Yang baik hati, bisa bantu Author dengan follow akun ini.
Follow IG : @KeiL.Story
Sinopsis :
Kelanjutan dari kisah Luciel Dawnbringer. Untuk mengetahui kisah selengkapnya, silahkan baca karya sebelumnya dengan judul yang sama.
Terima kasih banyak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei L Wanderer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shadow Trickster
Dua minggu kemudian.
Di sebuah kota bernama Kota Greenstone, Ciel dan yang lainnya singgah untuk membeli persediaan. karena di dalam kantong dimensi masih terpengaruh waktu dan hal-hal di dalamnya bisa saja membusuk, biasanya mereka membawa persediaan makanan secukupnya dan singgah dari kota ke kota untuk membeli persediaan makanan.
“Jika setelah mengisi perbekalan kita berangkat, kita akan sampai di lokasi besok, kan?” tanya Reiner.
“Kamu benar, Kak Reiner.” Xildas mengangguk ringan.
Benar. Bahkan dengan kuda yang baik dan cepat, mereka masih memerlukan waktu 15 hari untuk perjalanan dari Ibukota ke perbatasan. Hal itu membuat Ciel yang diam saja merindukan Dark Unicorn serta Deschia. Dengan tunggangan yang melesat seperti embusan angin, tidak perlu membuang-buang banyak waktu seperti sekarang!
“Ngomong-ngomong … jangan menjadi beban dalam misi kali ini, Kak Clovis,” ucap Reiner dengan senyum main-main.
Ya, berbeda dengan Ciel dan Reiner yang hanya melakukan ‘hal itu’ setiap beberapa hari sekali, atau bahkan Xildas yang bahkan belum menyentuh tunangannya di usia 20 tahun … Clovis melakukan ‘hal itu’ cukup sering. Membuatnya tampak agak lelah dan kuyu seperti sekarang.
Ketika mendengar masalah Xildas, Ciel awalnya sangat tidak percaya. Dia tidak menyangka ada bangsawan lain (laki-laki) yang menjaga tubuhnya sampai di usia 20 tahun.
Ciel sendiri menahan diri agar fisiknya terbentuk sempurna tanpa kerusakan akibat melakukan hal semacam itu secara berlebihan. Sedangkan Xildas, Ciel sendiri bingung kenapa sepupunya itu begitu menahan diri. Dan ternyata jawabannya adalah … malu.
Ya, Xildas enggan melakukannya hanya karena MALU. Sesuatu yang sama sekali Ciel tidak bisa bayangkan sebelumnya.
“Seingatku, Pangeran Clovis yang paling bersemangat untuk menahan diri pada saat kita berbicara di api unggun dua minggu yang lalu.” Ciel menambahkan.
“...”
Mendengar kedua adik dan sepupunya, sudut bibir Clovis berkedut. Dia memang memiliki kelemahan dalam menghadapi perempuan.
Tentu saja, itu juga karena para pelayan menggoda Clovis. Bagi para gadis pelayan yang dipilih itu, perjalanan ini adalah kesempatan untuk mengubah hidup mereka. Bukan hanya pelayan Clovis, tetapi juga pelayan Reiner. Hanya saja, Reiner masih bisa menahan diri.
Apa yang dimaksud dengan kesempatan adalah … waktu untuk memuaskan seorang pangeran dan mencoba hamil lalu mengandung anak seorang pangeran. Meski tidak akan bisa menjadi selir, para gadis itu tahu bahwa mereka akan diberi banyak uang bahkan tempat tinggal untuk membesarkan putra dari pangeran itu. Hal yang lebih baik daripada sekadar menjadi seorang pelayan.
Oleh karena itu, ketika mendapatkan kesempatan semacam ini, para pelayan itu ‘berjuang sekuat tenaga’. Karena Pangeran Clovis mudah digoda, kedua pelayan cantik di sisinya itu benar-benar memeras habis pemuda itu setiap malamnya.
Untung saja tenda yang dimiliki oleh para Pangeran dan Ciel diberi susunan sihir kedap suara. Jika tidak, mungkin para ksatria tidak bisa tidur nyenyak ketika mendengar melodi indah dari tenda Pangeran Clovis.
“Tidak bisakah kalian hentikan itu? Bukannya aku tidak mau, aku hanya tidak bisa menahan diri.” Clovis mengeluh. “Aku bukan Xildas yang bisa menahan diri selama 20 tahun, bahkan tahan ketika tidur bersama tunangannya sendiri … okay?”
Mendengar ucapan Clovis, Xildas tercengang. Dia merasa sangat tidak nyaman. Memang, dalam perjalanan ini pemuda itu tidur satu tenda dengan Elvira. Ajaibnya, tidak ada yang terjadi sama sekali.
Ya … Clovis, Reiner, dan Ciel menganggapnya sangat ajaib.
Bahkan ketika Ciel sebelumnya masih membatasi diri, pemuda itu masih saja menyentuh atau mencari cara lain untuk melampiaskan. Sedangkan Xildas yang bisa tidur dengan begitu ‘jujur’, dia tidak bisa membayangkan betapa ajaibnya sepupunya itu.
“Kalian benar-benar menjengkelkan.” gumam Xildas.
Setelah berjalan-jalan sebentar sambil mengisi persediaan, mereka pun akhirnya melanjutkan perjalanan.
...***...
Satu hari berlalu dengan cepat.
Mereka akhirnya sampai di sebuah pemukiman sementara yang dibuat oleh pengurus daerah setempat. Ada banyak ksatria yang menjaga di sana. Selain itu, ada juga banyak pekerja yang mulai berdatangan untuk menjadi pekerja tambang.
Dikarenakan pada saat pembukaan tambang biasanya tidak perlu menggali terlalu dalam dan keuntungannya lumayan, banyak yang ingin mencobanya.
Melihat Ciel, tiga Pangeran, dan rombongan datang, para ksatria yang bertugas menyambut mereka dengan antusias.
Melihat sosok Ciel dan dua wanitanya turun dari kereta kuda, banyak yang menatap mereka dengan kagum. Khususnya menatap ke arah Ciel.
Rumor kemenangan Kekaisaran Black Sun dari turnamen untuk perebutan wilayah Twilight Forest telah menyebar. Tentu saja, pemenang dan sekaligus pemegang rekor poin terbanyak menjadi terkenal. Belum lagi, ketika mendengar berita bahwa pemenang itu benar-benar mencuri mangsa dari Putri Kejam yang terkenal di bagian Tengah Benua.
Jika di Kekaisaran Black Sun dan kerajaan sekitarnya Ciel mendapat julukan Marquis of Blackfield. Di bagian Tengah Benua pun sekarang dia juga mendapatkan julukan.
Shadow Trickster.
Julukan itu diberikan karena penampilan Ciel dan kelihaiannya dalam mencuri ‘last hit’ dari Putri Kejam yang terkenal. Pemuda tampan, tenang, dan tampak malas … tetapi sebenarnya kuat dan licik. Seolah-olah, dia bisa menipu bayangannya sendiri.
Oleh karena itu, Ciel diberi julukan Shadow Trickster, si penipu yang jahat dan berbahaya.
Tentu saja, Ciel sendiri tidak tahu dan tidak mau tahu. Namun jika dirinya tahu yang mulai menyebarkan julukan Shadow Trickster adalah orang-orang dari Istana Kekaisaran, pemuda itu pasti tercengang dan marah.
“Lapor, Tuanku! Nama saya adalah Donald, pengurus sekaligus penanggung jawab camp sementara ini.”
Sebagai yang tertua, Clovis bertindak sebagai pemimpin.
“Kerja bagus, Donald. Aku dan yang lainnya akan mendirikan tenda untuk beristirahat. Siapkan semua dokumen yang tersedia dan laporkan nanti sore.”
“Sesuai perintah anda, Tuanku!” Donald memberi hormat.
Setelah itu, Ciel dan yang lainnya mendirikan tenda mereka sendiri di area dalam. Pada saat itu, Ciel merasa banyak mata yang mengawasinya dengan tatapan iri dan kagum. Bahkan Donald sering kali menatapnya, tampak terpesona.
Menghela napas panjang, Ciel menunjuk Donald untuk datang.
“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuanku?”
“Kelihatannya kalian memandangku dengan begitu antusias. Jika kalian memiliki pertanyaan, katakan saja.”
“...”
Banyak ksatria yang saling memandang dengan ekspresi malu. Menggaruk kepalanya dengan ekspresi canggung, Donald tidak berani bicara.
“Katakan saja.” Ciel menegaskan.
“Sebenarnya kami tidak ingin bertanya apa-apa, Tuanku. Kami hanya kagum dengan pencapaian anda.”
“Kagum?”
“Ya. Cara anda ‘mempermainkan’ Putri Kejam, merebut poin dan berhasil kembali dengan selamat itu benar-benar menakjubkan!” ucap Donald dengan nada fanatik.
Siapa yang tidak kenal Silvia si Putri Kejam. Sosok yang bisa mempermainkan dan menipu gadis itu jelas bukan sosok sembarangan. Berita bahwa Putri Kejam itu banyak membunuh sudah tidak asing lagi di telinga para iblis di bagian Tengah Benua.
Sedangkan orang yang menipu dan mencuri darinya, tetapi masih hidup dan menendang (baik-baik saja) … mereka benar-benar baru kali ini mendengarnya!
Dianggap sebagai legenda hidup dengan cara seperti itu, Ciel tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa. Yang jelas, dia hanya bisa mengeluh dalam hatinya.
Okay … sepertinya rumor ini berkembang terlalu berlebihan sampai-sampai aku merasa gadis pendek itu akan datang untuk bertarung denganku kapan saja!
>> Bersambung.