Membaca novel ini bisa menyebabkan baper akut, kesel, geregetan, emosi tingkat tinggi, juga sedih karena mengandung banyak bawang yang juga bikin nyesek. Yang lemah hati lebih baik menyingkir. Takutnya nggak akan kuat. Tapi semua akan edan pada waktunya, eh salah, maksudnya akan manis pada waktunya. Jadi, bijaklah dalam memilih bacaan.
Ini adalah season kedua dari novel 'SUGAR'. Kini cerita beralih pada keturunan mereka, Dygta Hanindiita.
Dygta berusaha keras meredam perasaannya kepada Arfan, asisten dari ayah, sambungnya, sekaligus sahabat ibunya.
Usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat segalanya terasa semakin sulit. Terlebih lagi, status Arfan yang sudah beristri dan memiliki satu anak balita.
Namun tugas Arfan yang diberi tanggung jawab penuh oleh Satria untuk menjaga Dygta hingga gadis itu beranjak dewasa, membuat mereka berdua semakin dekat.
Keadaan istrinya yang koma pun menambah segalanya menjadi semakin rumit.
"Jangan gila Arfan! dia sudah seperti anakmu sendiri!"
follow author di
ig @tiyanapratama
fb FitTri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fireflies
*
*
"Cari dia!" Arfan mematikan sambungan telfon setelah memerima laporan dari pengawal yang dia tugaskan di area perkemahan.
Pria itu kemudian mengutak atik ponselnya, melihat nomor kontak Dygta yang aktif satu jam yang lalu. Dengan status terakhir sebuah gambar api unggun yang menyala.
Arfan melakukan panggilan telefon pada nomor gadis itu. Namun tidak tersambung.
"Mungkin sinyal ..." gumamnya ketika setelah beberapa kali percobaan masih tetap tidak tersambung.
Dia meletakkan ponsel miliknya di atas tempat tidur. Lalu duduk merebahakan punggungnya di sandaran sofa. Namun kemudian dia bangkit lagi. Kembali meraih ponselnya, lalu menyalakannya. Menyusup ke aplikasi ponsel milik Dygta.
Tidak ada aktivitas yang mencurigakan. Hanya beberapa foto bersama beberapa teman sekelas dan satu club pencinta alam lainnya. Juga beberapa foto bersama Vivian, dan Evan. Dengan posisi mereka bertiga yang saling berangkulan.
Arfan mengeratkan rahang dengan gigi yang bergemeletuk. Dadanya serasa bergemuruh panas.
*
*
Mereka tiba di puncak bukit setelah berjalan selama beberapa menit. Terdengar suara tawa ceria beberapa orang dari arah depan.
Evan memperlambat langkahnya ketika mereka keluar dari rerimbunan pohon pinus yang menjulang tinggi. Membiarkan Dygta yang memimpin langkahnya kini. Sambil terus berceloteh tentang ketakutan dan ke khawatirannya karena tidak pernah mendatangi tempat semacam ini sebelumnya.
Gadis itu mendongak.
Seketika dia berhenti bicara. Matanya membelalak dengan mulut menganga menatap pemandangan di depan.
"Apa ini?... ." ucap Dygta setelah terhenyak beberapa detik.
Sebuah area terbuka di atas bukit dengan rumput setinggi lutut orang dewasa. Dengan beberapa pohon yang tumbuh di sebagian tempatnya. Tempat itu tampak menyala akibat dari serangga malam yang mulai beterbangan diatasi rumput.
"Welcome ..." ucap Evan, dengan mengulum senyum. Hatinya seketika menghangat menatap senyum takjub yang tersungging di bibir Dygta. "Koloni kunang-kunang yang tersisa di sekitar hutan ini. Kamu tahu, mereka hampir punah." katanya.
"Ini cantik."Dygta terpukau. Matanya seolah bersinar memantulkan cahaya dari atraksi ribuan kunang-kunang yang beterbangan di udara.
Dia melanjutkan langkahnya ke tengah area. Berjalan diantara rerumputan yang rapat. Mencoba menggapai serangga menyala itu dengan telapak tangannya.
"Aku belum pernah lihat ha kayak gini sebelumnya." Dygta berucap.
"Well, ... aku hampir setiap weekend." Evan menginterupsi.
"Benarkah?" Dygta menoleh. Seluruh tubuhnya seperti berpendar. Dia terlihat seperti peri diantara kunang-kunang yang mengitarinya.
"Kamu cantik." ucap Evan.
Dygta hanya terdiam. Perhatiannya kembali pada sekelilingnya yang semakin semarak oleh kehadiran ribuan kunang-kunang yang sepertinya bertambah semakin banyak saja. Bahkan ada beberapa yang hinggap di kepalanya.
"Mereka gigit nggak?" gadis itu mulai panik, merasakan geli yang merayap di kulit wajahnya.
"Nggak." Evan tergelak. Lalu tangannya terulur untuk menyingkirkan serangga tersebut dari wajah Dygta.
"Mana-mana? aku mau pegang!" Dygta menarik lengan pemuda itu yang juga menyala ketika seekor kunang-kunang ada dalam genggamannya.
Evan tak mengalihkan pandangannya, sesuatu di dalam dadanya kembali berdenyut ngilu setiap kali menatap gadis di hadapannya ini. Tapi dia merasa bahagia.
"Kamu suka nggak tempat ini?"
"Hu'um, ... " Dygta mengangguk. "Suka banget, ini indah!" gadis itu berucap.
Evan terus menariknya hingga ke tengah sehingga harus itu menatap sekeliling. Melanj5kan interaksi mereka dengan ribuan kunang-kunang yang terbang semakin tinggi.
"Di tempat kita ada nggak yang kayak guni?" Dygta memulai percakapan setelah beberapa lama mengagumi pemandangan paling menakjubkan dalam hidupnya ini.
"Nggak ada."
"Di taman kota juga nggak ada?" gadis itu menoleh.
"Nggak." jawab Evan.
"Kenapa? "
"Mereka sangat sensitif. Nggak bisa hidup di tempat yang udah tercemar polusi. Harus dengan udara murni dan lingkungan yang benar-benar bersih." jawab Evan.
"Hmmm ...
"Dan disini, adalah koloni terbesar mereka di hutan. Tahu kenapa?"
Dygta menggeleng.
"Karena tempat ini paling tersembunyi diantara tempat-tempat lainnya." jelas Evan.
"Oh, ...
"One of special place on earth." Evan tersenyum. "Like you." bisiknya.
"Ng ...
"Kamu suka tempat ini?" Evan mengulangi pertanyaan sebelumnya.
"Aku suka." Dygta mengangguk.
Pemuda itu kembali menatap Dygta dengan mata yang sama berbinarnya seperti gadis di depannya.
"Sekarang, kamu suka nggak sama aku?" tanya Evan kemudian.
"Aku suka sama kamu." Dygta tanpa keraguan. "Kamu baik." katanya lagi.
"Suka dalam arti lain maksudnya." Evan memperjelas kata-katanya.
"Ng ...Aku suka kamu sebagai teman." jawab Dygta.
Evan menarik napas pelan.
"Still friendzone, huh?" suaranya terdengar kecewa.
Dygta terdiam.
"Maaf, Evan."
Pemuda itu terkekeh getir.
"Apa ada orang lain?" tanya Evan yang tiba-tiba merasa penasaran.
Dygta tertegun, dia menggigit bibir bawahnya dengan keras.
"Ada orang lain." ujar Evan seraya menatap kedalam mata gadis itu. Sikap diam nya menyatakan sesuatu yang sudah dia duga sebelumnya.
Evan menjatuhkan tubuhnya hingga dia duduk bersila diantara rerumputan yang mulai berembun pada hampir tengah malam itu. Sementara Dygta berdiri di depannya dengan sedikit rasa bersalah.
"Apa aku harus memaksakan diri untuk suka sama kamu?" Dygta kemudian berjongkok.
Pemuda itu mendongak.
"Kamu tahu, kita nggak bisa mengendalikan perasaan kita harus suka sama siapa. Aku bahkan sekarang ini lagi merasakan sesuatu sama orang lain yang berusaha mati-matian aku tolak. Karena aku tahu, mungkin aku nggak pantas memiliki perasaan semacam ini sama dia." ucap Dygta, dengan hatinya yang berdegup kencang untuk orang lain di yang berada jauh disana.
Evan membeku.
"Maaf, Evan ..." Dygta menyentuh tangan pemuda itu yang tertumpu di lututnya. "Kita hanya bisa berteman."
"Jadi aku nggak punya kesempatan?"
"Aku nggak tahu."
Dygta masih menatap wajah pemuda itu yang tampak sendu. Lalu dia menarik tangannya seraya berdiri.
"Maaf karena selalu bikin kamu kecewa." Dygta memutar tubuh, kemudian melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.
*
*
"Dasar! Menjaga satu orang anak perempuan saja kamu tidak becus!" Arfan setengah berteriak setelah kembali mendapatkan laporan dari bawahannya yang mengaku lengah, dia tak dapat menemukan Dygta dimanapun.
"Saya beri kamu waktu satu jam. Jika setelah itu dia tetap tidak dapat kamu temukan, maka kamu akan menerima akibatnya karena melalaikan tanggung jawabmu!" Arfan dengan nada geram.
Dia bangkit dari tempat tidurnya, lalu menghambur ke dalam ruang ganti. Menarik satu stel pakaian dan sebuah jaket yang segera di kenakannya dengan tergesa.
"Seharusnya aku tidak mempercayakan keselamatan anak itu kepada orang lain, apalagi orang baru. Astaga! apa yang sudah aku lakukan?" Arfan terus berbicara kepada dirinya sendiri.
Pria itu keluar dari kamar, berhenti sebentar ketika melewati dua kamar penghuni rumah lainnya. Membuka pintu, dan melihat mereka satu persatu untuk memeriksa. Kemudian kebali melanjutkan niatnya untuk menyusul ke perkemahan, walau jarak dan waktu yang terbilang jauh, namun dia tak peduli. Dirinya harus memastikan apa yang telah terjadi dengan gadis itu hingga dia lepas dari pengawasan.
Kalau saja sesuatu terjadi kepadanya, ... kalau saja...
Mesin mobil sudah dia hidupkan, dan segalanya sudah dia persiapkan. Hingga tiba saatnya Arfan hampir memacu mobilnya keluar dari pekarangan, ponselnya kembali berbunyi nyaring.
Sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya.
Beberapa pesan gambar dan sebuah pesan video. Dygta yang baru saja kembali entah dari mana. Bersama beberapa orang temannya yang sudah dia kenali sebelumnya.
Lalu sebuah panggilan telefon pun berlangsung.
"Maaf pak, lain kali saya tidak akan lengah lagi." Suara dari seberang sana penuh penyesalan.
"Tidak boleh ada lain kali." Arfan mematikan poselnya begitu dia menyelesaikan kalimatnya.
*
*
*
Bersambung...