Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Jelas
Waktu terus berjalan. Jarum jam pun terus memutar. tak ada yang berubah dari Elata semenjak di dalam mobil tadi. Sampai sekarang jam istirahat sudah tiba. Tak banyak bicara, hanya membisu. 'Perjodohan' kata itu selalu terngiang di telinganya.
Elata menelungkupkan wajahnya di atas meja. Mata nya terpejam. Gama yang masih ada di dalam kelas merasa aneh dengan Elata, karna sewaktu di jalan dan sekarang pun sudah istirahat, Elata tidak banyak bicara.
"Lapangan yoo!" ajan Askan dan kawan-kawan nya pun mengiyakan.
"Ayang, gue ke lapangan Futsal dulu, ya?!" pamit Askan pada Flora yang masih duduk di kursinya. Flora hanya mengangguk dan senyum manis nya ia persembahkan untuk Askan.
"Ayang, senyumnya jangan kaya gitu dong!" wajahnya di buat sememelas mungkin.
"Napa emang?" tanya Flora. Gadis itu mengerutkan keningnya. Dagunya ia topang dengan tangannya yang putih nan bersih. Askan jadi semakin gemes di buatnya.
"Membuat hati gue tuh meleleh. Jadi berasa ingin di lem aja di kursi ini." Flora terkekeh geli mendengar gombalan Askan.
"El, Cind, katin yuk!" ajak Flora. Ia berdiri dari duduknya.
"Yeehhh, malah di cuekin gue."
Flora hanya menjulurkan lidahnya pada Askan. Gama dan Andra di buat tertawa oleh pasangan absurd ini.
Elata masih tak bergeming. Cindy kini sudah membalik badan nya menoleh pada Elata yang masih memejamkan mata.
"Kenapa?" tanya Cindy pada Flora dengan suara yang tak dapat di dengar. Flora hanya menggeleng.
Sedangkan para cogan sudah tidak ada di ke kelas lagi.
"El, kantin yuk!" ajak Flora. Tetapi Elata masih tak bergeming.
"El, loe napa? Sakit?" kini Cindy yang buka suara. Tapi Elata masih diam.
"Mag loe kambuh?"
"El, ngomong dong!"
"Lagi GeGaNa, loe?" kata itu keluar begitu saja dari mulut Flora yang langsung mendapat pukulan di tangannya oleh Cindy. Saat Elata mendengar kata itu, langsung membuka matanya.
"Apa Gegana?" Elata mendongakan wajahnya. Kata Gegana berhasil membuat Elata menatap ke dua temannya. Nada dring di ponsel Elata trus nyaring. Tapi Ealata membiarkannya. Sangat malas jika harus membuka pesan atau mengangkat panggilan masuknya.
****
Sedangkan di lapangan futsal, Askan dan teman-temannya sedang bermain. Tetapi tidak dengan Gama, pemuda itu terus berkutat dengan handphone nya.
"Gam, loe napa kagak ikut main?" Abram berlari kecil ke arah Gama.
"Lagi gak minat, gue."
"Kenapa? Ada masalah lagi sama doi?"
"Hhmmm"
Abram hanya menggelengkan kepala nya. Kemudian merogoh ponsel di saku celananya. Mengirim pesan pada kontak yang di berinama Cinta.
"Bentar lagi dia bakalan kesini. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Gue harap loe bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam sini!" Abram menunjuk dada Gama, senyum tulus di berikannya. Kemudian berlalu dari sana. Tak lupa mengajak Askan dan Andra.
****
Sedangkan di dalam kelas Elata masih anteng dengan posisinya. Cindy yang mendapat pesan dari Abram, bingung harus buat alasan apa pada Elata saat menyuruhnya ke lapangan futsal. Sedangkan Flora, gadis itu hanya asik saja dengan handphone nya.
"El, Gama pingsan di lapangan?" Lah kok Cindy bilang Gama pingsan. Ini kenapa mulut asal ngejiplak aja sih? Cindy mengutuki dirinya sendiri. Elata yang mendengar itu, tak banyak bertanya lagi. Panik melanda dirinya. Kakinya langsung berlari menuju lapangan futsal.
Sementara Cindy hanya tersenyum devil. Flora yang hendak menyusul Elata, tangannya segera di tahan oleh Cindy.
"Eehhhh... Mau kemana?"
"Kata loe, tadi Gama pingsan"
"Udah, biar Elata aja yang urus!" senyum nya menyeringai. Flora tak mengerti, tapi hanya bisa patuh saja pada Cindy.
****
"Gama..." teriak Elata memanggilnya, pandangannya mengedar melihat setiap penjuru sisi lapangan. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Gama pun tak terlihat.
"Gak ada siapa-siapa. Cindy ngerjain, gue?" tanyanya pada diri sendiri. "Shit" kesal di wajahnya sudah tak dapat lagi di sembunyikan. Elata hendak ke luar lapangan. Tetapi langkahnya terhenti saat tangan seseorang mencekal pergelangan tangannya.
Elata menoleh. Hanya menatap pria itu tajam. Apa coba maksudnya?
"Kenapa?" tanya Gama pada Elata dengan wajah datarnya.
"Loe, yang kenapa?" Elata mendengus kesal.
"Hah?"
"Gak ada kerjaan apa? Kalau mau ngerjain orang tuh jangan kelewatan!"
"Maksud loe, apa?" tanya Gama tak mengerti apa yang di bicarakan Elata.
"Cindy bilang loe pingsan disini" akhirnya Elata menjelaskan apa yang di kata kan oleh karibnya itu. Wajahnya masih kelihatan kesal. Tangannya ia lipat di dada. Matanya mengarah tajam pada Gama.
Gama hanya tertawa. "Loe, khawatir?" tanyanya kemudian. Wajahnya mendekat ke wajah Elata.
"Enggak!" jawabnya jutek
"Gak perlu sinis gitu. Kalau khawatir, ya khawatir saja lha! Gue seneng kalau loe khawatir sama gue."
Elata bungkam. Iya, gue khawatir sama loe, Gam. Ingin sekali Elata bilang seperti itu. Tapi lidahnya terasa kelu. Elata kemudian melangkahkan kakinya ke luar lapangan. Duduk di sebuah kursi yang ada di luar. Gama mengikuti langkah Elata. Kemudian duduk di samping gadis itu.
"Gue, sayang loe, El" kata itu keluar begitu saja dari mulut Gama. Wajahnya menunduk. Tak percaya jika pemuda itu mengutarakan isi hatinya selama ini.
"Hah....?" Elata tercengang, antara percaya dan tidak percaya, Gama bilang sayang padanya. Sayang seperti apa yang di maksud Gama? Gama sering bilang sayang pada Elata, tapi bukan sayang seperti yang di maksud hati Elata. Gama sering bilang sayang padanya. Sayang seorang sahabat.
"Udah sering loe bilang sayang ke gue, Gam." pandangannya ia luruskan kembali setelah tadi sempat menoleh pada pemuda di sampingnya.
Gama memutarkan tubuhnya menghadap Elata. Memberanikan diri menyentuh bahu gadis itu, dan menghadapkan Elata pada dirinya. Matanya menatap Elata tajam.
"Gue, sayang loe, Elata Rasya" tatapan Gama menusuk tajam. Membuat Elata salah tingkah. Astaga... Jantung Elata serasa lagi ngeDJ. Pengennya loncat-loncat dari tempatnya. Elata yang tadinya menatap Gama serius kini memalingkan muka.
"Gue, juga sayang sama loe, Gama". Elata tak berani lagi menatap mata Gama. Sedangkan Gama tersenyum. Yakin jika Elata akan menerima perasaannya.
"Saking sayangnya gue, pengen nabok bibir loe. Biar bibir loe gak sembarang lagi nyium bibir gue." Elata menoleh, memasang senyum meledek.
"Hah?" Gama tak percaya apa yang di katakan Elata. Wajahnya menunjukan wajah kebingungan. Sedangkan Elata sendiri sudah tak bisa menahan tawa melihat wajah Gama.
"Maksud, loe?" Gama bingung. Pemuda itu mengerutkan keningnya.
"Sudah lah, Gam!" Elata berdiri dari duduknya. Tapi lagi-lagi tangan kekar Gama menahannya.
"Kenapa? Apa karna sekarang loe lagi dekat sama Marcel?"
"Apa hubungannya sama Marcel?" Elata bingung.
"Loe, sekarang lagi deket kan sama dia? Gue gak suka!" Gama membuang muka
Elata hanya diam. Matanya menatap Gama dengan perasaan yang bimbang. Antara ia utarakan atau ia biarkan?
"Gue, gak suka loe deket sama Marcel atau siapapun itu!"
"Kenapa loe jadi posesif? Emang gue siapa loe? Gak ada hak ya loe larang gue deket sama siapa aja. Termasuk Marcel" Elata menekan kata-kata nya.
"Kenapa loe gak ngerti?"
"loe, yang gak ngerti."
"Kenapa jadi nyalahin gue?"
"Karna loe emang salah."
"Salahnya dimana?"
"Tanya aja sama Mama, loe!" Elata kesal. Wajahnya sudah merah padam.
"Kenapa bawa-bawa nyokap, gue?"
"Karna....." Elata bingung harus ngomong apa.
"Apa?"
"Loe, mau di jodohin sama Mama, loe." Akhirnya, kata yang selama tadi pagi ada di pikirinnya yang membuat Elata gegana keluar juga.
"Hah?" lagi-lagi Gama tercengang mendengar yang di lontarkan Elata. Tapi lengkungan di bibirnya ia tarik ke atas, hingga membuat lengkungan seyum yang menawan.
"Kenapa loe malah senyum? Seneng loe, mau di jodohin sama Mama Sonia?" Elata kesal bukan main. Ingin sekali Elata menampar pipi Gama. Tapi tak ia lakukan. Sayang kan kalau pipinya yang putih harus berubah jadi merah.
Gama melipat bibirnya. Tapi senyuman itu masih menempel di wajahnya.
"Gama....." Elata berteriak.
"Apa, El?" suara Gama di buat selembut mungkin
"Gak penting."
"Penting"
"Penting apa?"
"Loe,"
"Gak nyambung."
"Sambungin dong!" Gama terkekeh. Dan Elata kesal.
"Gaje"
"Apa gaje?" tanya Gama bingung
"Gak jelas!"
"Ya, jelasin dong!"
"Loe, nyebelin" Elata membuang muka.
"Nyebelin tapi sayang?"
****
Di saat Elata sedang berjalan trala trili di koridor. Dari arah lain seseorang memanggilnya.
"El?"
Elata menoleh. Seseorang itu menghampirinya dengan gaya yang super cool.
"Loe, dari mana?"
"Kenapa?" Selalu dengan gayanya. Jika ada yang nanya, malah berbalik tanya. Itu lah Elata Rasya.
"Loe, udah lihat berita di forum sekolah belum?"
"Kenapa emang?" Yeehhh nanya balik lagi dia
"Sekolah bakal ngadain acara pas hari jadinya"
"Terus?"
"Loe, mau gak jadi pasangan duet gue?" tanyanya. Tapi sebelum Elata menjawab, seseorang sudah menjawabnya lebih dulu.
"Elata duet sama gue." jawabnya ketus. Wajahnya datar. Tangannya ia masukan ke dalam saku celana. Tak kalah cool kan dari seseorang tadi. Lebih cool malah. Elata menoleh pada Gama yang sekarang ada di sampingnya.
Marcel tak terima dengan jawaban Gama. Ia langsung menoleh pada Elata meminta jawaban dari pernyataan Gama.
"Gue, gak bakalan ikut acara." jelasnya. Karna Elata tak mau ada permusuhan antara Gama dan Marcel. Apa lagi kalau karna dirinya. Kemudian Elata berlalu meninggalkan dua makhluk yang sedang saling menatap tajam. Seakan sedang memperebutka barang berharga yang ingin di milikinya.
Ya, Elata sangat berharga. Karna tak ada wanita seperti dia. Yang mampu bertahan dengan masa lalu yang membebaninya.
Kuat. Mungkin Elata hanya pura-pura kuat. Agar tak ada orang yang memandangnya lemah. Padahal hatinya rapuh jika harus mengingat kejadian sepuluh tahun lalu.
Soal perasaan, mungkin Elata bukan gengsi untuk bisa mengungkapkannya. Tetapi lebih memilih untuk meyakinkan hatinya. Karna Elata takut menyesal, Bukan Elata yang akan menyesal. Tapi dia.
****
TBC
Like komen saja sudah cukup buat aku. Itu artinya karya aku masih ada yang menghargai.
fallow Ig aku seizyll_koerniawan
lope lope buat kalian yang selalu setia memberi like dan komennya.
tengkyu 😘😘😘😘😘
Aku kasih judul gak jelas di bab ini. Karna emang gak jelas aja lagi bahas apanya. Cuma itu yang ada di memory aku.. Maafin kalau gak nyambung. Lagi gegana aku nya. 😂😂😂