Vayala seorang gadis berusia 29 tahun yang gagal menikah dengan mantan kekasihnya yang toxic dan memutuskan menikah dengan pria yang baru dikenalnya selama satu bulan.
impiannya membangun rumah tangga yang bahagia nyatanya hanya membangun rumah duka,pria yang terlihat baik,royal dan perhatian itu berubah menjadi kasar,perhitungan dan silent treatment sehingga membuatnya merasa kesepian dan sedih .
bagaimana Vayala menghadapi kehidupan rumah tangga yang membuatnya menderita itu...
apakah ia bisa bahagia dengan laki laki pilihan yang baru dikenalnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyta Yulaeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Uang bulanan
Sore ini Mas Bram pulang lebih awal raut wajahnya terlihat masam,seperti biasa aku menyediakan makan malam untuknya.
"Uang bulanan sisa berapa?"tanyanya sambil menyuap sesendok nasi kedalam mulutnya.
"memangnya kenapa mas tumben nanyain?"tanyaku lagi penasaran.
"pasti kamu enggak catat pengeluaran masuk dan keluar,mana sini aku mau liat catatan kamu!!"serunya memintaku menunjukkan buku pengeluaran bulanan rumah.
Aku akui aku tidak mencatat pengeluaran uang yang keluar dibuku catatan karena aku sudah sebisa mungkin menghemat dan menyisihkan uang itu pada porsi masing masing agar cukup.
"Aku enggak catet mas...kan uangnya cuma buat kebutuhan rumah aja..aku juga enggak beli apa apa kok dan enggak boros "sahutku menjelaskan sambil menunjukkan sisa uang yang kusimpan dalam buku catatan itu.
"kenapa enggak di catat kan aku bilang suruh catat semua pengeluaran,kamu enggak becus atur duit kayaknya..sini lebih baik aku yang pegang semuanya kamu itu boros !"serunya dengan nada marah.
Mendengarnya berbicara seperti itu padaku,ku berikan uang itu padanya dan segera masuk kekamar,ku usap airmata yang mengalir di pipiku sambil menenangkan diri.
beberapa menit kemudian mas Bram masuk kedalam kamar ia mencoba mendekat padaku, karena sedih dan sakit hati padanya aku berbalik badan dengan cepat dan berpura pura tidur.
"ini uang untung jajan kamu sebulan..aku enggak mau kasih kamu lagi pokoknya kalau sampai habis sebelum waktu aku gajian!"ucapnya memberiku uang empat ratus ribu saat ia mau berangkat kerja.
Aku hanya diam sejak semalam tadi tanpa berbicara sepatah katapun,aku ingin dia sadar kalau aku tidak seperti yang yg ia pikirkan menghabiskan uangnya untuk keperluanku,kesalahanku hanya tidak mencatatnya dibuku untuk dia pantau,,aku merasa dia tidak mempercayaiku sebagai istrinya untuk mengatur keuangan.
"mau atau enggak..kalau enggak aku masukin lagi nih ke dompet?"ucap Mas Brian berusaha membujukku.
"aku tidak mungkin menolak uang itu karena aku tidak punya uang sepeserpun untuk pegangan"gumamku dalam hati.
Dengan terpaksa aku mengambil uang yang diberikan mas Bram kepadaku,empat ratus ribu sebulan ya mungkin aku harus sabar menghadapi sikap mas Bram yang perhitungan dengan istri,siapa tahu dia bisa berubah suatu saat nanti.
Ia tersenyum menyodorkan punggung tangannya kepadaku untuk di cium,setelah itu dia pergi untuk bekerja.
"Nanti sore kalau kamu bete dirumah main saja ke tempat kerjaku nanti pulangnya kita nongkrong di belakang mall tempatnya enak dan juga banyak kuliner disana!"ucap Mas Bram sambil menghidupkan motornya dan bergegas pergi.
"iya mas!"jawabku singkat sambil menutup pintu pagar, sejak pindah aku memang tidak punya kesibukan selain dirumah saja,kadang aku main kewarung Fara dan juga kumpul dengan tetangga namun semenjak tetanggaku sering membicarakan dan menjelekkan tetangga yang lain aku jadi malas untuk gabung dengan mereka karena bisa saja aku yang mendapat giliran di omongin juga.
Selesai bebenah dan membersihkan rumah aku memutuskan untuk bersiap siap untuk pergi ke tempat kerja mas Bram.
Tiba disana aku mencari sosok mas Bram yang sedang berdiri santai membawa flayer sambil memainkan handphonenya didekat tangga eskalator.
Aku tidak terburu buru untuk menghampirinya,kupandangi dia dari kejauhan,terlihat santai dan tidak ada tanda tanda menawarkan produk yang ia jual walau banyak pengunjung yang lalu lalang disana melewatinya.
"bagaimana dia mau dapat target kalau dia di sini hanya bersantai saja"gumamku dalam hati sambil memperhatikannya.
Karena ada beberapa teman kerjanya disana,aku pun segera memberi pesan lewat chat kepadanya.
Dia menemukan posisiku,melambaikan tangannya untuk menyuruhku ke booth meja kerjanya.
Dengan langkah santai aku berjalan menghampirinya.
"sebentar ya...aku tunggu temenku dulu yang lagi istirahat..baru nanti aku yang gantian!"ucapnya menyuruhku duduk di bangku khusus customer.
"gimana mas target hari ini dapet banyak dong..pengunjung mallnya rame loh!"ucapku berbicara pelan padanya.
"Disini mah santai sayang kerjanya,kamu liat temanku daritadi nongkrong Berjam jam enggak ada yang ngomelin..kalau target mereka nawarin kepegawai mall ini untuk ikutan!"sahutnya.
"loh..kalau begitu gimana mau target mas...".
"aku juga enggak tau paling tinggal nunggu dipecat aja bulan ini atau bulan besok!".
aku sudah menduganya...kalau jadi marketing dan enggak bisa jualan mau enggak mau salesnya akan dipecat,yasudahlah..aku sudah pasrah,aku sudah terlalu banyak membantu mas bram dalam urusan kerjaan yang bukan tanggung jawab aku.
Menunggu lumayan lama akhirnya teman kerja mas Bram kembali dari istirahatnya ,Mas Bram mengajakku ke belakang mall yang terdapat tempat makan yang terlihat lezat.
"kamu mau makan apa?"tanya mas Bram kepadaku.
"terserah deh mas!".
"kita makan Odeng aja ya sama air putih,Disni makanannya mahal mahal harganya mending kalau makan nasi cari diluar aja..!"ucapnya mengajakku ke supermarket yang menjual makanan siap saji.
"mas kalau kita makan nunggu kamu pulang enggak kelamaan...?"tanyaku merasakan perutku lapar.
"terus kamu mau makan apa emang..oh ya ada warteg khusus karyawan di parkiran mall ini..kamu mau?"tanyanya.
"boleh deh!"ucapku pelan.
Kami menaiki beberapa tangga eskalator sampai masuk ke tempat parkir ,disana banyak karyawan yang sedang menikmati waktu istirahatnya ,asap rokok yang membuat dadaku sedikit sesak dan ruangan yang pengap membuatku tidak betah berlama lama disana.
"itu warteg yang aku bilang tadi"serunya menunjuk etalase berisi makanan lauk pauk didalamnya.
"enggak jadi deh...nanti aja nunggu kamu pulang makannya...aku enggak nyaman!"ucapku pelan.
"yaudah kalau gitu".
Kami kembali lagi ke tempat makan belakang mall itu,membeli Odeng dan air botol mineral disana.
Setelah hampir lama kami disana ia memintaku untuk menunggunya sampai jam pulang tiba.
Aku menurut dan duduk sendiri disana memainkan handphone sambil menunggu mas Bram selesai bekerja.
Kami mampir kesebuah warung pecel lele pinggir jalan,kulihat mas Bram mengeluarkan handphonenya dan berbicara disana.
"hallo yah...aku minta uang yah...uang ku habis !"ucapnya berbicara dalam telepon.
"iya nanti dikirim!sahut ayah mertuaku dengan singkat dan menutup teleponnya.
"kamu minta uang sama orangtua kamu??"tanyaku .
"iya uang ku habis...dipakai untuk bensin...service motor!sahutnya .
"kemarin kan aku baru kasih uang bulanan itu kekamu!!"seruku dengan curiga.
"owh...kalau uang itu aman...aku minta buat uang bensin aku abis..ini belum sebulan emangnya kamu mau kalau puasa enggak makan!".
Aku hanya menggelengkan kepala tidak habis pikir,belum sebulan uang bensinnya sudah habis tapi dia menuduhku Boros.
...****************...