NovelToon NovelToon
Di Manja Suami Om-Om

Di Manja Suami Om-Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta setelah menikah / Cintamanis
Popularitas:43.3k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Pagi datang seperti terlalu cepat.

Sinar matahari menembus tirai tipis presidential suite saat Nara terbangun dengan jantung berdegup kencang.

“Jam berapa ini?” gumam Nara panik.

Arkan yang sudah lebih dulu bangun menoleh dari sofa dekat jendela. “Kita harus berangkat satu jam lagi.” jawab Arkan yang membuat Nara semakin panik.

Nara langsung terduduk. Tubuhnya masih lelah, tapi kesadarannya penuh. Ia tidak mau tertinggal pesawat. Ia tahu tiket penerbangan yang akan membawanya bukan penerbangan biasa, Arkan memesannya jauh hari dengan harga yang bahkan membuat Nara tak berani bertanya.

“Ya ampun… Ayah, ibu..” Nara bergumam pelan. Ia belum sempat menemui keluarganya pagi ini.

Semua terasa terburu-buru. Setelah bersiap seadanya, koper mereka sudah lebih dulu dibawa staf hotel. Mobil menuju bandara telah menunggu.

Nara sempat menatap ponselnya, berniat menghubungi ibunya. Tapi waktu terlalu sempit.

“Nanti aku telepon dari bandara,” kata Nara pelan pada dirinya sendiri.

Mobil melaju meninggalkan hotel, membawa mereka menuju bulan madu pertama sebagai suami istri ke Jepang.

Sementara itu, di restoran hotel, keluarga Nara sedang menikmati sarapan yang sudah diatur khusus oleh Indah.

Aneka roti, buah, bubur hangat, telur, hingga makanan yang lebih familiar di lidah mereka tersaji rapi.

Ibunya Nara beberapa kali menoleh ke arah lift.

“Mana Nara?” tanyanya pelan.

Indah yang duduk di seberang tersenyum lembut. “Nara dan Arkan sudah berangkat ke bandara, Bu. Penerbangan pagi.”

“Sudah berangkat?” Nada suara ibunya Nara sedikit terkejut, tapi bukan kecewa.

Indah mengangguk. “Tujuan mereka ke Jepang. Jadwalnya memang mepet. Di tambah mereka bangun kesiangan." jawab Indah.

Pamannya Nara yang sedang menyeruput teh langsung mengangkat kepala. “Jepang?” Ia menggeleng pelan, setengah tak percaya. “Wah… uangnya kayak nggak ada habisnya.” gumam si paman tapi hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Nada bicaranya bukan iri, hanya heran.

Sarapan berlangsung hangat. Keluarga Nara tampak jauh lebih santai dibandingkan kemarin saat acara resepsi. Tidak ada lagi rasa tegang menjaga sikap berlebihan.

Setelah selesai, Indah berdiri.

“Saya mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya,” ucap Indah tulus. “Karena Bapak, Ibu, dan semuanya sudah datang dan mendukung acara Arkan dan Nara. Kehadiran keluarga itu penting sekali.”

Ayah Nara tersenyum. “Justru kami yang terima kasih sudah diterima dengan baik.”

Indah memberi isyarat pada staf hotel. Beberapa kotak makanan dan bingkisan dibawa keluar.

“Kami siapkan sedikit bekal untuk perjalanan pulang,” kata Indah.

“Lho, ini banyak sekali…” ujar ibu Nara terkejut.

“Tidak seberapa,” balas Indah lembut.

Mobil penjemput sudah menunggu di depan lobi. Indah sendiri yang mengantar mereka hingga ke luar. Ia memastikan semua barang-barang masuk, memastikan semua duduk dengan nyaman.

Sebelum pintu mobil ditutup, ibu Nara menggenggam tangan Indah.

“Tolong jaga Nara.”

Indah membalas genggaman itu hangat. “Sekarang dia bukan cuma menantu. Dia sudah seperti anak saya sendiri.”

Mobil mulai bergerak perlahan. Indah tetap berdiri di sana, melambaikan tangan sampai kendaraan itu mengecil dan akhirnya menghilang di tikungan jalan.

Di dalam mobil, keluarga Nara saling berpandangan.

“Alhamdulillah,” gumam ayah Nara pelan.

Mereka pulang bukan dengan rasa kecil. Mereka pulang dengan hati penuh.

Sementara itu, di bandara, Nara akhirnya sempat mengirim pesan singkat pada ibunya.

"Bu, maaf nggak sempat pamit. Doain Nara ya." Nara kemudian menekan tombol kirim.

Tak lama, balasan masuk. "Hati-hati. Bahagia selalu."

Nara tersenyum, menggenggam ponselnya erat.

Nara dan Arkan menikmati perjalanan honeymoon pertama mereka di Jepang, berjalan di antara musim yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk dan intrik.

Sebetulnya Nara bingung ketika ditanya mau pergi kemana, dan spontan saja menjawab Jepang. Dan tidak menyangka Arkan langsung mengiyakan.

Sementara di kota yang sama tempat resepsi megah Nara digelar, seseorang masih menyimpan bara. Yaitu Karina.

Satu hari setelah pesta, Karina berdiri di depan rumah Indah.

Rumah besar milik Indah tampak tenang. Halaman tertata rapi, satpam mengenal wajah Karina karena Karina memang bukan orang asing di lingkungan rumah Indah. Karina sering datang dengan berbagai alasan, mengantar hampers, sekadar bersilaturahmi, atau menemani Indah minum teh sore.

Karina selalu merasa dirinya calon yang paling pantas. Secara finansial, ia mapan. Pendidikan? Tidak kalah. Karier? Cemerlang. Penampilan? Tak pernah luput dari pujian.

Namun satu hal yang tak pernah Karina dapatkan adalah restu yang hangat. Indah tidak pernah menolak secara terang-terangan. Tapi juga tidak pernah benar-benar membuka pintu.

Hari itu, Indah menerima kedatangan Karina di ruang tamu dengan sikap yang sama seperti biasanya, tenang, sopan, tapi berjarak.

“Ada perlu apa, Karina?” tanya Indah lembut.

Karina tersenyum, walau senyum itu terasa kaku. “Cuma ingin silaturahmi, Tante.”

Mereka duduk berhadapan. Teh hangat tersaji. Namun suasana tidak sehangat dulu.

Karina menatap Indah beberapa detik sebelum akhirnya bicara.

“Tante… boleh jujur?” tanya Karina.

Indah mengangguk pelan. “Silakan.”

“Apa yang kurang dari saya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Karina, Tidak lagi dibungkus basa-basi.

Indah tidak terlihat terkejut. Seolah ia sudah lama tahu pertanyaan itu akan datang suatu hari nanti.

“Maksud kamu?” tanya Indah tenang.

“Saya sudah berusaha memantaskan diri. Dari dulu saya dekat dengan Arkan. Saya jaga sikap. Saya bangun karier. Saya perbaiki finansial saya. Tapi, Tante selalu terlihat biasa saja pada saya.” Karina menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataanya.

“Sedangkan Nara… datang begitu saja. Dan langsung diterima.”

Sunyi beberapa detik memenuhi ruangan. Indah meletakkan cangkirnya perlahan.

“Karina,” ucap Indah lembut, “kamu memang perempuan yang hebat.” Kalimat itu tidak terdengar basa-basi.

“Kamu pintar. Mandiri. Ambisius. Tidak semua perempuan bisa seperti itu.”

Karina menunggu. Ada harapan kecil di matanya.

“Tapi sejak awal,” lanjut Indah pelan, “kamu tidak pernah mendekati Arkan sebagai manusia.”

Karina mengernyit. Bingung dengan ucapan Indah.

“Kamu mendekatinya sebagai pencapaian.”

Ucapan itu seperti mengetuk sesuatu yang tidak ingin Karina dengar.

“Kamu ingin menjadi istri Arkan karena siapa dia. Karena keluarganya. Karena posisinya. Bukan karena kamu benar-benar siap berjalan bersamanya.”

Karina terdiam.

Indah menatap Karina dengan tatapan seorang ibu, bukan menghakimi, hanya menjelaskan.

“Sedangkan Nara…” Indah tersenyum tipis, “dia tidak pernah berusaha memantaskan diri untuk kami.”

Karina refleks mengangkat kepala.

“Dia hanya menjadi dirinya sendiri. Dia bekerja dengan jujur. Dia tidak pernah meminta apa pun dari keluarga ini. Bahkan saat kami tahu latar belakangnya, dia tidak membela diri, tidak merendah, tidak pula membesar-besarkan.”

Indah melanjutkan dengan suara yang tetap lembut. “Yang membuat seseorang diterima bukan selalu soal setara di atas kertas.” kata Indah.

“Lalu apa?” tanya Karina pelan, hampir berbisik.

“Ketulusan.” Satu kata sederhana. Tapi berat.

Indah berdiri, berjalan beberapa langkah sebelum kembali menatap Karina.

“Kamu berusaha menjadi sempurna. Tapi lupa menjadi tulus.”

Karina menelan ludah. Tidak menyangka akan mendapatkan kata seperti itu.

“Dan satu lagi,” tambah Indah, “Arkan tidak pernah mencintaimu.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan kasar. Justru sangat tenang.

“Tugas orang tua bukan memaksakan anak mencintai orang yang menurut kami cocok. Tapi mendukung ketika ia menemukan orang yang membuatnya tenang.” kata Indah.

Karina menunduk. Persaingannya adalah harapan yang ia ciptakan sendiri.

Beberapa menit kemudian, Karina berdiri. Tidak ada tangisan. Tidak ada drama.

Hanya langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.

Saat Karina keluar dari rumah Indah, ia akhirnya mengerti satu hal, Nara tidak menang karena lebih kaya. Bukan karena lebih pintar.

Tapi karena Nara tidak pernah menjadikan Arkan sebagai sebuah kemenangan.

"Tapi seharusnya Nara tidak semudah ini mendapatkan Arkan." kata Karin yang masih kurang terima.

1
ollyooliver
arkan gk ikut hempaskan pelakor? sayang banget
ollyooliver
bagusnya berekting kalau nara sdh memberitahukan arkan..supaya lebih terlihat kalau mereka bertengkar..dan arkan merasa bersalah pd nara tapi nara terlanjur marah dan pergi.
Cherry Land
tapi arkan juga malah ikutan ragu..wkwkkwkw
Cherry Land
aduhh..gk konsisten. dia bilangnya gk pernah nyentuh. tapi masih mempertanyakan itu kebohongan atau bukan..pretttt🤣
ollyooliver
lah si hana bukannya mantan terindahnya?
ollyooliver
yg jelas dong kalimatnya, diatas seperti mengakui kalau dia sdh berhubungan dan sampai punya anak..lah disini malah lain. coba thor baca bae" kalimatnya setelah nara bilang "berarti memang pernah"..trus kebawa sampai kalimat tdk konsisten ini muncul🫠
ollyooliver
lah ternyata mantan perjaka🤢
ollyooliver
SUAMIMU KAYA NARA..K.A.YA. R.A.Y.A😌
Yel
lanjut kakk sampe tamat pls 🥹 ceritanya baguss
Erunisa: udah up ya...🤭
total 1 replies
Linda Muslimah
kak tdk ada kelanjutannya 🤭
Risma Surullah
Tdk ada penyelesaian
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat arkan
Linda Muslimah
lanjut kak 🙏😍
nur adam
ada visual dong thoor bisr lebih menarik
nur adam
crita bgs yg bc sedikit sayang bgt
Erunisa: Terima kasih kaka 😍
total 1 replies
kartini aritonang
Wih wih...pak dosen ikut sama arka? artinya Zaky juga pengusaha ya thor ?
Mita Paramita
mungkinkah Nara hamil 🤨🤨🤨
Drama Queen
Lanjut kak
Risma Surullah
alurnya bagus
Mita Paramita
hempaskan pelakor 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!