Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .
Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Arsen melajukan motor nya dengan kecepatan di atas rata rata menuju rumah sakit tempat Arkan di rawat. Bukan tanpa alasan Arsen ingin mengunjungi Arkan, ia hanya ingin menemui Nama nya. Arsen ingin meluruskan hidup nya, dia tidak ingin lagi hidup tanpa ada nya keadilan.
Begitu sampai di rumah sakit, Arsen berlari cepat masuk kedalam meninggalkan motor yang terparkir begitu saja di depan pintu masuk.
Brakk..
Arsen membuka pintu dengan begitu kasar, suara dobrakan yang begitu keras membuat seseorang yang ada di dalam memekik terkejut.
"Arsen, apa apaan kamu ini," bentak Erina langsung berdiri karena terkejut.
"Arsen mau bicara," ucap Arsen melirik Arkan yang terbaring dengan beberapa perban di wajah nya, nampak nya Arkan terluka parah karena pukulan nya.
"Bisa tidak, kamu sopan sedikit. Sikap tidak sopan kamu itu bisa saja membangunkan kakak kamu," Erina menatap Arsen marah, namun Arsen membalasnya dengan tatapan yang lebih dingin dari biasanya.
Arsen mengalihkan pandangan nya menatap Erina. Wanita yang sial nya menjadi mama nya itu nampak marah dengan nya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" suara Erina sedikit melembut, namun mata nya masih menatap Arsen marah.
"Beli saham yang masih Papa miliki." ucap Arsen pelan namun terdengar tegas.
"Maksud kamu apa?" tanya Erina tak mengerti, Erina berjalan beberapa langkah mendekati Arsen.
"Beli saham yang Papa miliki, sebelum mati Papa meninggalkan sedikit saham nya untuk Arsen. Dan hari ini Arsen minta Mama buat beli saham itu," ucap Arsen menahan getaran di nada suaranya. Arsen sama sekali tidak ingin melakukan ini, namun demi tekad nya Arsen harus merelakan apa yang masih papa nya tinggalkan.
"Kenapa kamu ingin menjual saham Papa kamu, apa kamu butuh buang banyak? Kalau iya kamu tidak perlu repot menjual saham peninggalan Papa kamu, biar mama kasih kamu uang sebanyak yang kamu mau." entah kenapa, ucapan Erina membuat Arsen emosi. Namun Arsen harus menahan nya, Arsen harus pintar mengontrol emosi agar tidak membuat keributan di rumah sakit.
"Arsen akan tetap menjual nya, Arsen tidak berhak meminta atau menerima uang sepersen pun dari Anda,"
Anda? Ucapan Arsen bagaikan bom bagi Erina, Arsen memanggil nya dengan sebutan Anda, Erina seakan tak ingin mempercayai itu.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu, aku ini mama kamu," ucap Erina kembali mengeraskan suara nya.
"Sekarang tidak lagi," sahut Arsen cepat. Mata Arsen tampak berkaca kaca menatap Erina.
"Mulai sekarang Anda bukan Mama aku lagi. Aku, Arsen memutuskan untuk keluar dari anggota keluarga Anda," Arsen mengucapkan itu dengan nada menekan, menahan getaran dalam setiap nada suaranya.
Erina tertawa kecil menatap Arsen, sangat tidak menyangka jika Arsen akan mengatakan kalimat bodoh sepatu itu.
"Arsen, apa kamu sadar mengatakan itu?" Erina ingin menyentuh bahu Arsen, namun dengan cepat Arsen menepis nya.
"Aku seratus persen sadar dengan apa yang aku katakan, jadi Anda tidak perlu lagi repot mengurusi hidupku."
"Ada apa ini?" suara bariton di belakang Arsen membuat keduanya terdiam.
"Arsen, kamu kenapa? Apa Papa nggak salah dengar?" Aril semakin masuk ke dalam, berdiri di samping Erina yang terus saja menatap Arsen tajam.
Erina menghela nafas nya, melipat kedua tangan nya di dada dengan angkuh nya.
"Oke baiklah, kalah itu yang kamu mau.Tapi ingat, semua barang yang kamu miliki saat ini adalah milik Mama, jika kamu memang tidak ingin menjadi anak Mama lagi, kembalikan apapun yang sudah kamu beli dengan uang Mama,"
"Erina apa yang kamu katakan, Arsen kamu jangan dengar kan apa kata__"
"Oke, Arsen kembalikan semua nya," sahut Arsen memotong ucapan Aril.
"Arsen," Aril menatap Arsen tak percaya.
"Jangan lakukan ini Arsen, Papa mohon sama kamu,"
Arsen tidak bersuara, dia hanya menatap Aril dan Erina datar, tangan Arsen bergerak. Dia mengeluarkan dompet nya dan kunci motor, tak lupa dengan ponsel mahal nya dan langsung membuang nya depat di depan mata Erina.
"Arsen," cicit Erina merasa tak percaya jika Arsen benar benar akan melakukan nya.
"Kalian akan lebih bahagia bila Arsen pergi, dan maaf sudah hadir di tengah tengah keluarga kalian." Arsen keluar dari ruang rawat Arkan dan berjalan cepat meninggalkan ruang rawat Arkan. Teriak mama dan papanya sama sekali tidak Arsen pedulikan, Arsen terus berjalan hingga meninggalkan rumah sakit tanpa membawa motor kesayangan nya.
Arsen sendiri, sekarang dia tidak memiliki apapun. Uang, bahkan keluarga.
Arsen terus berjalan di bawah naungan awan hitam, mengasihani nasib nya yang begitu malang. Arsen tidak tau harus kemana, dia terus berjalan menyusuri jalan yang basah terkena hujan.
Udara dingin begitu menusuk kulit putih nya, Arsen hanya mengenakan celana jeans dan kaus pendek yang bunda Aresha berikan untuk nya, tidak memakai hodie karena hodie nya basah karen hujan.
Sebuah mobil lamborghini tiba tiba terhenti di depan nya, menghalngi Arsen yang ingin berjalan.
"Arsen, lo ngapain jalan sendirian di sini?"
Arsen mendongakkan kepala nya, menatap Devan yang sudah berada di hadapan nya.
"Motor lo kemana?" tanya Devan tak melihat ada nya motor yang selalu Arsen bawa kemana mana.
"Gue boleh nebeng lo, antar gue ke apartment." ucap Arsen menatap Devan tak biasa, tersirat kesedihan di dalam mata tajam nya yang berusaha Arsen sembunyikan.
"Masuk aja, bentar lagi mau hujan kayaknya." Devan yang saat ini masih mengenakan seragam sekolah langsung menarik Arsen masuk ke dalam mobil nya. Devan dapat merasakan jika Arsen tak baik baik saja saat ini.
"Lo kenapa Sen, lo ada masalah lagi?" tanya Devan mulai menjalankan mobil nya, melirik Arsen yang hanya diam dengan tatapan tajam nya.
"Lo bisa cerita ke gue Sen, lo udah gue anggap saudara gue sendiri."
"Nggak ada yang bisa di ceritain, mending lo fokus nyetir saja." Arsen berucap dengan dingin nya, mengalahkan dingin nya udara siang ini.
Devan menghela napas nya, tidak mengerti dengan Arsen yang masih saja tak bisa terbuka dengan nya, padahal sudah lebih dari 5 tahun persahabatan mereka terjalin.
"Sen, bonyok gue lagi ngurusin bisnis ke L.A, lo nginep saja di rumah gue. Sekalian saja ajak Refal sama Sakra kalau mau," ucap Devan tak ingin Arsen kenapa napa jika di apartment sendirian, apalagi dengan banyak nya masalah yang sedang di hadapinya.
"Oke." tanpa pikir panjang Arsen langsung menyetujui nya, sekarang Arsen memang tidak memiliki apapun, tapi setidaknya Arsen masih memiliki sahabat yang akan selalu ada untuk nya. Devan, Refal dan Sakra, untuk sekarang hanya mereka bertigalah yang bisa Arsen andalkan.
📝
Di malam hari nya, Aril panik mencari keberadaan Arsen. Aril mendatangi Arsen ke apartment, namun di sana Aril sama sekali tidak menemukan Arsen. Sebagai orangtua, Aril jelas memiliki rasa khawatir untuk Arsen, meskipun Aril bukan papa kandung nya.
"Arsen kamu di mana nak?" Aril mengembuskan nafas panjang nya, menyenderkan kepalanya di kursi mobil. Kejadian siang tadi di rumah sakit terus saja membayangi nya, bahkan Aril tak segan segan memarahi dan membentak Erina karena sudah melakukan kesalahan pada putranya sendiri.
Drett drett drett.
Suara handphone Aril terdengar, ada nama Erina yang terpampang jelas sebagai penelepone.
"Pah, gimana, apa Arsen baik baik saja?" suara Erina langsung terdengar saat Aril telah mengangkat telepon nya.
"Arsen nggak ada di apatment nya, dan itu semua karena kamu yang tidak bisa mengontrol emosi mu." desis Aril yang masih merasa marah pada istrinya.
"Aku juga tidak tau kalau kejadian nya bakal kayak gini,"
"Harusnya kamu itu lebih sabar ngadepin sifat Arsen, tidak harus membentak nya hingga membuat Arsen marah, harusnya kamu bisa membujuk nya dan tidak membiarkan nya pergi dengan ancaman yang kamu buat itu," Aril memejamkan mata nya, mencoba untuk terus tenang dan bersabar.
"Aku tutup telepon nya, pulanglah dan istirahat. Arkan sudah dewasa, tidak perlu kamu menunggunya sampai 24 jam."
Aril menutup sambungan telepon nya sambil memijit kepala nya yang mendadak pusing. Aril tidak tau harus mencari Arsen kemana, Aril sama sekali tidak mengenal teman teman Arsen yang bisa di hubungi.
"Aresha," satu nama terlintas begitu saja di kepala nya, dengan cepat Aril langsung menghubungi Aresha, seseorang yang Aril duga tengah dekat dengan Arsen.
📝
Aresha yang saat ini tengah tiduran di ranjang di kejutkan dengan Aril yang menelepon nya, dalam hati Aresha bertanya tanya ada perlu apa Om Aril menelepon nya di malam hari seperti ini.
"Halo iya Om, ada apa ya?" sapa Aresha begitu sambungan nya terhubung.
"Aresha, kamu dimana sekarang? Apa kamu sedang bersama Arsen?"
Aresha mengernyitkan kening nya, nada suara Aril yang terdengar panik membuat Aresha merasa bingung.
"Kenapa dengan Arsen Om, apa Arsen tidak ada di apartmen nya?"
"Tidak ada Aresha, Arsen sudah menghilang sejak siang tadi,"
"Apa?" pekik Aresha menutup mulutnya sendiri.
"Tadi pagi Arsen masih sama Aresha Om, tapi setelah pulang Arsen sudah tidak ada lagi kabar. Aresha akan bantu Om cari Arsen,"
"Makasih Aresha, tapi kamu jangan keluar rumah ya ini sudah malam, biar Om saja yang nyari Arsen."
"Om tutup dulu telfon nya ya."
"Iya Om selamat malam."
Aresha mematikan handphone nya dan menaruh nya di atas nakas. Aresha terdiam cukup lama, dia berpikir apa pergi nya Arsen ada hubungan nya percakapan tadi siang bersama bunda nya, jika iya Aresha akan benar benar merasa bersalah, Arsen sudah cukup terluka tapi Aresha justru semakin membuat Arsen terluka.
Aresha mengembuskan napas nya, mencoba untuk tenang di tengah rasa khawatir yang melanda nya. Arsen hebat, dia bisa membuatnya khawatir sampai seperti ini, padahal mereka hanya teman, namun Aresha mengkhawatirlan layak nya teman yang tak biasa.
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu