NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Cairan merah pekat yang merembes pelan di balik celah pintu depan toko roti itu menciptakan kontras yang mengerikan dengan hamparan salju putih di luar. Suara hantaman benda tumpul kembali menggema, disusul oleh bisikan-bisikan dingin yang mengancam dari sekelompok orang bersenjata yang telah mengepung tempat persembunyian itu. Badai salju yang mengamuk di luar seolah menjadi latar suara bagi ancaman maut yang datang merangsek mendekat.

Namun, di dalam ruang toko yang sempit dan remang-remang, waktu seolah berhenti berputar bagi Damian Valerius dan Aurelia.

Ancaman di luar pintu seakan menguap, tersapu oleh gelombang emosi yang jauh lebih besar dan menyesakkan di antara mereka berdua. Damian masih terpaku di posisinya, menunduk dengan tatapan penuh penyesalan, menunggu vonis yang tak kunjung dijatuhkan.

Aurelia berdiri dengan napas yang masih naik turun. Sisa-sisa air mata masih membasahi pipinya, meninggalkan jejak basah di bawah cahaya lentera yang berkedip-kedip. Di dalam dadanya, badai perasaannya sendiri jauh lebih dahsyat ketimbang badai salju di luar. Segala kepahitan, rasa lelah, ketakutan yang dipendam selama berbulan-bulan, serta beban identitas yang tidak pernah ia miliki sepenuhnya, mendesak untuk dikeluarkan.

Dengan suara bergetar hebat, diiringi isak tangis tertahan yang lolos dari bibirnya, Aurelia akhirnya membuka suara.

"Kau tidak mengerti..." bisik Aurelia, suaranya parau, lemah namun sarat akan kejujuran yang merobek hati. Ia menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Damian, mencurahkan segala isi jiwanya yang selama ini terkurung. "Aku tahu... aku tahu betul siapa diriku di mata dunia. Aku tahu aku adalah Aurelia Valerius, wanita yang kau nikahi dengan kebencian dan kepatuhan semu."

Damian mendongak perlahan, menatap wajah wanita itu dengan napas tertahan.

"Tapi... aku bukan Aurelia yang lama," lanjut Aurelia, jemarinya meremas erat kain gaun katunnya sendiri, meluapkan rahasia terbesar yang selama ini ia simpan rapat-rapat karena takut dianggap gila. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu, aku adalah Shania dari kehidupan modern. Dan tiba tiba aku bertransisi kedalam tubuh ini...... tapi rasa sakit ini... trauma yang menghuni tubuh ini, ketakutan yang merayap di setiap malam, semuanya nyata. Aku hidup di dalam bayang-bayang ketakutan yang bukan sepenuhnya milikku, namun rasanya begitu menyiksa. Aku kabur bukan hanya karena aku membencimu, tapi karena aku ingin hidup... aku ingin bernapas tanpa harus merasa bahwa leherku sewaktu-waktu bisa dipenggal oleh takdir yang telah digariskan."

Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja, sebuah pengakuan absurd tentang jiwa asing di dalam raga yang tersiksa. Aurelia menundukkan kepalanya, menunggu pria itu menertawakannya, menganggapnya tidak waras, atau menggunakan keanehan itu sebagai alasan untuk menghukumnya lebih jauh lagi.

Namun, reaksi yang ditunjukkan Damian jauh di luar dugaan.

Pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda kebingungan yang merendahkan. Alih-alih mencibir atau menuntut penjelasan logis dari kalimat-kalimat membingungkan yang baru saja diucapkan istrinya, Damian justru merasakan dadanya semakin sesak oleh rasa iba yang teramat sangat. Pria itu menyadari betapa hancurnya jiwa di hadapannya, betapa wanita itu telah berjuang sendirian di dalam labirin ketakutannya yang paling gelap.

Damian melangkah maju satu langkah kecil. Gerakannya begitu hati-hati, seolah ia sedang mendekati seekor burung kecil yang terluka parah dan siap terbang menjauh jika diberi gerakan sekecil apa pun yang mengejutkan.

"Aurelia..." panggil Damian dengan suara yang sangat lembut—sebuah nada bicara yang belum pernah ia gunakan kepada siapa pun sepanjang hidupnya. Ia menatap manik mata hijau wanita itu dengan ketulusan yang telanjang. "Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan barusan. Aku tidak peduli apakah kau adalah Aurelia yang dulu, atau seseorang yang lain, atau siapa pun di dunia ini yang bersembunyi di balik raga itu."

Aurelia tertegun, mengangkat wajahnya perlahan untuk menatap mata pria di hadapannya.

"Yang aku tahu..." lanjut Damian dengan suara bergetar, tatapannya menyiratkan keputusasaan yang mendalam namun penuh kehangatan, "yang ada di hadapanku saat ini adalah wanita yang telah memenuhi setiap ruang kosong di dalam pikiranku. Wanita yang membuatku tersiksa setiap kali aku mengingat bahwa aku telah membuatnya menangis. Identitas, nama, masa lalu... semuanya tidak penting lagi bagiku."

Damian berhenti sejenak, menarik napas berat sebelum mengajukan sebuah permohonan yang meruntuhkan sisa-sisa kebanggaan terakhir seorang Jenderal Agung Kekaisaran.

"Bolehkah aku..." bisik Damian pelan, tangannya terulur ragu di udara di hadapan Aurelia, telapak tangannya terbuka ke atas dengan gestur yang memohon izin. "Bolehkah aku memelukmu?"

Pertanyaan itu melayang di udara, diiringi oleh suara hantaman di pintu depan yang semakin keras, seolah dunia luar sedang merangsek masuk untuk memisahkan mereka.

Aurelia menatap tangan besar yang terulur itu. Tangan yang sama yang dulu sering kali mencengkeramnya dengan dingin, tangan yang memberikan teror, tangan yang membawa trauma. Namun kini, tangan bersarung kulit itu tampak bergetar—bergetar karena keraguan, ketakutan akan penolakan, dan sebuah kerinduan yang putus asa.

Di dalam dadanya, pertahanan terakhir Aurelia runtuh berkeping-keping. Benteng kebencian dan ketakutan yang ia bangun tinggi-tinggi selama berbulan-bulan hancur lebur oleh ketulusan yang terpancar dari manik mata abu-abu badai sang Jenderal.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Aurelia perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, lalu memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat.

Itu adalah sinyal hijau yang ditunggu-tunggu oleh Damian.

Dalam sepersekian detik, Damian menarik tubuh Aurelia ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu erat-erat ke dada bidangnya seolah ia ingin menyatukan raga mereka ke dalam satu wujud yang tak terpisahkan. Pelukan itu begitu kuat, begitu hangat, melindunginya dari dunia luar yang kejam dan dingin.

Aurelia terbenam di dalam dekapan itu. Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, ia merasakan kehangatan yang sesungguhnya. Aroma maskulin yang berpadu dengan dinginnya sisa salju menyelimuti dirinya, memberikan rasa aman yang aneh namun sangat adiktif. Isak tangis Aurelia akhirnya pecah di balik dada Damian, membasahi kemeja militer pria itu dengan air mata kelegaan dan kepedihan yang tumpah ruah.

Damian memejamkan matanya, memeluk istrinya semakin erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil berbisik penuh sumpah di tengah deru angin badai, "Aku di sini... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi. Kamu milikku, dan aku... sepenuhnya milikmu."

Namun, di tengah kehangatan dekapan yang menyatukan jiwa mereka yang terluka, suara hantaman terakhir terdengar sangat memekakkan telinga.

Brakkk!

Pintu depan kayu toko itu akhirnya jebol dari engselnya, dihantam oleh kekuatan besar dari luar, memperlihatkan siluet beberapa orang pria bertopeng hitam dengan pedang terhunus yang melangkah masuk ke dalam ruangan, membawa serta hawa kematian yang siap merenggut kedamaian rapuh yang baru saja mereka temukan—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!