"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayaran Tunai untuk Malam Jahanam
Matahari siang membakar aspal di kawasan bisnis Sudirman dengan sangat terik, menciptakan gelombang hawa panas yang seolah mampu melelehkan apa saja yang menyentuhnya. Di sudut trotoar tak jauh dari gerbang keluar Arania International, Rendra Wijaya berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Kemeja lusuh berkerah yang ia kenakan sudah pudar warnanya menjadi kecokelatan akibat noda keringat dan debu bangunan yang menempel berhari-hari setelah bekerja menjadi kuli panggul semen.
Wajahnya tampak sangat kuyu, sepasang matanya merah pekat karena semalaman tidak bisa tidur setelah menyaksikan berita penangkapan ibunya di televisi tetangga. Gengsi, keangkuhan, dan harga diri yang dulu ia junjung tinggi di atas kepala, kini sudah menguap tak berbekas, digantikan oleh keputusasaan yang teramat sangat. Di dalam otaknya yang buntu, hanya ada satu cara tersisa untuk menyelamatkan Ibu Ratna dari dinginnya sel tahanan: ia harus memohon belas kasihan kepada Rania.
Tiit! Tiit!
Suara klakson nyaring membuyarkan lamunan Rendra. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap yang benar-benar ia kenali sebagai mobil dinas CEO Arania International perlahan bergerak keluar dari area lobi gedung, hendak menuju jalan raya. Di balik kaca jendela yang gelap, Rendra bisa melihat siluet Rania yang duduk anggun di kursi penumpang bagian belakang.
Tanpa memikirkan keselamatan nyawanya lagi, Rendra langsung berlari kencang memotong jalur lambat dan melemparkan tubuhnya tepat di depan moncong mobil mewah tersebut.
Ciiieeettt!
Ban mobil berdecit keras di atas aspal panas, berhenti hanya beberapa sentimeter dari lutut Rendra. Supir pribadi Rania langsung membuka kaca jendela dengan wajah geram. "Hei! Cari mati kamu, ya?! Minggir!"
Namun, Rendra tidak memedulikan makian itu. Plokk! Kedua lututnya langsung menghantam aspal yang membara tanpa alas apa pun. Rendra berlutut, menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya yang sesak, dan menatap lurus ke arah kaca mobil bagian belakang.
"Nia... Rania... Tolong turun, Nia! Aku mohon... Tolong dengarkan aku sebentar saja!" teriak Rendra dengan suara yang parau, air matanya seketika tumpah bercampur dengan bulir keringat yang mengucur deras di wajahnya yang kusam.
Di dalam mobil yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan, Rania menatap sosok pria yang berlutut di depan mobilnya dengan pandangan yang bener-bener datar dan kosong. Tidak ada sedikit pun rasa terkejut, amarah, apalagi rasa iba di matanya. Elang Danuarta yang duduk di samping Rania mengernyitkan dahi, menatap pria di luar sana dengan pandangan dingin. "Rania, mau aku suruh sekuriti menyeret pria itu?"
"Tidak perlu, Elang. Biar aku yang menyelesaikannya," jawab Rania dengan suara yang sangat tenang dan berkelas.
Rania perlahan menekan tombol di pintu mobil, membuat kaca jendela bagian belakang turun setengahnya secara perlahan. Angin dingin dari dalam mobil menguar keluar, bener-bener kontras dengan hawa panas jalanan yang membakar tubuh Rendra.
Begitu melihat kaca mobil terbuka dan menampilkan wajah cantik mantan istrinya, Rendra langsung merangkak maju di atas aspal panas, mencoba meraih pintu mobil dengan tangan tua nya yang kini penuh kapalan.
"Nia... aku mohon sama kamu... Tolong cabut laporan polisi untuk Ibu," ratap Rendra dengan napas yang memburu, bener-bener sebuah pemandangan yang menyedihkan. "Ibu sudah tua, Nia... Ibu sudah sakit-sakitan, jantungnya lemah dan darah tingginya sering kambuh. Ibu benar-benar tidak akan kuat kalau harus tidur di lantai sel tahanan yang dingin itu. Mas tahu Ibu salah, Mas tahu keluarga Mas dulu berdosa besar sama kamu... Tapi Mas mohon, Nia, demi hubungan kita di masa lalu, tolong bebaskan Ibu... Tolong..."
Rendra menangis tersedu-sedu di atas aspal, bersujud berkali-kali di samping ban mobil mewah Rania. Kalimat demi kalimat yang ia ucapkan bener-bener keluar dari rasa putus asa yang mendalam.
Namun, Rania yang mendengar ratapan itu justru merasa ingatan masa lalunya berputar kembali seperti sebuah film horor lama yang menyakitkan.
Pikiran Rania langsung melesat ke malam jahanam pukul satu dini hari. Malam di mana lantai marmer rumah mewah Rendra terasa begitu dingin menusuk tulang, sementara Rania harus lelah bergelut dengan kain pel dan air sabun yang menghitam untuk membersihkan sisa pesta kenaikan jabatan Rendra. Pesta di mana Rania dilarang keluar dari dapur hanya karena Rendra malu istrinya memakai daster dan berbau bawang.
Rania ingat betul bagaimana dadanya sesak ketika Abid—bocah empat tahun yang kamarnya disingkirkan ke ujung lorong sempit demi kamar luas tempat Tyas menyimpan koleksi tas mahalnya—mendadak kejang dengan tubuh sedemikian panas akibat serangan asma yang fatal. Rania ingat bagaimana histerisnya dia membuka pintu kamar utama, memohon bantuan Rendra yang justru sedang asyik melakukan panggilan video mesra dengan selingkuhannya, Gisela.
Dan apa yang dilakukan keluarga Rendra malam itu?
Tyas mencibir jijik karena takut virus penyakit Abid mengotori kamarnya yang disemprot parfum mahal. Ibu Ratna membentak dan mendorong bahunya, mengusir Rania karena dianggap mengganggu tidur Rendra yang ada rapat pagi. Dan yang paling membakar ingatan Rania... Rendra dengan tawa sinis nya menolak meminjamkan kunci mobil hanya karena takut jok mobilnya kotor terkena bau muntah anak kecil, lalu dengan sombong melemparkan dompet kulitnya hingga uang ratusan ribu berserakan di lantai, menyuruh Rania pergi naik taksi online sendiri di tengah badai hujan lebat.
Malam itu, Rania tidak sudi menyentuh sepeser pun uang dari Rendra. Malam itu, Rania berlari menembus hujan mendekap tubuh Abid yang mendingin hingga akhirnya diselamatkan oleh Elang. Dan malam itu pula, Rania bersumpah akan memastikan keluarga Rendra tidak akan lagi memiliki lantai untuk berpijak.
Kenangan berdarah itu benar-benar membuat sudut bibir Rania terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin, anggun, tapi mematikan.
Rania menatap lurus ke sepasang mata Rendra yang penuh dengan air mata penyesalan palsu. Tatapan Rania begitu tinggi, seolah sedang melihat remah-remah debu jalanan yang tidak berharga.
"Membebaskan ibumu karena dia sudah tua, sakit-sakitan, dan tidak kuat tidur di lantai sel yang dingin?" Rania mengulang kata-kata Rendra dengan nada suara yang sangat tenang, namun tajam menusuk ulu hati.
"Lalu bagaimana dengan Abid malam itu, Rendra? Dia masih berumur empat tahun, dia darah dagingmu sendiri, tubuhnya membara dan dia sedang bertaruh nyawa untuk satu tarikan napas di dalam pelukanku. Apakah ibumu, adikmu, atau bahkan kamu memikirkan kondisinya saat kalian mengusir kami ke tengah badai hujan?"
Rendra seketika membeku. Seluruh tubuhnya mendadak kaku seperti disengat listrik tegangan tinggi mendengar ucapan Rania. Lidahnya mendadak kelu, teringat betapa biadabnya kelakuan dirinya dan ibunya di masa lalu.
"N-Nia... Mas..."
"Kamu menolak meminjamkan kunci mobilmu malam itu karena kamu takut mobil mewahmu kotor terkena bau muntah anak kecil, Rendra," lanjut Rania, suaranya datar tanpa emosi, tapi memancarkan aura intimidasi yang luar biasa besar. "Kamu melemparkan dompet dan uangmu ke lantai seolah aku ini pengemis. Jadi sekarang... jangan harap aku mau mengotori hukum dan tangan perusahaan ku hanya untuk mengurusi urusan sampah dari keluargamu."
Setelah mengatakan hal itu, Rania perlahan membuka tas jinjingnya yang seharga ratusan juta rupiah. Namun, bukannya mengambil dompet, Rania justru mengambil selembar uang pecahan lima puluh ribu rupiah kumal yang sengaja ia simpan di sudut tasnya.
Dengan gerakan tangan yang sangat anggun dan santai, Rania menjatuhkan lembaran uang kumal itu keluar jendela mobil, tepat mendarat di atas aspal panas di depan wajah Rendra yang masih berlutut bersujud.
"Dulu, kamu melempar uangmu karena merasa paling kaya dan berkuasa. Hari ini, aku kembalikan uang ini untukmu," ucap Rania dengan nada meremehkan yang benar-benar telak. "Ambil uang itu. Gunakan uang itu untuk ongkos naik angkot menuju kantor polisi. Belikan ibumu obat generik di sana."
"Nia! Jangan, Nia! Mas mohon! Mas menyesal, Niaaa!" jerit Rendra histeris, tangannya mencoba menggapai pintu mobil dengan sisa harga diri yang hancur lebur.
"Pak Joko, jalan sekarang. Jangan biarkan sampah menghalangi jalan kita," perintah Rania dingin tanpa menoleh lagi.
Sreeet!
Kaca mobil mewah itu kembali tertutup rapat, memutus seluruh akses suara dari luar. Supir pribadi Rania langsung menginjak pedal gas dengan mantap. Mobil sedan hitam mewah itu melaju kencang membelah jalan raya Sudirman, meninggalkan Rendra yang terjerembap ke depan akibat dorongan angin mobil.
Rendra jatuh tersungkur dengan wajah nyaris menghantam aspal yang membara. Telapak tangannya lecet, melepuh, dan mulai berdarah menahan berat tubuhnya yang remuk. Di depannya, selembar uang lima puluh ribu rupiah pemberian Rania bergerak perlahan tertiup angin jalanan, benar-benar sebuah penghinaan tertinggi yang menguliti habis sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang laki-laki yang dulu begitu congkak.
Rendra mencengkeram aspal dengan kuku-kukunya hingga berdarah. Air matanya menetes deras, membasahi lembaran uang kertas di depannya. Janji Rania di masa lalu kini terbukti nyata. Rania telah mengambil seluruh kemewahan mereka, dan hari ini, Rendra tidak lagi memiliki lantai tempatnya berpijak selain aspal jalanan yang membakar tubuhnya.
Rasa penyesalan yang teramat dalam dan berdarah-darah kini meremukkan seluruh batin Rendra. Karma telah berputar dengan sangat sempurna, mengembalikan rasa sakit, penghinaan, dan ketidakberdayaan yang dulu ia berikan kepada Rania, kini berbalik menghantam dirinya seratus kali lipat lebih menyakitkan tanpa ada kata maaf.
pst dapat cap pelakor😄🤭