Sequel dari novel "Abang Bule Itu Jodohku"
Altezha biasa di panggil Tezha atau Ezha merupakan pewaris Klan Vins selanjutnya.
Apa kah sang pewaris mau dan mampu memikul tugas itu dengan baik sedangkan dia mempunyai sifat keras kepala dan tidak suka di atur?
Namun akhirnya dia harus menjalani hidup nya di kampung halaman sang Mimih. Dengan ke adaan 180' berbeda dengan kehidupan sebelum nya hingga bertemu dengan seorang gadis polos, blak blakan, galak plus cerewet nya mengalahkan toa .
Staycun teros yaaaaa
18+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang tegak tapi bukan keadilan
Tezha meraih sesuatu dari dalam kantong celananya. Kebetulan Ajeng sedang pergi mandi, jadi dia leluasa melihat apa yang ada di kertas lecek yang terlihat seperti sebuah foto seseorang.
Deg....
Jantung Tezha berdegub lebih kencang dari sebelum nya saat melihat foto siapa yang ada di tangan nya itu. Foto itu adalah foto nya yang tengah berada di perkebunan. Dengan di penuhi oleh coretan serta bercak darah, Tezha yakini kalau darah ini bukan darah manusia tapi darah ayam atau hewan lain nya.
'Batalkan rencana mu orang asing, jangan pernah ikut campur dengan urusan kami, kalau kau tidak ingin menjadi seperti foto mu itu."
Tezha meremas foto itu dengan keras setelah membaca tulisan yang ada di belakang nya. Apa maksud nya ini, membatalkan rencana, jangan ikut campur . Tezha belum bisa menarik benang merah dari kata kata dalam tulisan itu.
"Alllll....CEPETAN MANDI AIR NYA KEBURU PENUH, AKU UDAH SELESAI!"
Suara teriakan Ajeng dari dalam kamar membuat Tezha tersentak dari lamunan nya. Dia masih menggenggam erat foto itu dan memasukan nya ke dalam kantung celana nya sembari melangkah kan kaki masuk kedalam rumah.
Hari ini mereka akan ke rumah Emak karena hari ini ada pengajian untuk rencana pertunangan Zae besok sore. Jadi kebetulan juga sedang tanggal merah mereka bisa pagi pagi ke rumah Emak nya.Sedangkan bapak Ajeng pergi ke perkebunan soalnya saat ini sedang banyak buah sawit matang yang harus di panen.
"Pake kerudung gak ya." Ajeng membongkar koleksi hijab nya yang tidak pernah dia gunakan kecuali ke acara acara yang memang mengharuskan dia untuk menggunakan hijab, seperti sekarang ini.
Saat pilihan nya jatuh pada hijab berwarna lemon dan dusty pink Ajeng bingung hendak memilih warna apa. Karena jujur dia tidak tahu cara memadu madankan warna baju yang dia pakai dengan hijab yang hendak dia pakai itu. Yang Ajeng tahu, yang penting pake hijab, tertutup, sopan udah beres gak perlu banyak drama dengan sibuk nyari warna, bentuk,model dan sebagai nya.
"Warna ini aja deh, tumburan tumburan dah horak ngurus!"
Ajeng meraih satu hijab persegi 4 dan memakaikan di atas kepalanya. Membungkus rambut hitam nya yang indah.
"Ayu ne jooooonnn, bojo ne sopo iki." Ajeng malah narsis di depan kaca lemari nya sembari cekikikan tidak jelas. Memutar mutar kepalanya yang terbalut hijab itu ke kiri dan kekanan.
Namun saat berbalik dari arah lemari mata nya langsung melotot seketika saat melihat Tezha sudah berada di depan pintu kamar tengah menyenderkan tubuhnya di pintu. Dengan tampilan yang bikin Ajeng eeerrrr... susah nafas. Gimana gak susah nafas coba kalau tampilan Tezha saat ini hanya memakai sepotong handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya sampai lutut, dengan rambut basah dan sedikit gondrong itu membuat Ajeng sulit untuk berkedip.
Pandangan Ajeng yang semula menatap wajah Tezha kini mulai turun kebawah. Mulut nya seakan terkunci saat melihat perut aduhai penuh dengan otot yang menggoda iman seorang Ajeng. Terus turun kebawah, matanya terpaku sesaat pada gundukan besar yang ada di balik handuk itu. Dan pandangan Ajeng menuju bagian lengan Tezha yang penuh dengan gambar. Ajeng baru ingat saat pertama bertemu Tezha di perkebunan, dan dia baru sadar kalau Tezha bertato. Tapi bukan nya ilfil Ajeng malah menatap penuh minat pada lengan bertato itu seandainya lengan itu merengkuhnya, membelai nya, mengelus nya, meng.......
Karena sudah tidak kuat dengan bayangan 21+ nya Ajeng cepat cepat membalikan tubuh nya ke arah lemari dan berpura pura sedang mencari sesuatu di dalam nya.
Astagfirouloh cobaan mu terlalu berat gusti
Sedangkan Tezha hanya tersenyum melihat wajah salah tingkah istrinya itu. Wajah gadis itu terlihat memerah saat melihat nya bertelanjang dada sehabis mandi.
"Kamu udah selesai kan dandan nya, sekarang giliran aku."
Ajeng masih terdiam di depan cermin lemari nya. Ajeng bingung entah apa yang harus dia lalukan sekarang. Saat ini dia benar benar malu saat tadi dia menatap penuh kagum pada tubuh bagian atas Tezha. Pasti saat ini si bule sableng itu tengah menertawakan dia dalam diam nya.
Ya Allah gusti isin aku
"Ayy... Kamu mau keluar atau mau lihat aku buka handuk dan ganti baju. Atau......"
Tezha mendekat ke arah Ajeng dan berhenti tepat di belakang tubuhnya lalu membungkukan sedikit kepalanya agar dia bisa mendekat ke arah telinga Ajeng yang tertutup hijab itu.
"......Kamu yang mau makein baju buat aku hm."
Bulu kuduk Ajeng seketika meremang di balik hijab saat mendengar suara serak dan mendesah di dekat telinganya. Bukan nya bergerak dan pergi tubuh Ajeng seakan mengkhianati pemilik nya sendiri. Tubuh itu makin mematung, apa lagi saat tiba tiba ada sebuah lengan kekar bertato merengkuh pinggang ramping nya dari belakang. tangan yang sedari tadi Ajeng bayangkan ternyata kini menjadi kenyataan tengah memeluk nya. Oh Maygoooottttttt....
"Jadi kamu beneran mau makein aku baju hm. Kalau gituh aku bakalan buka handuk ini, tapi jangan kaget ya saat kamu melihat apa yang ada di balik nya."
Wajah Ajeng semakin memerah saat mendengar suara Tezha yang terkesan tengah horny. Ajeng dapat melihat tubuh setengah telanjang itu menempel pada pungung nya hingga Ajeng dapat merasakan tunik yang dia pakai sedikit basah. Namun bukan itu yang membuat wajah nya memerah seperti orang yang tengah menahan hajat. Tapi karena ada sesuatu yang menonjol tapi bukan bakat, dan sangat keras tapi bukan besi , ada yang tegak tapi bukan keadilan langsung menyentuh area punggungnya.
Apa si Teguh lagi turn on, bukan nya ini sudah siang kenapa si Teguh masih saja teguh pada pendirian nya. Berdiri tegak seperti menara sutet yang ada di dekat sekolah mereka.
"Muka kamu merah Ayy, kamu pakai bluson nya kebanyakan ya."
Semakin kesini Tezha semakin menjahili Ajeng yang tengah terdiam dengan mata tertutup sembari mulut nya terlihat berkomat kamit.
"A-Al... Bisa to-long lepasin g-gak a-aku gak ny-nyaman."
Mendengar ucapan Ajeng yang terbata bata membuat Tezha hanya menyunggingkan senyum nya. Apa lagi saat Ajeng berbicara matanya masih tertutup sempurna saat melihat nya di dalam cermin. Tezha malah mengeratkan pelukan nya di tubuh Ajeng.
"Nanti lama lama juga kamu bakalan nyaman Ayy sama pelukan aku."
Ajeng terlihat mendesah kesal , lalu dengan yakin dia melepas rengkuhan lengan Tezha di perutnya. Setelah itu Ajeng memutar tubuhnya menghadap Tezha secara langsung
"Kamu gak lupa sama perjanjian kita beberapa hari yang lalu kan."
Tezha terlihat mengangkat sebelah alis nya mendengar ucapan Ajeng. Perjanjian ya perjanjian mereka yang sangat merugikan nya, sangat sangat merugikan nya.
"Kalau kamu lupa sini biar aku ingetin, yang pertama jangan peluk aku sembarangan, kedua jangan kecup kecup sembarang yang ketiga........"
Ajeng menghentikan ucapan nya sejenak sembari berjalan menuju pintu kamar
".....Jangan lakuin semua itu kecuali aku duluan yang mulai dan minta sama kamu,Paham!"
Tezha tersenyum melihat Ajeng yang terburu buru keluar dari kamar mereka dengan wajah yang salah tingkah dan malu malu. Namun senyuman nya luntur saat dia mengingat foto serta catatan tadi.
'sialan... Ada yang mau bermain main rupanya, baiklah.'
KOLOR NYA KELIHATAN BANG.....
***HAI HAI HAI....PAGI PAGI DAH PADA SEGER AJA LUAT AA TEZHA YA
YUK JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN NYA GARA GARA LIAT TEZHA YANG EEERRRRGGGHHH....
SEE YOU NEXT PART
BABAYYY...MUACHHH...
HATUR NUHUN***
dtunggu cerita aqilla & kakak bastiannya yaaa🤭
langsunggg cusss baca kisah anaknya nihhh