menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Rupanya elu cowok yang suka godain istri orang!" katanya.
Ternyata benar. Cowok ini adalah suaminya dari si Jule.
"Istri orang? Emang siapa istri lu yang harus gue goda?" jawabku kesal. Aku gak boleh takut. Karena emang aku gak pernah godain Jule. Jule menawarkan jasa, lalu apa salahnya jika aku menyewanya?
"Lu inget ini?" Dia menunjukkan bukti transfer atas namaku.
"Istri gue Juleha. Karena elu ngasih duit ke dia, jadi dia sekarang gak pernah pulang ke rumah," ucapnya lagi.
"Hei!!! Lu tahu, gue transfer dia karena dia menawarkan jasa? Istri lu jadi LC apa lu gak tahu? Lagian itu kejadian sudah lama. Dan sekarang aku wes duwe bojo!" teriakku emosi.
Tapi rupanya dia tak kalah emosi juga. Dia meraih kerahku dengan paksa. Kurang ajar banget, pikirku. Aku hanya berharap Azzahra tak mendengar apapun.
"Balekno bojoku! Lu simpan di mana bojoku? Haa!!" teriaknya.
Tanpa ku ketahui. Rupanya Azzahra sudah berdiri di belakangku.
"Mas ada apa ini?" tanyanya bingung.
"Oh! Ternyata ini bojomu, bercadar pula!" ejeknya sambil terkekeh.
Ku pukul pelan tangannya hingga melepaskan kerahku.
"Dik!" panggilku pada istriku.
"Eh Mbak! Bojomu iki bejat. Wonge bawa kabur bojoku. Transfer uang pula," ucapnya merubah sebuah fakta.
"Apa?!!!" Azzahra terkejut bukan main.
"Apa itu benar Mas?" tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Enggak Dik. Gak bener!" jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lalu apa ini Mas?" Air matanya jatuh tanpa ku minta.
Aku merasa bersalah padanya. Karena aku lupa janjiku untuk bercerita.
"Dik! Mas akan jelasin semuanya," kataku memohon.
"Percuma Mbak! Bukti transfer udah ada. Penjelasan apa yang akan suamimu katakan? Pasti semuanya bohong," ucap pria ini tanpa konfirmasi. Seenaknya dia berkata seperti itu untuk merusak rumah tanggaku.
"Tutup mulut lu!" teriakku emosi.
"Kelakuan bojomu gak jelas, kenapa malah nyalahin orang lain? Harusnya lu tahu, istri lu diluar sana gonta ganti cowok!" Aku kembali emosi. Pria ini gak bisa diajak bicara baik-baik.
"Dik! Percaya sama Mas. Kejadiannya sebelum mas kenal sama kamu Dik," jelasku sambil menatap Azzahra.
"Tenang! Tenang Bro!" ucapnya dengan berani.
Ku tatap dia dengan tajam. Berani sekali mengusik kemesraanku tadi. Aku tak akan memberinya ampun.
"Semuanya akan aman. Dan gue pasti tutup mulut soal bojoku. Tapi lu harus ngasih gue sesuatu," ucapnya pelan.
Saat itu, aku tak menyadari jika Azzahra sudah meninggalkanku.
"Apa?" tanyaku dengan males.
"Beri gue 5 juta. Semua kejadian ini akan aman, atau gue bakal viralin. Biar semua orang tahu. Bahkan keluarga lu, keluarga istri lu, karyawan lu. Bagaimana jika dia tahu kelakuan buruk lu itu?" ucapnya sedikit mengancam.
Dari sini aku mulai paham. Ternyata suami si Jule mau memerasku.
"Oh, lu mau meres gue? Bagus! Kalau gitu, biar gue telponin polisi. Selain pencemaran nama baik, lu juga mengancam gue jika gue gak ngasih lu duit." Aku berhenti sejenak.
"Oke. Masalah ini akan gue selesaiin di kantor polisi," jawabku dengan tenang.
"Ah jangan Bro! Gue cuma bercanda. Jangan bawa-bawa kantor polisi!" jawabnya. Dia terlihat agak ketakutan.
"Kenapa? Gue punya duit. Dan gue gak suka dituduh yang macem-macem. Istri lu yang menjajakan diri. Gue cuma sewa dia tanpa gue apa-apain. Ada saksi mata juga, jadi gue kira gue bakalan menang jika di adu di pengadilan!" Ku jelaskan ke pria ini.
"Gak Bro! Urusan ini selesai di sini aja. Bini gue emang agak nakal orangnya. Sorry ya Bro! Gue pulang dulu!" Dia langsung ngacir begitu saja.
Kurang ajar emang. Lalu Azzahra mana?
Aku terkejut saat Azzahra sudah tak berada di tempatnya lagi.
"Dik?"
"Dik?"
"Dik Azzah?"
Sudah berkali-kali ku panggil. Ternyata Azzahra keluar kamar dengan kopernya.
"Dik, mau kemana?" tanyaku sambil menghalangi jalan kopernya.
"Azzah mau nenangin diri dulu!" katanya dengan dingin. Hanya terlihat matanya yang sembab.
"Maafin Mas Dik. Sungguh! Mas bisa jelasin semuanya. Pria tadi cuma ingin menjebak Mas. Dia mau meras duit Mas dengan bukti palsu," jelasku lagi.
Azzahra terlihat tetap ingin pergi.
"Dik udah malam?" cegahku lagi.
"Banyak taksi online," jawabnya datar.
"Kamu gak kasihan sama pernikahan kita Dik?" ucapku mengingatkan. Siapa tahu, Azzahra akan luluh.
"Mas yang gak kasihan. Kenapa Mas sampai kena kasus seperti tadi?" tanyanya seraya kaget dengan kelakuanku yang lebih bejat.
"Mas pasti akan jelasin. Mas janji, besok mas akan jelasin semuanya. Dan ini semua gak seperti yang kamu kira. Dalam riwayat mas, mas gak pernah bawa kabur cewek. Percaya sama Mas. Mas mohon," ucapku sambil meraih tangannya.
Dia menarik tangannya sambil menatapku sekilas.
"Ku mohon Dik. Jangan pergi kemana-mana ya? Sudah hampir larut juga sekarang."
"Oh ya, Mas akan tidur di sini. Di ruang tamu. Dan kamu, tidurlah di kamar. Mas gak akan ganggu kamu malam ini," jelasku.
Dia hendak mendorong kopernya lagi. Namun segera ku tahan.
"Dik...," mohonku sekali lagi padanya. Hatiku akan hancur jika Azzahra meninggalkanku. Padahal baru beberapa menit yang lalu kami hampir bulan madu. Gara-gara pria gak berguna ini, hubunganku jadi kacau sekarang.
Terlihat Azzahra seperti berfikir sesuatu.
"Eh, iki kok enek wong cadaran. Tinggal di mana mbak?" Ibu warung bertanya pada Azzahra.
"Oh ini, di depan Buk," jawab Azzah jujur.
Namun tak lama kemudian, teman pemilik warung itu terlihat bisik-bisik.
"Ngati-ngati Mbakyu. Sak iki awak dewe punya tetangga yang beda aliran."
"Hooh. Aku yo takut lek koyok nek tv-tv ngunu kae."
"Terus punya hubungan apa sama nak Mustafa?" tanya penjaga warung pada Azzahra.
"Saya istrinya Buk," jawab Azzahra sambil menerima orderannya tadi.
"Oh Mustafa. Joko tua, ganteng, kaya, gak pernah bawa perempuan di rumahnya. Jika aku punya anak perempuan, pasti udah ku jodohin sama dia."
Dan akhirnya dia mengangguk kecil. Entah apa yang Azzahra pikirkan tadi. Kini dia mendorong kembali kopernya ke kamar. Hatiku sedikit lega melihatnya.
"Azzah tunggu penjelasan dari Mas," katanya sebelum meninggalkanku masuk ke kamar.
"Iya Dik. Besok Mas akan jelasin soal ini," jawabku dengan mantap.
Aku sangat kesal. Ku tonjok dinding ruang tamu hingga tanganku mengeluarkan sedikit darah. Perih ini tak sebanding dengan luka di hatiku. Aku pastikan suami Jule akan jera di kemudian hari. Aku akan polisikan dia kalau perlu.
Dan sekarang, bukti dan penjelasan yang harus ku persiapkan untuk Azzahra. Yaitu menelepon Joy.
"Ya Joy. Aku harus menghubunginya sekarang!"
Lupa kalau ponselku ada di dalam kamar. Terus gimana ini? Bukankah aku udah berjanji gak akan ganggu dia malam ini?
"Argh! Gak masalah deh,, aku bisa telpon Joy besok pagi," gumamku.
Dan kini aku merebahkan diri di kursi panjang. Dingin sekali malam ini. Harusnya jadi momen yang indah. Tapi kenapa jadi kayak gini?
Ya Allah, sakit sekali rasanya ini.
Bersambung...