Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Cerita Ayu
Kini; aku, Ayu dan Uda Rizal sudah duduk di cafe Tehta yang berada tidak jauh dari kosan kami. Hanya berjarak beberapa kilometer saja.
"Nah, sekarang ceritakan padaku. Ada apa Antara kamu dan Alisya? Kenapa tiba-tiba berkelahi? Lalu tadi menyebut-nyebut namaku dan pak Arya?" tanyaku, sambil mengaduk avocado flut yang disajikan pramusaji.
"Nggak apa-apa, Na?" Ayu melirik Uda Rizal, hingga membuat saudara lelakiku tersebut salah tingkah.
"Enggak apa-apa. Antara aku dan Uda Rizal sudah tidak ada rahasia, kan kamu sendiri yang membongkarnya." aku menyindir Ayu sehingga ia nyengir.
"Demi kebaikan kamu juga, Na. Lagian Uda Rizal maksa, aku nggak bisa nolak juha." Ayu membela diri.
"Ya sudah, sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi." tanyaku lagi denah raut serius.
"Jadi ... Alisya dan pak Arya, mereka akan menikah." ungkap Ayu hati-hati.
Uhukk. Uhukk. Aku langsung terbatuk sebab tercekat oleh minuman yang baru kuteguk. Ini benar-benar kejutan, dan tak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Maksudnya bagaimana? Tolong jelaskan secara lengkap, Yu. Jangan setengah-setengah!" pintaku dengan tidak sabaran.
"Iya Na, Pak Arya dan Alisya akan menikah. Aku baru kemarin sore, teman-teman satu kosan dapat undangan pernikahan mereka, hanya kita berdua yang nggak diundang. Makanya aku penasaran, tadi saat Alisya datang langsung kukejar ia untuk meminta penjelasan." jelas Ayu.
"Astagfirullah, yang tadi itu calon istrinya? Bukannya ia teman kamu, Na?" Uda Rizal memang sempat berkenalan dengan Alisya sebab dahulu ia rajin mengantarku saat masih menjadi mahasiswa baru. Jadi teman-teman yang di awal akan kukenalkan pada Uda Rizal. "Cerita lengkapnya bagaimana? Memang mereka Sebelumnya pacaran, Na?"
"Enggak, setahu Na nggak. Malah Na baru tahu sekarang kalau pak Arya ternyata dekat juga dengan Alisya." kataku.
"Na, aku rasa Alisya nikung kamu. Ingat nggak waktu kita membicarakan pak Arya, tiba-tiba Alisya nyahut, kelihatan banget dia kepoin kamu. Sepertinya ia memang punya rasa sejak lama pada pak Arya. Kamu nggak lupa kan bagaimana dulu ia selalu bersemangat kalau masuk mata kuliah pak Arya, sementara di mata kuliah lainnya dia santai. Alisya juga sering menampakkan ketidak sukaannya jika ada yang membicarakan atau mencoba mendekati pak Arya. Makanya aku simpulkan kalau ia yang menikung kamu." Ayu menjelaskan pengamatannya.
Aku tak bisa berkata-kata. Bayang-bayang ingatanku tentang Alisya langsung muncul. Saat aku dah dia bertemu di kampus, ia begitu ingin tahu. Apakah ini juga bagian dari bukti kalau Alisya menikung aku?
Ya Allah ... aku tak habis pikir, kalau itu benar, sungguh jahat sekali Alisya. Tapi pak Arya juga sama saja. Ia berarti mempermainkan aku.
"Tapi Yu," aku mencoba mengingat sesuatu.
"Kenapa Na?" tanya Ayu lagi.
"Sepertinya aku harus minta penjelasan pak Arya." Aku segera bangkit, diikuti dengan Ayubdan Uda Rizal yang buru-buru membayar makanan yang tadi kami pesan meski baru minuman saja yang kami teguk.
Dari cafe kami menuju kosan pak Arya. Kalau mereka nikah dua hari lagi, berarti kemungkinan besar pak Arya masih di Padang. Lagipula Alisya tinggal di kota ini, pastilah pesta pernikahan mereka dilangsungkan di sini juga.
Untung saja Ayu sudah tahu dimana letak kosan pak Arya. Makanya kami bisa langsung meluncur ke sana.
Sampai di depan kosan, hanya aku yang turun, setelah bertanya pada penghuni lainnya, barulah aku menuju kamar pak Arya. Sementara Ayu dab Uda Rizal menunggu di mobil sesuai dengan kesepakatan kami sebab aku tidak mau mencari ribut. Aku hanya ingin tahu saja, alasan ia memberi harapan palsu padaku. Kalau Uda Rizal ikut turun, aku sangat yakin akan terjadi perkelahian.
Kakak laki-laki mana yang bisa diam jika adik perempuan yang amat disayanginya dipermainkan begitu saja seolah barang yang tak berharga.
Aku melangkah ragu-ragu. Melewati beberapa kamar kosan sebelum sampai di kamar milik pak Arya. Untungnya kosan itu bebas, jadi aku bisa langsung masuk. Di depan pintu kamarnya, aku langsung mengetuk beberapa kali, barulah pak Arya keluar.
"Zalina?" kata pak Arya. "Kamu ke sini sama siapa?" tanyanya.
"Saya cuma ingin minta penjelasan bapak. Kenapa bapak tega mempermainkan saya?" tanyaku, berusaha setenang mungkin meski sebenarnya aku Kecewa olehnya.
"Na, saya ...."
"Apa? Tega bapak memberi harapan palsu pada saya. Lalu sekarang bapak akan menikah dengan Alisya? Apa maksud ini semua?"
.
"Na ... saya minta maaf tapi saya,"
Plak. Tiba-tiba seseorang menamparku dengan keras. Alisya, ia, dia ada di antara aku dan kak Arya.
"Alisya!" seru pak Arya.
"Mau apa kamu ke sini? Mau gangguin calon saumi orang?" sergah Alisya. "Kamu benar-benar nggak tahu malu, ya Na. Sudah tahu pak Arya mau nikah sama aku tapi kamu malah mendatanginya. Untung saja aku lagi main ke sini, kalau nggak entah rayuan apa yang akan kamu berikan pada pak Arya agar ia membatalkan pernikahan kami. Iya, kan?" tuduh Alisya
"Kamu salah sangka, Sya. Aku nggak seperti itu. Aku hanya butuh penjelasan pak Arya. Kok bisa dia sedang menjalin hubungan denganku, lalu tiba-tiba mau menikah sama kamu?" tanyaku dengan hati-hati karena memang tujuanku bukan untuk mencari perkelahian. Aku ingin minta penjelasan agar ia tak sembarang mempermainkan aku. Lagi pula aku sudah tak berharap padanya lagi.
"Kamu kira aku percaya? Kamu saja suka mempermainkan perempuan. Kok kamu kesal diperlakukan sama oleh pak Arya?" tuduh Alisya.
"Maksudnya?" aku mengerutkan kening. Kenapa sekarang malah aku yang jadi tertuduh?
"Sudahlah, nggak usah pura-pura bodoh..ngaku saja Na, kamu juga punya banuak cadangan, kan. Dan pak Arya hanyalah pelarian saat kamu patah hati. Iya, kan?" kini Alisya yang menuduhku. "Kamu dan pak Arya sudah impas. Jadi jangan ganggu calon suamiku lagi. Paham kamu!"
Aku rasa sudah tidak ada gunanya lagi melanjutkan perdebatan ini. Aku memilih pergi, sebab Alisya sudah menuduhku dengan asumsi-asumsinya sendiri. Ia sudah sangat marah dan mungkin membenciku, jadi tidak ada gunanya juga menjelaskan apapun pada mereka. Makanya aku memilih untuk pergi saja.
"Zalina!" panggil pak Arya.
Aku menoleh sebentar, tampak Alisya begitu kesal sebab pak Arya memanggilku, ia sampai menarik lengannya. Makanya keputuskan segera pergi tanpa menghiraukan panggilan tersebut.
Aku rasa masalah antara kami sudah selesai. Kadang, benang kusut tak harus diurai. Biarkan saja ia begitu karena kita tak selalu bisa membuatnya kembali rapi.
Kini, aku harus benar-benar melangkah pergi. Aku harus menutup lembaran yang pernah kubuka dengan pak Arya. Tak akan ada lagi cerita antara kami. Aku sudah tak berharap apapun lagi, bahkan sekedar penjelasan darinya. Aku percaya, jika tidak sekarang, kelak akan tahu kebenarannya. Yang jelas sekarang aku harus kembali melangkah, melanjutkan hidupku.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku