NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Lima

"Biar aku saja yang gendong Aksara, Mbak." Pinta Narendra lembut, Aksara memang tertidur saat masih nonton film. "Berat deh ini si gembul." lanjut Narendra.

"Nggak papa kok, lama juga nggak gendong anak kecil, untung tadi bawa gendongan ya." jawabku pelan, mensyukuri ingatanku tentang Almeera yang juga selalu tertidur saat nonton film di bioskop dulu, seumuran Aksara gini. "Nanti kalau saya sudah capek, saya bilang kok biar gantian sama kamu, Ren." lanjut ku.

"Jadi sekarang kita apa, Ma? mau makan tapi adek masih bobok gitu." tanya putriku. "Sayang sudah lapar belum?" tanyaku, balik bertanya. "Belum kok, Mah. Tadi pas berangkat kita sudah ngemil buah kan. Jadi amaaan." Jawab putriku ceria. Hal yang paling aku syukuri setelah membiarkan Narendra masuk dalam kehidupan pribadi kami adalah senyum ceria dan wajah yang berseri seri putriku, matanya tidak. lagi tertekan. Wajahnya tidak lagi terlalu serius. Rileks dan ceria.

"Ya sudah, kita belanja dulu aja, Mbak. List belanjaan biar aku aja yang bawa." pinta Narendra kepadaku. Aku tersenyum, "Almeera tolong, Nak. Ambilan daftar belanjaan mama di tas sini." pintaku pada putriku, karena sulit dengan tubuh besar di gendongan ku ini.

Aku tersenyum malu sendiri, kebanyakan perempuan muda yang sedang nongkrong tidak malu malu memandang ke arah Narendra dengan pandangan yang terkagum kagum. Tentu saja begitu, wajah Narendra memang tidak bisa di bilang standar. Dia tampan, gagah juga. Apalagi memakai pakaian kasual seperti ini, tidak terlihat pria tua tiga puluhan.

Narendra cekatan sekali saat mengambil beberapa barang yang di butuhkan, sesekali bertanya padaku, atau ribut dengan putriku karena terlalu banyak mengambil mie instan yang menurut Narendra tidak baik untuk kesehatan Almeera.

"Tante?" bisik Aksara serak, khas bangun tidur. "Iya, Sudah bangun ya sayang." ucapku. "Aksara mau turun."

Aku menurunkan Aksara dari gendongan ku, "Tante capek?" tanya Aksara yang aku jawab dengan gelengan kepala. "Kakak di mana?" tanya Aksara lagi. Aku menuntun Aksara menuju tempat Narendra dan putriku, mereka berdua sedang memilih buah jambu kristal.

"Adek udah bangun? Sini deh, sama kakak." ajak Almeera sambil berjalan ke arah kami, aku dan Aksara. "Gandeng tangan kakak ya." titah Almeera, Aksara mengangguk antusias.

"Maa, Kita ke sebelah sana dulu ya, mama di area ini dulu." Pinta putriku, Aku mengangguk. "Hati hati lo, Adek baru bangun tidur soalnya."

"Mbak?"

"Iya, Ren?"

"Tadi mbak bilang soal Silvia gimana?"

Ah ya! Tadi aku sempat cerita soal pembicaraan ku dengan Silvia.

"Silvia nggak mau cerita sama aku tentang Sofia, Ren. Katanya biar kamu aja yang bilang sendiri."

Saat aku mengucapkan nama Sofia, tubuh Narendra yang semula baik baik saja, kini menegang. Wajahnya juga tidak seramah barusan.

"Ren, Are you oke?"

"Kita bahas nanti aja ya, Mbak. Eemm, soal mamanya Aksara.. Beliau sudah meninggal saat melahirkan Aksara mbak."

Aku yang merasa tidak enak dengan perubahan ekspresi Narendra kini jadi kaget, jadi mamanya Aksara juga sudah meninggal. Pantas tidak ada pembahasan ke situ.

"Kalau papanya, sibuk gitu. Workaholic banget, liburan sama Aksara paling bisa di hitung pakai jari dalam dua bulan. Jarang bisa ketemu sama Aksara."

Ah, menyedihkan.

"Jadi begitu, terus Aksara gimana?"

"Biasa aja sih, tahu papanya sibuk. Untung papanya Aksara nggak menjauhi Aksara gitu, jadi kalau lagi pulang ya waktunya untuk Aksara."

Aku mengangguk paham, kemudian kami berdua kembali saling berdiam diri. Aku dengan pikiranku dan juga sibuk memilih telur dan bahan makanan lainnya, Narendra sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

Hari ini kita selesai belanja kebutuhan bulanan terus makan Pizza, dan yang paling membuat aku tersentuh adalah komentar dari Aksara. Aksara lebih suka masakan rumah dari pada harus beli di luar. Sudah terlalu sering beli junk food jadinya ini anak bukannya kecanduan justru bosan.

Narendra sejak aku menyebut nama mantan istrinya, kini lebih berjarak. Tidak lagi iseng atau cerewet bahkan ceria. Saat perjalanan pulang, anak anak ketiduran karena terlalu capek, Narendra justru diam. Entahlah, minggu kemarin ternyata hanya sedikit dari sisi Narendra yang seperti ini.

"Langsung pulang, Ren?" tanyaku sedikit basa basi, rasanya ada yang kurang saat kita terbiasa dengan rengekan seseorang dan tiba-tiba dia cuek begitu saja. "Iya, mbak." Jawab Narendra singkat tanpa menatap ke arahku, sedangkan aku masih berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka karena Almeera masuk ke dalam terlebih dahulu. "Hati hati, Ren. Terima kasih." Lanjutku yang hanya di balas senyum singkat dan lambaian tangan sebelum Narendra masuk ke dalam mobil.

Padahal ini kali pertama aku lebih bersikap hangat dan juga berterima kasih. Tapi justru Narendra seperti enggan, lemas dan juga tidak ingin di ganggu. Wajahnya terlalu menunjukkan ingin mengabaikan segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Ini baru menyebut nama mantan istrinya, belum bercerita tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Pantas saja Silvia memilih untuk berharap dalam diam, benar apa yang di katakan oleh Silvia. Dia terlatih tidak berharap untuk di balas oleh Narendra meskipun hanya sekedar senyuman lepas ataupun tawa lepas dari Narendra.

Aku masuk ke dalam rumah, rencana hari ini kita bertiga, aku putriku dan Aksara akan tidur bersama di kamarku. "Sayang mandi dulu deh sana." Perintahku kepada Almeera yang sedang duduk di sofa. "Iya, Ma. Barang barangnya Aksara, Almeera pindah ke kamar mama ya." ucap putriku sambil berdiri. "Iya. Makasih sayang."

Aku duduk di atas sofa yang tadi menjadi tempat duduk Almeera, memandang wajah Aksara yang terlelap. Tentram dan tenang, aku selalu menikmati perasaan nyaman yang hadir saat memandang wajah anak anak tidur seperti ini.

"Mamaa." Bisik Aksara pelan, membuatku terkaget dan memeluk Aksara lebih erat. Mencium kening, pipi anak ini dengan lembut. Dulu, Almeera juga sering sekali mengigau seperti ini.

"Sayaang, bangun yuk. Ini sudah sampai rumah loo." Bisikku pelan. Mencoba membangunkan Aksara. Dia perlu membersihkan diri. "Heeeem." hanya suara dengusan dan tubuh yang bergerak.

Aku tertawa, entah mengapa ini begitu terasa lucu. "Aksara sayaang."

"Heeeem, sebentar lagi ya."

"Sudah sore lo, ayo mandi dulu. Kakak sudah mandi lo, nanti habis mandi bisa main lagi sama kakak."

"Iya, Tante. Tapi nunggu kantuk Aksara hilang sepenuhnya dulu ya."

"Siaap."

hahaha, aku tertawa kecil. Dan kembali mencium Aksara, Gemas. Meskipun begitu, tetap saja ada yang mengganjal di dalam hati. Ini tentang Narendra yang menurut aku jadi kehilangan semangat semenjak aku mengucapkan Nama itu, Sofia.

****

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!