Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Tuan, saya baru ingat ada urusan mendadak. Biar Nona Meng menemani Anda di sini,” ujar Marcus, lalu tanpa menunggu jawaban, ia langsung beranjak keluar meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup.
Ruangan menjadi lebih sunyi.
“Nona, kau perawat di sini?” tanya Nathan dengan suara tenang.
Liora yang sudah mendekat ke samping ranjang menggeleng pelan. “Sebenarnya bukan. Tapi rumah sakit kami kekurangan tenaga medis, jadi aku hanya membantu,” jawabnya sambil meletakkan baki berisi alat di meja kecil.
Ia mulai bekerja.
Tangannya terampil membuka kancing baju pasien yang dikenakan Nathan, lalu perlahan membuka perban yang melilit di perutnya.
Sementara itu...
Nathan hanya menatapnya.
Diam.
Tatapannya tidak lepas dari wajah gadis yang kini sedikit menunduk fokus pada pekerjaannya.
"Calista… andaikan kau masih mengenalku…" batinnya.
Liora tidak menyadari tatapan itu. Ia melanjutkan tugasnya, membersihkan luka, lalu mengoleskan obat dengan hati-hati.
“Luka tembak ini baru saja dijahit ulang,” ujarnya tenang. “Jangan banyak bergerak lagi.”
Tangannya tetap stabil saat mengganti perban.
“Anda beruntung semalam cepat dibawa ke sini. Kalau terlambat… belum tentu hasilnya sama,” lanjutnya.
Suasana kembali hening.
Hanya ada suara napas dan gerakan pelan tangan Liora yang merawat luka itu.
Sementara Nathan masih menatapnya tanpa berpaling.
Gerakan tangan Liora rapi dan tenang saat membalut luka itu, seolah ia sudah sangat terbiasa. Cara mengikat perban, tekanan tangannya, semuanya terasa begitu dikenal.
“Sudah selesai,” ucap Liora pelan.
Ia hendak menarik tangannya.
Namun tiba-tiba...
Nathan menahan pergelangan tangannya.
Liora sedikit terkejut. “Ada apa?”
Nathan tidak menjawab.
Tatapannya menahan wajah Liora, dalam dan tajam, seolah memastikan sesuatu yang sudah lama ia cari.
Beberapa detik berlalu.
Lalu perlahan, ia melepaskan tangannya. “Tidak apa-apa,” ucapnya singkat.
Liora tidak bertanya lagi. Ia merapikan alat-alatnya dengan tenang.
“Jangan banyak bergerak. Luka Anda belum sepenuhnya pulih,” katanya datar.
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.
Nathan masih menatapnya.
Tidak berkedip.
Pintu tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Nathan menurunkan pandangannya, lalu mengepalkan tangan perlahan.
“Calista…” gumamnya lirih.
Sementara di luar..
Liora berjalan seperti biasa di koridor, tanpa menoleh kembali.
“Aku sangat yakin dia adalah pria yang aku selamatkan beberapa hari lalu. Siapa dia… dan kenapa jahitannya bisa terbuka sampai hampir tewas?” gumam Liora pelan sambil berjalan di koridor.
Langkahnya terhenti.
Suara televisi di sudut ruangan menarik perhatiannya.
Sebuah berita sedang ditayangkan.
'Nathan Han, ketua organisasi Han Group, kembali menjadi sorotan."
Liora menoleh.
Di layar terpampang jelas sebuah foto.
Wajah yang sama.
Pria yang baru saja ia rawat.
Napas Liora sedikit tertahan.
Matanya terpaku pada layar.
“Dia…” bisiknya pelan.
“—Nathan Han, ketua Han Group, saat ini tengah menjalankan proyek besar bersama sejumlah investor ternama—” ujar pembawa berita dengan suara profesional.
Di layar, terlihat sosok Nathan dengan setelan rapi, berdiri di tengah para pebisnis.
“—Proyek tersebut diperkirakan akan memberikan dampak besar bagi perkembangan ekonomi, khususnya di sektor industri dan infrastruktur—”
Gambar berganti.
Menampilkan beberapa wilayah perdesaan.
“—Tidak hanya fokus pada bisnis, Nathan Han juga diketahui aktif menyalurkan dana bantuan untuk pengembangan perdesaan, termasuk pembangunan fasilitas kesehatan dan pendidikan—”
Suasana berita tetap tenang.
Namun nama itu perlahan mulai menarik perhatian banyak orang.
Di layar, wajah Nathan tampil jelas dengan setelan rapi dan sikap tenang.
Beberapa perawat yang sedang lewat tanpa sadar memperlambat langkah.
“Wah… tampan sekali,” bisik salah satu perawat pelan.
“Bukan cuma tampan, dia juga kaya dan berpengaruh,” sahut yang lain.
Seorang pengunjung ikut menoleh ke layar. “Aku pernah dengar namanya. Katanya dia jarang muncul di publik, tapi sekali muncul langsung jadi perhatian.”
“Dermawan juga…” gumam seorang wanita paruh baya.
“Kalau dapat pria seperti itu, hidup sudah aman,” celetuk perawat lain setengah bercanda.
Beberapa orang tersenyum, mata mereka masih tertuju pada layar.
Nama Nathan Han, bukan hanya dikenal karena kekuasaan.
Tapi juga karena pesona yang sulit diabaikan.
“Ternyata dia adalah ketua organisasi… pantas saja jadi incaran,” gumam Liora pelan.
Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya.
Sesak.
Datang tiba-tiba.
“Ada apa… kenapa perasaanku tiba-tiba sedih dan ingin menangis…” bisiknya lirih.
Ia menarik napas dalam, mencoba mengabaikannya.
Namun rasa itu tidak benar-benar hilang.
***
Malam hari.
Liora tertidur di ruang istirahat, tubuhnya meringkuk di atas sofa.
Lampu redup.
Suasana sunyi.
Namun tidurnya tidak tenang.
Keningnya berkerut.
Keringat mulai membasahi wajahnya. Dalam mimpinya...seorang pria berdiri tidak jauh darinya.
Sosoknya samar.
Namun terasa begitu dekat.
“Calista…”
Suara itu memanggil.
Liora mengernyit.
Nama itu terdengar asing.
Tapi juga… tidak.
Tiba-tiba... semuanya berubah.
Gelap.
Dingin.
Tubuhnya terasa berat.
Ia tenggelam.
Air laut menutup pandangannya. Napasnya tercekat. Kesadarannya perlahan hilang.
“Calista…!”
Suara itu kembali terdengar.
Lebih jauh. Namun jelas.
Tubuh Liora tersentak.
Napasnya memburu.
Matanya belum terbuka.
Jantungnya berdegup keras.
Seolah mimpi itu bukan sekadar mimpi. Liora tersentak bangun.
Napasnya memburu.
Dada naik turun dengan cepat, seolah baru saja kehabisan udara.
Keringat membasahi pelipisnya.
Matanya terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit-langit ruang istirahat.
Beberapa detik ia hanya diam.
Tangannya perlahan terangkat, menyentuh lehernya sendiri, seolah memastikan ia benar-benar bisa bernapas.
“Calista…” bisiknya pelan.
Nama itu kembali terucap tanpa sadar.
Alisnya berkerut.
“Apa maksudnya…”
Ia duduk perlahan, punggungnya bersandar ke sofa.“Siapa… sebenarnya aku…”
"Apakah namaku adalah Calista?" gumamnya
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???