..
TPI LO YG DEKATI DN RAYU ISTRI ORG DN INGIN JDI PEBINOR APA LKI2 BAIK, DN LO DLU JUGA JDIKN TIYAH CWEK TARUHAN
APA KIRA2 JAWABN GIBRAN..
TPI SBAGAI ISTRI. DN SBAGAI WANITA BRSUAMI, TK PANTAS BRJALAN DGN LAKI2 YG BUKAN MAHRAMNYA, BHKAN TNPA DITEMANI, DN TNPA IZIN SUAMI.. APAPUN ALASAN NYA APA YG DILAKUKN TIYAH TTP SALAH... KRN MMBERIKAN CELAH PEBINOR DLM RMH TANGGA NYA
DN GIBRAN, KNP GK DICKY YG LO HAJAR, LO SAMPERIN TU KPRUASAHAANNYA..
INI KHALIL & DIMAS YG LO HAJAR..
DN LO JELASIN JUGA TU K TIYAH SIAPA TU RAYA..
TRUS KNP GIBRAN GK PEKA DGN TIYAH,, NTAR TIYAH BLAS SAMA DICKY, MKIN RUNYAM..