NovelToon NovelToon
Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:99.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mphoon

Ig : indayle_mphoon
Fb : Mphoon
Tiktok : mphoon99

Hiduplah pasutri disebuah desa terpencil, kehidupan yang romantis dan harmonis semakin terkikis akibat ujian hidup yang terus menerpa mereka. Salah satunya adalah ujian ekonomi yang kian mencekik kehidupan keduanya.

“Mas, kapan ya kita bisa makan enak kaya yang lain? Apakah selamanya hidup kita akan seperti ini? Kalau begitu mending kita pisah aja, Mas. Aku sudah tidak sanggup menjalani rumah tangga seperti ini.” keluh Bulan, dengan rasa lelahnya.

“Astagfirullah, Dek. Istigfar, jangan berbicara seperti itu. Ingat, Allah paling benci dengan kata perpisahan. Apa kamu lupa kesuksesan seseorang itu harus disertai ikhtiar, doa dan juga tawakal. Jika salah satu tidak kita tanamkan, niscaya kesuksesan akan jauh dari hidup kita,” balas Bintang, penuh nasihat.

Bisakah mereka melewati ujian bahtera rumah tangga dengan akhir yang bahagia? Atau perpisahan menjadi jalan terbaik untuk keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mphoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Lupa Bersyukur

Meskipun Raka terbilang mirip dengan Ayahnya, tetapi iaktan batin Raka terhadap Bulan sangatlah kuat. Dia seperi biasa merasakan apa yang Bulan rasakan, jadi mau sebohong apapun Bulan menjelaskan pada anaknya. Raka tetap tidak percaya jika Bundanya tidak bersedih saat mendapatkan ejekan dari tetangganya.

Perlahan, setelah selesai membuatkan teh manis hangat. Dia segera membawanya ke dalam kamar sambil membuka pintu kamar secara perlahan, membuat Bulan terkejut dan secepat mungkin menghapus air matanya.

"Assalammuaikum, Dek. Mas ganggu ya?" ucap Samudra, perlahan berjalan mendekati Bulan sambil memegang teh hangat di tangannya.

"Wa-waalaikumsalam, Mas. E-enggak, kenapa Mas masih di sini, bukannya tadi mau ke Masjid?" tanya Bulan, berpura-pura kelilipan.

"Enggak jadi, aku mau di sini aja nemenin kamu. Ini minum dulu, biar lebih tenang lagi."

Samudra duduk di sambil Bulan sambil tersenyum, lalu memberikan segelas teh hangat kepada istrinya. Bulan hanya bisa menerima dan meminumnya, meski kepala serta hatinya masih semeraut.

"Makasih, Mas." ucap Bulan, kemudian meminumnya secara perlahan.

Saat Bulan sudah selesai meminumnya, Samudra mengambil gelas dari tangan istrinya dan menaruhnya di meja kecil.

Setelah itu, Samudra sedikit menghadapkan tubuhnya ke arah Bulan, dimana mata mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa detik.

"Dek, sebelumnya Mas mau minta maaf jika sikap Mas tadi sudah keterlaluan sama kamu. Maaf juga Mas udah kepancing emosi, jujur Mas cuman enggak suka aja kamu selalu membandingkan hidup kita dengan orang lain."

"Ingat, Dek. Hidup itu tidak ada yang tahu, bagaikan sebuah roda dimana kita kadang berada diatas kadang juga di bawah. Jadi apapun hidup yang kita jalani sekarang, kita harus tetap bersyukur atas rezeki serta nikmat yang Allah berikan sama keluarga kita. Setidaknya kita tidak kelaparan dan juga masih bisa membesarkan Raka semampu kita."

"Tidak masalah kita hidup dalam kesulitan seperti ini, yang penting kita tidak lupa dengan kebesaran Allah dan juga kita masih bisa hidup sama-sama. Kamu tahu 'kan, banyak tetangga kita yang memiliki harta dan juga anak, tetapi mereka tidak memiliki keluarga yang lengkap?"

"Nah, itu artinya kita harus banyak-banyak bersyukur, karena keluarga kita masih lengkap. Yang kita pikirkan saat ini, hanya bagaimana kita bisa membesarkan Raka untuk jadi anak yang baik dan juga berbudi luhur."

Samudra menggenggam tangan istrinya, menatap manik matanya begitu mendalam. Tak terasa Bulan kembali menangis, dia mengutarakan isi hatinya yang begitu sakit ketika menerima celaan dari tetangganya.

Tanpa berlama-lama, Samudra membawa Bulan ke dalam pelukannya. Disitulah pecah sudah tangisan Bulan, dia mengeluarkan semua unek-uneknya yang mengatakan jika dia lelah hidup seperti ini sedari kecil.

Sampai Samudra harus kembali menjelaskan bahwa Bulan tidak boleh selalu memikirkan perkataan orag lain, dia harus percaya diri seperti Raka. Bahwa suatu saat nanti hidup mereka akan berputar kembali dan berada di atas.

Beberapa menit lamanya Samudra mencoba menenangkan Bulan, sampai akhirnya tangis Bulan sudah mulai mereda dan perlahan melepaskan pelukannya.

Dimana tangannya meraup wajah istrinya sambil mencium kening dan tersenyum menatapnya. Meski hati Samudra juga sakit mendengar kisah dari Raka, tetapi dia tetap harus kuat untuk menompang beban di pundak keluarganya.

"Dek, dengerin Mas ya. Apapun yang terjadi sama kehidupan kita jangan pernah lupa untuk selalu bersyukur, Mas udah bilang bukan. Suatu saat nanti Mas janji entah kapan Mas akan kembalikan semua hidup kita yang kemarin berkali-kali lipat. Asalkan kamu mau berjuang sama Mas, bantu Mas dengan doa supaya semua pintu rezeki terbuka untuk Mas menjemputnya."

"Ingat, omongan tetangga jangan dijadikan bahan kesedihan untukmu meratapi kehidupan ini. Akan tetapi, jadikan pacuan semangat yang berkobar, bahwa kamu kelak bisa jauh lebih baik dari mereka. Kamu lihat Raka, dia memiliki tekat dan juga harapan yang besar. Jadi kamu harus bantu dia untuk tetap semangat dan yakin, jika apapun yang mustahil bagi kita akan menjadi hal yang mudah bagi Allah untuk memberikannya pada kita."

"Hilangkan semua pikiran negatif itu, Mas tidak mau istri Mas memikirkan hal yang tidak-tidak. Mas sayang banget sama kalian, apapun Mas akan perjuangkan untuk kalian. Walaupun nyawa Mas menjadi taruhannya, tetapi Mas akan terus bekerja keras supaya bisa membalikan keadaan kita. Percaya, Sayang. Di dunia ini tidak ada yang mustahil selagi kita ikhtiar, tawakal dan berdoa. Ingat 3 kata itu dan tanamkan baik-baik di dalam diri kamu!"

Bulan yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, dia hanya bisa kembali memeluk suaminya. Entah dia beruntung atau tidak memiliki suami seperti Samudra, akan tetapi dia sangat nyaman berada di pundaknya.

Ya, namanya juga hidup apapun bisa terjadi. Yang terpenting tidak boleh berprasangka buruk pada Allah. Dan jangan pernah mendengarkan perkataan yang tidak baik dari siappun. Cukup jalani kehidupan yang Allah berikan, dengan bersyukur maka suatu saat nanti Allah akan melipat gandakan rezeki yang sempat tertunda saat ini.

Suasana yang awalnya menyedihkan, kini telah kembali membaik. Bulan pun sudah mulai tersenyum karena Samudra sangat pandai untuk mengambil hati istrinya.

Sebenarnya di balik kerasnya kepala Bulan, dia memiliki hati dan cinta yang sangat besar pada anak serta suaminya.

Cuman entahlah, apakah cinta itu akan membawanya bertahan dalam keadaan seperti ini ataukah perekonomian yang menjadi dominan di dalam pernikahan mereka.

Bulan kembali meminum tehnya, lalu dia meminta izin pada Samudra untuk pergi keluar sebentar menaruh gelas kosong sekalian ke kamar mandi mencuci mukanya.

Setelah selesai, Samudra sedang merebahkan setengah badannya sambil memainkan ponselnya. Cuman ada yang membuat Samudra terkejut adalah sikap manja istrinya yang tiba-tiba saja memeluk tubuhnya.

Padahal baru beberapa menit lalu, Bulan menangis akibat rasa kesalnya terhadap suaminya. Akan tetapi, sekarang malah Bulan seperti terlihat sedang menginginkan sesuatu.

"Mas, aku pengen, boleh?" ucap Bulan lembut sambil matanya berkaca-kaca.

"Memangnya moodmu sudah membaik, hem? Bukannya tadi kamu abis nangis, kok tiba-tiba sekarang pengen? Biasanya Mas yang minta duluan hehe ...." jawab Samudra membalikan badannya memeluk istrinya.

"Isshh, e-enggak tahu aku juga. Po-pokonya aku cuman lagi pengen aja, kayanya aku butuh sentuhan biar semua pikiranku yang negatif tentangmu hilang. Mas mau 'kan, berhubungan sama aku? Mas enggak cap--"

Belum selesai Bulan berbicara, tiba-tiba suaminya langsung menyerbunya dengan menyatukan bibir mereka secara perlahan sambil menikmati pelukan satu sama lain.

Suara berisik yang mereka timbulkan dari penukaran air liur membuat keduanya semakin terhanyut. Meski Bulan yang memintanya lebih dulu, tetapi Samudra tetap yang memimpin permainan.

Tak terasa, ketika pemanasan sudah dilakukan oleh Samudra untuk memancing istrinya. Tiba-tiba ketika Samudra mau memasukan juniornya, terdengar suara pintu yang di ketok oleh seseorang.

"Isshh, siapa sih yang ganggu. Baru juga mau masuk, udah engga jadi!" ucap Bulan kesal.

Cup!

Satu cium*an mendarat di bibir istrinya, membuat Bulan menatapnya. "Udah jangan ngambek lagi, nanti kita teruskan, sekarang lebih baik bangun dulu terus gunakan pakaianmu dengan rapi. Lalu, lihatlah siapa yang mengetuk pintunya."

Samudra tersenyum menasihati istrinya yang wajah Bulan yang sudah memerah menahan gejolak yang belum bisa tersalurkan.

Sama halnya seperti Samudra, cuman dia berusaha keras menahan juniornya yang sudah mengeras sambil menutupinya menggunakan bantal.

Saat Bulan sudah memakai pakaiannya dan keadaan mereka telah kembali normal, perlahan Bulan bangkit kemudian berjalan membukakan pintunya. Betapa terkejutnya Bulan saat melihat seseorang menangis di hadapannya.

...***Bersambung***...

1
Senja
bulan tdk bersyukur dpt suami kyk samudra yg super duper sabar
IN_DAYLE: Namanya juga manusia, Kak. Kadang suka lupa 😭
total 1 replies
Erina Munir
thooor..tolong jngn bikin meninggal yaa...othoor baiiik deeh...aku jdi ikut sedih nihh thoor
Erina Munir
othor lgi ngasih sakitnya yg sulit2 gituh...
Erina Munir
kocak juga tuh pada
Erina Munir
bikin sembuh ya thoor...samudranya
Erina Munir
thoor ...jnhn d bikin samudra meninggal ya. kesian thoor mereka
Erina Munir
ehh..ga taunya...samudra k tempatnya dzaky...atasannya bulan..ya kan thoor
Erina Munir
yaahh jepriii..jeprii...uddaah tinggalin ajjaa pere kaya gitu maah udh ketauan htinya buriik..
masa ga bisa ngebedain siih...yg burik sama yg nggaa
Erina Munir
hahaa...ketemu raka s bocah kritis
Erina Munir
ya Allah semoga samudra ga apa2..kesian klo kenapa2...
Erina Munir
klo menurut aku siih ini pasti kerjaannya si asisten dzaky...siapa lgii...yg taukan dia
Erina Munir
hayyo bulaan...terbuka doong sama suamimuu
Erina Munir
dasar nih yg julid2 musti d basmi niih
Erina Munir
selesai sudah
Erina Munir
hahaaa kena luh dzaky...makanya jngn kebablasan...hatii2...banyak kuping beterbangan
Erina Munir
booss eror meureuun
Erina Munir
waduuhh hrs tebel iman niih...mulutnya pda kaya bakso mercon level 10...hadeehh
Erina Munir
waduuhh....mulai deh bergosip riaa
Erina Munir
innalillahi ...mungkin ini yg terbaik...kasian juga ibu dara...klo sadar pun terus2an menahan sakit yg d derita...
Erina Munir
naahh ini yg samudra takutin..
bulan ga apa.
.eh bosnya kenapa kenapa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!