Zarulita Maya 26 tahun, seketika mematung ketika menangkap basah sang calon tunangan tengah bercumbu dengan seorang wanita di kantornya.
Demi untuk mengagalkan pernikahan, Maya pun harus memilih cara absur yaitu dengan menyewa jasa pengacara Ferdian Bastian.
"Bisakah mas Ferdian berpura-pura menjadi kekasih Maya??"
Berhasilkah usaha Maya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Ke esokan paginya. Maya bangun dengan perasaan lega. Lega karena semua yang berhubungan dengan Star Tomo dan Dimas Anggara selesai.
Senyum cerah di wajahnya kian terpancar jelas. Maya berniat untuk masuk kantor sedikit telat. Ia ingin memanjakan diri dengan tidur telah lama.
Namun nyatanya niatnya itu agak susah terlaksana, lantaran Maya terus berpikir tentang uang yang di miliki Ferdian Bastian yang dapat membayar seluruh finalty pada Star Tomo.
Maya berbalik badan dengan mata terpejam, otaknya terus menerka-nerka dari mana pemasukan Ferdian Bastian yang hanya seorang pengacara.
Walau dalam setiap kasus mungkin saja nilai yang di bayar sangar fantastis. Ia memang tidak akan meragukan jika hal itu benar terjadi pada Paman Johan yang jelas-jelas pengacara yang sudah cukup tenar dengan jam terbang hingga kasus internasional.
"Hmm, apa mungkin dari main saham??" pikir batin Maya lagi.
Namun sesaat ia mengingat kembali moment saat Paman Johan menumpangkan kemarahnnya pada Ferdian dengan mengatakan kerajaan bisnis pada putra ya itu.
Maya pun menghela nafas kasar. Rasanya walau bagaimana pun ia berpikir, tetap Maya tak dapat dengan pasti sumber dana milik Ferdian yang membuatnya begitu mudah membayar seluruh finalty New-A pada Star Tomo.
"Aah!!" seru Maya yang akhirnya membuka mata dengan terpaksa. Dan berakhir dengan bangun dari tidur pura-puranya itu.
"Kenapa gue harus capek-capek mikir, yang penting mas Ferdian udah bayar, tinggal sekarang gimana caranya gue bayar uang itu semua balik buat mas Ferdian" gumam Maya yang akhirnya menyerah dengan rasa penasarannya.
Ia pun bangun dari ranjang dan memutuskan untuk segera mandi.
***
Di ruangan lain, terlihat mama Marwah dengan sangat telaten mengurus sang suami yang baru saja mandi.
Dengan keterbatasan gerak fisik, mama Marwah mempersiapkan Papa Erwin agar terlihat selalu segar dan bersih.
Namun kali ini ada yang beda. Wajah mama Marwah terus terukir senyum di wajahnya. Sorot mata Papa Erwin kian penasaran dengan ekspresi sang istri yang tampak bahagia.
"Udah mas, yuk.. kita sarapan" ujar mama Marwah dengan selesai menyisir rambut sang suami. Tak lupa ia pun menjatuhkan satu kecupan dia kepala sang suami.
Setelah meletakkan sisi kembali ketempatnya, mama Marwah segera berjalan menuju punggung kursi roda Papa Erwin. Dan perlahan ia mendorong kursi roda itu keluar dari kamarnya.
Pagi yang cerah, dan terlihat kedua buah hati mereka juga telah berada disana.
"Pagi sayang??" sapa sang mama dengan mengagetkan kedua kembaran yang tengah terlibat pembicaraan serius.
"Pagi mah, papa" jawab Maya dengan bangun dan membantu sang mama untuk mendorong kursi roda sang Papa ke meja makan.
Mama Marwah menatap wajah Maya dengan senyum terkembang.
Dan sarapan pagi penuh hangat itu pun terjadi. Semua memberi perhatian pada Papa Erwin yang masih harus di suapi makanannya.
"Kapan ketempat terapi lagi mah?" tanya Mercel.
"Hmm, mungkin lusa"
"Oke, biar Maya antar saja" tawar Maya menawarkan diri.
Mama Marwah tersenyum.
"Terima kasih sayang"
Papa Erwin hanya bisa melihat tanpa bisa bergabung berbicara karena lidahnya yang masih kaku.
***
Selesai sarapan itu, kedua kembar pun bersegera menuju kendaraan masing-masing.
Dan terlihat mama Marwah dan Papa Erwin berdiri di teras rumah dengan menatap kepergian kedua anak mereka.
Perlahan mama Marwah mendekat dan berlutut di hadapan sang suami.
"Sayang.. ada satu kabar yang pasti kamu akan senang mendengarkannya"
Sorot tatapan Papa Erwin pun terlihat jelas jika ia penasaran.
"Putri kita, Maya... ternyata menjalin cinta dengan anak pengacara kita, Johan B. Bastian" ujar mama Marwah dengan nada senang.
Kabar yang sungguh mengejutkan, Papa Erwin terlihat kaget. Namun dari rekasinya terlihat jika ia juga senang mendengar kabar baik tersebut.