NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.

Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Tak Kembali

Pagi datang terlalu pelan.

Cahaya menyusup dari sela tirai kamar rumah sakit—tipis, lesu, datang ke tempat yang tidak disukai. Tidak cukup untuk menghangatkan ruangan, apalagi dalam dada Meisyah.

Ia sudah bangun sejak subuh duduk di tempat yang sama, punggung membentuk garis kaku di atas kasur terlalu empuk. Kotak masih terbuka di meja samping. Tiket film, foto-foto, kunci apartemen, dan sebuah pakaian berlipat rapi di dalamnya baru saja ia lihat—semua bersinar samar di atas kain putih, tidak pernah ditutup seperti dirinya

Meisyah tidak bergerak, matanya meredup, lebih dalam—ke dasar sumur yang gelap. Ia bertanya-tanya didalam hati, apakah ada air di bawah sana, atau hanya kekosongan.

"…Aku harusnya udah selesai sama ini…"

Kalimat itu keluar pelan, bagai debu yang jatuh dari rak buku mencoba meyakinkan dirinya sendiri tapi tidak berhasil. Perasaan itu menolak diberi tahu, menolak diberi nama, dan menolak pergi.

Tangannya akhirnya bergerak lambat, dingij lebih berat—seperti malam meresap ke dalam logam tidak bisa dilihat dan dirasakan.

Ia menggenggam cincin kuat menekan ke telapak tangan meninggalkan jejak merah samar.

Dan—perlahan—sesuatu muncul, bukan gambar, bukan suara yang jelas tanpa nama yang bisa diucapkan, tapi rasa ketenangan dan pasti seolah ada seseorang berdiri di depannya, dan ia… tidak ragu d tanpa pertanyaan, hanya kepastian begitu kuat, fondasi rumah tidak bisa digoyahkan.

Meyisha mengernyit, napasnya berubah, menjadi lebih cepat, lebih dangkal.

"…Kenapa rasanya aku pernah… milih…"

Kalimat itu terputus di tengah jalan di jembatan gantung. Ia membuka mata takut melanjutkan apa yang ia temukan di ujung kalimat.

"Enggak… ini enggak masuk akal…"

Tangannya gemetar tapi cincin itu tidak dilepas justru digenggam lebih erat menandakan bukti nyata bahwa perasaannya tidak salah, dan tidak bisa dijelaskan.

Ia berdiri perlahan dengan ragu-ragu, menuju jendela. Cahaya pagi menyentuh wajahnya—pucat, lelah, tapi ada sesuatu di mata tidak bisa dipadamkan oleh cahaya apapun.

 Orang-orang berjalan di trotoar. Kendaraan lalu lalang. Dunia bergerak mesin yang terus berputar tanpa pernah berhenti dan bertanya apakah ada yang tertinggal.

Tapi ia merasa tertinggal.

"…Kalau hidupku benar seperti yang mereka ucapkan, oleh Mama, Fero…" ucapnya pelan, hampir tenggelam dalam deru kendaraan "…Kenapa aku enggak merasa itu milikku?"

Tidak ada jawaban, hanya rasa kosong. Dan anehnya, rasa itu tidak sepenuhnya hilang, disembunyikan, ditutupi dan dikubur di bawah lapisan tebal dan rapat.

 

Pintu diketuk dua kali pelan, sopan.

Meisyah tersentak sadar bahwa ada dunia lain di luar kepalanya. "Masuk."

Perawat muda masuk membawa nampan sarapan di atas tangan stabil. Senyumnya profesional, tapi ada kehangatan di matanya membuatnya terasa seperti manusia, bukan mesin. "Pagi, Mbak," ucapnya mengulas senyum, "hari ini sudah boleh duduk lebih lama, berjalan jalan, nanti dokter juga mau cek kondisi."

 "Terima kasih, sus."

Perawat meletakkan nampan di meja samping—nasi putih, sup ayam, buah potong, segelas air putih, rapi, cantik, hidup yang sudah diatur untuknya, tanpa pernah bertanya apa yang ia inginkan.

" Mba jangan lupa makan ya."

Ia mengangguk tapi ada sesuatu yang mengganjal dihati nya bertanya, " Sus boleh bertanya?"

" Apa itu ?"

" Apakah Suster pernah kehilangan tapi tidak tahu itu apa."

Perawat itu hanya tersenyum tipis, " Kehilangan apa maksudnya Mba?"

" Ada seseorang mengaku sebagai orang yang pernah dekat."

"Maksud mba ?"

" Suami Sus, saya tidak ingat apakah dia suami saya atau bukan."

Perempuan itu menghela napas pendek, sedikit mengerti bahwa apa yang di rasakan pasien Amnesia diluar jangkauan pikirannya sendiri, "Menurut mba?"

" Saya tidak ada rasa, semuanya hilang, dan saya menanggap dia orang baru tidak dikenal."

Kening gadis ber cap nurse itu mengkerut, tapi ia tidak bisa menyalahkan, "Mba, saat ini tidak usah memikirkan hal yang di luar pikiran, mba fokus untuk sembuh."

" Tapi hati saya serasa kosong, Sus, hilang tanpa jejak."

"Mba .."Ia menatapnya lamat, " Belajar melupakan bukan berarti kehilangan. Mba saat ini mungkin lupa tapi untuk kedepan tidak ada yang tahu."

"Jejaknya sudah hilang, dan tidak mungkin kembali."

" Tidak ada yang kekal mba, saya cuma bisa mendoakan kesembuhan, Mbak terus berjuang dan bahagia."

"Saya tidak bahagia."

" Kenapa ? Bukan kah dia sudah pergi ?"

Mei terdiam, Andra atau siapapun dia mungkin pernah singgah bayangan ilusi sesaat dan suatu saat akan hilang, tapi hatinya berkata lain, kesunyian, kehampaan begitu menusuk, ia tidak mengerti keanehan ini.

" Ya dia sudah pergi," jawabnya rintih, " Saya ingin cepat berlalu."

Suster itu memegang tangannya lembut, "Bayangan siapapun dia mungkin pernah hadir dan melekat di hati menjadi cerita masa lalu, tapi biarlah dia hadir tanpa memaksa, biarlah dia menyapa tanpa harus mengusirnya."

" Tapi... menyakitkan."

" Rasa sakit itu karena cinta, cinta yang terkubur bukan karena melupakan, tapi karena..."

" Karena apa?"

" Sakit itu sendiri."

Mei terdiam, kepalanya tiba tiba sakit, " Terimakasih ya, Sus, saya akan mencoba

Sunyi

Ia duduk di kursi menatap makanan di depannya. Nasi putih mengilap, sup mengepul, buah yang dipotong dengan presisi sempurna. Ia mengambil sendok diam tidak langsung makan.

Entah kenapa—ia merasa ini bukan kebiasaannya.

Tangannya berhenti di tengah udara sendok menggantung dan nasi jatuh kembali ke piring.

"…Aneh…"

Sepertinya ia pernah makan dengan cara ini, tapi lebih sederhana, tidak rapi mungkin di tempat yang bising, dengan piring tidak matching, sendok yang tergores, lebih nyata dan memang miliknya.

Meisyah meletakkan sendoknya kembali. Napasnya berat. Dadanya terasa sesak.

"Kenapa hal kecil kayak gini aja…" bisiknya, suaranya pecah di tengah kalimat. "…terasa beda…"

Ia menutup mata berusaha menenangkan diri, mengembalikan napasnya ke ritme normal. Tapi yang datang bukan ketenangan melainkan perasaan kehilangan, tanpa tahu apa yang hilang ke mana harus mencari.

Matanya terbuka langsung ke arah meja.

Kotak itu.

Seolah memanggilnya berkata,' Aku di sini, punya jawaban. Dan aku punya sesuatu yang hilang dari dirimu.

"…Aku harus berhenti…"

Tapi tubuhnya tidak bergerak menjauh. Justru berjalan kembali ke sana, langkah demi langkah, ada tali tak terlihat yang menariknya.

Tangannya menyentuh kemeja putih di dalam kotak, pelan, ujung jari menyentuh kain, takut akan membuat nya menghilang.

Ia tidak mengangkatnya, tidak mendekatkan ke wajahnya hanya menyentuh.

Dan itu—cukup.

Dada Meisyah terasa hangat kilatan api unggun di malam yang dingin, muncul sekejap dan menghilang, tapi cukup membuatnya tahu bahwa api itu ada.

Nyata.

Ia langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik

"…Ini salah…"

Kalimat itu keluar cepat, terburu-buru, tapi terasa benar, pulang ke rumah dalam perjalanan panjang, puzzle yang selama ini hilang.

Dan itu—yang membuatnya takut.

Meisyah mundur satu langkah, matanya melebar, lebih

Hari semakin terang. Sinar matahari memantul dari kaca gedung-gedung tinggi, membuat kota bersinar dalam warna emas dan putih. Orang-orang menjalani hidup tanpa berhenti, tanpa ragu

Ia berdiri di tempatnya tidak bergerak.

Tapi ada di antara dua hal yang seharusnya ia jalani tidak ia ingat… tapi tidak bisa ia lepaskan.

1
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!