NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Ikrar

Rahasia Dibalik Ikrar

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Enemy to Lovers
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Mia Novita

"Gue sudah menepati janji untuk nikahin lo, dan lo juga harus menepati janji untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang kita di sekolah. paham!" ucap pria bernama Arga

Argantara antariksa Grahana namanya. sosok paling tampan dan populer di SMA Cakrawala. karna insiden malam itu membuat Arga harus menikahi teman kelasnya yang bernama Freya Dinata Frankie, biasa di panggil dengan sebutan Reya. anak keempat dari tuan Pramandika Frankie.

Akankah Freya bisa meluluhkan hati pria itu? ikuti yok

Slow up

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Arga

Selama dua hari pertama di rumah sakit, Arga benar-benar membuktikan ucapannya. Ia menolak untuk pulang, bahkan hanya untuk sekedar mengganti baju. Ia tidur di sofa kecil di samping kasur Freya, dan setiap kali Freya bergerak sedikit saja dalam tidurnya, Arga langsung terjaga, memastikan istrinya tidak merasa sakit atau membutuhkan sesuatu.

Ketegangan di koridor rumah sakit kembali meningkat saat terdengar langkah kaki terburu-buru. Orang tua Arga akhirnya sampai setelah menempuh perjalanan kilat dari luar kota. Mereka datang bersama Alana dan Raiden .

Pintu kamar terbuka. mama Arga langsung menutup mulut dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat menantunya yang pucat dan anaknya yang tampak sangat berantakan.

"Arga! Bagaimana bisa jadi seperti ini?" bisik sang mama seraya mendekati kasur.

Arga berdiri, menyalami orang tuanya dengan takzim namun wajahnya tetap terlihat lelah. “Ada kejadian di sekolah, Ma. Arga lalai.”

"Lalai kamu bilang?!" papa Arga menatap tajam. "Kami menitipkan Freya pada kamu bukan untuk kamu membiarkannya masuk rumah sakit!"

Raiden , kakak Arga yang biasanya pendiam namun sangat protektif terhadap keluarga, melangkah maju. Ia menatap Arga dengan mengintimidasi. "Gue dengar soal Alice dan adiknya Leon. Apa lo sudah urus mereka, atau perlu gue yang turun tangan dengan cara gue sendiri?"

Arga menggeleng pelan. "Danu dan kak Leon sudah bergerak secara hukum, Bang. Tapi untuk urusan sekolah, gue yang akan memastikan mereka tidak akan pernah punya masa depan di kota ini."

Alana mendekati Freya yang mulai terusik tidurnya karena suara-suara di kamar. Ia mengusap dahi Freya dengan lembut. "Sudah, jangan ribut di sini. Freya butuh ketenangan."

"Re..." panggil Alana pelan.

Freya membuka mata perlahan. Ia tampak terkejut melihat mertuanya dan kakak iparnya sudah ada di sana. "Mama... Papa... maaf, merepotkan..."

“Sshh, jangan bicara begitu, sayang,” mama Arga mencium kening Freya. "Mama yang minta maaf karena meninggalkan kalian hanya berdua di rumah. Mama nggak tahu kalau Arga bisa seceroboh ini menjaga kamu."

Arga hanya diam tak menjawab, menerima sindiran mamanya. Dia tahu dia pantas mendapatkannya.

Raiden kemudian menepuk bahu Arga, membawanya sedikit menjauh ke sudut ruangan. "Gue tahu lo baru sadar soal perasaan lo ke dia. Tapi inget, Ga, bayi di dalam sana itu bukan cuma soal tanggung jawab, itu soal nyawa. Kalau lo belum siap jadi bapak, mending lo belajar dari sekarang. Jangan sampai penyesalan lo datang dua kali."

Arga mengangguk mantap. "Gue tahu, Bang Raiden. Gue nggak akan ulangin kesalahan yang sama."

Malam itu, suasana kamar menjadi lebih hangat. Orang tua Arga dan Praman (Daddy Freya) sempat berbicara di luar, menyelesaikan ketegangan antar keluarga dan sepakat untuk fokus pada pemulihan Freya.

Saat semua orang sudah pulang ke hotel atau rumah untuk beristirahat, meninggalkan Arga kembali yang berjaga, Freya perlahan menarik ujung baju Arga.

"Arga... kamu nggak tidur?"

“Nanti, setelah kamu tidur nyenyak,” jawab Arga sambil memperbaiki selimut Freya.

“Aku takut kalau bangun nanti, kamu berubah jadi Arga yang dulu lagi,” bisik Freya jujur.

Arga terdiam sejenak. Ia merengkuh jemari Freya dan menciumnya berkali-kali. "Arga yang itu sudah mati, Re. Dia hancur ikut waktu melihat kamu jatuh di toilet kemarin. Sekarang cuma ada Arga yang bakal nungguin kamu dan anak kita sampai kapan pun."

Keheningan malam di kamar rawat itu terasa berbeda. Bukan lagi keheningan yang menyesakkan seperti hari-hari sebelumnya, melainkan sebuah ketenangan yang rapuh namun mulai mengakar. Freya menatap wajah Arga yang diterangi lampu temaram nakas. Garis lelah di wajah laki-laki itu tidak bisa disembunyikan, namun matanya memancarkan tekad yang belum pernah Freya lihat sebelumnya.

"Tidurlah, Arga. Kamu bisa sakit kalau begini terus," bisik Freya, suaranya masih serak.

Arga menggeleng kecil, jemarinya masih enggan melepas tangan Freya. "Sakitku nggak sebanding dengan ketakutan yang kamu rasain kemarin, Re. Aku baru sadar, selama ini aku terlalu sibuk dengan egoku sendiri sampai lupa kalau ada hati yang seharusnya aku jaga lebih dari nyawaku sendiri."

Freya terdiam. Ia merasakan ketulusan itu, namun luka lama tidak bisa sembuh hanya dalam semalam. Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur emosinya agar tidak mempengaruhi janin yang sedang ia kandung.

Keesokan paginya, suasana hangat itu sedikit terusik. Saat Arga baru saja selesai membantu Freya sarapan, pintu kamar diketuk pelan. Sosok Danu muncul dengan wajah serius, memberi kode agar Arga keluar sebentar.

"Aku keluar sebentar, ya? Ada urusan administrasi yang harus kuselesaikan," pamit Arga sambil mengecup kening Freya lama.

Di koridor rumah sakit, Danu menyerahkan sebuah map cokelat. "Ga, pengacara Alice mencoba menghubungi bokap lo. Mereka minta jalur damai dan siap bayar kompensasi berapa pun asalkan laporan dicabut, dan di sekolah ada komite yang melindungi Alice"

Rahang Arga mengeras. Sorot matanya yang hangat di dalam kamar seketika berubah menjadi dingin dan tajam—seperti Arga yang dikenal orang banyak, namun kali ini dengan tujuan yang benar.

"Kompensasi?" Arga terkekeh sinis. "Kasih tahu mereka, uang mereka nggak akan bisa beli satu tetes air mata Freya. Bilang sama pengacaranya, kalau mereka mau damai, mereka harus hadapi Bang Raiden dan tim hukum keluarga gue. Dan soal komite sekolah..." Arga menjeda kalimatnya, aura intimidasi terpancar kuat. "Gue yang akan datang ke sana besok. Pastikan mereka tahu siapa yang mereka lawan."

Tanpa Arga sadari, Raiden berdiri tidak jauh di belakang mereka, menyandarkan tubuhnya di dinding sambil bersedekap.

"Bagus," suara berat Raiden menginterupsi. "Gue suka gaya lo yang sekarang, Ga. Jangan lembek. Orang-orang kayak mereka nggak butuh simpati, mereka butuh pelajaran tentang konsekuensi."

Raiden melangkah mendekat, menepuk bahu adiknya. "Urusan hukum dan komite, biar gue yang bantu pantau dari belakang. Tugas lo sekarang cuma satu, jangan bikin Freya nangis lagi. Kalau gue dengar dia sedih karena ulah lo, gue nggak akan segan-segan bawa dia dan keponakan gue pergi dari lo."

Arga menatap kakaknya dengan mantap. "Nggak akan ada kesempatan itu, Bang. Gue nggak akan lepasin mereka.

Arga kembali ke dalam kamar dengan wajah yang sudah kembali melunak. Ia melihat Freya sedang mencoba duduk tegak. Dengan sigap, Arga menghampirinya dan menyangga punggung Freya dengan bantal.

"Tadi siapa?" tanya Freya penasaran.

"Cuma Danu, bahas soal catatan pelajaran yang tertinggal," bohong Arga demi ketenangan Freya. Ia belum ingin istrinya itu memikirkan soal Alice atau keributan di sekolah.

Arga kemudian berlutut di samping tempat tidur, mensejajarkan wajahnya dengan perut Freya yang masih rata. Ia mengusapnya dengan sangat lembut.

"Halo, jagoan... atau putri cantik Papa," bisik Arga lirih. "Maafin Papa ya sempat telat sadar. Mulai sekarang, Papa nggak akan biarin satu orang pun nyakitin kalian. Papa janji."

Freya merasakan matanya memanas. Ia menyentuh rambut Arga, merasakan getaran tulus dari pria yang dulu sangat ia takuti kehadirannya. Mungkin, musibah ini memang cara semesta untuk meruntuhkan tembok besar yang selama ini memisahkan mereka.

1
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
dasar Arga tak punya hati bukan salah Freya kalo tiba tiba mau pingsan wong emang kondisi lagi hamil muda pasti ada perubahan hormon di tubuhnya 😏
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
haduh .. arga.. Arga..
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
haduh... ada ada saja ya.. Arga ini
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
yang kuat Freya.. tetep semangat..
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
Halah... tr juga klepek-klepek Luh.. jatuh cinta sendiri.. awas ya.. pegang kata-kata gw..
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
baru nikah... udah ngomongin benci...
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
keren ya.. aku tunggu selanjutnya...
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Arga gue sumpahin Lo suatu saat nanti kau akan jatuh cinta sama Freya dan Freya tidak mau lagi sama kau huffft 😏
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
rasanya mau kutinju saja ini Arga jadi orang kok kasar banget orang memang Freya sakit kepala muak efek dari kehamilan malah dikatain dasarrrr 😏
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Freya kau harus bertahan jangan terlihat lemah di hadapan Arga kau masih punya kakak Alan yang mendukungmu jadi kuatlah dan tetap semangat menjalani hari
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
kasian Freya ternyata diam diam dari dulu suka sama Arga tapi sepertinya Arga tidak dan mungkin juga Arga menyukai orang lain Alice.....
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduh begitu dimintai tanggung jawab kagak mau ini Arga padahal kan kau yang ambil kehidupan Freya😏
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
nasib mu freya cuma ngeliat seseorang yg menyukai org lain
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
untung ada alan bisa sedikit legaa freya
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
ta sumpahin arga ini, sosmed bet hd cowo, istri mu loo sekarang freya ini, maso uiya ttp cuekbebek
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ ͩMᷞᴇͧᴍᷡᴀͣ༄⃞⃟⚡
maharnya gede juga cinber brp krt tuhh

freya punya keluarga baru setelah sah jadi istri arga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!