Kehidupan Milly yang tenang di sebuah kota kecil, Glenmore, perlahan mulai berubah menjadi mencekam. Perburuan demi perburuan mengejarnya. Ia harus lari, sejauh mungkin dari rumah, menjauhkan dari nenek Dorothy. Nenek yang mengadopsinya dari panti asuhan.
Pelarian demi pelarian membawanya ke sebuah misteri hidup yang selama ini ia pertanyakan. Siapa dirinya? Darimana asalnya? Kenapa ia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang sekitarnya? Mengapa mereka mengejarnya?
Akankah takdir akan membawa Milly menemukan jawaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Kebenaran Di Balik Sakit Tak Terhankan
Hari belum terang ketika Milly terbangun karena kesakitan. Saking sakitnya ia tak tahan tak berteriak. Ia mengerang berulangkali hingga akhirnya pingsan lagi.
Wayne ikut terbangun karenanya. Ia berlutut di samping Milly sambil menggenggam salah satu tangan Milly. Lagi-lagi katanya, "Tahan."
Pagi itu, Dokter Hani segera diundang datang memeriksa kondisi Milly. Wayne menceritakan apa saja yang terjadi pada Milly semalaman.
Dokter Hani mendesah berat sebelum katanya, "Malam ini jika ia bisa melewatinya, segel penglihatnya akan terbuka."
Wayne menatap Milly dari kejauhan. "Andai tidak bisa?" tanyanya serius.
"Sakitnya akan makin parah dari hari ke hari, sangat menyiksa sampai kesempatan lain datang lagi," beritahu Dokter Hani sungguh-sungguh.
"Tidak adakah cara lain?" tanya Wayne mencari kemungkinan lainnya.
Dokter Hani menggeleng. "Ini satu-satunya cara yang harus dilaluinya, cepat atau lambat, sama saja."
Wayne menghela berat. "Ia sangat kesakitan dok," ujarnya sendu seolah ikut juga merasakan.
Dokter Hani menepuk pundak Wayne dua kali.
"Kau harus kuat," ujarnya menghibur.
Kepala Wayne makin menunduk mendengarnya. Sudah tidak ada pilihan buat Milly--batinnya. Ini konsekuensi yang harus ditanggung Milly. Sayangnya, kenapa konsekuensi ini datangnya tidak pada waktu yang tepat saat Milly benar-benar sudah siap.
"Bangunkan dia Wayne," tegas Dokter Hani. "Aku tidak akan memberikan gadis ini infus, dia harus bangun dan makan dari piring, lalu minum obat," imbuh Dokter Hani menerangkan.
Wayne menatap Milly lalu mendekati ranjangnya. Ia mengembalikan helaian rambut Milly yang menutupi muka. Bisiknya kemudian, "Bangun.. Milly bangun."
Karena belum bangun juga, Wayne perlahan menggerakkan badan Milly dalam posisi duduk lalu sekali lagi bisiknya, "Bangun Milly."
Samar-samar dalam tidurnya Milly mendengar suara Wayne. Ia membuka kelopak matanya yang masih berat. "Wayne," ujarnya yang masih mengantuk.
"Bagaimana keadaanmu nona?" tanya Dokter Hani yang berjalan dengan langkah lebar mendekati Milly.
Mendengar suara lain di ruangan, kesadaran Milly segera terkumpul. Matanya lebih membuka lebar.
Dokter Hani duduk di samping ranjangnya lalu memeriksa denyut nadi Milly. Ia kemudian mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Milly kembali.
"Punggungnya masih sakit?" tanya Dokter Hani.
Milly hanya mengangguk.
Dokter Hani menyibak selimut Milly lalu melepas perban dan penyangga kaki Milly yang cidera parah. "Sudah bisa digerakkan?" tanyanya lagi.
Milly tak memberi respon. Ia menatap dokter yang ada di depannya lalu mengalihkan pandangannya ke kakinya sendiri.
"Coba digerakkan," kata Dokter Hani memberi instruksi.
Perlahan Milly menggeser kakinya turun ke bawah ranjang. Telapak kedua kakinya kini sudah menyentuh lantai.
Wayne masih menopang tubuhnya. Ia membantu Milly berdiri di atas kedua kakinya.
"Jalan," perintah Dokter Hani lagi.
Milly mencoba menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah. Tapi kakinya masih kaku. Ia bukannya berjalan malah jatuh terduduk di lantai.
Wayne kaget. Ia segera memapah Milly kembali duduk di ranjang.
"Coba lagi," kata Dokter Hani sesudah memeriksa kaki Milly dan mengoleskan salep lain yang dikeluarkan dari dalam tas dokternya.
Milly menurut. Wayne membantunya berdiri dan menopang berat tubuhnya sebagian.
"Jalan."
Milly sekali lagi menggerakkan kakinya. Kali ini setidaknya ia sudah bisa mengambil langkah pertama kedua dan seterusnya meski sangat lambat.
Wayne tidak lagi menopang tubuhnya. Ia sudah dilepas dan bisa jalan sendiri.
"Bagus," ujar Dokter Hani memuji. Ia menghentikan langkah Milly. Ia memeriksa punggung Milly dengan menekan lembut beberapa titik.
Milly pamit ke kamar mandi sebentar untuk cuci muka dan sikat gigi.
Dokter Hani mengiyakan. Ia kemudian berbicara dengan Wayne yang masih berdiri di ruangan itu.
"Kondisi badannya membaik lebih cepat dari seharusnya. Bisa jadi ini pengaruh dari cahaya penglihatnya semalam," beritahu Dokter Hani tanpa menyembunyikan.
"Segera minumkan obatnya," perintah Dokter Hani.
Wayne mengangguk mengerti. Begitu Milly keluar dari kamar mandi, ia meminta bibi menyiapkan makanan di meja.
"Dok, boleh saya bertanya?" ujar Milly sembari duduk di meja makan.
Wayne juga mengundang Dokter Hani makan bersama mereka berdua pagi itu.
Dokter Hani tersenyum mengiyakan.
"Saya ingin tahu apa penyebabnya. Kenapa badan saya kemarin panas seperti terbakar dan kepala saya sakit luar biasa tak tertahankan," tanya Milly mencari tahu.
Wayne terbatuk mendengar pertanyaan ini.
Dokter Hani hanya tersenyum. "Aku akan mengatakan kebenarannya padamu."
"Kebenaran??" ulang Milly mengernyit.
Lagi-lagi dokter Hani tersenyum.
"Ada sebuah segel dalam dirimu. Segel ini akan terbuka."
"Segel??" ulang Milly tambah makin tak mengerti.
"Sebelumnya bukankah kau pernah mengalami sakit yang sama?" Dokter Hani bukannya menjawab malah bertanya.
Milly mengiyakan. "Tapi sakitnya tidak separah kemarin," katanya mengimbuhkan.
"Obatnya yang seharusnya kau minum, apakah sudah kau minum?" timpal Dokter Hani menanyakan pertanyaan retoris yang seakan tidak perlu jawaban.
Milly menggeleng penuh penyesalan.
Dokter Hani mengerjakan mata. "Itu sebabnya sakitnya kali ini makin intens dan bertambah levelnya."
Kedua bola mata Milly membulat. Shock.
"Ini konsekuensi yang harus kau tanggung karena lalai meminum obatmu sebelumya," beritahu Dokter Hani tenang.
JEDA.
"Tapi bukan berarti ketika kemarin kau patuh dan tertib minum obat maka penderitaan saat ini yang harus kau tanggung tidak akan pernah kau alami," tambahnya.
"Maksud dokter?" Milly benar-benar dibuat bingung.
Dokter Hani mendesah berat.
"Bagaimanapun akan tiba waktunya segel pada dirimu terbuka. Cepat atau lambat. Saat segel itu akan terbuka sakitnya tidak main. Kau harus bertahan dan melewatinya," jelas Dokter Hani pelan supaya Milly bisa mencerna setiap perkataannya.
"Ini segel apa? Kenapa harus disegel?" tanya Milly menuntut jawaban.
"Segel Sang Penglihat," beritahu Dokter Hani.
Wayne sudah menahan nafas di tempat duduknya. Sedari tadi ia mengamati perubahan mimik wajah Milly saat menanyakan pertanyaan krusial tentang sakitnya pada Dokter Hani. Namun yang tidak ia duga Dokter Hani tidak menutupi fakta segel Sang Penglihat yang ada pada diri Milly, malah membeberkannya.
"Segel Sang Penglihat??" ulang Milly mengingat.
"Banyak yang mencari dan memburu keturunan Sang Penglihat. Karena itu sebelum kau siap menanggung tanggung jawab yang besar, jauh lebih baik karunia mu disegel," tegas Dokter Hani tanpa basa-basi.
"Kenapa mereka memburuku?" tanya Milly mengingat akhir-akhir ini ia banyak dikejar oleh bayangan hitam.
"Kau akan tahu seiring datangnya kembali karunia Sang Penglihat mu," ujar Dokter Hani menyisakan ruang misteri untuk ditemukan Milly sendiri.
Kepala Milly tiba-tiba berdenyut lagi. Sakit.
"Minumkan obatnya!" perintah Dokter Hani.
Wayne berlari mengambil obat Milly yang ada di kamar. Ia mengisi penuh gelas Milly dengan air dan memasukkan dua kapsul langsung ke mulut Milly.
Milly meneguk habis isi gelasnya. Ia menelan obatnya. Ia tak jadi makan dan memilih kembali ke ranjang untuk beristirahat.
***