Runi harus menerima kekecewaan saat mengetahui pria yang selama ini dia sukai hanya memperalatnya saja. Ia bahkan mendengar secara langsung bagaimana Rich, sang pria idaman menghina penampilannya yang polos di depan banyak orang. Rasa sakit hati membuat Runi bertekad untuk menjadi wanita hebat yang tidak bisa diinjak-injak oleh siapapun.
"Aku masih ingat bagaimana cara dia mengatakan bahwa aku hanyalah seorang gadis culun dan bodoh, bahkan dia mentertawakan kepolosanku di depan teman-temannya. Padahal dia sendiri tidak lebih dari seorang pecundang yang hobinya hanya bermain wanita saja. Bagiku dia tidak ada bedanya dengan sebuah WC umum yang menjijikan dan penuh dengan bakteri serta virus. Apa mungkin aku bisa menerima pria seperti itu menjadi pendampingku? hahahahah kau pikir aku sudah gila apa!?" -Arunika-
"Dia benar, aku memang pria menjijikan. Tidak seharusnya aku membuat dia bersedih dan menangis kala itu. Hatinya pasti sangat terluka oleh perkataanku!" -Richard Anderson-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosi Lombe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merawat Menta
"Menta" Runi memeluk sahabat yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri saat mengetahui bahwa gadis itu tengah hamil.
"Hiks hiks hiks" tangis Menta pecah saat dipeluk oleh Runi.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja" ia tau bahwa saat ini Menta terguncang karena kehamilannya tidak diharapkan sama sekali.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanyanya dengan wajah sedih.
"Ikuti semua saran dokter, istirahatlah sampai kondisimu membaik, aku akan menjagamu di sini" pelukannya semakin erat.
"Aku takut Runi" tubuh lemah itu bergetar hebat. Setelah semua tragedi di dalam hidup Menta yang disangka telah usai, kini babak baru justru menghampirinya.
"Ada aku, kita akan melalui ini bersama-sama ya" menenangkan sambil mengelus punggungnya.
"Kenapa cobaan ini tak kunjung henti dalam hidupku!?" tangisnya pecah tanpa bisa dicegah.
"Sabar ya sayang, semua pasti akan indah pada waktunya" hanya kalimat penguatan saja yang bisa diucapkan oleh Runi.
"Hiks, hiks, hiks" suara tangis itu terasa begitu pilu terdengar.
..........
"Bagaimana keadaannya?" Noah yang khawatir dengan Menta bertanya kepada Runi.
"Dia masih syok" jawab Runi sambil menarik nafasnya dengan berat.
"Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Noah menuntut penjelasan dari Runi.
"Sebenaranya Menta sudah menikah, kak Raf bukan kakak angkatnya, melainkan suaminya. Selama ini memang hanya kerabat dekat saja yang tau bahwa Menta sudah menikah, karena pernikahan mereka memang dilakukan untuk menolong dia dari jebakan jahat sang paman" jelas Runi.
"Apa? menikah!?" Noah seperti disambar petir.
"Iya kak, mereka sudah menikah beberapa bulan lalu, tapi kemudian memutuskan berpisah" dengan berat hati Runi pun menceritakan semua kronologisnya kepada Noah.
"Gila!" ia tidak menyangka bahwa hidup gadis yang ia cintai begitu tragis.
"Bayi yang dikandung Menta adalah anak kak Raf, makanya sekarang dia sangat butuh dukungan untuk bisa bangkit!" tegas Runi lagi.
"Apapun akan aku lakukan demi Menta, asalkan dia bahagia, aku pasti akan mendukungnya!" Noah bertekad akan melindungi gadis itu dengan seluruh jiwa dan raganya.
"Terima kasih kak" Runi tersenyum sambil membatin andaikan saja sikap Raf seperti Noah, pasti Menta tidak akan semenderita ini.
..........
"Ini makanlah, asisten rumah tangga sudah membuatkan ini untukmu" Runi menaruh semangkuk bubur dihadapan Menta.
"Huekkkk" calon ibu itu mual saat mencium aroma buburnya.
"Kau kenapa?" sambil memijat punggung.
"Bau buburnya bikin mual" Menta menutup hidungnya.
"Baiklah aku keluarkan dulu ya" ia pun kemudian membawa mangkuk bubur itu keluar dari kamar Menta.
"Maaf ya jadi merepotkan" Menta merasa tidak enak karena Runi selalu merawatnya dengan telaten selama ia drop.
"Kau bicara apa sih, kita ini sudah lebih dari sekedar sahabat, kau adalah kakakku, jadi apapun yang terjadi aku akan selalu membantumu!" Runi menenangkan Menta yang masih syok sejak ia dinyatakan hamil.
"Apa papa dan mama sudah tau tentang ini?" Menta menatap Runi.
"Iya, aku sudah mengabari mereka, mungkin besok lusa mereka akan tiba di sini untuk melihat keadaanmu" angguk Runi.
"Aku benar-benar ingin memeluk mama" air mata terus berlinang diwajah cantik Menta.
"Sabar ya, sebentar lagi mereka juga tiba" hanya penguatan demi penguatan saja yang bisa Runi berikan kepada Menta.
"Oya, kalau aku buatkan susu saja bagaimana? tadi asisten rumah tangga aku minta beli susu khusus untuk ibu hamil, jadi mungkin bisa sedikit membantu agar kau tidak terlalu kosong" karena bingung harus bagimana lagi, maka satu-satunya cara adalah dengan mengalihkan pikiran Menta kepada hal-hal yang lainnya.
"Baiklah, biar aku coba, mungkin bisa masuk" angguk Menta yang jarang makan karena sindrom morning sickness nya.
"Oke, sebentar ya aku buatkan" senyum sang gadis polos yang sudah bertransformasi itu.
Hari-hari mereka pun dilalui dengan banyaknya drama, hampir selama sembilan bulan Menta terus di rawat secara intensif dan tidak bisa banyak aktivitas. Runi yang sudah berkomitmen untuk mendampingi pun melealisasikannya dengan lebih sering menghabiskan banyak waktunya di rumah setelah kegiatan kuliah dan latihan dance selesai. Meskipun ada Tata sang mama yang menemani Menta hampir sepanjang waktu, namun tetap saja Runi ingin membantu wanita hamil itu untuk meringankan beban pikirannya.