Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Pembalikan Kondisi Tertekan
Wiranata tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Senyumnya masih terpasang dengan sangat rapi. Terlalu rapi untuk situasi yang baru saja memperlihatkan Sukuba tewas dalam satu pukulan.
Rah Tengger berdiri di sisinya dengan cakar panjang yang menggores tanah perlahan, dan mata serigalanya yang kuning memandang Arjuna dengan sorot yang tidak menyembunyikan niat apapun.
Arjuna melangkah maju satu langkah. “Menarik, sungguh menarik.”
Bukan ke arah Wiranata. Bukan ke arah Rah Tengger. Melainkan ke arah sisi kawah yang paling dekat dengan keduanya, dengan tangan yang tergantung santai di sisi tubuhnya, dan mata merah membara yang tidak mengandung kepanikan sedikitpun.
"Wiranata," lanjut Arjuna dengan nada yang hangat, terlalu hangat untuk seseorang yang baru saja ditempa oleh tujuh Calamity Tribulation Catastrophe, "Kau datang jauh-jauh dari Prefektur Abyssal hanya untuk ini?"
Wiranata tertawa kecil.
"Aku khawatir padamu, Arjuna. Kita ini rekan lama."
"Rekan lama?" ulang Arjuna dengan nada yang sama, seolah ia sedang mempertimbangkan kata-kata itu dengan sangat serius, "Kau benar. Maka sebagai rekan lama, izinkan aku bertanya sesuatu kepada temanmu itu.”
Rah Tengger mengerutkan dahi. Matanya berpindah ke Wiranata.
Wiranata mengangkat satu tangan dengan santai. "Tentu saja. Rah Tengger tidak menggigit, bukan?"
Arjuna bertanya dengan nada yang mengalir seperti percakapan biasa, "Pertanyaanku sederhana, apakah Kaisar Abyssal tahu jika kamu adalah bagian dari Phantom bersama kawanmu itu?”
Rah Tengger membatu.
Sesuatu melintas di balik mata serigalanya yang kuning, bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman dari itu.
Wiranata tertawa lagi, tetapi kali ini satu not lebih tinggi dari sebelumnya.
"Arjuna, kau terlalu banyak berpikir—"
"Kedua," potong Arjuna dengan nada yang tidak berubah, "Kontrak Prefektur Ethereal resmi berakhir ketika Komandan Wiryo tewas. Berarti kontrak yang kalian pegang sekarang adalah kontrak pribadi, bukan kontrak resmi prefektur.”
“Phantom menerima kontrak pribadi tanpa sepengetahuan prefektur yang bersangkutan? Atau ada orang lain lagi yang mengajukan kontrak baru, sehingga level hazard milikku naik ke level SS? "
Kali ini Wiranata tidak langsung menjawab.
Ia diam satu detik, dua detik, lalu tiga detik.
Di belakang Arjuna, Harjasa memandang semua itu dengan diam. Tangannya bergerak perlahan ke bracelet di pergelangan tangannya, membuka ruang penyimpanan dan memasukkan keempat mayat Sukuba, Abhinata, Suryadewa, serta Wiryo satu per satu ke dalamnya dengan gerakan yang sangat tenang seolah sedang membereskan barang bawaan sebelum perjalanan panjang.
Bibirnya bergerak sangat kecil.
"Manusia ini," gumamnya tanpa suara, matanya tidak berpaling dari Arjuna yang masih berdiri di tepi kawah dengan postur yang sama sekali tidak menunjukkan kelelahan, "Bagaimana ia bisa mengolah kata seperti itu dalam kondisi armor yang retak, dan tubuh yang baru saja ditempa langit? Apakah dia sudah tidak waras?"
Dyah Ayu berdiri di samping Harjasa dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya.
"Kenapa kita tidak hajar saja mereka berdua sekarang?" bisiknya dengan nada yang tidak bisa disebut bisikan, karena volumenya hampir sama dengan suara normal.
Harjasa menatapnya datar.
"Diam!"
Di depan, Arjuna sudah melangkah setengah langkah ke belakang dengan cara yang sangat natural seolah ia hanya mengubah posisi berdiri.
"Wiranata, aku akan mempertimbangkan tawaranmu untuk bergabung dengan Phantom," ucapnya dengan nada yang mengandung ketulusan yang sangat meyakinkan, "Beri aku waktu untuk berpikir. Kita bisa bertemu lagi di—"
"Art Transformation Triwikrama: Ultima Hydra Dragon!"
Suara Harjasa membelah seluruh perbatasan.
Cahaya biru kehijauan meledak dari seluruh tubuh Harjasa dengan intensitas yang membuat tanah di sekitarnya retak melingkar. Dyah Ayu melompat mundur dengan refleks yang mengejutkan untuk seseorang yang baru saja mendapat ranah pertamanya.
Wiranata, dan Rah Tengger melindungi mata mereka serentak.
Tubuh Harjasa membesar. Satu detik, dua detik, sepuluh detik. Jubah jenderalnya robek dan lenyap ditelan transformasi.
Sisik biru kehijauan menutup seluruh permukaan tubuh yang semakin membesar hingga melampaui tinggi pepohonan yang tersisa. Tiga kepala naga tumbuh serentak dari leher yang membelah menjadi tiga cabang, masing-masing dengan mata emas murni yang memancarkan cahaya yang sama.
Ultima Hydra Dragon berdiri di atas perbatasan yang sudah hancur dengan tiga pasang mata yang menatap Wiranata, dan Rah Tengger sekaligus.
Wiranata melangkah mundur satu langkah untuk pertama kalinya sejak ia muncul.
Senyumnya masih terpasang. Namun untuk pertama kalinya malam itu, senyum itu tidak lagi sempurna.
Arjuna sudah melompat ke punggung Ultima Hydra Dragon dengan satu gerakan. Tangannya menjangkau ke bawah ke arah Dyah Ayu.
"Naik!"
Dyah Ayu melompat dan mencengkeram tangan Arjuna dengan kekuatan yang hampir menarik Arjuna ke bawah.
"Pelan sedikit!"
"Maaf, refleks!"
Tiga kepala Ultima Hydra Dragon menunduk serentak menghadap Wiranata dan Rah Tengger.
Kemudian ketiga mulutnya membuka bersamaan, dan dari kedalaman tenggorokan ketiganya, cahaya biru kehijauan mengumpul dengan kecepatan yang semakin cepat setiap detiknya.
Rah Tengger memasang kuda-kuda.
Wiranata tidak bergerak, namun matanya kuning bulan sabitnya menyipit sangat tipis.
"Ultima Strike!"
Tiga sinar laser biru kehijauan meledak dari ketiga mulut Ultima Hydra Dragon sekaligus, bukan ke arah Wiranata dan Rah Tengger, melainkan ke tanah di antara keduanya.
Ledakan yang dihasilkan membuat seluruh area dalam radius tiga ratus meter tertutup debu, dan serpihan batu yang berhamburan ke segala arah.
Ultima Hydra Dragon sudah membalik arah dan terbang ke utara sebelum debu itu mengendap.
Sayap raksasa mengepak dua kali, dan jarak antara mereka dengan perbatasan yang hancur sudah menjadi satu kilometer dalam hitungan detik.
Di bawah, suara Wiranata terdengar samar ditelan angin.
"Kejar mere—"
Angin menelan sisa kalimat itu.
Rah Tengger menggeram dengan cakar yang menancap dalam ke tanah. Matanya kuning memandang bayangan Ultima Hydra Dragon yang semakin mengecil di langit utara dengan sorot yang tidak bisa disembunyikan.
Wiranata berdiri di sampingnya. Senyumnya sudah kembali terpasang, namun matanya tidak ikut tersenyum.
"Biarkan mereka pergi malam ini," ucapnya dengan nada yang sangat tenang, "Arjuna Sasrabahu tidak akan bisa bersembunyi selamanya dengan level buronan Alliance tingkat SS.”
***
Kediaman utama klan Hydra berdiri di jantung kota raja Prefektur Draconis dengan arsitektur yang mencerminkan keagungan klan yang sudah berdiri sejak tiga ribu tahun lalu.
Dinding batunya berwarna biru kehijauan, dan ukiran naga berkepala tiga menghiasi setiap sudut bangunan.
Harjasa sudah kembali ke wujud jenderalnya. Tubuhnya berdiri dengan nafas yang lebih berat dari biasanya. Konsumsi Ether dari Art Transformation Triwikrama tidak bisa dianggap enteng bahkan untuk seorang jenderal sekelas dirinya.
Arjuna duduk di sudut ruangan dengan Imperial Magna Cyborg Armor yang tergeletak di hadapannya dalam kondisi yang tidak bisa disebut selain hancur.
"Perbaiki ini!" pintanya kepada Dyah Ayu dengan nada yang tidak mengandung pertanyaan.
Dyah Ayu mengerutkan hidungnya memandang armor yang retak di hampir seluruh permukaannya.
"Kau bilang seolah ini mudah."
"Bukankah kamu sudah memahami skill Arc Of Embodiment ada di dalam dantianmu sepenuhnya? Gunakan!”
Dyah Ayu mendengus namun tidak membantah lebih jauh. Ia duduk bersila di hadapan armor itu dan memejamkan mata.
“Arc Of Embodiment: Repair!”
Tangannya terangkat perlahan, dan dari ujung jarinya, cahaya cokelat keemasan mengalir keluar membentuk formasi yang berputar mengelilingi seluruh permukaan armor.
Harjasa memandang proses itu dengan diam dari sudut ruangan.
Retakan demi retakan menutup. Panel demi panel kembali ke posisi semula. Garis-garis hitam legam yang memancar di setiap sambungan menyala kembali satu per satu, hingga Imperial Magna Cyborg Armor berdiri sempurna di hadapan Dyah Ayu seperti pertama kali ia melihatnya.
Dyah Ayu membuka mata dengan ekspresi puas. “Hahaha …. Ternyata aku memang jenius, hahaha ….”
Kemudian ia bersin.
Bukan bersin kecil. Bersin yang cukup keras, hingga memantul di dinding batu kediaman klan Hydra dan membuat Harjasa refleks meletakkan tangan ke gagang senjatanya.
Dua benda kecil meluncur keluar dari mulut Dyah, Ayu dan menghantam lantai batu dengan bunyi nyaring yang tidak sesuai dengan ukurannya yang kecil.
Dyah Ayu mengerjapkan mata.
"Eh? Apa ini?!"
Harjasa melangkah maju dengan dahi yang berkerut. Ia menunduk memandang dua benda kecil yang tergeletak di lantai dengan cahaya yang berdenyut pelan di permukaannya.
Kemudian seluruh tubuh Harjasa membeku. “Awakening Stone macam apa ini?!”
Matanya emas murni membelalak untuk pertama kalinya sejak ia mengenal konsep mengendalikan ekspresi wajah. Tangannya yang sudah terentang hendak mengambil kedua benda itu berhenti di udara.
Energi Ether yang memancar dari kedua benda kecil itu menampar seluruh indra Harjasa seperti gelombang yang tidak bisa diabaikan.
Arjuna yang duduk di sudut ruangan pun berpaling.
"Awakening Stone?" desah Harjasa dengan suara yang nyaris tidak keluar, "Versi satu dan versi dua. Tapi dengan efek yang sa-sangat gi-gila?!”
Dyah Ayu menatap kedua benda itu di lantai dengan ekspresi yang tidak menunjukkan pemahaman apapun.
"Itu apa?"
Harjasa tidak menjawab seketika. Matanya berpindah dari kedua awakening stone itu ke wajah Dyah Ayu yang masih mengusap hidungnya dengan punggung tangan.
Lalu kembali ke dua benda di lantai yang nilai Ether-nya melampaui semua yang pernah ia lihat dalam tiga ratus tahun hidupnya.
Satu pertanyaan berputar di dalam kepala Harjasa yang tidak mampu ia temukan jawabannya.
“Dari mana awakening stone itu bisa keluar dari tubuh manusia murni yang baru saja terbuka ranah kultivasinya?” batin Harjasa.