🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML025~ Identitas Axan
Mata Alena memancarkan keterkejutan, langkah kakinya kembali melangkah sosok pria yang sedang berbincang dengan Bu Ajeng di pintu utama.
"Kak," panggilnya.
Panggilan Alena mengalihkan perhatian Pak Alex dan bu Ajeng.
"Alena?"
Bu Ajeng berjalan menuju Alena.
"Alena, kamu datang?" tanya Bu Ajeng yang dijawab anggukan.
"Bu Ajeng kemana aja? Katanya sakit?"
"Iya, biasalah penyakit tua."
"Kak Alex ngapain disini?" tanya Alena.
"Kalian berdua saling kenal ya?" tanya Bu Ajeng.
Pak Alex dan Alena mengangguk bersamaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bu Ajeng kembali beristirahat di kamarnya, Pak Alex dan Alena sedang duduk di taman depan.
"Jadi Kak Alex kesini ngapain?" tanya Alena.
"Axan bukan darah dagingku, aku pernah bilang itu padamu."
Alena sadar sesuatu.
"Axan... Kak Alex adopsi Axan? Axan dari panti ini?" tanya Alena memastikan apa yang ada di pikirannya saat ini.
Siapa sangka Pak Alex mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Alena. Sungguh Alena terkejut, ia mengira Axan adalah anak Pak Alex sebab memiliki beberapa kemiripan, siapa sangka Axan adalah anak yang diadopsi dari panti ini.
"Ini alasan Kak Alex nggak pernah kasih tau kayak apa Ibunya Axan?" tanya Alena lagi, Pak Alex mengangguk.
Alena menghitung usia Axan, ia teringat perkataan Ayu bahwa 7 tahun lalu ada bayi di panti ini, bayi itu adalah bayi terakhir sebelum seminggu lalu ada bayi yang ditelantarkan lagi di depan panti dan sudah di adopsi orang lain.
"Tujuh tahun lalu?"
"Iya, usianya sama seperti Ziya."
Pak Alex menghela napas mengingat hari itu. Setelah lama pindah ke luar kota, ia masih saja merindukan Alena. Rasanya tak rela meninggalkan kota yang ditinggali pujaan hatinya. Lelah disiksa rindu dan hanya bisa bertemu dalam khayalan, Pak Alex memutuskan pergi ke kota itu lagi dan menuju Panti Asuhan yang kerap dikunjungi Alena. Ia mencari sesuatu yang akan membuatnya ingat dengan Alena, ia akan tersiksa namun ia menyukainya.
7 tahun yang lalu...
'Tak tak tak' suara sepatu yang beradu dengan lantai. Pak Alex berjalan lurus disebuah koridor bernuansa putih, badan tegapnya menambah kesan tampan saat ia berjalan.
Dibelakangnya, seorang pria bertubuh tegap dengan tinggi dibawah Pak Alex berjalan mengekor dibelakang Pak Alex, tangan kanannya memegang tas hitam yang biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen dan semacamnya.
Sedangkan pak Alex sendiri kedua tangannya sudah dipenuhi badan mungil milik seorang bayi kecil nan menggemaskan, bayi itu terlelap dalam gendongan Pak Alex, seorang bayi laki-laki dengan paras tampan dengan hidung mancung, rambut hitam tebal dan bentuk bibir yang serasi dengan bentuk wajahnya.
Pak Alex baru saja selesai mengurus administrasi untuk mengadopsi Axan, saat ini hanya tersisa satu bayi yang masih merah di panti, baginya ini sebuah kebetulan yang bagus, usia anak ini pasti tidak akan berbeda jauh dengan anak Alena nantinya.
Dengan tegas Pak Alex meminta Bu Ajeng agar tidak membocorkan kepada siapapun tentang identitas dirinya yang mengadopsi Axan, termasuk orang tua kandungnya sekalipun tidak akan diizinkan mengusik.
Baginya biarlah Axan menjadi bagian hidupnya, anak yang akan mengingatkan dirinya pada Alena.
"Orang yang sudah membuangmu disini tidak berhak mengusikmu, kedepannya kau akan menjadi anakku, jika kau menanyakan Ibu, kuharap aku bisa mengabulkannya segera. Semoga kita ditakdirkan akan kembali ke kota ini lagi." bisik Pak Alex di telinga Axan.
Pak Alex masuk ke dalam mobil diikuti pria yang mengekorinya tadi, tangannya tidak melepaskan bayi digendongannya.
"Axan Leovan, itu namamu." ucap Pak Alex sembari menatap dalam bayi yang baru saja dinamai Axan itu.
"Selamat, Tuan." ucap Supir yang sudah siap di kursi kemudi.
"Nama yang bagus, Tuan." puji pria satunya.
"Ya, terima kasih."
"Kedepannya aku akan memanggilnya... Xan."
Pak Alex mengusap rambutnya setelah mengingat masa-masa itu, tidak disangka Tuhan benar mengabulkan harapannya, kini ia sudah kembali ke kota ini bersama dengan Axan, bertambah pula bahagianya saat melihat ada kesempatan mendapatkan apa yang harusnya ia dapatkan 18 tahun lalu.
Alena mengangguk paham mengapa Pak Alex belum mengatakan siapa Ibu Axan, di satu sisi Pak Alex belum siap melihat Axan terluka setelah mengetahui bahwa dirinya bukan anak kandung Ayahnya ini. Disisi lain Pak Alex memang belum memiliki pasangan yang bisa dikenalkan sebagai Ibu Axan.
"Jadi Kak Alex kesini ngapain?" Alena mengulangi pertanyaan di awal tadi.
"Aku dan Bu Ajeng sudah sepakat menyembunyikan identitasku dan Axan, tapi kemarin muncul seorang wanita mengaku sebagai Ibunya. Aku kemari untuk mengkonfirmasi hal ini dengan Bu Ajeng."
"Hasilnya gimana?"
Pak Alex memejamkan matanya sejenak.
"Bu Ajeng terpaksa mengingkari kesepakatan, memang ada seorang wanita yang kesini dan menanyakan terkait anaknya. Bu Ajeng juga membocorkan identiasku dan Axan, makanya saat itu dia bisa tahu nama Axan."
Alena memangku wajahnya.
"Harusnya dia nggak tau sama wajah Axan, kan?"
"Kami sempat berfoto dengan Bu Ajeng dan Ayu itu saat baru kembali ke kota ini, Bu Ajeng menunjukkan foto itu."
"Ini melanggar kesepakatan, Bu Ajeng pasti diancam sama perempuan itu." Alena sudah berburuk sangka, sebab ia mengenal Bu Ajeng yang bisa memegang janji.
"Perempuan itu berlutut semalaman disini, bahkan hujan pun tidak mengurungkan niatnya, Bu Ajeng luluh karena itu."
Alena menatap Pak Alex yang terlihat menahan emosi, tanpa direncanakan tangan Alena langsung menepuk pelan pundak Pak Alex.
"Tenang yaa, Kak Alex pasti nggak akan kehilangan Axan. Di badannya sudah ada bau tangan Kak Alex yang merawatnya dari kecil, dia nggak akan pergi segampang itu."
Mata Alena membulat ketika melihat mata Pak Alex memerah dan berkaca-kaca.
"Selama ini Axan kesepian dan selalu ingin tahu Ibunya, meski tanganku yang merawatnya... Tapi wanita itu yang melahirkannya."
Alena mengerti apa yang sedang dikhawatirkan Pak Alex, seorang anak pastilah memiliki tali batin yang masih terhubung dengan orang tua kandungnya.
"Jika Axan menolak wanita itu, aku bisa dengan mudah menyingkirkannya. Tapi kalau sebaliknya, aku khawatir akan kalah, Alena."
Pak Alex menggenggam tangan Alena, tangan besarnya itu bergetar.
"Aku sudah pernah kehilangan dirimu, kali ini aku tidak ingin kehilanganmu dan Axan." ucapnya lirih nyaris berbisik.
"Kak, kamu bercanda?" Alena melepas tangannya dari genggaman Pak Alex, ia tertawa pahit.
"Aku itu nggak pantes diperjuangin segitunya. Liat aku," Alena berdiri di depan Pak Alex.
"Aku cewek yang udah nolak Kak Alex, aku janda anak satu, dan Kak Alex tau aku pernah diapain sama anak buahnya Silvi 8 tahun lalu." Alena tersenyum meremehkan dirinya sendiri.
"Bahkan semua orang bakal ngehina kita berdua kalau sampek Kak Alex dapet aku, aku nggak mau Kak Alex dihina, Kak Alex pantesnya sama perempuan baik-baik." ucapnya sambil tersenyum pada Pak Alex yang masih bersedih.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin