Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 24 Perwira Singa
Namanya Ozeng Khol. Gelarnya Perwira Singa. Pembawaannya berwibawa dengan rambut gondrong sebahu warna merah gelap yang disisir rapi satu arah dan terlihat lengket. Alis merah terangnya tebal dengan model mata yang tajam. Mata orang lain akan merasa tersayat ketika pertama kali beradu tatap dengannya.
Ozeng Khol mengenakan jubah merah terang yang tebal dan terkesan berat, tetapi itu ringan di tubuh yang tinggi besar dan berotot layaknya raksasa kecil. Kedua tangannya tertutupi oleh sarung tangan warna putih bersih seperti kapas.
Creekr! Creekr! Creekr!
Kerennya, Ozeng Khol menunggangi seekor binatang yang sama-sama dikenal bernama singa jantan. Namun, warnanya cenderung merah muda. Surainya sangat pinky dengan kulit yang kuning kemerahan, tepatnya pepinkian. Ujung ekornya yang berambut berwarna sangat pinky. Singa itu memakai pelana khusus. Dipinggulnya ada sabuk khusus yang memiliki empat rantai besar nan panjang. Dua utas di kanan dan dua utas di kiri.
Rantai itu akan berisik jika diajak berjalan, apalagi diajak berlari, lebih gembira.
Saat ini, Ozeng Khol didampingi oleh Komandan Oon yang berkuda. Tinggi punggung kedua binatang itu sama, jadi tinggi kepala penunggangnya pun sama.
Masih ingat Komandan Oon? Dia adalah pemimpin Pasukan Penjaga Makam Terlarang.
Komandan Oon sudah melapor ke Raja Hahambar mengenai tugu yang menjadi simbol pengaman pertama segel Makam Pasukan Penghancur Samudera. Karena itulah, Raja Hahambar menugaskan Perwira Singa seorang untuk menyelidiki penyebab tenggelamnya tugu di kolam makam.
Ketika mereka masih bersinga dan berkuda di tengah Kota Bariah, tiba-tiba….
“Hiuuup!” pekik Ozeng Khol dan Komandan Oon bersamaan karena tiba-tiba ada yang melintas memotong jalan mereka.
“Hihihik!” tawa seorang wanita.
“Hahahak!” tawa seorang lelaki.
Sebuah kuda roda melintas memotong.
Kuda roda adalah kendaraan selembar papan tebal yang memiliki lima roda besi. Dia tidak memiliki kursi, tetapi hanya gawang besi yang berfungsi untuk pegangan bagi penumpangnya yang berdiri.
Kuda roda itu disopiri oleh seorang lelaki dan sepasang muda-mudi berdiri menjadi penumpangnya. Keduanya tertawa asik sendiri dengan gestur yang mesra karena tangannya saling merangkul bahu dan pinggang.
“Noni Lintha!” hardik Ozeng Khol.
Hardikan Perwira Singa seketika memangkas tawa pasangan tersebut. Sopirnya sampai menghentikan laju kuda rodanya.
Pasangan muda-mudi itu tidak lain adalah Lintha yang hari itu juga pergi bersama Azhmar ke Bukit Seratus Lubang. Pemuda tampan nan gagah yang postur tubuhnya nyaris seimbang dengan Lintha, bukanlah Purwasaga.
Mereka bertiga menengok memandang kepada Ozeng Khol dan Komandan Oon. Belum sempat mereka yang berkendara kuda roda bertanya, Ozeng Khol sudah lebih dulu bertanya. Sebab ada pepatah Negeri Elindra yang berbunyi “Siapa yang lebih dulu bertanya, maka dialah yang bahagia.”
“Apakah kalian tidak melihat kami berdua sedang melaju?”
“Maafkan kami, Perwira Singa. Aku terlalu bahagia dengan suami baruku. Hihihi!” jawab Lintha lalu tertawa enteng tanpa merasa melakukan kesalahan besar.
“Kau baru beberapa hari menikah dengan lelaki manusia, tetapi kau sudah menikah lagi. Lelaki dari mana dia?” kata Ozeng Khol.
“Dari Kota Selabak,” jawab Lintha.
“Hormatku, Perwira,” ucap pemuda tampan yang satu tangannya masih melingkari pinggang Lintha. Dia mengangguk.
Ozeng Khol hanya balas mengangguk.
“Selamat berbahagia, Noni Lintha,” ucap Ozeng Khol. Lalu dia menggebah singa berantainya, “Hae hae!”
“Hae hae!” Komandan Oon pun menggebah kudanya untuk pergi meninggalkan jalan tersebut.
“Hihihik!” Lintha hanya tertawa cekikikan sambil memandangi kepergian kedua lelaki berpangkat itu.
Singkat waktu dan cerita.
Ozeng Khol dan Komandan Oon tiba di depan gerbang Makam Pasukan Penghancur Samudera, tepatnya di pinggir kolam berair ungu. Di kolam itu tinggal ada dua tugu gagah berwarna merah terang dan ungu terang, bukan ungu terong.
Kini mereka dikawal oleh satu Pasukan Penjaga Makam Terlarang yang berbaris rapi seperti sedang apel.
Ozeng Khol lalu membuka jubahnya yang besar dan berat, kemudian diberikan kepada Komandan Oon. Selanjutnya dia membuka kedua sarung tangannya, sehingga tampaklah tangan ungu pada umumnya. Selanjutna dia membuka bajunya yang berwarna hitam. Juga diberikan kepada Komandan Oon.
Meski tidak memiliki jabatan di kemiliteran, tetapi Perwira Singa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Komandan Oon.
Kini lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan itu dalam kondisi bertelanjang dada. Badannya terlihat bagus dengan otot yang kekar dan tertata. Dia seperti lelaki yang suka main di gym.
Jbur!
Tanpa kata-kata dan pesan terakhir, Ozeng Khol melompat terjun ke air kolam. Gaya lompatnya seperti bocah yang melompat dari dahan pohon ke dalam sungai, yaitu gaya kodok berdiri.
Ozeng Khol berenang menyelam menuju dasar kolam yang ternyata sedalam “hatimu”.
Setelah menyelam selama dua menit, barulah Ozeng Khol melihat keberadaan pucuk tugu yang tenggelam. Sebelum ia sampai kepada puncak tugu, tangan kanannya membara hijau.
Bleq bleq bleq…!
Ketika tangan kanan itu membara hijau, air yang ada di sekitar tangan jadi memiliki udara dan terciptalah gelembung-gelembung udara yang segera menuju ke permukaan kolam.
Tidak berapa lama, Komandan Oon dan pasukannya yang menunggu dapat menyaksikan kemunculan gelembung-gelembung udara yang kemudian pecah di permukaan. Namun, mereka tidak tahu apa sumber gelembung itu. Mereka hanya menduga berasal dari dua lubang hidung Perwira Singa karena dia memiliki dua lubang hidung.
Di dasar kolam, Ozeng Khol telah menyentuh pucuk tugu warna kuning emas. Dari tangannya keluar sinar hijau yang kemudian merambahi sosok tugu hingga turun ke akar-akarnya dan terus ke dalam perut bumi.
Ternyata sinar hijau terus menjalar dengan kecepatan kilat di dalam perut bumi, mengikuti seutas tali yang berujung di dalam Bukit Telur Lolot. Jadi seperti aliran listrik yang menjalari kabel telepon.
Sinar hijau baru berhenti menjalar setelah berujung pada tali ekor telur emas lolot yang putus. Dengan cara itulah Ozeng Khol tahu di mana ujung sumber masalah penyebab tenggelamnya tugu kuning emas. Namun, dia hanya tahu tempat, belum tahu secara detail penyebabnya.
“Lokasinya ada di Bukit Seratus Lubang!” seru Ozeng Khol kepada Komandan Oon setelah ia muncul di permukaan air kolam. Ia segera berenang ke tepi lalu naik.
Komandan Oon segera memberi pakaian Ozeng Khol satu demi satu.
Sambil mengenakan jubahnya, Ozeng Khol pergi ke singanya yang sedang duduk menunggu.
“Pasukan, kita berangkat ke Bukit Seratus Lubang. Ambil kuda kalian masing-masing!” teriak Komandan Oon.
“Siap!” jawab puluhan prajurit itu dengan lantang.
Maka semua prajurit yang tidak berkuda itu segera balik kiri lalu berlari langsung kencang. Mereka pergi untuk mengambil kuda masing-masing.
Maka, senja itu juga mereka berangkat ke Bukit Seratus Lubang.
Singkat waktu dan cerita.
Pasukan yang dipimpin oleh Ozeng Khol dan Komandan Oon itu tidak perlu masuk jauh ke dalam labirin perbukitan untuk menemukan jejak. Belum jauh mereka masuk, mereka sudah menemukan pecahan cangkang telur lolot warna emas.
“Telur lolot. Apakah ini penyebabnya?” ucap Ozeng Khol kepada dirinya sendiri. Itu menunjukkan bahwa dia tidak tahu tentang rahasia telur emas lolot.
“Seseorang pasti telah mengambil bayi lolot yang belum menetas. Telur lolot tidak mungkin menetas di luar Bukit Telur Lolot,” kata Komandan Oon menganalisa, menunjukkan tingkat kecerdasannya. Perkiraannya karena dia tidak melihat keberadaan bayi lolot yang sebelumnya ditinggalkan oleh kedua pengawal Azhmar.
“Ini jelas terkait dengan pemburu lolot yang sengaja memburu telur. Atau pemburu yang dihukum mengambil tiga telur lolot,” kata Ozeng Khol yang tahu tentang aturan berburu lolot. “Tapi kita harus sampai ke titik sumber penyebab pengaman pertama terbuka.”
Maka mereka melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Bukit Telur Lolot.
Karena Ozeng Khol sudah tahu di mana koordinat kesaktian sinar hijaunya berujung, jadi dia tidak perlu harus tersasar. Arah perjalanannya sudah pasti ke Bukit Telur Lolot.
Awalnya dia tidak tahu bahwa tujuannya adalah Bukit Telur Lolot, tetapi setelah sampai dan masuk ke dalam bukit, barulah dia tahu bahwa titik sumber masalahnya berasal dari dalam Bukit Telur Lolot.
“Aku harus kembali ke Istana dan mencari tahu siapa orang yang terakhir telah berburu di sini,” kata Ozeng Khol kepada Komandan Oon, setelah memeriksa puncak hamparan ratusan telur lolot yang tersusun. (RH)
hahhhh