NovelToon NovelToon
Obsesi Sahabat Suami

Obsesi Sahabat Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.

Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.

Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.

Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.

Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pengaruh Alkohol

Di luar, malam sudah semakin larut. Angin berhembus lembut membawa hawa dingin yang semakin menusuk.

Kontras dengan club yang dipenuhi orang-orang yang merasa panas karena gairah dan terlalu banyak bergerak.

Di salah satu sofa area VIP, Regan duduk selonjoran di sofa panjang. Lampu warna-warni terus jatuh ke wajahnya.

Sementara Ahsan dan Jenar duduk di karpet, sambil menikmati beberapa makanan dan alkohol yang kadarnya cukup tinggi.

Regan menatap keduanya. "Bisa-bisanya mereka meres aku malam ini." Gumamnya sambil tersenyum miring.

Setelah menghabiskan makanannya, Jenar menarik Ahsan untuk ikut bergabung dengan orang-orang yang berjoget.

Dentuman musik terus bergetar. Tapi Regan masih memilih untuk rebahan di sana. Menurutnya, itu jauh lebih menyenangkan daripada berjoget.

"Aku harus pulang sekarang. Sebelum aku benar-benar mabuk." Katanya. Tapi tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuhnya.

Beberapa menit berlalu. Jenar kembali sambil membawa whiski yang hanya tersisa setengah botol lagi.

"Pak Regan, aku punya ini." Katanya sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.

Ahsan segera menyusul, ia kembali duduk di atas karpet.

Regan berusaha membuka matanya yang sudah hampir tertutup. Campuran antara mengantuk dan sudah pusing karena mabuk.

"Saya tidak mau, Jenar." Tolaknya.

Tapi Jenar menuntun gelas kecil ke mulut Regan. "Minum aja, Pak. Gak papa, biar happy."

Begitu minuman itu masuk ke mulut Regan, ia menelannya. Setelah beberapa gelas, dan beberapa botol whiski sudah kosong di atas meja, mereka semua sudah benar-benar mabuk.

Ahsan tertidur di atas karpet. Regan di sofa panjang. Sementara Jenar meringkuk di sofa kecil.

"Renzio mau mainan apa lagi, ya?" Kata Regan tiba-tiba, suaranya keluar serak.

Jenar menoleh. Matanya setengah terpejam. "Buaya biasanya kabur."

"Bukannya Indonesia sudah merdeka?" Sahut Ahsan.

Regan mendesah kecil. "Jangan. Zio biasanya suka main tembak-tembakan."

"Yaudah, kalau gitu beli ramyeon aja." Kata Ahsan. Ada tawa kecil di ujung kalimatnya.

"Kamu mau ngamen?" Tunjuk Regan asal.

Jenar tiba-tiba tertawa keras. "Ularnya terbang. Dia cosplay jadi naga air."

Diantara dentuman musik, suara riuh orang-orang. Mereka bertiga justru berbicara semakin ngawur. Tapi sama-sama saling menjawab.

Waktu terus berjalan. Satu per satu orang-orang mulai pergi. Jam sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari saat club itu sudah benar-benar sepi. Lampu kelap-kelip dan suara musik sudah dimatikan.

Sekarang hanya menyisakan mereka yang benar-benar sudah tidak sadar. Salah satu petugas mendatangi meja Regan.

Ia menepuk lengan Regan. "Pak, bangun. Sudah mau tutup."

Namun, tidak ada jawaban apa-apa.

Petugas itu beralih ke Ahsan dan Jenar. Tapi hasilnya sama. Tidak ada respon sedikitpun.

Sampai akhirnya, ia memanggil Salah satu rekan kerjanya. Lalu, menyeret tubuh mereka satu per satu keluar dari club.

Saat dipastikan club sudah benar-benar kosong. Petugas kebersihan sudah selesai dengan pekerjaannya. Kini, lampu-lampu di matikan. Dan mereka segera pulang tanpa menghiraukan ketiga orang itu.

Hawa menjelang pagi, dinginnya semakin menusuk kulit. Saat jam menunjukkan pukul 04:15 mata Regan mengerjap.

Perlahan ia sadar, lalu bangun. "Astaga! Kenapa sampai tidur di sini?" Bisiknya.

Regan berdiri perlahan, tangannya memukul-mukul kepalanya yang masih terasa berat.

"Aku harus pulang sekarang." Katanya sambil berjalan sempoyongan.

Setelah beberapa langkah, ia kembali menoleh. Masih ada dua tubuh yang tertidur di sana. Regan diam sebentar, ia menatap mobilnya.

"Mereka masih nyaman tidur di sana. Tapi kasihan kalau aku biarkan!"

Regan berjongkok di samping tubuh Ahsan. "San, bangun. Kita pulang." Katanya sambil terus menggoyangkan tubuhnya.

Ahsan akhirnya mengerjap, ia duduk perlahan. "Kenapa sepi?"

"Club sudah tutup. Ayok pulang." Ajaknya.

Ahsan hanya menggeram.

"Bantu Jenar masuk ke mobil." Regan berjalan pelan mendekati mobilnya.

Dengan susah payah, akhirnya Ahsan berhasil membawa tubuh Jenar masuk ke dalam mobil. Dan ia kembali tertidur.

Regan mengemudi dengan kesadaran yang sudah kembali. Tapi matanya masih berat karena ngantuk.

Tidak butuh waktu lama, mobil Regan berhenti. Ia kembali membangunkan Ahsan.

"Cepet turun, ini sudah sampai."

"Ah, baiklah." Jawab Ahsan sambil turun.

"Bantu Jenar lagi." Regan membukakan pintu, sementara Ahsan menarik tubuh Jenar keluar.

Ahsan dan Jenar belum sepenuhnya sadar. Mereka masih terpengaruh alkohol. Jadi tidak bisa mengenali tempat di depannya.

"Hotelnya bagus," kata Jenar. Padahal itu perusahaan tempat kerjanya sendiri.

"Iya, duduk di sini." Regan membantu Jenar duduk di kursi taman.

Dan Ahsan, orang itu sudah duduk di atas rumput. Tubuhnya bersandar pada pot besar.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Regan menoleh. Menatap mereka sambil terkekeh.

Hanya beberapa jam saja. Matahari kini muncul dari langit bagian timur. Cahaya emasnya memantul di kaca-kaca gedung perusahaan.

Mobil-mobil sudah masuk satu per satu. Lobby mulai di penuhi orang-orang yang kembali siap bekerja.

Setelah beberapa waktu, security akhirnya sadar. Ada dua orang yang terdampar di halaman perusahaan.

"Pak Ahsan?" Gumamnya, ia mendekati Ahsan yang masih tertidur. Lalu jongkok di dekatnya.

"Pak, Pak, kenapa tidur di sini?" Tanyanya sambil menepuk pipinya pelan.

Ahsan menggeram pelan. Matanya mulai mengerjap. Saat sinar matahari menyilaukan pandangannya, ia memejamkan matanya sekali lagi.

"Pak Ahsan, rajin banget. Kayaknya Bapak datang ke perusahaan dari subuh." Kata security itu sambil berdiri.

Mendengar suara yang familiar, Ahsan sontak membuka lebar matanya. Ia semakin shock saat melihat halaman yang begitu ia kenal.

"Kenapa saya di sini? Regan mana?" Tanyanya sambil celingukan.

"Dari saya datang, Pak Ahsan sudah di sini. Sama temen ceweknya tuh..." Security itu menunjuk ke kursi tempat Jenar tertidur.

"Hahh?!" Mulut Ahsan terbuka lebar. Ia mencoba mengingat kejadian setelah ia mabuk.

"Kalau Regan?" Tanya Ahsan.

"Tidak ada Pak Regan," jawab security sambil menggeleng. "Sebentar lagi jam kerja di mulai. Lebih baik Pak Ahsan segera masuk. Saya permisi." Security itu kembali masuk ke posnya.

Sementara Ahsan, ia berdiri. Langkah pertanyaannya goyah saat ia menghampiri Jenar. Tapi Ahsan memaksakannya.

"Jenar, bangun." Ia menggoyangkan tubuh Jenar yang meringkuk di sana.

"Ini cewek tidurnya kayak kebo," omel Ahsan sambil terus menggoyangkan tubuh Jenar.

Jenar akhirnya terusik, kelopak matanya terbuka perlahan.

"Cepetan bangun. Sebentar lagi masuk jam kerja."

"Jam kerjaan apaan? Hari ini aku libur, masih ngantuk."

Ahsan mendecak kesal. "Libur apanya? Kita sudah di perusahaan sejak subuh."

Mata Jenar kini terbuka sempurna. Ia langsung duduk. "Bukannya kita di hotel?"

"Hotel apaan? Kamu mabuk, ya!"

"Tapi aku belum cuci muka."

"Nanti aja di kamar mandi kantor. Kita harus cepet-cepet masuk. Tanggung udah di sini."

Ahsan akhirnya melangkah lebih dulu.

"Ahsan, tapi aku belum mandi. Gimana kalau bau?" Tanya Jenar sambil mengikuti Ahsan.

"Biarin, biar jadi pusat perhatian." Jawab Ahsan sambil berteriak.

Jenar hanya mendengus. Ia berusaha berjalan cepat. Walaupun kepalanya masih terasa berat. Yang Ia pikirkan sekarang, harus segera tiba di toilet. ​

1
Its me
Please deh kamu jangan mikirin apa kata orang di pasar malam itu. bisa baper kamu jadinya
Addb_Rh
harusnya Vyra bilang ini bukan suami saya, mlh senyum.. apa gk di salah artikan nanti🥲🥲🥲🥲
Its me
mertuanya ngebiarin mantunya pergi sama bukan muhrim
Its me
Regan ini pergaulannya hanya dengan Alvero kah
Laila Sarifah
Please Al, jangan terlalu kasih ruang buat Regan sama Veyra dekat, walaupun Regan itu sudah seperti saudara mu sendiri bisa saja nanti dia nikung😌
Lenny Utami
anak CEO emang beda..
Lenny Utami
nah iya kan naksir dia..
Lenny Utami
ekspresi nya pasti lucu
Lenny Utami
uuu lucu..
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
regan semangat 💪💪
Yue xin🥀(⁠.⁠ ⁠❛⁠ ⁠ᴗ⁠ ⁠❛⁠.⁠)
regan gak papa loh 🤭aku mendukungmu
Agatha soul
ada aja masalahnya
Agatha soul
parah sih pikirannya
Agatha soul
maksa banget dah makan cuma bentar padahal
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
anak muda ini, workholict ternyata
mama Al
ingat gan itu bini orang.
arsyila putri
tolong jangan porak-porandakan rumah tangga harmonis ini
Ibu Rasyidd
bisa2nya tidur sambil nyetirr
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
horanggg kaya
Agatha soul
Reygan bener bener
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!